Kerja Praktek

1830 Words
Dua tahun kemudian, Putri berdiri di depan bangunan yang sangat besar. Menurut informasi yang dia dapatkan di sinilah pabrik teh tempat dia akan menghabiskan masa kerja prakteknya selama tiga bulan bersama beberapa mahasiswa yang lainnya. Saat ini dia sedang fokus menyelesaikan tahun terakhir kuliahnya sebagai mahasiswa ilmu komputer. Seperti sebelumnya, Putri berhasil menempuh waktu kuliah yang cukup singkat. Dia harus menyelesaikan kuliahnya selama tiga tahun setengah. Karena jika lebih dari itu, Putri akan merasa sangat bosan. Dan pada akhirnya dia akan menghilang tanpa jejak. Seperti yang pernah dia lakukan saat mengenyam pendidikan doktoralnya di salah satu universitas di Australia. “Permisi, apakah kalian rombongan mahasiswa yang akan kerja praktek di Pabrik ini?” tanya Pak Ahmad, salah satu pegawai bagian administrasi di pabrik ini. “Iya, betul, Pak. Kami adalah rombongan yang akan melakukan kerja praktek di sini. Dan ini surat pengantar dari kampus.” Jawab Robi yang merupakan ketua kelompok di rombongan ini. “Ayok, masuk dulu ke kantor. Kalian sudah ditunggu sedari tadi sama Pak Bagas.” Jawab Pak Ahmad. Mereka semua pun langsung mengikuti kemana langkah kaki Pak Ahmad melangkah. Beberapa dari mereka pun mengamati para pekerja yang sedang melakukan tugas mereka masing-masing. Pabrik ini sangat besar, dan banyak mesin-mesin yang beroprasi sesuatu tugas dan fungsi mereka. Setelah melewati bagian dalam pabrik, mereka pun masuk ke sebuah ruangan yang tidak lagi bising, dan ruanga ini cukup besar. Ternyata di sinilah ruang kantor yang dikatakan oleh Pak Ahmad tadi. Di ruangan ini ada beberapa kubikel yang ditempati oleh pegawai yang sudah cukup berumur. Kaca mata tebal menghiasi wajah sebagian dari mereka. Entah di mana para anak muda kota ini sehingga tidak ada satu pun dari mereka yang bekerja di pabrik ini. Apakah mereka semua lebih memilih bekerja di kota besar dari pada di kota kecil di salah satu kabupaten di provinsi Sumatera Selatan ini. “Nah, ini ruangan Pak Bagas, yang merupakan pemilik sekaligus CEO perusahaan PT. Dempo Lestari.” Jelas Pak Ahmad sambil menunjuk ke arah pintu yang ada di depannya. Pak Ahmad pun mengetuk pintu besar yang terbuat dari kayu jati berwarna coklat tua itu tiga kali dan langsung membukanya tanpa menunggu jawaban dari dalam ruangan di baliknya. Pak Ahmad pun berbicara sebentar kepada orang yang ada di dalam ruangan itu sebelum akhirnya membuka pintu ruangan itu lebar-lebar dan mempersilahkan rombongan mahasiswa masuk ke dalam. “Mereka ini mahasiswa yang akan melakukan kerja praktek di pabrik ini selama tiga bulan, Pak.” Ucap Pak Ahmad. Satu-persatu mahasiswa itu memperkenalkan diri dan menyapa laki-laki muda yang ada di hdapan mereka. Para mahasiswa itu berpikir jika pemilik pabrik teh ini adalah kakek tua atau laki-laki paruh baya dengan perut buncit dan kaca mata tebal serta jenggot yang lebar. Tapi, nyatanya pemilik pabrik ini adalah seorang laki-laki muda dipertengahan umur tiga puluh tahun dengan perawakan tinggi besar, dan yang pasti perutnya rata. Otot di lengannya pun sangat liat dan memberi tahu kepada siapa saja yang melihatnya jika pemilik pabrik ini merupakan penggiat olahraga. Putri memperhatikan laki-laki yang berdiri di balik meja besar itu dengan seksama. Dia mengingat-ingat lagi wajah yang saat ini sedang tersenyum ramah kepada mereka semua. Putri yakin betul jika orang itu pernah dia temui di kehidupan sebelumnya. Dan dia pun bertemu dengan orang itu di kota ini. Bak kaset film yang diputar ulang semua kejadian lampau pun berkelebat di pikiran Putri sampai akhirnya kejadian mereka bertemu di kaki Gunung Dempo pun muncul. Apa iya, dia adalah kelahiran kembali laki-laki itu? Tanya Putri dalam hati. Karena wajah mereka sangat mirip. Entah nama dan keluarga mereka sama atau tidak, karena saat itu Putri tidak berkenalan secara benar dengan laki-laki itu. “Sssst… Put…Putri!” Bisik Robi yang melihat Putri masih saja diam saat sang pemilik pabrik bertanya kepadanya. Karena sedari tadi dia sibuk dengan pikirannya sendiri. “Apa?” Tanya Putri bingung sambil melihat ke arah Robi yang terlihat kesal dengannya. “Itu, Pak Bagas nanya sama lo. Malah bengong.” Bisik Robi lagi. “Hah? Nanya apa?” Tanya Putri bingung. “Saya bertanya nama kamu siapa? sepertinya tidak asing.” Tanya Bagas sekali lagi. “Ah… nama saya Putri, Pak. Putri Mangkubumi.” Jawab Putri sopan. “Ehm… Putri ya. Kamu asli orang Palembang?” “Hah? Bisa dibilang begitu.” “Iya, dari nama belakangmu, itu nama salah satu bangswan kota ini.” “Oh… bisa jadi, Pak.” Jawab Putri asal. Bagas pun tertawa mendengarnya. Lalu dia melanjutkan kata-katanya. Bagas meminta para mahasiswa ini berlaku biasa saja kepadanya. Tidak perlu sungkan jika ingin bertanya sesuatu, walaupun disebut pemilik perusahaan ataupun CEO perusahaan, dia tetaplah orang yang bisa ditanya-tanya. Asalkan pertanyaannya menyangkut pekerjaan yang dia kerjakan. Setelah selesai di ruangan Bagas, mereka di antar Pak Ahmad menuju paviliun yang berada tidak begitu jauh dari pabrik ini. Di sinilah mereka akan tinggal selama tiga bulan di sini. Paviliun ini sebenarnya diperuntukkan untuk para pekerja. Tapi, karena pekerja di sini sudah memiliki rumah masing-masing, paviliun ini jarang ditempati. Kecuali jika masa liburan tiba, seperti masa liburan sekolah atau akhir tahun. Biasanya paviliun ini di sewakan kepada para pelancong yang datang ke kota ini untuk berlibur dan kabur dari hiruk pikuk pekerjaan mereka di Kota Palembang. Bangunan paviliun ini terlihat sangat kuno dari luar, tapi saat masuk ke dalam ternyata paviliun ini sangat terawat. Bagian dalamnya tampak modern dan tidak terkesan horor seperti penampakan dari luar tadi. Ada banyak kamar di dalam paviliun ini, sehingga mereka bisa menempati kamar masing-masing. Dan kebetulan, pengurus paviliun baru saja selesai masak untuk makan siang para tamu pabrik. Sekedar informasi, selama mereka kerja praktek di Pabrik teh itu, mereka semua ditanggung makan tiga kali sehari dan juga disediakan tempat tinggal. Jadi, mereka tidak perlu pusing untuk hal itu. Bagas selaku pemilik pabrik sangat paham kondisi mahasiswa yang serba pas-pasan. Baiasanya perusahaan lain akan memberikan uang saku bulanan kepada setiap mahasiswa yang melakukan kerja praktek ataupun magang, tapi di sini itu tidak berlaku. Sebagai gantinya Bagas menjamin tempat tinggal serta makan mereka tiga kali sehari. “Wangi betul masakan, Bik Minah nih.” Ucap Pak Ahmad sambil berjalan menuju meja makan besar yang ada di bagian belakang paviliun. “Ah, Pak Ahmad bisa saja. Ini semua masakan biasa, Pak. Hanya sayur asem, tempe dan tahu goreng, ikan nila goreng, dan sambal terasi.” Jelas Bik Minah. “Nah, sambal terasinya itu yang menggoda hidung serta lambung. Langsung bersenandung riang perut saya, Bik.” “Hahahaha… Kalau begitu Pak Ahmad sekalian saja ikut makan siang bersama adik-adik ini.” Ajak Bik Minah. “Nah, ide bagus itu, Bik. Kebetulan hari ini saya ditugaskan Pak Bagas menemani mereka. Kalau-kalau mereka butuh bantuan.” “Nah, cocok itu. Ya sudah, saya tingga ya Pak Ahmad. Silahkan dinikmati hidangan seadanya.” Ucap Bik Minah kepada para mahasiswa yang ada di depannya. Mereka semua pun mengangguk sambil tersenyum canggung kepada Bik Minah. Pak Ahmad langsung meminta mereka semua untuk menaruh barang mereka ke kamar masing-masing. Satu-persatu kunci kamar di berikan kepada mereka dan Pak Ahmad menunggu mereka di ruang makan. Putri membuka kamar nomor empat, dan dia langsung terkejut saat melihat ada sosok Kiti di hadapannya. Jika dia manusia biasa, bisa dipastikan Putri akan langsung menutup pintu dan berlari menghampiri Pak Ahmad. Tapi, karena dia adalah manusia harimau, Putri pun langsung menutup pintu dan menaruh kopernya di samping tempat tidur single yang ada di dekat jendela. “Lo bisa terkejut juga rupanya.” Ejek Kiti sambil mendekati Putri. “Siapa yang tidak terkejut jika melihat sosok mengerikan sepertimu! Aku heran, kenapa kau bisa ada di sini? Apa kau mengikuti kemana aku pergi?” tanya Putri kesal. “Lo nggak sadar kalau selama diperjalanan gue ngikutin lo sampe ke sini? Sungguh luar biasa! Gue pikir manusia setengah siluman seperti lo memiliki indera yang tajam.” “Aku tidak menyangka jika energi menyebalkan yang ada di dekat kami tadi adalah kau! Dan tidak mungkin aku memeriksa keberadaan mahluk rendah sepertimu setiap saat! Aku hanya tidak mau memperdulikan kalian!” “Cih! sombong sekali. Tapi, gue penasaran dari tadi. Gue perhatikan sepertinya lo kenal sama pemilik pabrik ini. laki-laki tampan tadi memang sangat menawan sih. Apa lo tertarik dengan dia?” “Hah? tidak sama sekali. Aku hanya heran kenapa bisa bertemu dengan orang yang sama di sini. Padahal waktu sudah bergulir terlalu lama. mungkin sama sepertimu, orang itu juga ada di kehidupan ini dengan wajah yang sama dan nama yang sama tapi dalam kondisi yang berbeda.” “Maksudnya?” Tanya Kiti bingung. Saat Putri ingin menjawab terdengar ketukan di pintu kamarnya. Itu suara Dini, salah satu teman satu kelompoknya yang akan bersamanya selama tiga bulan ke depan. Dini mengajak Putri untuk keluar dan menyantap makan siang. Padahal jika dia tidak makan pun tidak ada efek yang berarti pada tubuhnya. Putri pun keluar kamar dan mengikuti Dini menuju ruang makan. Ternyata semua orang Sudah berkumpul di ruangan itu termasuk Bagas. Dia duduk di kursi yang berada di ujung meja ini. Sepertinya Bagas sedang memberikan beberapa wejangan kepada kelompoknya.  Wajah teman-teman Putri tampak tegang dan mendengarkan setiap kata yang dia ucapkan. Putri tidak butuh mendekat ke mereka untuk mendengar apa yang Bagas katakan. Ternyata laki-laki itu sedang membicarakan beberapa mahluk penunggu paviliun ini. Dan hal itu membuat mereka merasa sangat takut. Dasar orang aneh, bisa-bisanya dia menakut-nakuti mereka dengan cerita murahan seperti itu! Gerutu Putri dalam hati. Putri heran dengan topik bahasan mereka di waktu jam makan siang seperti ini. Bukannya menjelaskan sistem kerja perusahaannya, laki-laki di depan sana malah menakut-nakuti tamu yang datang ke sini. “Pak Bagas memang selalu suka bercanda seperti ini.” Sela Pak Ahmad yang melihat wajah tegang semua mahasiswa di meja makan ini. “Hahahahahaha… Pak Ahmad bisa saja. Padahal seru loh melihat raut wajah mereka yang tampak tegang.” Ucap Bagas Sambil tertawa geli. Putri hanya bisa mendengus kesal mendengarnya. Biasa-bisanya laki-laki itu memanfaatkan rasa takut teman-temannya untuk kesenangan hatinya. Bagas yang menyadari Putri tampak kesal pun langsung tersenyum ke arah Putri. “Baiklah, karena semua orang sudah berkumpul di sini, sebaiknya kita langsung makan siang saja. Karena ini hari pertama kalian datang ke sini, jadi saya membebaskan kalian hari ini. Mulai besok kalian bisa datang pagi-pagi ke pabrik bersama Pak Ahmad.” Ucap Bagas. Dia menatap para mahasiswa itu satu-persatu. “Baik, Pak. kami akan memanfaatkan sisa waktu hari ini untuk membereskan barang-barang kami dan meregangkan otot yang kaku selama perjalanan ke sini.” Balas Robi. Mereka semua pun langsung memulai makan siang dengan sangat antusias. terlihat sekali jika teman-temannya sudah sangat lapar. Perjalan panjang menuju kota pabrik ini memang membuat perut terasa perih. Apalagi selama perjalanan mereka hanya makan snack dan juga air mineral. Sikap Putri yang tidak berminat dengan makanan yang ada di hadapannya pun menarik perhatian Bagas. Karena sikap Putri itu berbeda dengan temannya yang lain. Bagas pun memanggil Bik Minah dan meminta Bik Minah bertanya kepada Putri apakah dia membutuhkan makanan yang lain. Mendengar perkataan Bagas itu membuat Putri langsung antusias denga makananya. Dia tidak mau merepotkan wanit aparuh baya yang sedari tadi sudah sangat lelah mempersiapkan semua ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD