Putri keluar dari toilet dengan baju yang sudah lebih layak untuk mengikuti perkuliahan. Dia pun bernapas lega saat melihat Laras sudah tidak ada di depan toilet. Tapi, masalah baru pun datang menghampirinya.
Bryan dan dua orang temannya tengah berada di dekat parkiran. Dia terlihat sedang memperhatikan mobil Putri dan berbicara dengan teman sekelasnya. Putri dapat mendengar pembicaraan mereka. Dengan cepat Putri pun berbalik badan dan berjalan cepat menuju ruang kelas mata kuliah selanjutnya.
“PUTRI!” Teriak Bryan.
Putri pun menghentikan langkahnya. Mau tidak mau dia berpura-pura mencari-cari siapa yang baru saja memanggilnya. Saat mata mereka bertemu, Putri pura-pura terkejut dan canggung. Bryan pun mendekati Putri dan melihat penampilannya dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“Sepertinya lo nggak kenapa-napa ya. Gue sampe khawatir saat mendengar kabar kalau lo mengalami kecelakaan.” Ucap Bryan sambil berusaha menyentuh bahu Putri.
“Gue baik-baik aja.” Jawab Putri sambil menghindar. “Anyway, dari mana lo tahu kalau gue mengalami kecelakaan?”
“Dari temen gue yang satu kelas sama lo.”
“Oh. Ternyata sudah ada mata-mata toh.” Jawab Putri malas. Lebih tepatnya dia seperti bergumam dan berbicara dengan dirinya sendiri.
“Hehehehehe… bukan mata-mata, Put. Hanya informan saja, biar gue tahu berita terupdate tentang lo. Siapa tahu kan lo sudah punya pacar atau lagi dekat sama cowok.” Balas Bryan sambil cengar-cengir salah tingkah.
“Gue masih ada kuliah. Jadi, gue duluan ya.” Putri pun berniat untuk meninggalkan Bryan tapi tangannya di tahan oleh laki-laki itu.
Putri pun mengatupkan rahangnya kuat. Dia berusaha untuk tidak marah saat ini. Karena Putri paling tidak suka dengan orang yang seenaknya seperti Bryan. Sudah puluhan tahun dia hidup berdampingan dengan manusia, jadi dia tahu dengan pasti apa yang diinginkan Bryan saat ini.
“Put, nanti pulang bareng gue aja. Katanya mobil lo bakal di bawa ke bengkel ‘kan?”
“Sorry, gue sudah ada janji sama orang. Dan sepertinya dia akan menjemput gue nanti.”
“Begitu ya. Pacar lo, Put?” Tanya Bryan penasaran.
“Gue rasa, gue nggak ada kewajiban untuk menjawab pertanyaan lo itu. Karena itu adalah urusan pribadi gue. So, gue duluan!” Jawab Putri ketus. Dia pun langsung berbalik badan dan meninggalkan Bryan begitu saja.
Bryan mengepalkan tangannya kuat. Dia tidak terima dengan perlakukan Putri yang seperti ini. Padahal dia sudah berbaik hati menawarkan tumpangan kepada Putri. Tapi, yang dia dapat justru sikap ketus dan juga perkataan sinis.
“Lo di tolal, Bro?” Tanya teman Bryan yang sedari tadi memperhatikan mereka dari jauh.
“Dia lagi sok jual mahal. Lihat saja nanti, gue pastiin dia bakal bertekuk lutut di hadapan gue! Cewek kayak dia tuh awalnya aja sok jual mahal, tapi kalau sudah tahu bakal dapet keuntungan banyak dari gue, yang ada dia bakalan nempel terus sama gue.”
“Jangan terlalu percaya diri, Bro. Yang gue lihat Putri itu beda sama cewek lainnya.”
“Kita lihat saja nanti.”
Putri hanya menyeringai mendengarkan perkataan tiga orang yang ada di belakangnya. Rasanya dia ingin tertawa terbahak mendengar perkataan Bryan itu. Bertekuk lutut katanya? Yang benar saja! Yang ada justru dia yang akan bersimpuh minta ampun jika dia tahu siapa Putri.
Putri memasuki ruang kelas, dan memilih kursi yang ada di barisan paling belakang. Di sampingnya ada seorang anak laki-laki yang terlihat sangat lesu. Orang lain mungkin melihatnya seperti sedang sakit. Tapi, tidak dengan Putri. Dia bisa melihat dengan jelas jika temannya itu sedang ditempel oleh mahluk tak kasat mata.
Sepetrinya mahluk itu sedang menghisap energi temanya itu. Putri pun mendekati teman sekelasnya itu sambil terus memperhatikan mahluk yang masih bertengger di atas bahunya.
“Hai… nama lo siapa?” Tanya Putri.
“Robi, Put. Lo nggak kenal temen sekelas sendiri?” Jawab Robi sinis.
“Sorry, gue sulit untuk menghapal nama.” Balas Putri bohong. Padahal dia memang tidak pernah berniat menghapal dan mengingat nama teman-temannya.
“Kenapa lo nyapa gue? Yang gue lihat selama ini lo nyaman sendiri. Ada perlu lo sama gue?” Tanya Robi ketus.
“Hah? Ah… iya, gue mau nanya. Lo sakit?”
“Nggak. Gue hanya ngerasa ada yang aneh aja sama tubuh gue. Baru satu minggu ini gue lesu banget gini. Kelihatan banget ya kalau gue kayak orang sakit?” Tanya Robi sambil memegangi wajahnya.
“Oh, lo ada ngelakuian sesuatu yang iseng nggak? Atau dateng ke tempat yang nggak seharusnya lo datengin?”
“Kagak ada. Gue baru pindah kosan minggu kemaren biar lebih deket dari kampus. Tapi, semenjak di kosan baru badan gue berasa nggak enak gini. Dan gue ngerasa di pundak gue ini berat banget.” Jelas Robi.
“Ehm… boleh gue pegang pundak lo?” Tanya Putri ragu.
‘Hei siluman! Kau tidak usah ikut campur urusanku!’ Ucap mahluk itu sambil membelalakkan matanya ke arah Putri.
Putri tidak menjawab ucapan mahluk tak kasat mata itu. Dia justru tersenyum mengejek sambil terus mengintimidasinya. Pemandangan ini benar-benar mengganggu matanya. Jadi, terpaksa dia ikut campur. Dan kebetulan orang yang mahluk ini ganggu adalah temannya.
“Mau apa lo peganang pudak gue?” Tanya Robi bingung. Seingatnya dia dan Putri tidak seakrab itu sampai-sampai harus saling memegang pundak satu sama lain.
“Gue mau coba lihat ada apa di pundak lo. Siapa tahu gue bisa bantu.” Jawab Putri sambil tersenyum ramah.
“Lo bisa ngobatin orang ya? Atau lo orang pinter?” Tanya Robi antusias.
“Hah? Maksudnya apa? Gue emang orang pinter, buktinya gue bisa masuk ke universitas ini. Sama seperti lo ‘kan.”
“Bukan itu maksud gue. Maksud gue, lo ngerti cara ngobatin orang dan bisa ngeliat mahluk tak kasat mata? Karena kalo kata ibu kos yang bisa ngeliat ada sesuatu di pundak gue. Tapi, dia nggak bisa bantu, dia cuma bisa liat doang.”
“Oh… gue nggak bisa lihat sih. Gue cuma penasaran aja, mungkin peredaran darah lo nggak lancar. Kebetulan gue pernah belajar ilmu akupuntur.” Jawab Putri beralasan. Dia tidak mungkin mengatakan jika dia bisa mengusir bahkan melenyapkan mahluk tak kasat mata.
“Ehm… boleh, Put.” Jawab Robi cepat. Dia sudah tidak tahan sebenarnya. Dia merasakan sesuatu yang berat ada di pundakanya sedari satu minggi yang lalu.
Putri pun menyentuh pundak temannya itu dan mahluk tak kasat mata yang sedari tadi menempel pada Robi langsung merasakan kesakitan. Dia pun menatap Putri nyalang tapi, bukannya takut Putri justru mengeluarkan kekuatannya untuk melenyapkan mahluk tak kasat mata itu.
Robi merasakan sensasi hangat di pundaknya. Seperti ada api yang sedang berkobar di pundaknya itu. Perlahan rasa berat dan juga pegal di pundaknya berkurang dan hilang. Sedangkan mahluk tak kasat mata itu berteriak kesakitan.
‘Ampun! Aku tidak akan mengganggunya lagi. Aku akan pergi!’ Ucap mahluk tak kasat mata itu.
Setengah dari jiwanya sudah terbakar dan nyaris hilang. Dari pada dia benar-benar lenyap dari dunia fana ini dia pun memilih untuk pergi meninggalkan tubuh manusia yang bisa memberikannya energi yang cukup untuk dia hidup. Setelah mahluk itu benar-benar pergi, Robi pun merasa tubuhnya jauh lebih sehat.
“Wah… Put lo bener-bener buat pundak gue ringan sekarang. Apa bener ada mahluk tak kasat mata yang nempel sama gue, Put?” Tanya Robi sekali lagi. Dia benar-benar penasaran.
“Hah? nggak ada yang seperti itu, Rob. Aliran darah lo itu nggak lancar. Mungkin lo keseringan begadang buat ngerjain tugas atau main gim mungkin.”
“Hehehehe… tahu aja lo, Put. Gue emang suka begadang sih buat main gim.”
“Nah itu, coba lo kurangin kegiatan main gim di tengah malam. Angin malam nggak baik buat kesehatan. Lagian tubuh lo butuh istirahat juga.”
“Iya, Put. Makasih ya.”
“Sama-sama.”
Dua orang itu tidak sadar jika sudah menjadi pusat perhatian teman satu kelasnya. Karena mereka sangat heran melihat sikap Putri yang ramah dan mau menyentuh pundak teman sekelasnya. Biasanya Putri selalu bersikap dingin dan terlihat tidak perduli dengan sekitarnya selama ini.