Bryan dan Helarcto

1460 Words
Malam pun berlalu, sinar bulan purnama berganti dengan sinar mentari yang tampak malu-malu muncul dari balik awan. Kedua dewa yang mendatangi Putri pun sudah kembali ke tempat mereka dari beberapa jam lalu sebelum fajar menyingsing. Putri pun sudah kembali mengubah wujudnya menjadi manusia. Perlahan dia turun gunung dengan berjalan melewati jalan setapak yang biasanya digunakan para pendaki. Putri dapat melihat beberapa mahluk penjaga mengintip dari balik peraduan mereka. Karena sinar matahari dapat merusak jiwa mereka. Dan sayup-sayup dia dapat mendengar beberapa hewan bercengkrama. “PUTRIIII…” terdengar teriakan dari kejauhan. Putri pun melihat ke belakang, dan seekor berung madu berlari menghampirinya. Sudah sangat lama Putri tidak melihat teman bermainnya ini. Waktu dia masih menjadi penguasa rimba mereka sering bergulat dan bergelung di antara semak. Dan sepertinya saat ini beruang madu itu ingin melakukan hal itu. Beruang madu ini juga merupakan siluman beruang yang dibuang oleh kelompoknya karena kesalahan yang dia buat. Jadilah dia berdiam diri di gunung ini untuk menjadi pengawas bagi Putri. Tapi belum sempat mereka berdekatan, suara tembakan pun terdengar kuat. Beruang madu itu terhuyung tak berdaya dan tubuhnya berguling di semak tak beraturan sampai nyaris jatuh ke ujung jurang. Untung saja tubuhnya terhalang pohon besar. Jika tidak sudah bisa dipastikan dia akan jatuh ke dasar jurang. Walaupun itu tidak akan merenggut nyawanya, tapi tetap saja itu sangat menyakitkan. Putri mencari-cari orang yang baru saja melepaskan tembakannya dengan mata nyalang. Dia ingin sekali membuat orang itu terkukung dibawah tubuh besarnya. Tapi, tatapan mata Putri langsung redup saat melihat siapa yang muncul dari balik semak. Orang itu seperti tidak asing baginya. Dia seperti pernah bertemu, tapi entah dimana. Dia lupa! Muncul tiga orang lain dan berjalan mendekati Putri. Mereka seperti pemburu atau pendaki yang memang membekali diri mereka dengan senjata api. Salah satu dari orang itu pun mendekati Putri. Dia bertanya keadaan Putri. Dan dari situlah Putri paham kenapa mereka sampai melepaskan tembakan. Orang-orang ini pikir beruang madu itu akan menyerangnya. Padahal, justru dia yang bisa menyerang beruang madu itu, bahkan empat orang yang ada dihadapannya ini pun dapat dia lumpuhkan dalam sesaat. “Putri? Lo Putri ‘kan?” Tanya salah satu dari mereka yang wajahnya tidak asing bagi Putri. “Lo tahu gue?” “Lo lupa sama gue, Put? Gue Bryan! Kita kenalan waktu di kantin fakultas gue.” Jelas Bryan. Putri pun mulai menggali memorinya dan satu kejadian di kantin fakultas teknik pun muncul. Dia ingat sekarang, dan tak heran dia Tampak tak asing dengan wajah ini. Putri melihat ke belakang dan mendapati berung madu itu ingin bangun. Salah satu orang dari rombongan Bryan langsung mengarahkan moncol senapan anginnya ke arah beruang madu. Spontan Putri langsung berdiri di hdapan orang itu dan memegang ujung moncong senjatanya. Rasanya Putri ingin membuat senapan angin ingin mengkok dan langsung membuangnya. Tapi, hal semacam itu tidak mungkin dia lakukan. “Jangan tembak! Dia tidak berbahaya! Gue sering berinteraksi dengan beruang ini!” Perintah Putri tegas. “Wah, lo gila! Mana mungkin manusia berinteraksi dengan beruang sebesar itu! Bisa-bisa lo jadi santapannya pagi ini!” “Percaya sama gue! Kalau kalian nggak mau terluka, jangan tembak beruang itu!” Putri mengulangi perintahnya. Bryan pun menatap rekannya itu dan menganggukkan kepalanya. Memberi isyarat kalau hal ini tidak perlu mereka lakukan. Rekan Bryan itu langsung menurunkan senapan anginnya dan menatap waspada ke arah beruang madu itu. Putri berjalan mendekat dan memeriksa kondisi beruang madu yang sudah sepenuhnya sadar. luka tembaknya pun perlahan mengering, dan sebutir peluru keluar dari lubang yang saat ini mulai tertutup. “Gila tu cewek! Berani bener dia deketin beruang segede itu.” Ucap rena Bryan yang lain bersamaan. “Gue makin tertarik sama cewek satu ini.” Gumam Bryan. Putri mengatakan sesuatu kepada berung madu itu, dan si berung langsung berjalan menyusuri jurang untuk kembali ke tempat persembunyiannya. Bryan pun mendekati Putri dan mengecek apakah kondisi Putri baik-baik saja saat ini. Mereka langsung bergabung dengan Putri dan mengajak Putri untuk naik ke puncak gunung. Putri menolaknya. Karena tujuannya bukan ke puncak melainkan turun dari gunung ini. “Lo Udah mau turun, Put?” Tanya Bryan sekali lagi “Iya, gue udah puas liat matahari terbit. Jadi sekarang sebelum terlalu terik, gue mau turun gunung.” Jawab Putri tak acuh. Dia langsung melewati Bryan begitu saja dan langsung berjalan “Anjeer… lo dikacangin Bro. Baru kali ini gue ngeliat cewek yang kagak terpesona dengan wajah playboy cap teri punya lo!” Ledek mereka. “Sialan kalian! Awas aja, gue bisa dapetin cewek model begitu. Gue Bryan, Bro. nggak ada yang bisa menolak pesona gue. Mungkin saat ini dia masih gugup karena nyaris diterkam beruang.” Bryan pun mencoba membual. Dia harus menyelamatkan harga dirinya. “Terserah lo aja deh. Yang pasti kita liat lo dicampakkan!” Ejek mereka semua. Bryan langsung mengambil ranting pohon yang cukup besar di dekat kakinya dan memukul teman-temannya itu dengan kuat tanpa rasa kasihan. Dan ketiga orang itu pun berlari berusaha menghindari pukulan Bryan. “Dasar kampretos kalian semua! Bisa-bisanya temen kagak didukung gini.” Gerutu Bryan Sambil mengejar langkah mereka. “Berat, Bos. Apalagi ini di gunung. Najak pula. Makasih banget.” Jawab salah satu temannya itu. *** Putri duduk di beranda rumahnya di bawah kaki Gunung Dempo. Dia menatap jauh ke puncak gunung sayang saat ini tertutup awan putih. matahari pun sudah bersinar sangat terang. Dia berusaha memusatkan pikirannya dan mencoba berkomunikasi dengan berung madu yang tadi tertembak. Dia ingin tahu kabar temannya itu. Selang berapa lama, tanaman rempah-rempah yang ada di halaman belakang rumah ini pun bergoyang seakan dilewati sesuatu. Dan benar saja, beruang madu itu datang menghampiri Putri. Dia berdiri, dan langsung mengubah wujudnya menjadi manusia. Ternyata dia seorang laki-laki yang sangat tampan. “Ada apa memanggilku, Putri?” Tanya beruang madu itu. “Kau tidak apa-apa Helartco?” Putri pun berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Helartco yang masih berdiri di halaman belakang rumah ini.  Helartco tidka bisa mendekati atau masuh lebih jauh ke dalam rumah. Karena penjagaan rumah yang snagat kuat membuat mahluk lain selain anggota kerajaan manusia harimau tidak bisa mendekat ataupun masuk ke dalam rumah. “Apa ini? Seorang Putri mangkubumi mengkhawatirkan aku? Huaaa… ini berita besar yang sangat jarang terjadi. Dan kau memanggil namaku, Putri? Sungguh luar biasa!” Helartco tidak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini. Biasanya Putri tidak pernah memanggil namanya. Saat mereka berkomunikasi pun Putri memanggilnya dengan beruang madu. Sepertinya saat ini ada yang salah dengan Putri. Tapi, apa pun itu membuat Helartco si beruang madu senang. “Aku mengkhawatirkanmu karena kau itu temanku. Dan apa salahnya aku memanggil namamu? Bukankah itu namamu?” “Hahahahaha… setelah sekian purnama kita tidak bertemu, kau banyak berubah sekarang. Kau lebih ramah dan lebih bersahabat.” “Banyak hal yang aku pelajari selama perjalanan hidupku di kehidupan ini.” Jawab Putri lesu. “Di kehidupan ini? Maksudmu apa? Apakah kau terlahir kembali saat ini?” Tanya Helarcto bingung. “Bukan terlahir kembali. Tapi, lebih tepatnya aku kembali ke kehidupanku di masa lalu.” Putri pun mulai menceritakan semuanya kepada Helarcto. Mulai dari keinginannya menjadi manusia seutuhnya, apa yang dilakukan Dewa Semidang kepadanya, dan syarat yang harus dia penuhi, sampai dia bertemu dengan Helarcto untuk pertama kali. Semuanya diceritakan oleh Putri. Karena di kehidupan sebelum ini, mereka tidak pernah bertemu, dan Helarcto tidak pernah datang ke gunung ini. Helarcto yang mendengarkan cerita temannya ini tidak percaya. Dia tidak menduga jika seorang Putri dapat memiliki pikiran seperti itu. Dia pikir Putri selalu bahagia di dalam hidupnya, tidak seperti dirinya yang sendirian dan dikucilkan. Ternyata mereka bernasib sama. Mungkin itu alasan Putri ingin berteman dengannya. Dan dia mau menerima Helarcto untuk tinggal di gunung ini. Helarcto pun mendekati Putri. Dia menepuk-nepuk pundak Putri pelan. “Aku berterima kasih kepadamu, Putri. Kau tidak membiarkanku merasakan hal menyedihkan seperti itu.” “Aku sudah katakan kepadamu, Helarcto. Apa yang aku alami dan aku rasakan tidak pernah menyenangkan. Apa kau mau turun gunung dan berbaur dengan manusia sepertiku? Mungkin itu akan menyamarkan rasa kesepian di dalam dirimu.” Tanya Putri menawarkan sesuatu. “Entahlah, aku belum berpikir seperti itu. Walaupun sepi dan sendiri, aku suka berada di gunung ini.” “Tapi, kau selalu terkena tembakan para pemburu dan orang-orang yang takut padamu.” “Yah itu memang terjadi jika aku sial seperti tadi. Tapi, hal itu tidak membuatku ingin turun gunung dan membaur sepertimu. Aku takut akan membuat kesalahan lagi jika aku bergabung dengan kelompok tertentu.” “Hei… kau belum bisa melupakan kejadian itu dan berdamai dengan dirimu rupanya.” “Begitulah. Bagiku kesalahan yang aku perbuat dulu sangat membekas dan membuatku sulit untuk berbaur dengan yang lain.” “Ehm… baiklah. Kalau kau berubah pikiran kau bisa memanggilku. Walaupun aku jauh dari sini, aku tetap bisa mendengar panggilanmu.” "Baiklah, akan aku pikirkan hal itu nanti."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD