Bertemu Mereka

2284 Words
Putri tiba di rumah sederhana miliknya. Dia langsung disambut oleh Nenek Seruni. Nenek Seruni adalah dayang istana kerajaan Manusia Harimau yang selalu setia merawat Putri dari dia kecil sampai saat ini. Nenek Seruni berbeda dengan Putri, dia adalah keturunan darah campuran generasi ke lima. Jadi dia bisa menua dan jika waktu hidup abadinya selesai, dia pun akan mati. “Bagaimana hari ini, Ratu? Apakah semuanya berjalan dengan baik?” Tanya nenek Seruni sambil mengambil tas ransel yang Putri bawa. “Ayolah, Nek. Jangan panggil aku Ratu. Nanti jika ada yang mendengar, mereka bisa heran.” “Ah, maafkan saya. Saya sudah terbiasa memanggilmu dengan sebutan Ratu.” “Orang-orang itu tahunya aku tinggal bersama nenekku yang kaya. Jadi, jangan ubah pikiran mereka dengan sapaanmu itu. Aku pun sudah menganggapmu sebagai nenekku sejak dulu.” “Baiklah. Saya akan berusaha mengubah kebiasaan itu. Saya lupa saat ini kita sudah hidup di jaman modern. Rasa-rasanya baru kemarin saya bersamamu di kerajaan Manusia Harimau.” “Nah… Nah… masih saja di bahas. kalau ada orang yang mendengar perkataan Nenek, bisa heboh satu kampung ini. Lupakanlah tentang kerajaan, dan ingat saat ini kita adalah manusia.” “Baik. Putri, apakah Anda ingat jika besok adalah malam bulan purnama?” “Iya, aku ingat. Dan hari ini aku akan berangkat ke Pagar Alam. Karena hanya di kota itu yang terdapat gunung. Aku pun ingin mengunjungi ‘rumah’.” Jawab Putri sambil menatap jauh ke arah langit yang mulai menghitam. Putri pun langsung masuk ke dalam kamarnya dan memasukkan beberapa barang yang mungkin akan dia perlukan selama di kota asalnya. Dia akan datang pergi ke Gunung Dempo. Tempat yang dia sebut rumah. Beruntungnya besok adalah hari sabtu, jadi dia tidak perlu membuat alasan apa-apa untuk tidak masuk kuliah. setelah semua barangnya masuk ke dalam koper kecil yang akan dia bawa ke Pagar Alam, Putri pun keluar dari kamarnya. Nenek Seruni pun sudah siap menunggu Putri di kursi meja makan yang sekaligus berfungsi sebagai meja belajar Putri. “Semua yang diperlukan sudah di bawa?” Tanya Nenek Seruni memastikan sekali lagi. “Sudah, ayo kita berangkat. Apakah ada yang harus kita kunjungi sebelum ke Pagar Alam?” “Tidak ada. Kali ini saya sudah menyiapkan semuanya sebelum hari ini.” “Ehm… baguslah. Setidaknya perjalanan ini tidak akan terasa lama.” Mereka berdua pun langsung keluar dari rumah dan mengunci pintu. Tapi, saat mereka hendak masuk ke dalam mobil. Ada seseorang yang menghampiri mereka. Orang itu adalah ketua RT di lingkungan ini. Beliau ingin memberikan undangan acara syukuran kelahiran anak ke empatnya. Putri pun langsung tersenyum canggung. Dia tidak enak mengatakan jika dia tidak bisa datang karena ada urusan keluarga di Pagar Alam. Lagi pula, Putri selalu menghindari datang ke acara warga sekita untuk meminimalisir kontak dengan mereka. Putri takut jika dia terlalu dekat dengan orang-orang ini, mereka akan mengenalinya di kemudian hari dan akan bertanya kenapa dia tidak menua sama sekali. Setelah meminta maaf berkali-kali akhirnya Putri dan Nenek Seruni pun langsung bertolak menuju kota Pagar Alam. Jarak tempuh menuju kota itu cukup lama. Dan hanya ada jalur darat menuju kota tempatnya berasal. Delapan jam waktu yang mereka perlukan untuk sampai ke sana. Sebenarnya Putri bisa menggunakan kekuatannya untuk tiba di sana lebih mudah. Tapi, hal itu akan menimbulkan kecurigaan orang-orang yang tidak melihatnya atau nenek Seruni keluar rumah dalam tiga hari kedepan. Jadi, mau tidak mau dia harus menggunakan mobil untuk tiba di kota itu. Bagi orang biasa dan seorang wanita muda, menempuh perjalanan ke kota itu di malam hari adalah hal yang cukup mengerikan. Apalagi mereka hanya berangkat berdua saja. Tapi, karena mereka bukanlah manusia biasa melainkan manusia harimau hal seperti ini tidaklah menjadi masalah. Putri dan Nenek Seruni tiba di kaki Gunung Dempo tepat pukul dua dini hari. Di sini sangat gelap dan tidak terlihat apa-apa kecuali sinar lampu dari mobil yang Putri kendarai. Putri berhenti di satu-satunya rumah yang ada tepat di bawah kaki gunung. Rumah ini adalah gerbang menuju kerajaan manusia harimau. Orang biasa melihatnya seperti bangunan vila biasa. Tapi, jika orang yang memiliki mata batin yang kuat pasti tahu jika ini adalah batas mereka untuk lewat. Jika mereka melewati batas ini, bisa dipastikan mereka akan tersesat di dunia lain yang tidak pernah mereka ketahui. Rumah ini diurus oleh salah satu keluarga yang dulu merupakan pengurus istana dalam. Dan mereka adalah satu-satunya anggota kerajaan manusia harimau yang masih hidup sampai saat ini selain nenek Seruni. Karena anggota kerajaan yang lain sudah banyak berkelana ke seluruh penjuru dunia dan juga sudah mati dimakan usia dan batas abadi mereka. Dan hal itu sangat membuat Putri iri. Dia sangat ingin seperti mereka, tapi sayang nasib yang sudah digariskan untuknya tidak seperti itu. Dia akan tetap abadi sebagai penguasa dan penjaga gunung ini. “Anda sudah tiba, Ratu.” Sapa lima orang yang menyambut kedatanganya. “Tidak perlu bersikap sopan. Panggil saja aku Putri.” Jawab Putri sambil terus berjalan semakin masuk ke dalam kerajaannya. Hal pertama yang Putri lihat adalah ribuan pohon yang sudah tumbuh dengan sangat subur. Putri pun melihat beberapa hewan dan mahluk tak kasat mata hidup berdampingan. Sudah sangat lama dia tidak mengunjungi ‘rumah’-nya ini. “Putri, sepertinya mereka senang melihat kedatangan, Anda.” Ucap kepala pengurus istana dalam. “Sepertinya begitu. Aku pun senang bisa bertemu dengan mereka dan melihat mereka hidup berdampingan dalam damai seperti itu. Apakah ada hal-hal aneh yang terjadi selama aku tidak berkunjung ke sini?” “Tidak ada, Putri. Hanya saja ada beberapa pendai yang iseng dan para penjaga menegurnya.” jelasnya. “Tidak ada kejadian yang berlebihan, bukan?” Tanya Putri menyelidik. dia tidak pernah suka dengan keisengan yang dilakukan oleh mahluk-mahluk penjaga gunung ini. Terkadang mereka terlalu berlebihan dengan menyesatkan mereka berbulan-bulan sampai akhirnya mereka meregang nyawa karena hipotermia atau karena mati kekurangan cairan tubuh. *** Malam bulan purnama merupakan malam yang selalu menjadi waktu yang tepat untuk semua siluman menikmati waktunya dalam wujud mereka yang sebenarnya. Tidak terkecuali Putri dan juga para bawahannya. Tapi, mereka memiliki tempat masing-masing. Putri selalu memilih puncak gunung yang sangat sepi dan hening. Dia ingin menikmati cahaya bulan dengan khidmat. Dan dia juga tidak mau diganggu oleh berbagai macam hal. Karena di waktu seperti ini semua inderanya akan sangat sensitif dan dia akan berubah menjadi manusia harimau yang sangat agresif. Sangat sulit baginya untuk mengontrol dirinya jika sudah berubah menjadi harimau si malam bulan purnama. Dia pernah hampir memangsa seorang manusia saat berada di puncak Gunung Semeru beberapa dekade lalu. Hal itu merupakan kejadian yang tidak terduga. Dari kejadian itu dia selalu berhati-hati dan selalu waspada di setiap malam bulan purnama. “Putriiii…” panggil sesosok mahluk tak kasat mata. Dia berbadan tinggi besar dan berambut panjang serta memakai gaun berwarna putih kusam. Wajahnya pun tampak pucat dengan lingkaran hitam di sekitar matanya. Serta bibir yang membiru bak orang kedinginan. Putri pun mengerutkan alisnya. Dia tidak menyangka di kehidupan ini pun akan bertemu dengan Kiti. Teman setianya yang sangat menyebalkan. Tapi kali ini dia tidak terlihat akrab dengannya. Dia masih terlihat waspada dan juga takut. “Siapa kau?” Tanya Putri berpura-pura tidak mengenal Kiti. Karena dia yakin ini kali pertama bagi mereka bertemu di kehidupan ini. Putri lupa bagaimana awal mula mereka bisa bertemu dan bisa berteman akrab seperti di kehidupan sebelum ini. Mendengar pertanyaan dari Putri, Kiti pun mendekat perlahan. Dia mengamati Putri yang saat ini belum berubah menjadi harimau seutuhnya. “Aku, aku Kiti. Aku baru pertama kali datang ke sini. Aku mencari tempat berlindung. Kata penjaga di bawah aku bisa bertemu denganmu di puncak gunung ini.” “Bertemu denganku? Untuk apa?” “Aku ingin meminta izin. Karena mereka mengatakan jika kau penguasa tanah ini. Sebagai pendatang aku ingin bersikap sopan.” Jelas Kiti ragu. “Ehm… ternyata seperti ini pertemuan kita.” Gumam Putri sambil menyeringai. “Maksudmu apa?” “Tidak, tidak ada apa-apa. Kau boleh tinggal di sini. Tapi, ada peraturan yang tidak boleh kau langgar.” “Apa itu?” “Kau tidak boleh mengganggu mahluk apapun yang ada dan datang ke sini. Jika mereka bersikap baik dan tidak meruusak apapun di tanah ini, kau harus membiarkan mereka. Tidak bertindak kekanakan dengan menakut-nakuti mereka atau menyesatkan mereka.” “Hanya itu?” “Ya, hanya itu. Sederhana bukan?” “Jika aku melanggar?” “Jika kau melanggar?” Ulang Putri sambil menyeringai. Entah kenapa Kiti merasa terintimidasi dengan seringaian Putri dan juga tatapan matanya itu. Dia merasakan energi yang sangat kuat dan bisa langsung memusnakannya saat ini juga. “Jika kau melanggar peraturanku, detik itu juga kau akan musnah.” Jawab Putri tegas. Kiti pun langsung mundur sejauh mungkin dan dia menganggukkan kepalanya tanda dia setuju dengan syarat yang baru saja diajukan oleh Putri. Setelah itu dia benar-benar menghilang dari pandangan Putri. “Cih… kau berlagak patuh, padahal kau akan selalu melanggar syaratku itu. Tapi, kenapa aku dikehidupan sebelumnya sangat baik kepadanya, ya?” Gumam Putri lagi. Putri pun langsung menghilangkan pikiran tidak penting itu dari kepalanya, dan langsung menatap jauh ke arah langit malam. Sinar bulan purnama pun sangat indah, dan sebentar lagi, bulan itu akan memancarkan sinar sempurnanya. Perlahan tubuh tinggi semampai Putri berubah wujud menjadi seekor harimau Sumatera yang sangat besar. Cahaya mulai membuat bulu emasnya berkilau indah. Lurik hitamnya pun bersinar sangat menakjubkan. Siapa saja yang melihat penampakan Putri saat ini pasti ingin sekali mengulitinya dan menjadikan bulu itu sebagai mantel atau alas tidur mereka. Karena, tubuh seorang penguasa dan keturunan murni manusia harimau selalu menakjubkan dan indah. Putri duduk di atas batu besar yang ada di ujung tebing. Dia menatap kerlip lampu yang bersinar di bawah kaki gunung ini. Sinar lampu yang berasal dari rumah-rumah warga di sini membuat mata Putri berbinar saat melihat itu semua. “Aku hampir lupa pemandangan seperti ini. Karena kembali ke masa lalu membuatku mengubah kebiasaanku dan juga cara aku hidup.” Monolog Putri. “Baguslah! Aku suka dengan Putri Mangkubumi yang sekarang!” Ucap suara yang tidak asing di telinga Putri. Dia Dewa Gumay, dia adalah salah satu dari tiga Dewa yang mendirikan rakyat Basemah yang sekarang membuat kota ini ramai dan juga maju. Putri bingung dengan apa yang dia lihat saat ini. sudah sangat lama sekali Dewa Gumay tidak menggubrisnya. Bahkan saat dia sering memanggilnya untuk meminta bantuan pun Dewa Gumay tetap bergeming. Hanya Dewa Semidang saja yang selama ini sering menemuinya. Entah apa yang mebuatnya menemui Putri saat ini. Putri pun berdiri dari duduknya dan menunggu apa yang diinginkan Dewa satu ini. “Aku suka pribadimu yang saat ini, Putri.” Ulang Dewa Gumay. “Oya? Apa yang membuatmu menyukai itu, ya Dewa agung?” “Kau memanggilnya Dewa Agung. Tapi, tidak denganku!” Protes Dewa Semidang yang tiba-tiba muncul di hadapan Putri. “Kalian mau reuni? Kenapa tiba-tiba muncul di sini?” Tanya Putri tak acuh. “Bisa dibilang seperti itu. Tapi, lebih tepatnya kami ingin menemui anak Raja Rimba Mangkubumi. Karena kami merindukanmu.” Jawab Dewa Gumay. “Cih… menggelikan sekali kata-katamu itu Dewa. Aku sampai mual mendengarnya.” “Hah! Kau mual? Bukankah kau sering memanggilku dan mencoba berkomunikasi denganku, Putri?” Sindir Dewa Gumay. “Dan orang yang sering aku panggil itu tidak pernah menjawab panggilanku. Ya, mungkin karena dia berpikir aku bukanlah mahluk yang pantas dia temui.” “Hahahahaha… kau marah rupanya. Aku tidak menemuimu karena Semidang sudah menemuimu dan menjelaskan semuanya kepadamu. Jadi, aku pikir itu Sudah lebih dari cukup.” “Sudah lebih dari cukup, ya? Dasar Dewa angkuh!” “Wah… kau masih sama rupanya. Aku pikir kau sudah berubah banyak, gadis kecil.” “Aku sudah sering mengatakanny ajangan panggil aku gadis kecil! Aku ini Sudah sangat tua jika kau lupa.” Jawab Putri kesal. Dia tidak pernah suka jika Dewa Semidang selalu mengoloknya seperti itu. “Kau membicarakan tua dengan kami? Dewa yang sudah lebih lama ada dibandingkan kehadiranmu? Apa aku tidak salah dengar?” “Sudah… sudah… kalian selalu saja bertengkar. Padahal jika kalian ingin menikah, aku akan merestuinya. Dan aku sendiri yang akan menyatukan kalian.” Ucap Dewa Gumay mengolok-olok mereka berdua. Karena dia yang sangat mengerti peraturan langit. Mahluk dari dunia atas tidak pernah bisa bersatu dengan mahluk dari dunia tengah. Kecuali mereka berasal dari tempat yang sama. Dewa akan menikah atau bersatu dengan Dewi. Sedangkan siluman seperti Putri akan bersatu dengan sesama siluman atau pun manusia yang berasal dari dunia yang sama dengan mereka walaupun berbeda dimensi. Yang jelas mereka harus berasal dari tempat yang sama atau setara. “Putri, bagaimana kehidupanmu kali ini? Apakah kau masih merasa bosan? Apa kau masih mau menjadi manusia seutuhnya?” Tanya Dewa Gumay. Dia mulai serius dan menatap Putri lekat. Jika Putri boleh jujur saat ini dia mulai menikmati hari-harinya. Dia tidak merasa bosan seperti kehidupan yang dulu. Di kehidupan kali ini banyak hal yang dapat dia lakukan. Dia masih dapat menjalani perannya sebagai pemimpin terakhir kerajaan manusia harimau. Dia juga dapat menjalankan perannya sebagai manusia yang hidup berdampingan dengan manusia lainnya. Dewa Gumay dapat mengetahui apa yang saat ini Putri pikirkan. Dia pun tersenyum senang ke arah Putri. Setidaknya dia berharap Putri dapat mengubah keputusannya untuk menjadi manusia sepenuhnya. Dan tetap menjadi manusia harimau campuran murni. Karena dengan begitu keseimbangan alam dapat dijalankan. Dewa Gumay adalah dewa yang paling menentang keinginan Putri itu. Makanya dia tidak pernah menjawab panggilan Putri ataupun muncul di hadapan Putri. Sebenarnya ketiga dewa itu menentang itu. Tapi, Dewa Semidang memiliki cara untuk mengubah keputusan Putri. Dan sepertinya caranya ini hampir berhasil. “Tidak semembosankan di kehidupan sebelumnya. Tapi, aku tetap ingin menjadi manusia seutuhnya.” Mendengar itu Dewa Gumay dan Dewa Semidang pun berpandangan dan menggelengkan kepala mereka tanda mereka sedikit putus asa dan harus mencari cara bagaimana mengubah keputusan Putri. Karena mereka tidak mau kehilangan penjaga dunia tengah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD