Hari ini Putri Mangkubumi memutuskan untuk turun gunung. Dia mencoba mengikuti saran dari Dewa Semidang. Saran untuk mandi di air terjun sudah dia lakukan, dan sekarang tubuhnya merasa sangat segar. Dia pun sudah mengubah wujudnya menjadi manusia. Awalanya dia hanya mengenakan kain jarik dan selendang untuk menutupi tubuh indahnya. Hal itu berhasil membuat Kiti, Wowo, dan Popo tertawa cekikikan.
Atas saran Kiti Putri Mangkubumi pun mengubah penampilannya. Dia menguncir kuda rambut panjang nan lebatnya. Lalu dia mengenakan short dress berwarna biru laut. Dan sandal jepit dia pilih menjadi alas kakinya. Jangan kalian bayangkan sang Putri Mangkubumi habis berbelanja di pusat perbelanjaan mewah. Dia hanya menggunakan sedikit kekuatan sihirnya saja.
“Putri! Kau Jangan lupa pada kami ya jika sudah turun dari gunung ini dan menjadi manusia seutuhnya.” Drama Kiti pun dimulai. Dia mulai mengeluarkan air matanya. Dan tangisannya yang merintih itu berhasil membuat siapa saja yang mendengarnya merinding.
“Tidak usah berlebihan, Kiti! Aku pasti akan sering datang ke gunung ini untuk melakukan inspeksi dadakan! Siapa tahu kalian melanggar aturan yang aku buat!” Jawab Putri Mangkubumi dengna wajah serius dan kilatan mata yang dapat membunuh orang dalam waktu sekejap.
“Halah, sudah seperti manusia saja melakukan inspeksi dadakan, Putri.” Jawab Wowo dengan suara baritonnya yang menggema di seluruh gunung ini.
“Loh, aku ‘kan memang akan menjadi manusia setelah ini. Jadi aku harap kalian dapat menjaga gunung ini. Awasi tangan-tangan jahil yang akan merusak gunung ini. Dan jangan sungkan mendatangiku jika ada hal yang mendesak.”
“Bisa tidak ya kita berkomunikasi lewat telepati, atau berkomunikasi seperti kau dan Dewa Semidang kemarin?” Tanya Popo.
“Tentu saja tidak bisa, panjul! Memangnya kita dan Putri Mangkubumi ini satu kasta? Hanya mahluk-mahluk kasta tinggi yang dapat melakukan itu. Apalah kita ini.” Balas Kiti keki.
“Kalian panggil saja aku jika ada kondisi yang darurat.” Jawab Putri Mangkubumi.
“Memangnya kau akan mendengar panggilan kami, Putri?” Wowo pun angkat suara.
“Bisa. Aku bisa mendengar teriakan kalian dari bawah sana. Percaya saja padaku. Baiklah, aku pergi dulu. Jangan buat kerusuhan di sini! Jangan sampai ulah kalian merusak gunung ini, jika itu terjadi…”
“Jika itu terjadi sudah barang tentu kami akan lenyap dari dunia fana ini!” Sambung Kiti. Dia sengaja memotong perkataan Putri Mangkubumi. Karena dia sudah hapal betul kalimat itu.
“Bagus! Kalau begitu sampai ketemu lagi….”
Setelah mengatakan itu sang Putri Mangkubumi pun menghilang dari pandangan mereka. Kakinya pun menjejak jalanan beraspal yang sudah ada di kaki gunung ini. Kiti, Wowo, dan Popo pun hanya bisa melongo melihat tingkah penguasa tempat tinggal mereka.
“Aku pikir dia akan jalan kaki sampai ke bawah. Ternyata tetap saja menggunakan kekuatannya. Jangan bilang dia nanti akan melakukan itu saat sudah membaur dengan manusia. Bisa-bisa orang akan lari tunggang langgang saat melihatnya.” Komentar Kiti kesal.
“Sudahlah. Dari pada kita memikirkan itu, lebih baik kita kembali ke tempat kita masing-masing.” Ajak Wowo. Dia bersiap untuk pergi tapi Kiti menghalanginya.
“Eh, Wowo… jangan pergi dulu. Bisa tidak kita berbincang sebentar?” Tanya Kiti malu-malu.
“Hadeeeh…. Sebaiknya aku segera pergi. Aku tidak mau menjadi penonton drama murahan di sini.” Ucap Popo, lalu dia menghilang begitu saja.
“Yeee… Dasar sirik! Kalau kau mau membuat drama mu sendiri ya cari sana mahluk sejenis dirimu!” teriak Kiti kesal.
“Memangnya apa yang ingin kau bicarakan?” Tanya Wowo bingung. Dia menatap Kiti dari bawah sampai ke atas untuk mencari tahu apa yang akan Kiti katakan.
“Ehm…. itu… aku mau bertanya…”
“Ya, bertanya apa?”
“Apa kau ada niatan untuk memperbanyak kaummu?”
“Maksudnya?”
“Apakah kau mau mengawini aku?” Tembak Kiti langsung. Dia tidak suka bertele-tele.
“Hah? Maksudmu kita…” jawab Wowo salah tingkah sambil menempelkan kedua punggung tangannya.
“Ho oh.” Jawab Kiti malu-malu sambil menganggukkan kepalanya.
“Kau mau dengan mahluk hitam besar sepertiku? Kau tidak ingin mencari mahluk yang nyaris sama sepertimu?”
“Di sini kan tidak ada yang seperti itu. Hanya ada kau di sini.”
“Apakah kau yakin? Nanti keturunanmu akan sama semua seperti ku.”
“Tak apa, asal itu denganmu aku mau.”
“Huuueeeeek…. Kenapa aku ingin muntah mendengarnya.” Suara ejekan dari Popo pun terdengar.
“Heh, Sirik aja! Sana cari kesibukan lain.”
“Kiti, ayo ikut aku!” Wowo pun menarik Kiti untuk masuk ke dalam pohon besar dimana Kiti tinggal selama ini. Dan dia pun menjalankan apa yang Kiti minta.
“Cih! Dasar setan alas! Tidak bisa apa menahan sebentar saja!” Gerutu Popo yang kesal melihat kemesraan kedua rekannya itu.
“Sirik bilang, Bos!” Komentar ular phiton besar yang sedang melilitkan tubuhnya di dahan pohon yang tak jauh dari Popo berada.
“Idiiiih… yeiy bilang eike sirik? soriii… eike tak ada tuh rasa sirik seperti itu.” Jawab Popo sambil menggerakkan bibirnya dramatis.
“Ya Dewa… ternyata yeiy lekong tsaaaay…” Balas ular phiton itu membalas perkataan Popo dengan gayanya.
***
Putri Mangkubumi mulai berjalan di tengah keramaian orang-orang yang ada di pusat kota Pagar Alam. Dia sengaja mengunjungi pasar terlebih dahulu untuk menjual emas yang dia bawa seadanya. Karena dari seekor burung dia diberitahu jika manusia menggunakan uang untuk membeli apapun.
“Hai, gades cantek. Nak kemane nih?”
(Hai gadis cantik, mau kemana nih)
tanya salah satu pengunjung pasar. Dia melihat Putri Mangkubumi dengan tatapan penuh damba.
“Nak pergi ke toko emas sane!”
(Mau pergi ke toko emas yang ada di sana!)
Jawab Putri Mangkubumi singkat. Dia mulai malas sekarang. Karena hal seperti inilah yang membuatnya malas. bertemu dengan manusia-manusia penuh nafsu setan.
“Nak, kakak antar dak?”
(Mau Kakak antar tidak)
Tanya laki-laki itu.
“Tak usah! Pacak dewek ke sane.”
(Tidak perlu! Saya bisa sendiri ke sana)
“Jangan pulak kau sombong-sombong. Jauh jodoh agek tu!”
(Jangan kamu sombong. Nanti jodohmu jauh!)
Putri Mangkubumi pun berjalan cepat meninggallkan orang itu. Dia tidak mau terpancing emosi. Karena saat ini dia sudah benar-benar kesal oleh tingkah manusia satu itu. Putri Mangkubumi pun melangkahkan kakinya memasuki toko emas satu-satunya yang ada di pasar ini. Semua pelayan toko yang melihatnya memasuki toko langsung terpesona akan kecantikan Putri Mangkubumi.
“Permisi, Yuk. Pacak dak aku jual emas ni?”
(Permisi, Kak. Bisa tidak aku menjual emas ini.)
Tanya Putri Mangkubumi sopan kepada salah satu pelayan toko ini sambil menunjukkan emas batangan yang dia bawa.
“Tunggu bentar. Aku tanyokan dulu samo bos yo.”
(Tunggu sebentar. Saya tanyakan dulu sama bos, ya.)
Pelayan itu pun menghampiri Bosnya dan membisikkan sesuatu. Bosnya menatap Putri Mangkubumi sejenak, lalu menghampirinya. Sang pemilik toko itu bertanya ulang apa keperluan Putri Mangkubumi ke sini. Putri Mangkubumi menjelaskan apa yang dia inginkan sambil menunjukkan satu batang emas seberat satu kilogram.
Pemilik toko sedikit terkejut. Karena ini kali pertama baginya mendapati orang yang ingin menjual emas sebesar itu. Biasanya orang yang datang ke tokonya hanya akan menjual emas yang berbentuk perhiasan seperti cincin, gelang, kalung, ataupun anting.
“Ku cek dulu yo. Ado suratnyo dak?”
(Saya cek dulu ya. Ada suratnya tidak?)
“Dak katek, Kak. Dak pacak apo dijual di sini?”
(Tidak ada, Kak. Tidak bisakah dijual di sini?)
“Biso, tapi hargonyo agak turun dak ape?”
(Bisa, tapi harganya sedikit turun, tidak masalah?)
“Dak apo, Kak. Asalkan pacak dijual.”
(Tidak masalah, Kak. Asalkan bisa dijual.)
Pemilik toko pun mulai meastikan keaslian emas yang di bawa sang Putri Mangkubumi. Setelah tahu jika emas yang dibawa itu asli barulah dia memberitahukan berapa uang yang bisa Putri Mangkubumi dapat dari hasil menjual emas. Pemilik toko bertanya apakah sang Putri Mangkubumi memiliki rekening bank. Karena akan lebih aman jika uang hasil penjualan emas itu dia transfer ke rekening bank sang Nenek.
Tapi Putri Mangkubumi bingung apa itu rekening bank. Jadi pemilik toko menjelaskan dengan sabar. Saat mengetahui penjual emas ini tidak memiliki rekening bank, dia memerintahkan salah satu karyawan perempuannya untuk menemani sang Putri Mangkubumi membuat rekening di salah satu bank di dekat tokonya dan memberikan uang pembayaran awal satu juta untuk membuka rekening.
Di dalam bank itu semua urusan Putri Mangkubumi berjalan lancar tanpa ada hambatan sama sekali. Karena sang Putri Mangkubumi menggunakan kekuatan sihirnya untuk menghipnotis karyawan bank yang melayaninya. Tak sampai dua jam semua yang dia butuhkan dia dapatkan. Lalu kembali ke toko emas itu. Dan pemilik toko pun langsung mentransfer jumlah uang yang tak sedikit ke rekening bank yang baru saja dibuat.
“Jadi, namo ayuk ni sape?”
(Jadi nama kakak, siapa?)
Tanya pemilik toko emas itu.
“Putri, Putri Mangkubumi.” Jawab Putri Mangkubumi tegas.
"Oh... yolah kalo mak itu. Terimo kaseh untuk transaksi hari ini."
(Oh, baiklah kalau begitu. Terima kasih untuk transaksi hari ini.)
"Samo-samo, Pak." (sama-sama, Pak.)