Saya Nikahin, Mau?

923 Words
Akhirnya Maya berhenti saat merasa tak sanggup lagi melangkah, dia meneteskan air mata menahan sakit. Bukan sakit hati karena omongan Tari. Dia nggak peduli dengan itu, dia bersyukur karena mempunyai hati setegar karang, tak jatuh karena hinaan. Tapi yang buat Maya benar-benar menangis adalah rasa sakit, perih dan denyut di telapak kakinya hingga ia terduduk di rerumputan sambil melihat kedua telapak kakinya yang masih mengeluarkan darah. Pantas saja sakit sekali, masih ada beling yang menancap dalam daging, tepat di telapak kaki kanannya. Astaghfirullah'aladzim ya Allah sakitnya.... Maya sendiri ngeri melihat beling yang menancap sempurna di dalam daging telapak kakinya itu. "Maya, kamu bisa infeksi kalau begini." Sentak Juna, kesal. Karena Maya terus menghindarinya. Maya segera menjauhkan kakinya saat Juna ingin menyentuh kakinya lagi. “Saya bisa sendiri, kenapa tuan repot-repot sih?" Ujar Maya sambil menyeka air matanya. Aduh malu dong kelihatan sedang menangis. Juna merasa sangat sangat iba padanya, dia mengira Maya menangis pasti hatinya sangat sakit karena ucapan Tari tadi. Maya mencoba berdiri, tapi hasilnya dia justru berteriak pelan, sakitnya luar biasa. Juna tidak peduli kalau Maya begitu keras melarangnya untuk tidak menyentuhnya. Dia meraih kaki kanan Maya dan melihat apa yang ada disana. Ekspresi Juna langsung berubah, membayangkan pasti yang Maya rasakan cukuplah sakit. "Kita ke rumah sakit sekarang!!" Yang Juna lakukan lagi adalah kembali menggendongnya karena bagaimanapun ceritanya, Maya tidak akan sanggup berjalan dengan kondisi kaki yang seperti ini. "Kenapa sih? Suka nyentuh orang seenaknya?!" Maya risih, Juna kan orang asing, walau dalam pikiran Maya, Juna mungkin nggak normal dan nggak doyan perempuan, tapi bagaimanapun dia tetap laki-laki dan bukan muhrim. "Kamu aneh, saya cuma mau nolong kamu. Bukan perkosa kamu!" Juna pun kesal, gadis ini di tolongin nggak tau terimakasih. "Saya nggak suka di sentuh sama yang bukan muhrim,” Sahut Maya. Juna membawanya ke mobil, dan agak kesusahan membuka pintu mobil. Maya berinisiatif menarik handle pintu dan terbuka. Juna meletakkan tubuh Maya dengan posisi duduk. "Jadi kalau ada dokter, perawat laki-laki juga yang mau nolongin kamu nanti, kamu juga nggak sudi?" Tanya Juna saat dia sudah duduk di samping Maya, memegang stir mobil. "Itu besa ceritanya!!” sangkal Maya. Satu yang Juna tangkap dari Maya, gadis ini memiliki sifat yang keras kepala. "Rugi dong saya di pegang-pegang terus dari tadi!!" Lanjut Maya, masih menumpahkan kekesalannya. Ya Maya memang benar-benar kesal. Perkara Juna menyentuh tubuhnya seenaknya sejak tadi. "Jadi gimana biar kamu nggak rugi? Saya nikahin, mau?" Tanya Juna tanpa terbelit lidahnya telah mengucapkan itu. Perlahan, ia melajukan mobilnya keluar dari perkarangan rumah. "Jelek bercandanya, nggak lucu.” Dia nggak peduli lagi dengan siapa dia berbicara. "Kamu pikir, saya bercanda?" Lantas mendengar jawaban Juna barusan, Maya tertawa. Dasar aneh. Walau dia hanya berani mengatai lelaki itu di dalam hati. "Makanya jangan melulu bilang rugi, rugi, rugi. Di ajak nikah nolak." Juna terus menantangnya dan Maya sama sekali nggak terpengaruh. "Tuan, ngaca. Udah punya calon istri." Sahut Maya. Dia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Juna tidak menjawab lagi, malas banget karena Maya sudah bawa-bawa calon istrinya yang nyebelin itu. "Dekat sini ada klinik, kita kesitu aja. Nggak usah kerumah sakit." Ujar Maya. "Ragu, bisa jadi petugas medisnya nggak profesional." Juna menjawab sambil menoleh ke arah Maya yang tengah menundukkan kepalanya. Maya meringis lagi, denyutnya semakin bertambah. Dia meremas gamis yang di kenakannya untuk menahan sakit. "Sakit banget?" Tanya Juna. Maya mengangguk, dia masih menunduk. Akhirnya Juna menuruti apa kata Maya, mereka pergi ke klinik terdekat karena tak tega melihat Maya yang sudah tidak tahan lagi dengan denyut dan perih di kakinya. ~ Armayanti Aisyah nama lengkap Maya. Juna baru mengetahui kalau nama lengkap perempuan keras kepala itu ternyata cukup indah. Ya boleh di bilang secantik orangnya walaupun cukup menyebalkan. Juna sudah melesaikan administrasi di klinik dan Maya sudah selesai di obati, meski tadi dia malu-maluin karena sempat berteriak saat beling di cabut dari telapak kakinya. Kini kedua kaki Maya sudah berbalut perban. Kaki Maya belum benar-benar bisa menapak sebab denyutnya masih sangat terasa. Di dorong dengan kursi roda, sampai ke mobil. "Bisa sendiri." Ujar Maya saat sudah sampai di mobil dia memaksakan kakinya untuk berpijak. Sudah cukuplah tiga kali saja Juna menggendong-gendong tubuhnya. "Makasih ya." Akhirnya Juna mendengar apa yang sangat ingin dia dengarkan dari mulut gadis itu. Hingga ia menahan senyum, sulit sekali. "Sama-sama, lain kali hati-hati, jangan ceroboh." Juna mengingatkan. "Iya." Sahut Maya. "Kamu belum makan siang kan?" "Makan di rumah aja." "Makan di luar aja. Saya juga belum selesai tadi makannya, gara-gara kamu." "Kok nyalahin saya... Jadinya nggak bisa menikmati masakan calon istri ya? Tenang aja Tuan, nanti kalau udah nikah, pasti di masakin setiap hari kok." Maya berucap dengan nada penuh ejekan. "Kamu yang masak kan?" Tanya Juna. "Maksudnya?" Maya heran, mengap tiba-tiba jadi dia yang masak? "Iya, kamu nanti yang bakalan masakin saya tiap hari, kan?" Ah, benar sepertinya tuan mudanya sakit jiwa. "Iya." Sahut Maya di iya kan saja, biar kelar. Lelah berdebat terus. "Yess!! Jadi lamaran saya di terima?" Juna berseru riang. "Lamaran apa?" Maya serius dengan pertanyaannya, dia bingung tuan nya ini kenapa? "Udah deh lupain." Juna mendesah kasar, lalu dia melajukan mobilnya ke arah pulang, namun berniat singgah dulu di restoran yang melayani fasilitas drive thrue. "Saya mau pulang aja, tuan." Maya terlihat gelisah saat menyadari mobil mulai belok ke sebuah restoran cepat saji. "Saya nggak pakai sandal, pakaiannya juga begini. Ngapain makan disini, malu-maluin." Lanjut Maya. "Diam kamu, jangan berisik. Kita makan di mobil." Dan ponsel Juna kembali bergetar untuk yang ke sekian kalinya. Itu adalah panggilan dari sang Ibu yang akan siap mengomelinya karena meninggalkan Tari begitu saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD