Wini memang mulutnya lantam, tapi hatinya baik. Gayanya aja yang high class tapi dia juga merakyat, buktinya nggak masalah makan sepiring berdua dengan Maya. Sikap dan sifat itu dia turunkan dari sang Ayah. Sebenarnya ketiga anak Pak Pranaja semuanya nggak ada yang sombong berlebihan layaknya anak sultan. Mereka masih tahu batasan walau kadang-kadang keras kepala.
Wini tiba di kamar, dia cekikian lagi. Entah apa yang membuat hatinya tergerak untuk setuju andai adik bungsunya itu bersanding dengan Maya saja. Karena menurut Wini, Maya bisa membawa pengaruh baik untuk Juna. Dia jadi sering berada di rumah, dan Wini yakin andai mereka menikah nanti, Maya pasti bisa mengurus Juna dengan baik. Ah tapi pikiran itu segera dia tepis mengingat usia si bohay masih kecil. Mana mungkin menikah muda. Lagian dia kan juga berniat untuk kuliah.
Sementara dua insan yang tengah berada di ruang makan, masih dalam diam dan akhirnya...
"Bisa order lagi?" Juna yang memulai pembicaraan. Dia menunjuk ke piring di hadapan Maya yang nyaris kosong.
"Oh ini, mau?" Tanya Maya.
"Saya belum makan malam,” Sahut Juna lalu duduk di salah satu kursi di sana.
"Ya udah sebentar ya saya bikinin lagi." Maya memegang piring itu lalu bangun dari duduk dan langsung menuju ke bak tempat cuci piring meletakkan piring kotor.
Duh kok panik gini sih?
Maya panik dan bingung, harus mulai dari mana.
Oh iya rebus mi dulu.
Sementara Juna? Lelaki itu sedang Duduk santai, sambil memainkan jari-jarinya di atas meja. Sama halnya dengan Maya, dia pun gugup. Ah ini gara-gara Mbak Wini. Batin Juna.
Juna menatap tubuh Maya yang bergerak kesana kemari. Nggak apa-apa lah, nggak bisa mandangi wajahnya minimal bisa pandangi punggungnya. Hatinya terus saja berkata.
Tiba-tiba otaknya jadi tidak bisa diajak kompromi, saat asyik memandangi Maya. Dia membayangkan andia Maya dipeluk dari belakang sepertinya asyik banget. Juna menepis pikiran kotornya dengan meraih ponselnya sambil membuka game, main game agar pikirannya teralihkan. Walau kadang sesekali masih curi-curi pandang ke Maya yang tengah menyiapkan makanan permintaannya.
Padahal, bisa saja Juna makan di luar sebelum pulang. Bahkan tadi Aryo sekretarisnya juga menawarkan makanannya dan dia tolak mentah-mentah. Semuanya Juna lakukan agar dia memliki alasan untuk bisa ke dapur, malam-malam seperti ini.
Sepuluh menit berlalu, tak ada percakapan di antara mereka dan mi yang Maya masak, sudah di hidangkan di atas meja. Tak lupa Maya mengambilkan segelas air putih. Padahal, Maya hanya melayani majikannya, tetapi dia merasa seperti melayani suami. Pikirannya mendadak traveling.
Dan untuk saat ini, Juna tidak hanya berpikir cara untuk memusnahkan Tari, tapi juga cara untuk mendapatkan Maya.
"May?" Juna memanggilnya pelan saat ia tengah balik badan setelah menghidangkan makanan di atas meja.
"Iya, Tuan?" Sahut Maya.
"Jangan panggil Tuan lagi, risih dengarnya." Tukas Juna sambil meraih sendok untuk menyantap makanan.
"Jadi?" Maya berkerut kening, apalagi hatinya mulai dag dig dug.
"Mas?" Usul Juna.
"Saya yang risih kalau begitu." Jelas Maya.
"Masalahnya apa? Kamu manggil Mbak Wini juga dengan sebutan Mbak kan?" Protes Juna.
"Em... iya sih..."
"Duduk dulu, kamu mau kemana buru-buru sekali?" pinta Juna saat melihat Maya tampak gelisah seperti tidak betah berada di sekitarnya.
"Mau tidur." Sahut Maya.
Juna melirik jam, ya sudah pantas memang kalau Maya bilang mau tidur. Sudah hampir jam sebelas malam.
"Duduk!" Titah Juna dengan nada yang agak tinggi. Ya apalagi yang bisa Maya lakukan selain nurut. Dia duduk di hadapan Juna, tangannya ia letakkan di atas paha. Maya heran dengan dirinya, ada apa sih dengannya malam ini? Kok mendadak aneh.
"Oh iya, besok tolong bersihkan kamar ya." Ujar Juna lagi.
"Kamar siapa?" Tanya Maya.
"Saya yang nyuruh... menurut kamu, kamar siapa?" Juna bertanya balik.
"Oh iya, maaf tapi besok saya nggak bisa kayaknya maaf banget ya, saya minta tolong Mbak Risma aja ya?" Risma memang petugas kebersihan di ruangan yang ada di lantai dua rumah, termasuk kamar-kamar yang ada di sana. Kebetulan dua penghuni kamar di atas adalah Juna dan Wira. Dan kamar Wira tetap akan selalu bersih dan rapi walaupun penghuninya sudah pindah.
"Saya maunya kamu, kan kamu udah biasa masuk ke kamar saya." Juna tetap bersikeras agar Maya yang melakukannya.
"Boleh deh saya, tapi... pagi-pagi banget nggak apa-apa? Jam setengah enam saya ke atas."
Sebab Maya sudah memiliki janji besok pagi dengan Mas Wanda, harusnya memang kemarin, tapi kondisi kakinya masih tak memungkinkan untuk dia berjalan, maka ditunda sampai besok.
"Emangnya kamu mau kemana?" tanya Juna mulai kepo.
"Mau... nyari kosan. Buat persiapan kuliah tiga minggu lagi."
"Kamu, mau pindah dari sini?!" Dari nada bicara Juna terdengar tidak senang dengan pengakuan Maya barusan.
"Iya, mau fokus kuliah. Saya nggak mungkin tetap tinggal disini. Saya juga nggak kerja di sini lagi,” Jelas Maya.
Juna mendesah kecewa, jantungnya tiba-tiba berpacu cepat. Pernyataan Maya barusan membuatnya semakin harus berpikir keras untuk menahan Maya agar tetap di sini. Menurutnya, kuliah ya kuliah. Kenapa harus pindah?
"Emanganya kalau masih tinggal di rumah ini, kenapa? Kamu kan tetap bisa kuliah." Ujar Juna tegas.
Maya menggeleng, "Nggak bisa, seperti sekarang contohnya, kalau misalkan saya lagi ada tugas tapi harus melaksanakan tugas lain dari majikan. Gimana saya bisa membagi waktu?" Penjelasan Maya cukup masuk akal. “Saya mau fokus, karena ini kesempatan besar buat saya, Tuan. Kebetulan saya lulus melalui jalur beasiswa. Jadi saya harus tetap mempertahankan nilai saya, supaya tetap di atas rata-rata, kalau enggak beasiswa saya ditarik kembali." Lanjut Maya dengan mata berkaca-kaca. Entah mengapa dia sedih tiap kali membahas ini. Dapat kesempatan kuliah, tak tahu lagi harus bagaimana cara dia bersyukur selain bersungguh-sungguh. Apalagi lulus di jurusan yang sangat dia sukai. Pendidikan Guru Bahasa Inggris.
"Oh... begitu." Tenggorokan Juna rasanya tercekat. Dia sudah tidak tahu lagi harus bilang apa karena Maya terlihat cukup serius menjelaskan.
"Udah selesai makannya? Biar saya cuci." Maya berdiri. Hendak meraih piring dan gelas Juna yang sudah kosong.
"Ehm, nanti kalau saya kangen kamu, gimana?" Juna berujar cukup pelan. Meski belum bisa memastikan perasaannya pada Maya, tapi yang jelas dia nggak siap kalau nggak melihat gadis itu satu hari saja.
"Ya? Kangen maksudnya?" Kata kangen yang diucapkan majikan mudanya barusan, tentu membuat Maya sedikit bingung. Apa dia sedang digombali?
Juna menggaruk pelipisnya. Kangen maksudnya? Aduh Maya ini polos atau apa. Juna mengeluh dalam hati. Gimana dia harus menjelaskannya.
"Kangen masakan kamu." Sanggahnya cepat.
"Oh... itu. Gampang, Nanti sesekali saya kesini kok, buat kunjungi ibu." Jawab Maya sambil berjalan ke arah tempat cuci piring.
"Gimana saya bisa tau kalau kamu ada disini nanti?"
"Gimana ya?"
Maya malah balik bertanya.
"Saya nggak akan ke dapur ini lagi kalau kamu nggak ada." Juna bingung harus ngomong apa lagi. Bisa nggak sih gadis ini nggak usah kemana-mana.
Maya tidak menjawab, dia fokus mencuci piring dan gelas. Hening, hanya terdengar suara gemercik air dari kran. Pada akhirnya, Maya berbalik menghadap Juna, dia tersenyum. Maya pun tak tahu harus menjawab apa.
"Saya masuk dulu ya." Ujar Maya, tanpa mau membahas sedikitpun kalimat Juna. Jujur saja, dia gugup karena Juna seperti sedang merayunya. Namun, Maya tetap berusaha santai menanggapinya.
"Maya." Panggil Juna lagi.
"Iya?"
"Jangan lupa besok pagi."
"Siap Tuan." Sahut Maya.
"Mas Juna."
Lelaki itu meralat, panggilan Maya terhadapnya. Dan lagi-lagi Maya hanya tersenyum. Selama kenal Maya, jarang sekali gadis itu tersenyum yang Juna sering dapatkan adalah wajah juteknya yang sadis, senyum yang dia dapatkan selama ini juga sebuah senyum sinis saat mereka sering berdebat.
Juna masih duduk di kursi, sementara Maya sudah menghilang dari pandangannya, menuju kamar.