Hari minggu pagi seperti ini Doni memutuskan untuk berjalan-jalan di seputar air terjun mangkok. Dia berencana ingin berenang di air terjun itu. Sebagai tim Sars terkadang rasa jenuh dan penat membuatnya membutuhkan hiburan. Walaupun tidak bisa liburan jauh-jauh dari kota Pagar Alam Doni masih bisa menikmati waktu luangnya di sini. Niat awalnya sih dia mau ke Green Paradise untuk menikmati udara segar dan juga menikmati ikan-ikan yang berenang di sungai buatan bekas pabrik air mineral.
Tapi apalah daya, ketua tim mereka mengatakan akan ada kegiatan siang nanti. Mengingat target pencarian mereka belum juga membuahkan hasil. Entah kenapa para pendaki yang hilang belum juga mereka ketemukan. Padahal setiap sudut hutan sudah mereka susuri. Bahkan menuruni tebing jurang pun sudah.
Doni pun mencelupkan kakinya di pinggir kolam air terjun yang berbatu. Dia ingin membuat tubuhnya beradaptasi terlebih dahulu dengan dinginnya air yang ada di sini. Segarnya air mulau membuat kakinya terbiasa. Lalu perlahan dia berjalan lebih ke tengah. Setelah dia merasa sudah bisa berenang lebih ke tengah barulah dia menggerakkan tubuhnya.
Segarnya air membuat tubuhnya ikut merasa segar. Doni menyelam ke dasar dan betapa kagetnya dia saat melihat ada orang lain di dalam air ini. Dengan cepat dia naik ke permukaan. Karena seingatnya tidak ada siapa-siapa yang berenang di sini. Air terjun Mangkok memang merupakan salah satu kawasan wisata di kota ini. Tapi dia ingat betul tadi hanya dia sendiri yang datang pagi ini.
“Maaf… kamu terkejut ya.” Sapa orang yang baru saja keluar dari kolam air terjun ini.
“Hehehehehe… Iya mbak. Saya kaget banget. Mbaknya udah dari tadi di sini? Kok saya nggak liat ya tadi?” Tanya Doni bingung.
“Saya baru kok berenang di sini. Saat kamu mulai berenang saya pun baru datang.” Jawab wanita itu, yang tak lain adalah Putri sang Nenek Gunung.
“Oh gitu. Mbak sering berenang di sini?”
“Tidak juga. Kalau kamu?”
“Saya jarang-jarang sih datang ke sini. Karena saya pun tidak menetap di kota ini. Jika ada tugas saja baru datang ke sini.” Jelas Doni.
“Oh, begitu. Perkenalkan saya Putri.”
“Saya Doni.” Balas Doni sambil menyambut uluran tangan Putri. “Saya berasa mandi berenang bersama bidadari, Mbak.” Goda Doni.
“Hahahaha… kamu bisa saja Kak Doni. Boleh ‘kan saya panggil Kak Doni?”
“Boleh… boleh banget, Mbak. Mau dipanggil mas juga tidak masalah.”
Doni dan Putri pun bercengkrama sesekali sambil berenang bersama. Doni bercerita tentang pekerjaannya sebagai tim Sars. Lalu Putri juga bercerita bahwa dia baru saja pindah. Doni cukup terkejut saat mengetahui jika Putri merupakan tetangganya yang tempo hari memberikan bubur ayam kepada timnya.
Doni cukup nyaman bercengkrama bersama Putri sampai-sampai mereka pulang bersama dengan mobil yang Doni bawa. Tapi, walaupun dia terlihat menikmati obrolan mereka tadi dan perjalanannya ini entah kenapa hawa dingin selalu ada diantara mereka.
Sesampainya mereka di dekat area rumah, Putri meminta Doni untuk menurunkannya di depan lorong saja. Karena ada hal lain yang ingin dia lakukan. Doni pun menuruti apa yang diminta oleh Putri karena dia tidak mau ambil pusing dengan urusan orang yang baru saja dia kenal.
Putri pun berjalan menuju jalanan yang lebih sepi dan memutar untuk sampai ke pintu belakang rumahnya. Saat dia sudah masuk dan menutup rapat pintu itu, Putri langsung mendorong angin hingga ke dinding dapurnya. Lalu matanya berubah nyalang dan berwarna emas.
“Apa yang kau rencanakan? Kenapa kau selalu menempel pada orang itu?” Tanya Putri marah.
“Kau tidak perlu ikut campur urusanku! Kau cukup berada di sini tanpa memperdulikan kami! Kau tidak tahu bukan bagaimana kami bertahan hidup di Tengah tekanan hawa fana ini?” Jawab sosok yang perlahan terlihat jelas.
“Cih! Jika kalian tidak tahan, maka enyahlah dari sisi mereka!” bentak Putri Mangkubumi.
“Bisakah kau diam? suaramu sangat berisik di siang hari seperti ini!”
“Aku peringatkan untuk yang pertama dan terakhir! Jangan ganggu manusia manapun! jika kau tidak mau berakhir di tanganku!” Ancam Putri.
“Hei kau, manusia setengah harimau, atau yang biasa kami sebut siluman! Berhentilah berlagak bak pahlawan kesiangan! kami selalu melakukan ini untuk keberlangsungan hidup kami! Jadi tidak perlu kau repot-repot berkhotbah di sini!”
“Mereka kaumku! Dan aku akan melindungi mereka dengan sekuat tenaga!”
“Kaummu? Apa kau yakin mereka kaummu? Bahkan kau pun tidak bisa menghadap kematian. Sedangkan mereka bisa kapan saja! Bahkan jika tadi kau tidak menghalangi jalanku, mungkin dia sudah berada di neraka saat ini!”
“Kau tidak mau mendengarkanku rupanya!” Ucap Putri dengan penuh penekanan sambil menekan sosok itu lebih kuat lagi.
Perlahan ada percikan api diantara cengkraman tangan Putri dan membuat sosok itu meringis kesakitan. Putri mendengar ada bisikan suara seseorang yang menghentikannya. Karena jika dia sampai melenyapkan sosok itu, prosesnya untuk menjadi manusia seutuhnya akan berkurang. Dengan cepat Putri melepaskan cengkramannya dan membuat sosok itu langsung menghilang.
“Apa yang kau lakukan, Putri?” Tanya suara itu semakin jelas. “Kau mau menunjukkan kekuasaanmu?” Tanya suara itu lagi.
“Aku hanya tidak suka melihatnya mengambil hak hidup orang lain denganc ara licik seperti itu! Aku benci manusia-manusia yang menggunakan emosinya dan melibatkan mereka dalam urusannya!” Jawab Putri kesal.
Walaupun dia tidak kenal Doni dekat. Tapi, Putri tidak pernah suka kelakukan manusia-manusia yang menggunakan cara curang untuk melenyapkan lawannya. Bagi Putri, nyawa manusia hanyalah hak para Dewa. Hanya para Dewa yang berhak mengambilnya dengan memerintahkan Sang Kematian.
“Aku ingatkan kau untuk yang pertama dan yang terakhir kalinya, Putri! Jangan pernah kau ikut Campur urusan mereka. Jika sampai itu terjadi kesempatanmu akan berkurang satu. Kau Harus ingat, untuk menjadi kaum itu kau Harus memahami mereka dan membaur dengan mereka!”
“Tapi aku tidak bisa! Aku benar-benar tidak bisa diam begitu saja!”
“Kau bukan malaikat ataupun para Dewa! biarkan saja itu terjadi! Biarkan Dewa yang memutuskan semuanya! Kau mengerti? Setiap manusia memiliki takdirnya yang sudah tertulis di buku pencatatan nasib. Jadi, jangan kau ubah itu seenaknya!”
“Haiiiish!!! Kau benar-benar Dewa yang menyebalkan!!!!”
“Dan kau benar-benar penciptaan yang merepotkan! Begini saja! aku beri kau kesempatan sepuluh kali untuk. Menjadi manusia sepenuhnya. Kau boleh pergi ke masa lalu dan menjalani hidupmu sebagai manusia. Pelajari semuanya, dan jadilah manusia yang beradap dan berilmu. Bukan seperti manusia gunung yang sok hebat seperti saat ini.”
“Aku tahu tidak ada yang mudah dalam hidup di dunia fana ini. Apa syaratnya?”
“Jangan ubah sejarah! Jangan ubah masa lalu! Kau hanya butuh hidup berdampingan dengan mereka, tanpa menyentuh apapun. Agar keselarasan dan keseimbangan tetap terjaga. Bagaimana? Apa kau bisa melakukan itu?”
“Jika aku melanggar?”
“Kesempatanmu berkurang satu, dan jika dari sepuluh yang aku beri itu tidak tersisa, maka kau akan hidup abadi selamanya! Bagaimana, cukup adil bukan?”
“Baiklah kalau begitu. Aku bebas menentukannya bukan?”
“Tidak! Kau hanya bisa kembali di masa kedua orang tuamu sudah tidak ada. Karena, aku sangat yakin kau akan mengubah sejarah mereka jika kau tetap ada di sisi mereka!”
“Kau sangat perhitungan rupanya.”
“Tentu saja! Aku Dewa yang cukup cermat di dunia fana ini! Makanya aku dan dua Dewa yang lain mendirikan menciptakan rakyat ini dan juga mendirikan kerajaan ini. Walaupun sekarang ini sudah dikenal sebagai kota.”
“Baiklah, aku setuju dengan semua itu.”
“Ini akan terasa sangat menyakitkan dan membuat tubuhmu hancur berkeping-keping! Tapi, kau tidak perlu khawatir, aku akan membuatnya utuh kembali! Apa kau mau berpamitan dulu dengan semua teman-temanmu yang ada di gunung?”
“Tidak perlu! perpisahan selalu menyakitkan.”
“Wah… kau benar-benar dingin, gadis kecil!”
“Sudah berapa kali aku katakan jangan panggil aku begitu!”
“Hahahahahaha…. kau sangat lucu!”