Putri berlari menyusuri koridor Fakultas Ilmu Komputer untuk sampai ke ruang kelas yang saat ini sedang berlangsung mata kuliah Algoritma dan Pemrograman I. Hari ini dia benar-benar sial, jika tadi tidak terjadi kecelakaan di jalan raya mungkin saat ini dia sudah ada di dalam ruang kelas.
Untung saja dia Putri adalah manusia setengah siluman. Jadi dia tidak perlu dibawa ke rumah sakit saat kecelakaan terjadi. Baju yang dia kenakan saat ini sudah kotor oleh darah yang keluar dari ujung pelipis dan juga bibirnya. Tapi, kondisi luka itu sudah tidak terlihat lagi. Tinggal noda darah saja yang tertinggal.
Putri menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan sebelum mengetuk pintu ruang kelas yang saat ini sedang berlangsung perkuliahan untuk menetralkan detak jantungnya sehabis berlari. Lalu dia mengetuk pintu itu perlahan, dia yakin pasti akan langsung diusir oleh dosen itu.
Dosen yang hari ini mengajar terkenal sangat disiplin dan juga tidak pernah mentolelir keterlambatan sama sekali. Putri pun bersiap untuk menggunakan ilmu sihirnya untuk mengubah pikiran sang dosen.
Terdengar suara yang mempersilahkan Putri masuk. Putri pun bertatapan dengan sang dosen dan langsung menatap lekat ke arah mata besar itu. Putri berusaha masuk ke dalam pikiran dosen itu dan mulai mempengaruhinya sampai dosen itu pun tersenyum kepadanya.
"Silahkan masuk! Kamu terlambat ya?" tanya sang dosen ramah.
Semua mahasiswa yang ada di dalam ruangan ini langsung bingung. Mereka tidak menyangka jika Putri akan dipersilahkan masuk, bukannya disuruh menutup pintu dari luar seperti yang biasa dialami mahasiswa yang terlambat.
"Iya, Pak. Maafkan saya, tadi saya mengalami kecelakaan lalu lintas." Jelas Putri ragu. Dia tidak yakin jika orang-orang akan percaya. Karena saat ini kondisi tubuhnya baik-baik saja. Tidak seperti orang yang habis mengalami kecelakaan lalu lintas.
"Kecelakaan? Di mana? Kamu baik-baik saja?" tanya dosen itu sambil memperhatikan Putri dengan seksama.
"Di jalan menuju kampus, Pak."
"Ya sudah, kamu duduk saja. Sebentar lagi kita akan kuis. Saya tadi sudah menyampaikannya, dan waktu kamu hanya tiga puluh menit untuk mengerjakan semua soal!"
"Baik, Pak."
Putri pun langsung duduk di satu-satunya kursi yang masih kosong. Kursi itu tepat berada di depan meja sang dosen. Dia menerima dua lembar kertas, satu kertas merupakan kertas yang berisikan soal, dan yang satu lagi merupakan kertas yang digunakan untuk menulis jawaban.
Putri membaca semua soal yang ada di tangannya. Dahinya pun langsung berkerut, dia benar-benar tidak tahu jawaban dari semua soal ini. Dia benar-benar sial hari ini, sudah terlambat karena mengalami kecelakaan yang disebabkan oleh sopir truk yang mengantuk. Kemudian tidak bisa menjawab soal kuis karena tidak belajar sebelumnya.
***
Semua orang keluar dari ruang kelas dengan wajah lesu. Sepertinya tidak hanya Putri yang tidak bisa menjawab soal kuis tadi. Sebagian dari teman-teman satu kelasnya mengalami hal yang sama dengannya. Putri berjalan cepat menuju parkiran mobil. Dia harus berganti baju terlebih dahulu sebelum mengikuti perkuliahan selanjutnya.
Sebenarnya dia bisa saja menggunakan kekuatannya untuk berganti baju tanpa repot-repot untuk mengambil baju yang ada di dalam mobil. Tapi, Putri tidak mau orang-orang curiga dan mulai bergunjing akan hal itu, seperti yang pernah dia alami.
"Putri!" panggil Laras sambil berlari mendekatinya.
Putri pun berbalik badan dan menatap Laras bingung. Dia sedikit tidak nyaman dengan tingkah Laras yang selalu saja menempel kepadanya sehabis perkuliahan. Entah apa yang diinginkan teman satu kelasnya ini. Padahal dia selalu menolaknya dan menghindari Laras. Bukannya menyerah, Laras justru semakin gencar mendekatinya.
"Ada apa?" tanya Putri bingung.
"Eh, lo beneran kecelakaan? Lo nggak apa-apa, Put? Itu baju lo darah semua begitu." Tanya Laras beruntun.
"Iya, tadi di jalan yang tidak jauh dari gerbang kampus. Gue nggak apa-apa, hanya luka ringan." jawab Putri sambil berjalan kembali.
Laras pun mengikutinya dan dia langsung ternganga saat melihat kondisi mobil Putri yang sangat mengerikan. Bumper depan sebelah kanan yang ada tepat di depan sopir rusak parah. Pintu mobil pun ringsek dan kaca mobil itu pecah tapi tidak berhamburan.
Laras langsung menatap Putri dan mobilnya bergantian. Dia tidak bisa mengerti bagaimana Putri bisa selamat dari kecelakaan itu. Jika dilihat dari kondisi mobilnya yang rusak parah seperti itu sudah bisa dipastikan paling tidak saat ini Putri gegera otak atau patah tulang. Tapi, yang ada temannya ini masih telrihat baik-baik saja.
"Put, lo bener-bener nggak perlu ke rumah sakit? lo harus periksa, Put. Siapa tahu ada luka dalem. Bahaya loh kalau lo tahu saat itu sudah parah." Laras pun mulai tampak khawatir.
"Iya, gue nggak apa-apa. Gue hanya butuh mengambil barang-barang gue yang ada di dalam mobil. Sebentar lagi mobil derek dari bengkal bakalan dateng dan bawa mobil gue ke bengkel." Jawab Putri malas.
Putri pun membuka pintu belakang mobilnya dan mengambil satu buah tas kecil yang biasa dia gunakan untuk menyimpan baju dan juga sepatu ganti. Saat menutup pintu mobilnya, ada mobil polisi lalu lintas yang datang menghampiri mereka. Dua orang polisi pun turun dan mendekati Putri.
"Selamat siang." sapa mereka.
"Siang, Pak." jawab Putri dan juga Laras.
"Siapa pemilik mobil ini?" tanya salah satu polisi itu.
"Saya, Pak. Ada apa?" tanya Putri bingung.
"Ah, kamu rupanya. Kami hanya ingin mengecek kondisi mobilmu dan juga kondisimu saja, Nak. Kenapa kamu langsung pergi tadi? Padahal kami yakin kamu terluka parah." tanya Polisi itu.
Putri pun langsung menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, lalu tersenyum canggung. Dia bingung harus menjawab apa. Karena saat ini ada Laras di sampingnya. Putri pun langsung menatap kedua polisi itu bergantian, dan mulai masuk ke dalam pikiran mereka. Putri berusaha memanipulasi ingatan mereka dan memerintahkan mereka berdua untuk pergi.
"Saya baik-baik saja, Pak. Jadi bapak-bapak tidak perlu khawatir." Jawab Putri.
"Begitu rupanya. Baiklah kalau kamu tidak apa-apa. Kamu bisa datang ke kantor polisi untuk memberikan tuntutan jika terjadi sesuatu kepadamu."
"Ah, baik. Terima kasih, Pak. Maaf sudah merepotkan."
"Tidak masalah. Ini memang menjadi tugas kami. Kalau begitu kami permisi."
Putri pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum sopan ke arah kedua polisi itu. Laras yang melihat kejadian itu hanya bisa bengong saja. Dia tidak mengerti kenapa kedua polisi itu langsung percaya begitu saja dan tidak mempertanyakan kondisi temannya lagi.
"Put, lo beneran nggak apa-apa?" tanya Laras sekali lagi.
"Iya Laraaas. Gue baik-baik saja. Lo nggak bisa lihat apa?"
"Bisa sih. Tapi, gue masih bingung kok bisa lo masih terlihat baik-baik saja? dan yang buat gue bingung kenapa kedua orang polisi tadi bisa pergi begitu saja. Biasanya mereka akan menanyakn banyak hal untuk keperluan investigasi."
"Mungkin keterangan dari gue tidak terlalu perlu."
Putri pun langsung berjalan menuju toilet yang berada tidak jauh dari parkiran mobil. Dia langsung mengganti bajunya dan berniat berdiam lebih lama di dalam toliet ini sampai Laras benar-benar pergi terlebih dahulu.