Kenapa Harus Dia

1150 Words
Putri berdiri di depan halte bus. Entah kenapa hari ini bus yang biasanya lewat belum juga kelihatan. Taksi pun tidak terlihat lalu-lalang di sekitar sini. Padahal hari sudah semakin sore. Saat sedang gelisah dan berpikir ingin menggunakan kekuatan teleportasinya, sebuah mobil berhenti di depan Putri. Orang yang mengendarai mobil sedan berwarna silver keluaran pabrikan Jepang itu membuka jendela dan tersenyum senang ke arah Putri. Tapi, tidak dengan Putri. Dia menghembuskan napas jengahnya. “Putri! Mau pulang bareng?” Tanya Bryan dari dalam mobil. “Tidak perlu, terima kasih.” Tolak Putri halus. “Ayolah, mau sampai kapan lo berdiri di sana? Bus terakhir sudah lewat dari satu jam yang lalu. Sedangkan taksi sangat jarang lewat di sini. Pilihan lo cuma satu, ikut gue pulang. Nanti gue anter sampe depan pager rumah lo kok. Tenang aja.” Bujuk Bryan. “Terima kasih, Bryan. Tapi, gue masih harus menunggu temen gue yang mau Dateng jemput ke sini. Gue nggak enak kalau nanti pas dia sudah jauh-jauh dateng ke sini gue Udah pulang.”  “Yang bener? Gue lihat lo dari tadi gelisah gitu. Sudahlah, Put. Lo nggak Usah banyak alasan buat nolak tawaran gue.” “Gue nggek beralasan kok. Sebentar lagi dia datang. Mungkin terjebak macet dia.” Tolak Putri sekali lagi. “Yakin lo, Put? Jangan sampai lo menyesal. Karena sebentar lagi hari mulai gelap loh.” “Iya, Bryan. Gue terima kasih banget untuk tawarannya. Tapi, gue masih mau nunggu temen gue dateng.” “Okelah. Gue duluan ya, Put.” “Oke. Hati-hati di jalan.” Bryan pun melambaikan tangannya dan menutup jendela mobil lalu melajukan mobil itu cepat. Tak jauh dari halte bus ini dua orang teman Bryan tertawa geli melihat Bryan ditolak lagi oleh Putri. Padahal mereka sudah mengatakan kepada Bryan untuk mengacuhkan Putri. “Dasar tuh anak. Dia nggak pernah mau Dengerin kita. Akhirnya di tolak lagi dia.” Ucap salah stau teman Bryan. Mereka pun langsung masuk ke dalam mobil dan ikut pergi dari tempat ini. Hari semakin sore dan kendara yang melewati kampus ini pun semakin sedikit. Putri melihat kesekelilingnya beberapa kali untuk memastikan tidak ada orang yang melihat ataupun yang memperhatikannya. “Baiklah, mari kita pulang ke rumah.” Gumam Putri. Dia pun melangkahkan kakinya dengan santai. *** Nek Seruni langsung memegang dadanya karena terkejut melihat Putri yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Walaupun sering melihat hal seperti ini selama melayani Putri, bukan berarti hal semacam ini tidak mengejutkannya. “Di mana mobil, Anda Ratu? Kenapa melakukan teleportasi?” “Duh, Nek…. Sudah berapa kali sih aku mengingatkan nenek untuk memanggil namaku saja, PUTRI.” Sela Putri kesal. “Ah… maaf. Saya lupa lagi. Jadi, kenapa melakukan teleportasi?” “Mobilnya rusak parah. Karena tadi terjadi kecelakaan.” Jawab Putri santai. Dia langsung duduk di sofa ruang tengah dan langsung membuka toples camilan yang ada di atas meja. “Kecelakaan? apakah ada yang meninggal?” “Tidak ada, dan bukan aku yang menyebabkan kecelakaan itu.” “Syukurlah. Saya pikir Anda yang menyebabkan kecelakaan itu dan banyak orang yang meninggal.” “Aku ini sangat berhati-hati di jalan raya. Aku tidak mau membuang kesempatan yang tinggal sedikit ini dengan sia-sia.” Jawab Putri kesal. Jika mengingat sepuluh kesempatan yang diberikan Dewa Semidang, Putri pasti langsung menghembuskan napas kesalnya. Pasalnya dari sepuluh kesempatan itu hanya tersisa empat lagi. Dia benar-benar tidak bisa berdiam diri saat melihat kedzaliman di depan matanya. Sama seperti tadi, dia hapir saja memusnakan mahluk tak kasat mata yang berencana menempel terus pada manusia dan menghisab energinya sampai terkuras habis dan berakhir dengan kematian. Putri tidak pernah suka dengan hal-hal seperti itu. Tapi, terkadang tindakannya yang seperti itu menjadi perdebatannya dengan Dewa Semidang. “Nek, aku ingin tidur siang. Misalkan nanti ada dari pihak asuransi menghubungi mengenai mobil, katakan saja kepada mereka jika biaya perbaikannya melebihi dari polis asuransi katakan kepada mereka tidak perlu di perbaiki, langsung kirimkan saja mobil itu ke pusat penghancuran mobil.” “Baiklah. Apakah saya harus memesan mobil yang baru?” “Tidak perlu, besok aku akan langsung berkunjung ke dealer mobil bekas saja.” “Tumben sekali. Biasanya Anda akan langsung datang ke dealer mobil baru.” “Nanti saja. Jika aku membeli mobil baru, aku harus menunggu proses STNK dan yang lainnya selesai. Terlalu memakan waktu lama, karena aku butuh kendaraan segera.” *** Bryan dan kedua temannya sedang menikmati malam mereka dengan berpesta di salah satu klub malam ternama di kota ini. Dua orang wanita penghibur yang baru mereka temui pun sudah duduk di samping kanan dan kiri Bryan. Malam ini dia ingin melepaskan rasa kesalnya. “Bry, lo nggak bosen apa deketin si Putri? Kayak nggak ada cewek lain aja di kampus.” Tanya salah satu temannya. “Ini bukan perkara bosen atau nggak, Bro. Ini hanya karena rasa penasaran gue aja. Gue mau lihat sampe kapan tuh cewek satu sok jual mahal sama gue.” “Kalau kata gue dia itu nggak pernah tertarik sama cowok. Lo sudah dengar dari Edwin tadi siang kalau tu cewek nggak pernah mau bergaul sama orang lain. Temen sekelasnya aja nggak dia gubris apa lagi lo.” “Kita lihat saja nanti. Gue yakin dia bakal nyerah juga. Siapa sih yang bisa nolak pesona gue?” “Jumawah banget sih lo!” “Emang kenapa? masalah? Gue boleh dong sombong, karena yang mau gue sombongin ada semua.” “Iya deh… iya…” Disc joykey di depan sana sedang meramu musik agar enak di dengar dan juga enak untuk bergoyang. Bryan yang sudah bosan hanya duduk dan minum pun langsung turun ke lantai dansa. Dia menggerakkan tubuhnya dengan sangat piawai. Dia ingin melepaskan penatnya malam ini dengan berdansa dan menghabiskan malam ini bersama beberapa wanita. Laras yang kebetulan duduk tida jauh dari meja yang Bryan pesan pun mendengar semua pembicaraan mereka lalu ikut turun ke lantai dansa untuk mendekati Bryan. Laras bergerak dengan lincah dan selalu menempel dengan Bryan sampai perhatian Bryan pun tertuju kepadanya. Laras pun tersenyum licik dan mulai menggoda Bryan. “Hai…” sapa Bryan. “Halo…” Laras pun menjawab sambil tersenyum dan membelai wajah tampan Bryan. “Mau bersenang-senang malam ini?” Tanya Bryan sambil menyeringai. “Tergantung… seberapa menariknya tawaran itu.” “Hahahahahaha… lo nggak bakal kecewa sama gue. Bahkan lo akan selalu teringat kesenangan malam ini.” “Cukup menarik.” Bryan pun mengajak Laras untuk keluar dari klub ini dan langsung menuju kamar yang sering dia gunakan jika berkunjung ke klub ini. Kebetulan klub ini terhubung dengan salah satu hotel bintang lima yang ada di kota ini. Dan Bryan merupakan salah satu anak dari pemegang saham terbanyak di hotel ini. Sepanjang koridor mereka tertawa dan berbisik di telinga satu sama lain. Entah apa yang mereka katakan sampai tertawa mereka membahana. Beberapa pengunjung yang berpapasan dengan mereka pun penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Tapi, mereka semua tidak mau ambil pusing dan membiarkan mereka lewat begitu saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD