Putri sedang mengatur napasnya yang tersengal dengan perlahan. Dia benar-benar tidak menyangka malamnya akan menjadi sekacau ini. Padahal dia berniat ingin tidur dan menikmati malam panjang seperti manusia lainnya. Tapi, harapan tinggallah harapan. Dia harus disibukkan dengan persoalan yang mengganggu pikirannya.
Sebelum menutup matanya untuk tidur, telinga sensitif Putri mendengar suara orang yang meminta tolong. Awalnya dia ingin mengabaikan saja, tapi lama kelamaan suara itu semakin lirih dan terdengar sangat putus asa. Putri pun membuka matanya dan mendatangi sumber suara itu.
Dilihatnya ada dua orang laki-laki dewasa yang sedang menghalangi seorang gadis muda yang masih sangat belia. Bau alkohol yang sangat peat keluar dari mulut kedua orang laki-laki itu. Sepertinya mereka ingin bermain-main dengan sang gadis.
“Kak… tolong… aaaa… aku takut banget sama mereka, Kak.” Lirih gadis itu saat melihat Putri berdiri di belakang kedua laki-laki yang menghalangi jalannya.
“Hei… apa yang sedang kalian lakukan?” Tanya Putri berusaha santai. Dia tidak mau memancing emosi kedua orang yang tengah dikuasai oleh alkohol itu.
“Halooo gadis cantik. Wah sepertinya lo mau ikut Bergabung dengan kegiatan kita. Boleh… sini yuk ikut kita. Nggak usah banyak gaya deh. Ikut baik-baik aja, biar nggak ada keributan.” Ucap salah satu dari mereka sambil mendekati Putri.
Jalannya pun sudah tidak lurus lagi, dia berjalan ke kanan dan ke kiri. Sepertinya mereka Sudah benar-benar mabuk. Saat Tangan kotor laki-laki itu ingin memegang bahu Putri, Putri pun mengelak dengan menepis kuat tangan itu. Dan sialnya hal itu membuat dia marah dan emosinya pun membuncah.
Dengan kasar dia menaraik lengan Putri dan mendorong tubuh Putri hingga membentur dinding. Putri pun mengerang, menahan emosinya. Dia tidak ingin menyalah gunakan kekuatannya saat ini. Jika masih bisa melakukannya dengan cara baik-baik, itu akan dia lakukan.
“Lo sok jual mahal juga ya.” Ucap laki-laki itu. Dia semakin menekan tubuh Putri sampai benar-benar menempel pada dinding.
Punggung Putri pun terasa dingin. Sepertinya udara malam ini cukup rendah sehingga dinding yang ada di belakangnya pun menjadi dingin sekali. Laki-laki itu mencoba mendekati Putri dan mencium wajahnya. Tapi, sebelum bibir kotor laki-laki itu menyentuh pipinya Putri sudah menamparnya kuat.
Sialnya tamparan itu langsung membuat ujung bibir laki-laki itu mengeluarkan darah segar. Naluri membunuh Putri pun bangkit. Sudah lama sekali Putri tidak berurusan dengan manusia seperti ini. Karena hal seperti ini selalu dia hindari. Putri tahu betul bau anyir darah bisa membangkitkan naluri membunuhnya.
Sekuat tenaga Putri menahan diri untuk tidak mendekati laki-laki itu dan mencabik-cabiknya. Putri pun mundur perlahan mendekati gadis belia itu dan membantunya berdiri. Dia berniat langsung membawa kabur tawanan kedua orang laki-laki ini.
“Lo nggak apa-apa?” Tanya Putri pelan tanpa melihat ke arah gadis belia itu.
Matanya masih menatap waspada kepada dua orang laki-laki yang ada di depannya. Gadis itu pun menjawab dengan suara yang bergetar dan mengatakan jika dia tidak apa-apa. Putri bersiap mengajak gadis itu berlari dari tempat gelap ini, tapi tangannya langsung dicekal dan berusaha ditarik paksa.
Putri pun kehilangan kontrol akan dirinya. Dia langsung menarik tangan yang memegang tangannya dan memukul d**a laki-laki itu sampai dia tersungkur ke tanah. Laki-laki itu terbatuk dan mengeluarkan darah segar dari mulutnya dan tak lama dia pun tidak sadarkan diri.
Temannya langsung marah dan menyerang Putri dengan membabi buta. Mau tidak mau Putri pun mengelak dari serangan laki-laki itu dan berusaha membalas secukupnya saja. Sialnya laki-laki yang tengah dikuasai emosi itu mengeluarkan pisau lipat dari dalam saku celananya dan mengarahkan kepada Putri.
Putri yang tidak melihat itu pun tertusuk pisau dan langsung terhuyung jatuh ke tanah. Dia terkejut dengan hal itu. Mata Putri langsung berubah kelabu, dan cakarnya perlahan keluar dari ujung kuku-kuku jarinya. Putri pun maju dan langsung menghujamkan cakar tajamnya ke Arah perut laki-laki itu.
Gadis belia yang menyaksikan kejadian mengerikan itu langsung pingsan tak sadarkan diri. Ini kali pertama baginya melihat kejadian mengerikan sekaligus mencengangkan seperti ini. Putri pun terduduk lesu di tanah sambil menatap nanar ke arah dua orang yang sudah tak bernyawa itu.
Habis sudah kesempatan yang diberikan Dewa Semidang kepadanya. Dan kesempatan menjadi manusia seutuhnya pun lenyap tak bersisa. Saat Putri ingin berdiri dan pergi dari tempat ini, sesosok putih menghampirinya.
“Kau membuang semua kesempatan itu rupanya. Apakah kau tidak menyesal?” Tanya sosok yang baru saja menampakkan dirinya.
Dari suaranya Putri tahu jika sosok itu adalah Dewa Semidang. Salah satu Dewa pendiri rakyat Basemah yang memberikan kesempatan kepadanya untuk hidup menjadi manusia seutuhnya. Ratusan tahun yang Putri jalani pun terasa percuma saat ini.
“Sepertinya aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu, Dewa! Kau tahu jawabanku.” Ucap Putri sambil bangkit berdiri dan membalikkan badannya siap untuk pergi dari tempat ini.
“Sayang sekali. sepertinya kau tidak akan bisa hidup menjadi manusia seutuhnya sesuai keinginanmu, Putri.”
“Aku akan mencari cara lain nanti.” Jawab Putri malas.
“Tidak akan ada cara lain, Putri. Kau Sudah ditakdirkan untuk menjadi manusia harimau, dan kau memiliki tugasmu sendiri di muka bumi ini.”
“Stop ceramahmu itu, Dewa. Aku sedang tidak berminat mendengarkannya.”
Putri pun berjalan meninggalkan tempat ini. Dia tidak berniat membereskan kekacauan yang baru saja dia lakukan. Dia yakin Dewa Semidang yang akan membereskannya.
***
Putri bangun dari tidurnya dengan perasaan kacau balau. Dia teringat kejadian semalam, kejadian yang benar-benar membuatnya kesal sekaligus menyesali perbuatannya. Putri berteriak sangat kencang sampai-sampai rumah ini bergetar seperti diterjang gempang bumi dasyat berkekuatan di atas tujuh magnetudo.
“Wah… ada apa ini? Ratu kerajaan manusia harimau mau mengamuk pagi-pagi?” Tanya mahluk tak kasat mata yang entah kenapa bisa muncul di hadapan Putri pagi ini.
Tapi mahluk ini tak asing di mata Putri. Putri pun akhirnya ingat, mahluk ini adalah Kiti. Temannya yang selalu berisik di gunung dulu. Tapi, apa yang terjadi? Kenapa dia bisa ada di sini? Di dekatnya yang jauh dari gunung? Apakah ini kebetulan, ataukah Dewa Semidang sengaja mengirimnya ke sini di kehidupan ini.
“Kiti? Kenapa kau bisa ada di sini?” Tanya Putri akhirnya.
“Wah… amaizing sekali… lo tahu nama gue?” Tanya Kiti tak percaya.
Karena bagi Kiti yang ada di kehidupan ini, ini adalah kali pertama baginya bertemu dengan Putri. Dia pun baru juga tiba di sini. Tapi, kenapa pemilik rumah ini yang kabarnya merupakan manusia setengah harimau seperti akrab sekali dengannya.
“Lo? gue? Kau pun menggunakan bahasa itu? Ternyata poros kehidupan pun ikut berubah saat aku dikembalikan ke waktu yang lampau.” gumam Putri sambil bangun dari duduknya.
“Heh, Ratu kerajaan manusia harimau. Apa dulu lo kenal gue? Kalau iya boleh nggak lo cerita ke gue gimana kehidupan gue dulu dan di mana keluarga gue sekarang?” Tanya Kiti bertubi-tubi.
Putri pun tak mau menghiraukannya. Dia langsung masuk ke dalam kamar mandi dan memasang barikade yang membuat Kiti tidak bisa melewatinya. Dia tidak mau mahluk dunia bawah seperti Kiti mengganggu mandi paginya.
Setelah Putri keluar dari kamar mandi, Kiti pun mengikuti kemana Putri pergi dan tak henti-hentinya bertanya kepada Putri. Sampai-sampai Putri merasa jengah dan langsung menghalau langkah Kiti yang mendekat dan membuat mahluk tak kasat mata seperti Kiti pun terjerembab di lantai.
“Dasar siluman kasar! Bisa-bisanya lo kasar sama gue! Gue itu cuma mau tahu kehidupan gue sebelumnya. Karena gue sudah lupa semua.” Omel Kiti yang berusaha kembali melayang.
“Dengarkan aku baik-baik. Aku tidak tahu bagaimana kehidupanmu di kehidupan ini, jadi berhenti mencecarku dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa aku jawab. Jika kau ingin tahu bagaimana kehiudpanmu dan di mana keluargamu berada saat ini lebih baik kau temui saja kematian atau Dewa yang bertugas menjaga keselarasan dunia. Siapa tahu mereka mengetahui itu semua.”
“Cih! Jika hal itu semudah perkataan lo, tentu saja gue sudah melakukan apa yang barusan lo bilang. Tapi, gue ini nggak kayak lo yang bisa seenaknya memanggil atau menemui mereka. Karena gue hanyalah mahluk dunia bawah yang tidak pernah bisa berkomunikasi dengan mereka sesuak hati.”
“Nah jika kau sudah tahu itu semua, maka diamlah dan jangan ganggu aku!” Usir Putri tegas.
Putri pun langsung keluar dari rumah dan bersiap untuk berangkat ke kampus. Baru saja dia menutup pintu dibagian kemudi, dia teringat Helarcto yang pergi kemarin. Dan itu berhasil membuatnya pusing. Mau cari di mana dia mahluk pengganti Helarcto.
Karena tidak menemukan solusinya, Putri pun melajukan kendaraannya dulu. Urusan itu bisa dia pikirkan di sepanjang jalan menuju kampus. Putri pikir Kiti tidak akan mengikutinya, ternyata mahluk satu itu mengikuti kemana dia pergi. Dan itu membuat Putri kesal.
“Kenapa kau mengikutiku? Bukankah kau hanya bisa berdiam di satu tempat saja! Gesekan energimu di sini sangat kuat, karena di sini terlalu banyak mahluk sepertimu!” Ucap Putri pelan. Karena saat ini dia sedang mengisi bahan bakar mobilnya.
“Gue penasaran sama lo, Ratu kerajaan manusia harimau.”
“Itu terllau panjang, panggil aku Putri saja!” Balas Putri lagi.”
“Boleh ya gue manggil gitu? Bukankah kasta kita berbeda?”
“Jika aku yang mengizinkan, itu tidak akan menjadi permasalahan.”
“Oh, gitu. Baru tahu gue. Coba ya semua mahluk kelas atas itu seperti lo, jadi gue nggak perlu ribet pindah sana sini mencari tempat bernaung yang nyaman dan aman.”
“Memangnya sebelum datang ke tempatku, kau ada di mana?”
“Aku? aku ada di tempat yang tidak terlalu jauh. Jaraknya mungkin sepuluh rumah dari rumahmu saat ini.”
Putri pun menganggukkan kepalanya saja. Dia tidak mau berbicara lagi dengan Kiti. karena sebentar lagi dia akan sampai di kampusnya, tidak lucu jika nanti semua orang memperhatikannya karena dia berbicara sendirian. Saat Putri mematikan mesin mobilnya, dia pun langsung mendapatkan ide untuk membuat semua orang tidak pernah tahu akan keberadaan Helarcto
Karena hanya itu stau-satunya cara untuk masalah yang ditimbulkan oleh manusia beruang satu itu. Bisa-bisanya dia masih memikirkan musim kawinnya. Padahal dia pun tidak pernah terpikirkan hal itu selama dia hidup di kehidupan ini dan sebelumnya. Berahinya tidak pernah bangkit jika dia bisa mengalihkan perhatian serta pikirannya. Tapi entah kenapa Helarcto tidak bisa melakukan hal yang sama dengannya. Benar-benar menyebalkan.