Bab 13 : Korban Kota Pertama

1228 Words
Pagi itu, pusat kota berdenyut mirip dengan sarang lebah yang tampaknya siap meledak akibat aktivitas yang memuncak di seluruh penjuru. Lalu lintas terjebak dalam kemacetan parah di persimpangan utama yang berada tak jauh dari pusat perbelanjaan yang megah, di mana suara klakson bergema bersatu dengan hiruk pikuk pedagang kaki lima yang sedang menawarkan dagangan mereka, serta dering-dering ponsel milik para pejalan kaki yang berjalan cepat menuju kantor, mengenakan jas yang tertata rapi. Sesuai dengan peta koordinat yang diterima dari pesan misterius, lokasi yang dituju adalah plaza terbuka di depan mal tersebut—sebuah tempat yang telah menjadi langganan untuk acara promo akhir tahun, lengkap dengan panggung kecil, banner bertuliskan nama sponsor yang menjulang tinggi, serta kerumunan ratusan orang yang terdiri dari pembelanja pagi, keluarga yang sedang menikmati piknik, hingga anak muda yang sibuk mengambil foto selfie dengan latar belakang kesibukan kota. Udara kota yang panas dan lembab membawa campuran aroma kopi dari take-away dan asap gorengan yang menyengat hidung, sementara kamera CCTV yang ada di plaza tersebut diam-diam merekam setiap gerakan dari tiang besi yang kokoh di sekeliling, memperlihatkan polisi lalu lintas yang tampak acuh dengan situasi 50 meter di kejauhan. Tim Bravo tersebar dalam penyamaran: Rizal dan Fauzan berpura-pura membaca koran di bangku taman, Maya mengintai dari atap gedung seberang dengan sniper, posisi NVG siap siaga, Dito mengawasi dari van pengintaian yang berjarak 200 meter, sibuk memonitor radio dan memutuskan hubungan dengan hack CCTV, sementara Sari dan Fahri berdiri menjaga booth acara, sedangkan Bima, Amira, dan Tono berada di kafe pinggir plaza untuk analisis data taktis, serta Hasan dan Rangga berpura-pura sebagai pejalan kaki sambil patrol. Kolonel mengontrol misi dari markas pusat sambil mengamati tampilan layar live feed, dan SATGAS dalam keadaan siap untuk memblokir jalan masuk, siap siaga menjaga keamanan. Dalam sunyi pagi yang penuh antisipasi, Rizal berbisik melalui radio enkripsi, matanya menyipit ke arah kerumunan sambil memegang secangkir kopi dingin. "Jam 10:00—acara promo yayasan sosial ada di koordinat tersebut. Mereka memancing kita untuk bergerak ke tempat umum. Fauzan, apa kau lihat ada yang aneh?" Fauzan mengangguk tegang, matanya tak lepas mengawasi pria berjas abu-abu yang membawa koper kecil serta naik ke atas panggung promosi. "Langkah yang aneh. Jas itu tampak sama dengan yang ada di gudang—pin tengkorak yang berada pada d**a menjadi tanda yang mencurigakan. Koper itu? Apakah berisi bom atau seseorang yang akan menjadi korban? Maya, bagaimana tampilan visualmu?" Maya dari posisi atap, melihat melalui scope busur silenced zoom. "Dapatkan konfirmasi. Koper hitam tampak berat dan bergerak pelan. Dua bodyguard berbaju ketat tetap mengawalnya. Kerumunan di sekitar sudah mencapai 300 orang—dan bila terjadi ledakan, bisa menjadi bencana besar." Dito dari van tiba-tiba bersuara keras melalui radio "Hack CCTV: terdapat aktivitas pada jas yang dipakai orang itu, mengirimkan sinyal HP ke nomor asing—menggunakan kode 'korban siap'. Sementara itu, ada transfer ke rekening sejumlah 100 juta ke yayasan dua menit yang lalu!" Di kafe, Bima dengan serius menatap layar laptopnya yang terbuka sambil memeriksa spreadsheet, Amira sibuk mencatat setiap nama penting. "Donasi promosi ini datang dari PT Secure Frontier—sponsor utama acara tersebut. Tono, ada yang kau temukan?" Tono yang fokus pada peta digital "Plaza ini menjadi titik ketiga dari peta gudang rahasia. Organisasi tersebut merekrut orang awam di acara sosial seperti ini, kemudian mereka 'menghilang' setelahnya." Sari dan Fahri yang masih berada di booth acara terus membagi flyer bertuliskan "Pelestarian Budaya di Perbatasan", Sari berbisik hati-hati "Fahri, gadis remaja di kerumunan itu tampak mengenakan pin tengkorak kecil di tasnya. Dia tampak sangat gelisah, matanya sibuk mencari sosok berjas di panggung." Fahri mengerti dan ingat saat terapi, tetapi nalurinya menguat. "Dia adalah target korban. Sari, dekati dia dengan hati-hati—dan beri laporan kepada Rizal melalui radio." Hasan dan Rangga berjalan santai menyusuri gang di samping plaza, liontin Rangga terasa panas menusuk. "Melihat keadaan ini. Gadis itu adalah umpan—orang berjas itu ingin melakukan demo publik 'penyelamatan' guna merekrut simpatisan baru." Rizal bangkit dengan perlahan, suara tegang melalui radiocom. "Kolonel, ada konfirmasi ancaman terhadap publik. Apakah kita lakukan evakuasi secara diam-diam? Atau menangkap pria berjas ini sekarang juga?" Kolonel membalas cepat "Tunggu sampai bukti visual menjadi jelas. SATGAS telah memblokir jalan. Operasi target dalam waktu 30 detik—hindari kepanikan dalam kerumunan." Pada jam 10:05, pria di panggung mulai mengambil mic untuk promo acara, suaranya terdengar sangat ramah melalui speaker di seluruh plaza. "Selamat pagi, warga kota! Yayasan kami bertujuan menyelamatkan orang-orang dari kemiskinan—silahkan lihat gadis ini!" Pria tersebut menunjuk ke arah remaja yang tampak gelisah, bodyguard dengan kasar menarik gadis itu ke panggung. Kerumunan berpikir itu sebuah aksi helatan sosial dan mulai bertepuk tangan. Gadis tersebut berteriak pelan "Lepaskan! Saya cuma mau jualan!" Pria berjas tersenyum mirip figur di TV "Lihatlah—kami akan memberikan pekerjaan yang aman di perbatasan!" Fauzan tak bisa menahan emosi, berbisik dengan tegas "Sekarang! Gerakan flanking!" Rizal memberikan isyarat, dan tim bergerak dengan cepat: Maya berhasil menembak dengan karet silenced ke arah tangan bodyguard yang membuatnya menjatuhkan HPnya, Fauzan dengan sigap melompati pagar ke flank kiri, dan Hasan-Rangga membuka pintu bagian belakang panggung. Kerumunan mulai menunjukkan tanda-tanda kerusuhan, namun pria berjas tiba-tiba mengeluarkan pisau lipat dari dalam koper—bukan bom, melainkan persiapan ritual secara cepat: menggores tangan si gadis sehingga tetesan darah jatuh ke mic sebagai simbol "Darah akan menguatkan akar!" Massa merasa terkejut dan mulai berteriak penuh kepanikan. Rizal dengan cepat menembak silenced ke arah langit, berteriak "Militer! Semua mundur!" SATGAS segera menyerbu ke plaza, menangkap pria berjas beserta bodyguardnya. Sari dengan sigap menarik gadis itu keluar dari panggung menuju ke tempat aman. Namun, pria berjas tersebut tertawa pelan saat diborgol "Terlambat. Tengkorak Nol sedang menonton keseluruhan live stream ini. Korban kota pertama berjalan sukses—media segera menayangkan ini dan akan viral." Dari van, Dito berteriak "Konfirmasinya benar! Video live t****k tersebut telah viral dengan 10 ribu tampilan—caption 'Korban sosial telah ditolong yayasan'. Perspektif framing kami sudah diatur menjadi pihak penjahat!" Kerumunan menjadi panik dan berlarian, polisi lalu lintas terlihat bingung, sementara wartawan lokal yang datang segera merekam kekacauan tersebut. Kolonel segera memberikan perintah melalui radio dengan marah "Ekstraksi Tim Bravo sekarang! Spin media—sindikat sedang bermain dengan opini publik!" Rizal berhasil membawa gadis tersebut dengan aman, segera bertanya dengan cepat "Siapa yang menyuruhmu?" Gadis tersebut menjawab sambil menggigil "Paman saya... Katanya yayasan itu yang akan memberi saya pekerjaan. Tapi mereka bilang 'darah untuk membayar hutang'." Rangga merasa liontinnya telah menjadi dingin lagi "Mereka sudah mundur. Tapi viral ini akan menjadi umpan besar—Tengkorak Nol mencoba memancing opini agar publik melawan kita." Di markas, Kolonel menatap layar TV lokal: berita terbaru "Militer telah mengganggu acara sosial—yayasan telah menuduh ini sebagai aksi represi!" Pria berjas mulai diwawancara dari dalam mobil polisi "Kami menyelamatkan gadis itu, tapi tentara malah menghalangi!" Fauzan menghentakkan tinju ke dinding dengan marah "Mereka telah mengubah narasi! Apakah besok kita akan lakukan razia kota lagi?" Rizal menatap peta yang memperlihatkan perkembangan yang viral "Sebuah misteri baru muncul lagi. Tengkorak Nol sudah bermain media sekarang. Kita pilih untuk mengejar opini atau bukti saja?" Suara sirene kota bergemuruh, tim Bravo kembali dalam ketegangan—razia mereka sudah sukses meski kecil, namun pertarungan opini baru saja siap untuk dimulai dengan ancaman yang lebih besar. Cerita ini merupakan rangkaian yang penuh dengan ketegangan publik di mana sindikat beroperasi di balik bayang media, Tim Bravo harus melawan narasi viral yang semakin memanas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD