Nadia tersenyum. Wanita itu kembali menikmati sarapan pagi lezat yang baru saja dibelikan Yumna untuknya. “Tante … Na minta maaf,” ucap Yumna, tiba-tiba. Nadia mengangkat kepalanya, “Minta maaf, untuk apa?” “Sikpa Na sudah membuat tante Nadia merasa terluka.” Nadia tersenyum, “Kamu nggak salah apa-apa kok, Sayang … Sudah, lanjut makan lagi.” “Tante, boleh Na jujur?” “Tentu saja boleh, Sayang.” Yumna menghela napas, “Awalnya, Na memang suka pada bang Adrian. Na nggak tahu apakah itu namanya cinta atau bukan. Tapi bang Adrian memang sangat baik. Jujur saja, ia cukup tampan. Tapi selama ini Na menganggap ia hanya sebagai kakak saja. Apa lagi ibunya juga sayang pada Na. Tapi sayangnya semua berubah ketika bang Adrian menyatakan cintanya pada Na. Na bukannya tidak suka, Tante. Tapi Na me

