Kecelakaan Kecil

1460 Words
Aldi terduduk di tanah karena kaget mendengar terikan wanita yang saat ini berwajah kesal di hadapannya. Barang bawaam wanita itu jatuh berserakan di tanah. Dia langsung meringis dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali. Perlahan dia berdiri sambil membersihkan sisa tanah yang menempel di celana training yang dia kenakan. “Maaf, saya tidak sengaja. Untuk kue-kue yang jatuh nanti saya ganti, ya.” Ucapnya saat dia sudah berdiri tegak di hadapan wanita itu. Wanita yang tak lain adalah Putri Mangkubumi alias sang Nenek Gunung. Dia hanya bisa menatap Aldi datar. Dia memperhatikan laki-laki ini dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dan matanya langsung menghujam tajam tepat ke manik mata milik Aldi. “Tak perlu! Lain kali jika kau berjalan berhati-hatilah!” Ucapan ketus Putri pun menggema di telinganya. Putri langsung berjalan meninggalkan Aldi yang masih mematung. Aldi yang tak terima dengan sikap ketus Putri pun langsung mengejar langkah Putri. “Hei, Nona. Aku tidak sengaja menabrakmu. Bisakah kau ramah sedikit saja?” “Tak bisa! Sudah sana minggir. Aku harus pergi mengantarkan makanan untuk tetanggaku yang lain.” “Bagaimana bisa kau mengantarkan makanan. Lah itu semua makanan yang kau bawa saja jatuh berserakan di tanah. Ayo sini aku antar ke pasar! Kita cari kue yang sama seperti yang jatuh itu.” “Tak perlu! Aku bisa mengambilnya lagi di rumah. Permisi!” Dengan cepat Putri berjalan menjauh dari Aldi. Karena dia tak mau emosinya tersulut. Jika hal itu sampai terjadi dia tidak yakin Aldi masih bisa bernapas besok. Aldi yang tak mau memaksa pun akhirnya hanya bisa melihat Putri berjalan menjauh dan masuk ke pekarangan rumah orang yang menjadi tetangganya. Tapi dia sedikit heran, bukankah Putri mengatakan ingin mengirimkan makanan. Dan mengganti makanan yang jatuh itu dengan makanan yang ada di rumahnya? “Dasar aneh, bukannya dia tadi bilang mau mengambil kue itu di rumahnya. Kenapa malah langsung datang ke rumah tetangga?” gumamnya. Aldi pun berjalan memasuki pekarangan rumah yang mereka sewa. Saat melewati kue-kue yang berserakan itu, dia pun memungutnya dan membuangnya ke tempat sampah yang tak jauh darinya berdiri lalu masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah orang-orang tengah makan. Karena perutnya mulai lapar dia pun mendekat. “Wah, enak nih. Beli dimana?” Tanya Aldi sambil duduk di samping Doni. “Kagak beli, tetangga sebelah yang anterin tadi. Orangnya cantik pake banget loh.” “Oh, percuma cantik kalau ketus.” “Lah emang lo ketemu sama dia?” “Iya tadi di depan. Gue kagak sengaja nabrak dia dan kue yang dia bawa jatoh berserakan.” “Ya, jadi kebuang dong, mubazir.” “Mau gimana lagi. Gue kagak sengaja. Karena gue nggak liat ada orang pas jalan.” “Ah, masa! Bidadari secantik itu kamu tidak lihat, Di.” Sela Pak ketua tim. “Saya aja terpesona sama dia. Untung ingat ada anak istri yang nunggu saya di rumah. Kalau tidak sudah saya HAP dia.” Lanjutnya sambil tersenyum. “Itu sih emang dasar bapak aja yang rindu sama istri makanya gitu. Udah lama nggak kelon sih ya.” Jawab Aldi sambil mencibir. “Hahahahaha… kamu bisa aja. Emang kamu tahu gimana rasanya kelon?” “Tahu lah, Pak. Bapak lupa kalau saudara Aldi Maha Putra ini adalah pemuda ibu kota yang sehat dan bugar. Masa masih nggak tahu kelon apa.” Ejek Doni. “Tapi kalau sehat dan bugar kok nggak terpesona sama kecantikan tetangga sebelah.” Pak ketua tim pun mengikuti arus yang Doni ciptakan. “Sudah… sudah… masih pagi ini. Saya lapar nih, Pak. Masih ada nggak makanannya?” Tanya Aldi berusaha mengalihkan pembicaraan. “Masih, tuh ada banyak di termos. Sama ada kerupuknya juga masih ada setengah kantong.” Jawab rekannya yang lain. Aldi yang memang sudah lapar langsung mendekat ke meja makan dan melihat ke dalam termos. Dia menelan air liurnya, bubur yang ada di dalam termos itu tampak enak. Tanpa menunggu waktu lama dia mengambil mangkuk dan menyendokkan bubur ayam itu cukup banyak ke dalam mangkuknya. Dengan lahap dia memakan semuanya sambil sesekali menggigit kerupuk yang renyah. *** “Wo, sekarang sepi ya. Tidak seru seperti kemarin-kemarin.” Keluh Kiti yang tengah duduk bersantai di atas pohon sambil memainkan kakinya yang jenjang. “Kamu masih kesepian. ‘Kan ada aku yang selalu nemenin kamu di sini!” “Iya sih, tapi aku tidak bisa mencibir bahkan menghina Nenek sekarang. Jadi rasanya ada yang kurang di hidupku ini.” “Belagak hidup pula kau ini Kiti. Kau ‘kan sudah mati.” “Yang mati itu ragaku saja, Wo. ‘Kan jiwaku tidak ini buktinya aku bisa ada di sini bersanding denganmu.” “Hihihihihihi… iya ya. Tapi tenang saja Kiti. Sebentar lagi kau akan beranak pinak. Dan pohon besar ini akan penuh dengan keturunan kita. Jika kau masih merasa kesepian akan aku tambah lagi keturunan kita.” Jawab Wowo sambil menatap penuh hasrat. “Dasar setan! Nafsumu itu besar sekali, Wo. Aku sampai kewalahan loh ini.” “Bukannya kau senang?” “Senang sih, tapi kaaan…” Kiti pun tak dapat menyelesaikan kata-katanya. Dia sangat malu saat ini. “Kalian berdua ini. Selalu saja menebar ke irian dimana-mana.” Protes si ular phiton yang tengah melihat mereka berdua. “Kenapa kau iri? ‘Kan belum musim kawin. Makanya kau masih sendirian.” Jawab Kiti. “Makanya karena tahu belum musim kawin ya cobalah kalian berdua itu mengkondisikan keromantisan kalian itu.” “Hahahahahaha… Dasar ular. Mulutmu itu tak pernah memilah perkataan.” Wowo pun ikut bersuara. “PUTRIIIII!!!!” Teriak Kiti dari puncak gunung. Putri yang mendengar itu pun langsung membuka matanya. Dia duduk di atas kasur dan memandang puncak gunung dari balik jendela kamarnya. Dari sini dia bisa melihat jika di sana tidak terjadi apa-apa. Malah sepertinya mahluk-mahluk yang ada di gunung itu Tengah bercengkrama satu dan yang lainnya. “Kenapa kau memanggilku, Kiti?” Tanya Putri yang tiba-tiba ada di hadapan Kiti. “Horeeee… kau datang, Putri. Walaupun aku terkejut tapi aku senang.” Jawab Kiti yang kegirangan melihat teman yang sering dia hina ini. “Jadi kau hanya merindukanku?” Tanya Putri bingung. “Iya. Aku saaaangaaaaat rindu padamu, Put. Di sini tidak ada lagi yang dapat aku hina. Jadi aku merasa sepi.” Jawab Kiti sambil tersenyum senang. “Dasar kau ini! Aku Sudah sering mengatakan jangan panggil aku ‘PUT’! Bagaimana kabar kalian di sini? Apakah ada hal yang aku lewatkan?” “Kabar kami baik, Put. Coba deh kau pikirkan, jika kami menyebut Putri di akhir kalimat rasanya aneh. Tapi kalau kami menyebut ‘PUT’ jadi lebih enak dan lebih akrab.” Jawab Kiti. Dia masih saja memiliki banyak alasan untuk mendebat Putri. “Haish kau ini!” “Loh, memang benar ‘kan? Gimana kabarmu di sana, Put? Apakah kau berhasil berbaur dengan warga lokal di sini? Belajar untuk hidup sebagai manusia.” Tanya Kiti centil. “Belum… tapi aku sudah memahami mereka sedikit demi sedikit. Aku berharap prosesku tidak akan memakan waktu yang lama.” “Oya? Apa kau yakin? menjadi manusia itu tidaklah mudah, Putri. Ya, walaupun aku sudah lupa bagaimana caranya hidup sebagai manusia. Karena aku terlalu lama menjadi mahluk dunia bawah seperti ini. Tapi, yang aku ingat adalah… kita tidak bisa egois jika ingin menjadi manusia yang disuka oleh banyak orang.” “Begitu ya. Aku pun melihatnya seperti itu. Aku bertemu satu orang yang menurutku dia baik. Tapi, banyak orang yang menggunjingkannya.” “Kau baru bertemu dengannya, Putri. Sedangkan orang yang menggunjingkannya sudah mengenalnya lama. pasti ada hal yang belum kau ketahui dari dirinya.” “Mungkin. Kalau tidak ada hal yang penting aku akan kembali lagi ke bawah.” “Baiklah… semoga kau segera menemukan cara untuk bisa menjadi manusia seutuhnya. Apakah ada masalah di bawah sana? Mungkin kau bersinggungan dengan teritori mahluk dunia bawah dengan kasta yang lebih tinggi dari kami?” “Ada, tapi hal itu tidak membuatku jadi kesulitan. Toh aku bisa melenyapkannya jika dia masih saja bersikeras menekanku.” “Waaaw… kau sekarang terdengar menyebalkan, Put. Tapi, kau berhak melakukan itu. Ini hanya saran ya, Put. Mau kau dengarkan syukur mau tidak pun tidak ada ruginya untukku. Bagaimana kalau kau berteman dengannya, sama seperti kau berteman dengan kami. Kau bisa bertanya banyak hal dengannya nanti. Apapun itu pasti akan bermanfaat untukmu.” Saran Kiti panjang lebar. Putri Mangkubumi pun memikirkan apa yang baru saja Kiti katakan. Ada benarnya juga pendapat Kiti itu. Karena mahluk yang tampak tak suka dengan kehadirannya itu sangat memahami manusia. Tidak seperti dirinya yang hanya mengetahui seujung kuku saja. Akhirnya putri pun langsung menghilang dari pandangan Kiti dan yang lainnya. Dalam satu kedipan mata saja dia sudah kembali berada di dalam rumahnya yang besar ini. Dan benar saja, di dalam rumah ini masih ada mereka. Mahluk-mahluk yang belum dapat menerima kehadirannya di sini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD