Bertemu Lagi

1268 Words
Seharian ini Sang Nenek Gunung yang sekarang sudah dikenal sebagai Putri Mangkubumi, sibuk membenahi rumah barunya. Rumah panggung yang dia beli dari karyawan toko emas dimana dia menjual emasnya tadi. Jika tidak dibantu si karyawan toko itu Putri sudah menggunakan kekuatannya untuk membuat rumah ini terlihat rapi dan lebih menarik. “Yuk, agaknyo la sudah rapi galo barang-barang ini. Aku balek dulu yo, kalo ayuk ado yang nak dibantu kasih tau bae. Wa bae atau telepon aku.” (Kak, sepertinya semua barang-barangnya sudah rapi. Saya pulang dulu ya, kalau kakak butuh bantuan saya, beritahu saja. Kirim wa atau telepon saya.)  Karyawan toko emas itu pun pulang dan meninggalkan Putri di rumah barunya ini. Putri melihat sekelilinya. Dia hanya bisa memutar bola matanya jengah. Karena apa yang dia lihat di depan matanya saat ini membuatnya risih. Sesosok bayangan tak kasat mata berdiri di sudut ruangan sambil menatapnya kesal. Tanpa memperdulikannya Putri pun berjalan menuju ke arah ruangan yang akan menjadi kamarnya. Dan bayangan itu pun tetap mengikutinya. Seolah tak mau melepaskannya begitu saja. “Ada apa? Cepat katakan jangan membuang waktuku percuma!” Sergah Putri, sang Nenek Gunung. “Kenapa kau akhirnya turun gunung? Kau tahukan energimu itu menekan semua energi kami. Jadi kami tidak bisa melakukan apa yang selalu kami lakukan di sini.” “Teruuuus? Kau tak suka? Dan kau ingin aku kembali ke gunung?” “Begitulah.” “Hei aku pun berhak menginjakkan kaki dimana pun! Jika kau tak suka, kau yang pergi! Atau perlu aku mengusirmu? Atau sekalian saja aku melenyapkanmu?” “Cih! Kau ini selalu saja sombong!” “Aku tidak akan berlaku begini jika kau tak mengusikku. Hiduplah berdampingan, aku tidak akan menggangu apa yang kau lakukan selagi kau tidak menggangguku! Pergi dari sini jika kau masih ingin berada di muka bumi ini!” Dan seketika bayangan tak kasat mata itu pun menghilang dari rumah Putri. Putri yang tadi ingin masuk ke dalam kamarnya mengurungkan niat itu. Dia lalu berdiri di di depan jendela besar rumah ini. Rumah panggung dari kayu ini tampak indah jika di lihat dari luar. Semua orang pasti akan berpikir sang pemilik merupakan saudagar kaya dari kota sebelah. Begitu pun lelaki yang saat ini tengah melihat ke arah rumah ini. Dia berpikir jika tetangga barunya adalah orang kaya. Lelaki itu adalah Aldi. salah satu anggota tim sars yang saat ini kebetulan tengah menetap sementara di kota ini karena tugasnya mencari orang hilang belum juga selesai. Tatapan mata Aldi dan Putri bertemu. Entah kenapa Aldi merasa seperti tersihir. Dia tak dapat berpaling, dan kurang ajarnya mata liarnya menatap Putri dari ujung kepala hingga ujung kaki. Saat indera penglihatan itu selesai dengan kerjanya, otak kurang ajarnya pun mulai berpikir tak tentu arah. Putri yang tahu dengan apa yang saat ini dipikirkan laki-laki itu hanya bisa tersenyum miring. Satu gigi taringnya pun diperlihatkannya. Sontak saja hal itu membuat Aldi bergidik ngeri. “Woy!!!” Teriak Doni sambil menepuk pundak Aldi. Aldi pun terkesiap sambil mengumpat pelan. “Ngagetin aja lo!” “La habisnya bengong. Kesambet baru tahu rasa.” “Lo yang gue sambit nanti! Udah ah, yuh masuk.” Ajak Aldi. “Tadi lo lagi liatin siapa? ‘Kan di rumah itu kagak ada orangnya. Udah laku emang?” “Ada orangnya tuh. Baru pindah kali tadi siang.” “Weee… kaya pasti ya. Secara itu rumahkan mahal.” “Peduli amat gue sama dia. Mau dia kaya kek, mau dia janda kek, mau dia perawan kek bodo amat.” Jawab Aldi tak acuh. “Lah… Lah… kenapa jadi ke perawan sama janda segala sih bos. Wahhh… ini tuh tanda-tanda ada yang haus belaian nih.” “Siaaal! Nggak ye! Gue cukup belaian kagak seperti ente!” “Halah, siapa lagi yang bisa mencukupinya? Manusia kek lo itu selalu kurang!” “Sok tau! Dah ah, gue mau mandi dulu. Gerah banget ini badan. Seharian kita nyusurin hutan belom nemu juga.” “Mau ditemenin nggak Bang? Adek jago loh gosok-gosok punggung.” “NAJEEES!!!” “Hahahahahaha….” Suara gelak tawa Doni pun menggema di rumah ini. Putri yang sedari tadi mendengar pun hanya bisa tersenyum. Dia berpikir mungkin dia bisa memulai misinya dengan mendekti salah satu dari mereka. *** Pagi ini dengan menggunakan kekuatan sihirnya Putri pun membawakan satu termos sedang bubur ayam dan sekantong plastik kerupuk udang sebagai pendamping bubur ayam itu. Semalam dia mendengar ada beberapa orang lagi yang datang ke rumah sebelah.  Putri menuruni anak tangga satu persatu, bak adegan slow motion gerakan Putri tampak begitu anggun. Orang-orang yang pagi ini tengah menikmati udara pagi langsung terpikat dengan pesona Putri. Putri pun melemparkan senyum kepada semua orang yang menatapnya. Dan bisa ditebak bukan yang ditatap langsung salah tingkah. “Permisi…” ucap Putri sambil mengetuk pintu rumah sebelah. Bak pintu yang tembus pandang, Putri bisa melihat seseorang tengah berjalan tergopoh sambil membenahi sarungnya. “Ya… ada yang bisa sayaaaa ban..tu.” jawab orang itu terbata saat melihat siapa yang datang. pintu pun langsung dia buka lebar-lebar. “Ini saya hanya membawakan sarapan. Sebagai tanda perkenalan saya.” Jawab Putri Sambil menyodorkan termos bubur dan kantong kerupuk. Orang yang ada di hadapannya hanya bisa mematung. Dia masih menikmati pesona Putri. Dia tak mendengar apa yang Putri ucapkan tadi. Bibirnya hanya bisa menyunggingkan senyum bahagia sedangkan matanya menatap penuh damba. “Siapa yang datang pagi-pagi seperti ini?” Tanya ketua Tim mereka.  Laki-laki dipertengahan usia empat puluh tahun itu pun mendekat ke pintu depan. Dia cukup penasaran, karena orang yang sedari tadi membuka pintu tak kunjung bersuara ataupun kembali ke dapur untuk melanjutkan membuat kopi. Sama seperti anak buahnya, ketua tim ini pun tersihir oleh kecantikan Putri. Untung dia masih bisa mengontrol dirinya, jadi dia bisa tersadar saat Putri tersenyum manis ke arahnya. “Eh, ada apa nih, Nak?” Tanya ketua tim ini sopan. “Ini, Pak. Saya hendak memberikan sarapan. Sebagai tanda silahturahmi kita. Mengingat kita bertetangga.” Jawab Putri dengan suara selembut sutra. “Oh… anak nih tinggal dimane?” (Oh, kamu tinggal dimana?) tanya pak ketua sopan. “Disebelah, Pak. Baru pindah kemarin.” Jawab Putri tak kalah sopan. “Begitu rupanya. Orang sini atau pendatang?” “Pendatang, Pak.” “Oh, pantas saja. Belum pernah lihat. Repot-repot bawa makanan.” “Oh, tidak repot kok, Pak.” “Tunggu bentar ya. Saya salin dulu makanannya.” “Tidak usah, Pak. Biar saja di sini dulu tempatnya. Nanti kalau sudah selesai makan, kalau mau dikembalikan saya terima, kalau tidak pun tak jadi masalah. Pasti di sini tidak ada tempat makan yang cukup untuk satu termos bubur ayam seperti itu.” “Wah… macam cenayang saja sampai tahu kalau kami tidak punya tempat makan besar. baiklah, kalau begitu mari ikut sarapan bersama dengan kami.” Ajak ketua tim itu ramah. “Terima kasih, Pak. Masih harus mengantar makanan ke yang lain.” “Oh begitu. Sekali lagi terima kasih ya.” “Sama-sama, Pak. Kalau begitu saya permisi.” Putri pun berbalik badan dan berjalan keluar dari pekarangan rumah ini. Dia melihat terlebih dahulu ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada orang yang memperhatikannya. Lalu dia menjentikkan jarinya dan dua buah kotak kue bolu sudah ada di tangannya. sambil tersenyum puas Putri berjalan ke arah rumah yang ada di sebelah kanan rumahnya. Tapi belum juga sampai dia sudah berteriak kesal. “ASTAGA!!!!” Teriakan Putri itu pun terdengar hingga ke puncak gunung. “Wah, apa yang terjadi di bawah sana ya?” Tanya Kiti bingung. “Entahlah, mungkin Nenek sedang kesal. Sudah tidak usah diperdulikan… kita lanjutkan lagi apa yang tadi kita lakukan.” Ucap Wowo sambil memeluk Kiti erat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD