Terlaksana

1280 Words
Van Dedrick sedang menikmati pelayanan yang diberikan b***k belian yang baru saja tiba. Wanita ini masih sangat muda, mungkin umurnya baru diawal dua puluh tahun. Tapi, nasibnya sungguh malang karena dia harus terjebak di lembah nista penjajah tanah ini. Putri berjalan memasuki bangunan megah ini dengan sangat hati-hati. Tujuannya adalah membunuh satu orang saja. Dia tidak mau membuang kesempatan yang diberikan Dewa Semidang begitu saja. Sangat sayang rasanya jika dia harus seperti itu. Putri nyaris mengeluarkan isi perutnya saat melihat apa yang tengah dilakukan Van Dedrick saat ini. Dia merasa sangat jijik melihat kelakuan menir Belanda satu ini. Putri pun langsung menerobos masuk tanpa memperdulikan apa yang akan terjadi setelah ini. Gadis yang tengah melayani Van Dedrick pun terkejut melihat kedatangan Putri yang saat ini berwujud sebagai laki-laki. Van Dedrick sangat kesal mendapati bawahannya dengan lancang menerobos masuk ke dalam kediamanya dan mengganggu kesenangannya malam ini. “Kau! Sedang apa kau? Berani-beraninya kau mengganggu kesenanganku malam ini! Apa yang ingin kau laporkan?” Bentang Van Dedrick pada Putri. Bukannya menjawab Putri malah menyeringai ke arah Van Dedrick. Putri berjalan semakin mendekati Van Dedrick, dan saat itulah wujud aslinya perlahan tampak. Tidak ada lagi baju tentara yang dia kenakan. Sekarang hanya baju serba hitam yang menutupi tubuhnya. Gadis yang tadi tertegun karena masih terkejut dengan kedatangan Putri pun langsung sadar dan berjalan mundur. Dia sangat ketakutan, yang dia takutkan bukanlah sosok Putri ataupun Van Dedrick, yang dia takutkan adalah kenyataan jika di depannya saat ini bukanlah manusia. melainkan manusia jadi-jadian. Bagi gadis kampung sepertinya, hal-hal semacam ini sangatlah mengerikan. Konon jika dia sangat sial dan melihat hal-hal mistis seperti ini, tak lama lagi dia pun akan meregang nyawa. Karena tidak mau hal semengerikan itu terjadi, gadis itu langsung mengambil pakaiannya dan keluar dari kamar ini. “Siapa kau?!” Tanya Van Dedrick Mulai ketakutan. Bibirnya bergetar saat bertanya seperti itu kepada Putri. Tangannya mencari-cari sesuatu di samping tempat tidurnya. Putri mengetahui apa yang sedang dia cari, langsung mencengkram tangan Van Dedrick dengan sangat kuat. Terdengar suara kayu rapuh yang patah. Sepertinya saat ini tulang yang berada di balik kulit dan daging tangan Van Dedrick patah mungkin juga remuk. Van Dedrick berteriak kencang. Putri pun tersenyum puas mendengar teriakan kesakitan yang keluar dari mulut Van Dedrick. Dia sangat ingin mendengar teriakan kesakitan dan wajah yang ketakutan seeprti saat ini. Dia akan membalaskan kematian ayahnya. Putri pun mengeluarkan Cakar panjang nan tajam dari tangan satu lagi dan tanpa belas kasihan diarahkannya ke wajah Van Dedrick. Seketika darah segar mengalir dari ujung-ujung kulit yang telah terbuka itu. Bau amis Darah membangkitkan naluri membunuh Putri. Manusia harimau sepertinya akan selalu terprovokasi dengan bau amis darah. Naluri hewan buas yang suka memangsa hewan yang lebih lemah pun keluar. Putri mendekati wajah Van Dedrick yang sudah bersimbah darah dan langsung menjilati darah segar yang saat ini sangat menggoda. Sudah lama sekali dia tidak merasai kenikmatan darah segar milik manusia. Tapi, dia tidak mau terlena dan lupa akan tujuannya saat ini. Walaupun ingin sekali rasanya dia mencabik-cabik tubuh ini dengan taring tajam miliknya. Derap langkah orang-orang yang mulai berdatangan pun terdengar oleh telinga sensitif milik Putri. Dan itu membuatnya sangat kesal. Padahal niat awalnya dalah menyiksa Van Dedrick sampai dia menyesal telah menginjak tanah ini dan berurusan dengan kaum Siluman Harimau. Akhirnya Putri pun mencekik Van Dedrick dengan sangat kuat sampai tulang lehernya patah. Mata Van Dedrick terbuka lebar sebelum nyawanya benar-benar berpisah dari raganya. Saat semua orang berhasil masuk ke dalam ruangan milik Van Dedrick, Putri pun Sudah hilang tak meninggalkan jejak. Para tentara Belanda mengira gadis yang baru saja mereka bawa untuk melayani tuan mereka yang melakukan semua ini. Tapi, satu tentara yang memeriksa kondisi Van Dedrick menyangkal hal itu. “Ini tidak mungkin dilakukan oleh wanita lemah seperti dia. Ini jelas-jelas perbuatan orang yang memiliki kekuatan besar. Tangan Tuan Van Dedrick remuk, dan lehernya pun mengalami hal yang sama.” Jelas tentara Belanda itu. “Apakah kau yakin?” Tanya komandan pasukan ini. “Ya, aku yakin, Pak. Jika Anda tidak percaya Anda bisa membawanya ke rumah sakit terdekat dan lakukan pemeriksaan.” “Terlalu jauh jika harus ke rumah sakit. Lagi pula di tempat terpencil seperti ini tidak akan ada rumah sakit seperti di negara kita. Urus saja jenazah Tuan Van Dedrick. Biar aku yang mencari tahu siapa yang membunuhnya.” *** Putri duduk di ranjangnya. Dia masih memikirkan apa yang baru saja dia lakukan. Ternyata membalas dendam seperti ini tidak membuatnya puas dan tidak membuatnya senang sama sekali. Yang ada hatinya semakin sesak dan dia menyesal. Sangat menyesal. “Kau puas sekarang?” Tanya Dewa Semidang yang tiba-tiba muncul di hadapan Putri. “Tidak, tidak sama sekali.” Jawab Putri sambil menundukkan kepalanya. “Aku sudah memperingatkanmu. Dan kau masih saja tidak mau mendengarkan apa yang aku katakan. Aku sangat mengenalmu, Putri. Hal seperti ini tidak akan membuatmu senang ataupun merasa puas. Justru kau akan semakin merasa terpuruk.” “Aku… “ “Keputusanmu dulu untuk mengikhlaskan kematian ayahmu sudah benar, kenapa kau mengubah keputusanmu dengan melakukan hal sebodoh ini?” “Aku tidak pernah tahu jika rasanya seperti ini.” “Yah… sudahlah. Yang terjadi biarlah terjadi. Kau sudah melakukan keinginannmu, dan orang itu sudah mati. Dia memang pantas mati. Karena banyak orang yang berdoa akan hal itu.” “Sebegitu jahatkah orang itu?” “Ya, dia sangat jahat. Mungkin saat ini sang kematian sedang berhadapan dengannya. Entaha apa yang akan orang itu lakukan saat berhadapan dengan kematian. Apakah dia akan ketakutan atau dia akan menolak untuk dibawa ke dunia bawah.” “Cih… orang seperti itu sudah bisa dipastikan akan menolak dibawa ke dunia bawah oleh sang kematian.” “Mungkin. Jadi, Putri Mangkubumi yang sangat aku sayangi, lain kali pikirkan setiap perbuatan yang akan kau lakukan. Jangan sampai kau menyesalinya seperti saat ini. Karena kesempatan yang aku berikan hanyalah sedikit.” “Iya! Kau terlalu berlebihan!” “Dasar gadis Kecil yang tidak pernah tahu bagaimana rasanya berterima kasih.” “Berhenti memanggilku gadis kecil! Aku udah terlalu tua untuk keu panggil seperti itu.” “Hah! Kau berbicara tua dengan mahluk sepertiku? Apa kau tidak salah, Nona?” *** Putri menjalani hari-harinya dengan sangat serius. Dia menjalankan perannya ebagai seorang pemimpin yang baik. Seingatnya dulu dia tidak seperti ini. Banyak hal yang tidak dia lakukan. Jadi, saat ini dia menebus semua kesalahan di masa lalunya untuk dia lakukan saat ini. Mungkin ini kesempatan yang diberikan kepadanya. Jadi, Putri memutuskan untuk memanfaatkannya dengan sangat baik. Rakyat yang hidup berdampingan dengan kaumnya pun merasa nyaman saat ini. Dan yang lebih mengagumkan lagi, Putri berhasil mengusir penjajah dari tanah mereka. Dan saat ini mereka bisa hidup nyaman tanpa harus membayar upeti yang tidak masuk akal dan juga menyulitkan hidup mereka. Dewa Semidang pun senang melihat perkembangan dunia tengah yang dipimpin Oleh Putri. Dia tidak menyangka jika keputusannya mengirim Putri kembali ke masa ini akan membuat perubahan yang begitu berarti. Setidaknya rayat yang dia ciptakan dulu tidak menderita. Dia penasaran apa yang akan kedua kakaknya pikirkan jika melihat perubahan ini. Apalagi gadis kecil yang mereka sayangi dapat menjadi mahluk dunia tengah dengan segala pesano dan kharismanya. Jika tahu hal seperti ini akan terjadi, dia akan mengirim Putri dari dulu. Sayangnya anak kecil ini baru saja meminta bantuannya. Dan dia baru saja merasakan kebosanan yang teramat sangat saat hidup abadi sendirian. Coba saja dulu ayahnya mendengarkan apa yang dia katakan, mungkin mereka bertiga bisa hidup abadi sampai sekarang. Tapi, ayahnya lebih memilih untu hidup selayaknya manusia biasa, dan menghabiskan waktu yang tersisa bersama istrinya. Mungkin saat mereka sudah hidup lama bersama manusia yang memiliki akhlak budi pekerti yang baik membuat mereka ingin menghabiskan waktu hidup dan mati bersama seperti yang mereka lakukan itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD