Situasi Seperti Apa, Ini?

935 Words
Sudah dua hari berlalu, kaki Maya mulai bisa digunakan dengan baik untuk menapak. Perban pun sudah dia lepaskan, meski terkadang masih menyisakan perih saat terkena air. Tapi kondisinya sekarang lebih baik dari kemarin-kemarin. Maya sedang membuat sesuatu yang lezat di dapur, sudah menjadi kebiasaannya di jam malam pasti pingin camilan. Untuk sementara waktu, dia melupakan dulu teh herbal pelangsingnya. Karena menurutnya sudah satu bulan masih nggak ada hasil. Bukan langsing, yang ada tambah seksi. Ibunya bilang, 'minuman itu nggak ada gunanya kalau kamu masih suka makan gorengan' ya mungkin karena itu juga. Jam sepuluh malam, Maya tengah merajang bawang, sosis, cabai dan tomat, sembari merebus mi. Menu makan malamnya malam ini adalah mi goreng yang menurutnya spesial. Dia selalu merasa gagal diet, padahal niatnya nggak makan malam lagi. Tapi di jam segini malah kelaparan, cacing meronta-ronta minta makan. Apa boleh buat, ya makan pasti jadi pilihan, dari pada nggak bisa tidur malam. "Kamu lagi apa?" "Astaghfirullah..." Maya terlonjak kaget, saat dia tengah fokus memegang pisau, ada suara di tengah keheningan. "Kamu kayak ketemu setan aja deh kagetnya gitu banget." Wini mendekat, ke pantry dapur di mana Maya sedang merajang bahan masakannya. "Ini Mbak... maaf, kaget. Saya lagi, mau bikin mi goreng." "Hem... pantesan kamu bohay ya, jam segini makannya gituan." Wini terkikik dengan suara khasnya. "Lapar Mbak. Hehe." Sahut Maya. Dia memang nggak memanggil Wini dengan sebutan Nona atau Nyonya, sebab Wini yang menyuruhnya untuk menyebutnya dengan kata 'Mbak' saja. "Mbak mau?" Tawar Maya. "Nggak deh, jam segini, itu makanan berat banget. Aku mau makan buah aja." Wini membuka kulkas, lalu mengambil buah potong yang memang selalu di sediakan disana untuk Nyonya, atau siapa saja yang ingin memakannya. "Iya Mbak emang berat makanannya, seberat badan saya. Hehe." Semenjak Juna mengatainya berat, dia jadi baper. Dan insecure rasanya. Tapi ternyata, karena ucapan si tuan muda itu, juga nggak sama sekali membulatkan niatnya untuk diet ketat. Dia tak akan goyah, Juna yang mengataianya, karena lelaki itu bukan siapa-siapa, hanya majikan muda yang sedikit aneh. "Seksi May, nggak apa-apa." Sahut Wini yang sedang duduk di kursi makan, menikmati buah potongnya. Tak lama kemudian, Maya mulai menumis saat minyak diatas teflon mulai panas, hanya butuh beberapa detik saja aroma bawang, cabai yang di campur menjadi satu menyeruak di seluruh dapur. Menusuk ke rongga hidung Wini yang karena itu otaknya mendadak bekerja kalau mengatakan perutnya lapar... lapar. "Duh godaan banget sih tumisan kamu itu." Keluh Wini. "Bahaya nih, lama-lama disini." Wini menutup box berisi buah potong lalu cepat-cepat menyimpan di kulkas kembali. "Maafin Mbak, tapi saya bisa pastikan kalau Mbak nyicip nggak bakal nyesal." Goda Maya saat Wini hendak melangkah kembali ke kamarnya. "Kamu tuh bener-bener ya." Wini kembali lagi mendekat ke arah Maya yang sedang mengaduk-aduk teflon, tidak lupa ia menambahkan telur biar rasanya lebih komplit, karena spesial, udah pasti pakai telur dong. Sekarang, mi yang sudah ia tiris ia campakkan ke dalam teflon. "Berapa kalorinya ya itu?" Tanya Wini sambil memegang perut ratanya. Rasanya percuma dong dia aerobic, diet, demi menjaga bentuk badan. "Yang saya tahu, sekali aja makan begini di jam malam nggak bakalan bikin naik berat badan kok Mbak, kecuali sering-sering kayak saya." Jelas Maya. "Iya tau." Sahur Wini. Galau melanda. "Ah tapi kamu kan cuma bikin satu porsi, kamu aja nggak kenyang, sok-sok an mau nawarin aku." Gerutu Wini. "Bisa bagi dua Mbak." Saran Maya. Tak butuh waktu lama, mi goreng spesial sudah selesai. Maya hendak mengambil dua buah piring berukuran sedang, ya dia rela berbagi dengan majikannya itu. Nggak apa-apalah jatahnya berkurang. "Eh satu piring aja, kita makan berdua, pakai dua sendok." Usul Wini, karena menurutnya nanti jadi banyak cucian piring kan nggak masalah berbagi sepiring berdua. "Ehm, Mbak, beneran nggak apa-apa? Mbak yakin mau makan sepiring berdua dengan saya?" Tanya Maya, dia nggak yakin. Ini majikan loh, dan dia hanya pembantu, apa nggak salah? "Emangnya kenapa, kamu nggak menderita penyakit menular kan?" Maya menggeleng. "Amit-amit, nggak lah Mbak." "Ya udah, sepiring beruda aja." Akhirnya, mereka duduk berdekatan, Wini seolah tak sabaran menyicip masakan si bohay. "Enak ya, benar kamu bilang." Ujar Wini, mulutnya penuh dengan mi. Maya hanya tersenyum, di puji majikan. Laparnya jadi hilang. Dan Wini bukan yang pertama menyicipi masakannya, Juna juga sudah sering makan nasi goreng buatannya. Lelaki itu memang nggak pernah mengakui enak, tapi selalu minta lagi setiap pagi. Dulu, masa-masa di mana Maya masih bertugas sebagai penyaji makanan tuan muda. * Juna, baru saja pulang, tiba di rumah. Kerjaannya di kantor cukup banyak hingga mengharuskannya lembur. Masuk dari pintu samping yang terhubung ke garasi, Juna langsung menuju dapur. Kalau dia beruntung, dia akan bertemu Maya di jam segini, karena yang dia tahu, gadis itu akan membuat teh herbal sebelum tidur. Mendengar samar suara kelentang kelenting di dapur, Juna senyum. Dugaannya benar, pasti itu Maya. Dengan girang, dia melangkah, senyumnya masih mengembang dan sialnya tertangkap oleh Wini dari kejauhan. Juna merubah haluan, nggak jadi ke dapur. Kok bisa-bisanya mbaknya itu lagi makan bareng Maya. Ah, sial. Ketahuan kan mau nemui Maya. "Hei, hei, hei!!" Maya kembali kaget saat Wini tiba-tiba berteriak. "Ada apa Mbak?" Tanya Maya. "Jun, kenapa kabur kamu? Sini!!" Titah Wini. Juna berdecak kesal, memang beruntung disana ada Maya. Tapi sial, ada Mbak Wini. "Kenapa Mbak?" Juna mendekat. "Tadi senyum-senyum kenapa hayo?! Ah ya udah Mbak paham." Wini bangun dari duduknya setelah meneguk air putih yang di sajikan Maya. "Maya, makasih ya masakannya." Wini pun pergi berlalu, meninggalkan dua orang kebingungan disana. Mereka mendadak canggung, biasanya mereka selalu berdebat. Saat ini, keduanya malah bingung, ketika berdekatan. Nggak tahu mau ngomong apa? Juna memegang tengkuknya, dan Maya berpura-pura membenarkan kerudungnya yang sebenarnya nggak kenapa-kenapa. Situasi seperti apa ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD