Delapan dekade sudah beralalu, sekarang Putri tidak lagi menjadi seorang pemimpin dari klan manusia harimau Sumatera. Putri sekarang menjadi salah satu mahasiswa di universitas ternama di kota Palembang. Dia memutuskan untuk pergi dari kota Pagar Alam dan menempa ilmu tentang kehidupan di ibu kota provinsi Sumatera Selatan.
Sebelumnya dia sudah berada di ibu kota negara untuk menempa ilmu kedokteran, lalu dia pergi ke kota lain untuk menjadi mahasiswa di bidang ekonomi dan banyak hal lain yang dia lakukan. Putri belajar banyak dari hari-harinya yang dia habiskan selama nyaris delapan puluh tahun setelah kematian kedua orang tuanya.
Saat ini dia bukan lagi gadis rimba yang berteman dengan beberapa mahluk tak kasat mata dan menjadi penguasa gunung. Tapi, sekarang dia menjadi orang berpendidikan yang mengerti berbagai macam ilmu pengetahuan.
Putri Mangkubumi ternyata sangat pandai. Dia bisa menguasai beberapa ilmu pengetahuan itu dalam waktu siangkat. Dia dapat menyelesaikan kuliahnya dalam waktu tiga tahun paling cepat, dan tiga tahun setengah paling lamban. Dan nilainya pun selalu sempurna.
Ini tahun pertamanya sebagai mahasiswa di fakultas ilmu komputer. Putri memilih jurusan sistem informasi. Alasannya cukup sederhana, karena jurusan ini adalah jurusan yang baru saja di buka di fakultas itu. Putri penasaran dengan ilmu baru ini. Dan di era sekarang dia ingin menjadi pandai di bidang teknologi informasi.
“Putri Mangkubumi?” Panggil seorang dosen yang ingin memulai kuliahnya.
Satu persatu mahasiswa yang ada di kelas ini dia panggil sambil mengingat wajah mereka. Ada tiga puluh mahasiswa di kelas ini yang mengikuti mata kuliah yang dia ajar. Pemrograman web adalah mata kuliah pertama di hari ini. Putri sangat antusias mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut dosen itu.
Walaupun terlihat menakutkan, tapi Putri tahu laki-laki paruh baya yang sedang berdiri di hadapannya ini memiliki hati yang baik. Dia tidak pernah ragu menjawab setiap pertanyaan mahasiswanya yang ingin belajar.
Dua jam tidak terasa berlalu begitu saja. Semua mahasiswa pun keluar dari kelas setelah mata kuliah ini berakhir. Tak terkecuali Putri. Dia berjalan perlahan menuju parkiran mobil yang tidak jauh dari ruang kelas ini.
“Putri!” Panggil salah satu temannya.
Putri pun berbalik dan melihat siapa yang saat ini berjalan menghampirinya. Ternyata dia adalah orang yang tadi duduk di sampingnya. Putri tidak ingat siapa nama orang ini, tapi dia tetap tersenyum sembari menyapanya.
“Ada yang bisa gue bantu?” Tanya Putri ramah.
“Ah… gue sama anak yang lain ingin makan bersama untuk saling berkenalan. Apa lo mau ikut?” Tanya temannya itu.
“Ehm.. boleh deh. Mau makan di mana nih?”
“Serius lo mau ikut? Gue pikir lo tipe cewek introvert. Ternyata lo mau juga berteman sama kita. Rencananya sih mau makan di kantin yang ada di fakultas teknik. Sekalian ngeceng juga.”
“Oke. Jalan kaki aja ke sana?”
“Iya, deket ini. Tapi, kalau lo mau Bawa mobil sih nggak apa-apa. Karena abis ini juga pada langsung balik.”
“Ehm… oke gue nyusul aja. Atau mau sekalian bareng ke sana. Berapa orang yang mau makan bareng.
“Ada sepuluh orang, anak cewek ikut semua soalnya.”
“Ah… nggak muat ya kalau sepuluh orang. Kalau begitu gue jalan sendiri aja ya. Nggak enak sama yang lain.”
“Oke. Kita ketemu di kantin Berseri.”
“Oke.”
Putri pun langsung masuk ke dalam mobilnya dan menunggu sampai teman-temannya sudah berjalan terlebih dahulu mengingat jarak kantin yang mereka tuju tidak terlalu jauh dari fakultas mereka. Setelah menunggu sekitar lima belas menit, Putri pun mengendarai mobilnya sampai ke kantin yang dimaksud oleh temannya tadi.
Putri tidak menyangka ternyata kantin ini sangat ramai. Banyak sekali mahasiswa yang sedang makan di sini. Mungkin karena sekarang memang waktu jam makan siang, jadi semua mahasiswa menyerbu kantin. Padahal di blok ini banyak kantin lain yang berjajar dan menawarkan makanan yang sama.
Temannya yang tadi mengajak Putri untuk bergabung pun mengangkat tangannya untuk memanggil Putri. Perlahan Putri berjalan menghampiri mereka tapi, sebelum dia sampai ke meja di mana temannya berkumpul langkahnya terhenti oleh seseorang.
“Hai… boleh kenalan?” Seorang mahasiswa yang tampan pun menghalangi langkahnya.
“Kenalan? Putri.” Jawab Putri sambil mengulurkan tangannya.
“Bryan.” Jawab mahasiswa itu. Dia membalas uluran tangan Putri dan menjabatnya cukup lama. Putri pun bedeham dan barulah Bryan melepaskan tangan Putri dari genggaman tangannya.
“Permisi dulu ya. Teman-teman gue udah pada nunggu di sana.” Ucap Putri sambil menunjuk meja tempat temannya berada.
Putri langsung berjalan menuju meja yang dia maksud dan duduk di satu-satunya kursi yang masih kosong. Teman-teman wanitanya itu menggodanya karena baru juga datang sudah ada yang mengajaknya berkenalan. Sedangkan mereka yangs edari tadi tebar pesona belum ada yang tertarik.
Banyak hal yang mereka bicarakan. Mulai dari memperkenalkan nama masing-masing sampai membahas mata kuliah yang hari ini mereka ikuti. Waktu pun bergulir begitu cepat dan tidak terasa jam yang ada di kantin ini menunjukkan pukul dua siang.
Anak-anak lain langsung pamit pulang karena mereka tidak mau ketinggalan bus siang ini. Putri dan dua orang lainnya masih belum beranjak karena makanan mereka belum habis. Kebanyakan bercerita membuat mereka lupa untuk menghabiskan makanan yang sudah mereka pesan.
“Put, lo pulang ke mana?” Tanya Laras. Dia adalah mahasiswi yang mengajak Putri tadi.
“Pulang ke daerah Ilir Barat. Kalau lo ke mana?” Tanya Putri balik.
“Gue pulang ke daerah soekarno-hatta. Searah ya kita. Boleh nebeng nggak?” Tanya Laras to the point. Karena jika dia tidak bertanya seperti itu, dia akan sampai di rumah menjelang malam.
Sudah bisa dipastikan dia akan ketinggalan bus siang ini. Dan harus menunggu sampai sore hari. Membayangkannya saja membuat Laras malas, jadi lebih baik dia memberanikan diri untuk bertanya seperti itu.
“Boleh. Gue seneng ada teman di jalan. Seenggaknya nggak buat gue mengantuk.” Jawab Putri santai sambil tersenyum
Sebenarnya jika boleh jujur, Putri tidak pernah suka ada orang yang berusaha dekat dengannya hanya untuk memanfaatkan fasilitas yang dia punya. Delapan puluh tahun hidup seperti ini membat Putri paham betul apa yang orang-orang pikirkan saat melihatnya.
Mereka pun bergegas menghabiskan makanan yang tadi masih belum mereka sentuh sama sekali. Setelah membayar makanan masing-masing, Putri mengajak mereka untuk langsung ke mobil yang die kendarai.
Sepanjang perjalan pulang banya hal yang mereka bahas sampai tidak terasa Putri pun tiba di depan rumah Laras. Laras dan Natasya pun turun dna mengajak Putri untuk mampir sebentar. Tapi, dengan sopan Putri menolaknya. Baginya sudah cukup beramah tamah dengan mereka tadi, tidak perlu lebih lama dari itu.