Punggung gunung yang terbentang di depan mata tidak tampak seperti puncak yang menjanjikan keselamatan dan ketenangan bagi para pendakinya, melainkan lebih menyerupai piringan batu raksasa yang penuh dengan retakan-retakan besar, menciptakan bayangan kelam dan angker. Tanah yang membentuk punggung gunung tersebut keras dan kering, serta pecah menjadi lempengan-lempengan tajam dengan garis-garis hitam gelap yang menjalar seperti urat-urat terbakar yang menyebar ke segala penjuru, menyiratkan jejak waktu yang panjang dan usang yang merambat tak terhentikan. Di tepi punggung gunung, sebuah jurang menganga tanpa pagar pembatas yang membuatnya semakin berbahaya, dengan dinding-dinding yang lenyap, diselubungi oleh kabut tebal yang melayang rendah. Kabut tersebut perlahan-lahan menyusut namun masih menggantung berat di udara, seakan-akan tidak rela melepaskan cengkeramannya pada mangsanya. Di tengah punggung gunung, berdiri beberapa batu besar yang menjulang tinggi menyerupai taring, tersusun dalam sebuah lingkaran yang aneh dan tidak sepenuhnya alami—terlalu simetris untuk menjadi ciptaan alam, namun terlalu usang dan tergerus waktu untuk dianggap sebagai buatan tangan manusia. Pada salah satu batu paling besar, terdapat bekas goresan yang membentuk tanda mirip mata memanjang, mengesankan garis-garis kecil yang menjalar seperti jaringan syaraf yang menembus ke dalam permukaan tanah.
Dito terduduk lesu di dekat salah satu batu, sembari menggenggam radio di tangannya yang bergetar halus ketika sinyal akhirnya menembus udara gunung yang dingin dan asing. Suara statis yang sebelumnya menghantui sekeliling mereka berubah menjadi serpihan kata-kata yang jelas dan putus-putus: “...mayday... unit pelatihan jatuh... koordinat... ulangi, koordinat...” Serta merta, Dito mengangkat radio lebih tinggi dari sebelumnya, matanya bersinar antara harapan dan ketakutan yang bercampur dalam satu ekspresi. “Riz! Ada respons! Mereka dengar kita!” teriaknya dengan suara yang pecah dan penuh harap.
Rizal—yang semula berdiri diam di depan batu bermata yang terbuat dari goresan itu—segera berbalik dengan napas berat menyesakkan d**a. Wajahnya kotor, penuh dengan lumpur kering dan bercak darah yang mencoreng hampir setiap sudutnya, tetapi matanya bersinar tajam dan penuh tekad. “Ulangi! Kirim ulang posisimu, Dito! Pastikan mereka tahu kita masih hidup!” serunya sambil melangkah mendekati Dito, tetapi mendadak merasakan sesuatu—getaran halus menyusup di bawah telapak kakinya, seperti bunyi dengung dari dalam batu yang enggan diam dan damai.
Dito berbicara cepat dan tergesa ke radio, suaranya terdengar terburu-buru dan tegang. “Di sini tim pelatihan Bravo, sebelas orang tersisa—eh, sepuluh...” suaranya goyah dan hening sejenak ketika menyadari lagi bahwa mereka baru saja kehilangan Lina. “Kami berada di punggung gunung, di atas lembah yang dikelilingi jurang dan ditutupi hutan. Pesawat jatuh, diserang pihak tak dikenal—kultus bersenjata dan suku setempat. Saat ini dalam kondisi kritis, butuh evakuasi udara sesegera mungkin.”
Jawaban dari radio terdengar jauh dan terputus-putus, tetapi cukup jelas menembus kebisingan statis yang menggangu. “...Bravo... saluran putus beberapa hari... triangulasi sinyal... bertahan... cuaca buruk... buka penanda visual... kami akan kembali kontak 15 menit lagi...”
“Lima belas menit,” gumam Hasan sambil menatap langit kelabu yang dipenuhi oleh awan tebal menggantung berat di atas mereka. “Dalam lima belas menit, banyak hal yang bisa terjadi di tempat ini—baik atau mungkin lebih buruk.”
Fauzan, masih mengenakan baju yang berlumur darah Bima berikut pasir gunung yang menempel di sana-sini, menatap sekeliling mereka dengan waspada. “Kalau ini adalah film, biasanya begitu radio nyambung, sesuatu yang lebih buruk pasti terjadi.” Ia menatap batu-batu yang melingkari posisi mereka. “Dan lihat ini—sepertinya kita berdiri di tengah lingkaran sesuatu yang tidak ramah, yang entah apa sebenarnya tujuan dan maksudnya.”
Maya bergerak dengan langkah perlahan menyusuri batas lingkaran batu, sementara ujung jarinya menyentuh permukaan kasar yang sarat dengan goresan tidak beraturan. “Ini tidak sembarang pola,” katanya sambil memperhatikan lebih detail setiap goresan. “Lihat, garis-garisnya saling terhubung. Seperti... peta atau lingkaran ritual. Tetapi simbol-simbol ini berbeda dengan apa yang pernah kita lihat di gua kultus sebelumnya.”
Tono turut mengamati, memegang peta kertas yang sudah kusam dan lusuh dalam genggamannya yang tidak banyak membantu di tempat misterius dan menyeramkan ini. “Di peta, tempat ini hanya ditandai sebagai ‘zona anomali topografi’,” ujarnya sambil menatap dengan lebih waspada. “Mungkin karena orang yang membuat peta ini tidak punya kata lain yang lebih masuk akal untuk mendeskripsikannya.”
Fahri, yang terduduk bersandar pada salah satu batu dengan wajah yang tampak pucat dan kantung mata yang gelap, perlahan mengangkat kepalanya. Matanya tampak sedikit lebih jernih, tetapi masih ada sesuatu yang mendalam dan mengintai di balik tatapannya yang suram. “Ini bukan sekadar batu biasa,” bisiknya dengan nada pelan. “Ketika kita naik... suara itu bilang, ‘titik pertemuan’. Awalnya kupikir itu hanya halusinasi. Namun sekarang... aku merasa suara itu nyata dan ada di sini.”
Sari memegang bahunya erat untuk memberi dukungan dan menenangkan. “Fahri, jangan terlalu didengarkan. Kamu baru saja... melewati banyak hal berat dan luar biasa.”
“Tapi ia tidak berbohong,” jawab Fahri pelan, menatap Sari dengan sorot mata yang menenangkan. “Ia bilang, ‘kalian membuka pintu yang bukan milik kalian’. Dan lihatlah sekelilingmu. Kultus jahat, suku liar, hutan bergerak sendiri—semuanya seperti bagian dari sesuatu yang lebih besar dan lebih menyeramkan. Seperti kita masuk ke dalam rumah orang tanpa izin, lalu mengacau di ruang tamunya.”
Rangga berdiri di tepi lingkaran batu, liontinnya yang tampak kusam sesekali memantulkan cahaya ganjil ketika angin berubah arah dengan tiba-tiba. “Kakekku pernah bercerita tentang ini,” katanya akhirnya dengan suara lirih, membuat semua menoleh ke arahnya. “Dia menyebutnya ‘punggung yang melihat’. Katanya, ini adalah tempat di mana segala sesuatu di hutan ini ‘dicatat’. Tapi bukan oleh manusia. Bukan pula oleh dewa seperti dalam cerita rakyat. Melainkan oleh... sesuatu yang tidak berwujud, hanya memiliki kehendak.”
Hasan menaikkan alisnya dengan dahi yang berkerut. “Kehendak apa?” tanyanya dengan nada penasaran dan ingin tahu lebih banyak.
“Kehendak untuk menjaga keseimbangan,” jawab Rangga dengan nada tegas. “Kalau terlalu banyak darah yang tidak wajar mengotori tanah ini, kalau terlalu banyak ketakutan dan kebencian berkumpul di satu tempat yang sama, maka punggung ini akan ‘mengingat’. Dan kadang... ia merespons dengan caranya sendiri.”
Dito menelan ludahnya dengan susah payah, radio masih digenggam erat di tangannya, sementara sinyal tetap stabil tetapi suasana sekitar justru semakin berat dipenuhi ketegangan. “Merespons seperti apa? Ledakan? Gempa? Atau... sesuatu yang lebih parah dan mengerikan?”
Rangga memandangi batu bermata yang terbuat dari goresan yang misterius itu. “Kakek mengatakan, dahulu, ketika ada rombongan pemburu yang dengan sengaja membantai sebuah desa kecil karena kesalahpahaman, seluruh punggung gunung ini mengalami keretakan. Orang-orang mengatakan itu adalah gempa yang dahsyat. Tetapi tubuh para pemburu itu ditemukan dengan wajah ketakutan yang tidak wajar, mata mereka terbuka lebar menatap ke sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain.”
Fauzan menghela napas panjang, menggunakan humor sebagai tameng dari ketakutannya. “Jadi... singkatnya, kita sudah membuat punggung gunung ini marah? Hebat. Suku marah, kultus marah, hutan marah, sekarang gunung juga marah. Tinggal langit turun menegur kita.”
Seolah menjawab ucapan Fauzan, dengungan rendah yang tadi hanya terasa di d**a kini berubah menjadi getaran yang nyata di telapak kaki mereka. Batu-batu di sekitar bergetar pelan, pasir halus merosot jatuh dari sela-sela retakan yang semakin banyak, dan debu tipis turun dari atas meski langit di atas mereka masih utuh. Maya menajamkan pandangannya sambil menarik napas dalam-dalam, tubuhnya menegang. “Riz,” katanya pelan, “ini bukan hanya getaran biasa. Rasanya... terarah dan ada maksud tertentu.”
Rizal segera memberi perintah dengan nada tegas. “Semua menjauh dari tepi jurang! Kumpul di dalam lingkaran batu, tetapi jangan menginjak simbol-simbol di tanah!” Ia menunjuk ke arah coretan-coretan melingkar di antara batu-batu tersebut. “Kalau ini memang zona ‘anomali’, kita tidak boleh sembarangan menginjak pusatnya.”
Namun Fahri justru merasa marah, wajahnya merah padam, dan tangannya mengepal erat. “Kita sudah pernah menginjak sesuatu yang lebih buruk dari ini,” katanya penuh ketegasan. “Kita melewati lembah tengkorak, masuk dalam rawa kutukan, mengacaukan altar kultus, dan bahkan membunuh suku yang mungkin hanya sedang membela wilayahnya yang sah milik mereka...” Ia menatap simbol-simbol di tanah dengan rasa ingin tahu. “Kalau ada sesuatu di sini yang ingin berbicara dengan kita, mungkin kita harus mendengarnya. Bukan lari dan berlindung.”
Sari menoleh dengan pandangan tajam ke arah Fahri. “Dengar? Dengar apa? Suara yang kemarin malam memanggil namamu lalu hampir membuatmu tidak kembali pada kami.”
“Dan suara itu juga yang memperingatkan kita soal altar yang berbahaya,” balas Fahri dengan tenang, kali ini nada suaranya lebih jernih. “Kalau kita tidak mendengarkannya, mungkin kita akan binasa lebih cepat di tempat yang menyeramkan ini.”
Hasan memperhatikan kedua temannya dengan seksama, lalu menatap Rizal dengan serius. “Ini adalah titik keputusan, Nak,” katanya dengan bijak. “Kita punya peluang untuk dievakuasi kalau cuaca kondusif dan sinyal bertahan. Tetapi kita juga berdiri di tempat yang jelas memiliki sesuatu yang belum selesai dengan kita.”
Dito mengangkat radio lagi sambil mendengarkan dengan seksama suara samar dari saluran komunikasi. “...Bravo, ini tim pencari... ada badai yang bergerak dari arah barat... jangka waktu evakuasi sangat terbatas... visual flare diperlukan segera...”
Rizal menutup mata sejenak untuk menenangkan pikirannya, lalu membukanya kembali dengan tekad bulat. “Dito, siapkan flare. Begitu mereka minta, kita tembak ke langit.” Ia menatap teman-teman lainnya dengan harap-harap cemas. “Tetapi sampai saat itu tiba, kita harus tetap waspada. Kita tidak pernah tahu apakah gunung ini senang kita pergi atau justru ingin menahan kita di sini lebih lama.”
Tono mengangkat tangan, menunjuk ke arah ujung punggung gunung, di mana kabut mulai menipis sedikit, seakan memberikan sekilas pandang yang samar dan misterius. “Rizal... lihat itu,” katanya dengan nada serius.
Di kejauhan, di luar lingkaran batu yang mengelilingi mereka, tampak sesuatu yang menyerupai pohon tunggal berdiri tegak di tepian jurang paling ujung. Pohon itu tampak aneh dan tidak biasa: batangnya hitam berkilau seperti obsidian, cabangnya sedikit dan renggang, dan di ujungnya hanya ada beberapa daun kecil berwarna merah gelap, seakan basah oleh darah segar yang baru menetes. Lebih aneh lagi, di sekeliling pohon itu, tanah tampak tidak retak meskipun di sekeliling punggung gunung penuh dengan garis pecah yang menandakan keretakan—seolah pohon itu menjadi pusat dari sesuatu yang menahan retakan yang semakin banyak.
“Pohon itu...” bisik Amira dengan nada pelan dan penuh rasa ingin tahu. “Kenapa rasanya... salah dan benar pada saat yang sama?” tanyanya pada dirinya sendiri.
Rangga memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas. “Itu... aku belum pernah melihatnya sebelumnya,” akunya pelan. “Kakek hanya bilang, di punggung, ada ‘tanda’ di mana hutan memutuskan nasib orang luar yang berani datang. Mungkin itu salah satunya dan sekarang kita berdiri di sekitaran tersebut.”
Fauzan tertawa singkat, namun tanpa humor dan hanya sebagai bentuk pelarian. “Kedengarannya seperti ujian terakhir dan tak terduga. Apa berikutnya—kita diminta untuk memilih siapa yang hidup dan siapa yang mati di antara kita?”
Fahri menatap pohon itu lama, wajahnya tegang dan serius, tetapi bukan dengan rasa takut yang melanda hatinya. “Aku rasa... dia bukan meminta itu dari kita. Dia hanya... melihat dan menilai.” Ia bangkit berdiri perlahan walaupun Sari berusaha menahannya dengan kuat. “Kalau kita mau pergi dari sini dengan kepala tegak dan harga diri, kita harus berani berdiri di depan apa pun yang menilai kita, tak peduli hasilnya nanti.”
“Fahri!” Sari memegang lengannya lebih keras, mencoba menahan langkahnya. “Jangan bertindak gila! Kamu bahkan belum benar-benar pulih dari semua kejadian mengerikan ini.”
“Kalau aku menunggu hingga benar-benar pulih,” jawab Fahri lirih dan penuh makna, “mungkin kita semua sudah tidak ada di sini untuk menyaksikannya.”
Rizal menghela napas panjang, lalu melirik ke Hasan dan Rangga dengan tegas. “Kita tidak akan membiarkannya berjalan sendirian,” katanya pasti. “Hasan, kamu di kiri. Rangga, kamu di kanan. Aku akan berada di belakang. Yang lain tetap di dalam lingkaran batu—siaga dengan senjata dan mata waspada ke segala arah. Begitu ada sesuatu yang mengancam, jangan ragu untuk bergerak cepat.”
“Ini mungkin ide buruk tetapi sayangnya satu-satunya yang kita punya saat ini,” gumam Dito, menggenggam radio lebih erat seakan tak ingin melepaskannya.
Mereka bertiga—Fahri di depan, Hasan di kiri, Rangga di kanan, Rizal di belakang—berjalan perlahan meninggalkan lingkaran batu, mendekati pohon obsidian yang berdiri angker di tepian jurang. Setiap langkah yang mereka ayunkan seakan membuat dengung di udara berubah nada, seolah gunung mengatur napasnya mengikuti jejak mereka. Angin bertiup melewati punggung mereka, membawa bau logam yang tajam, seperti udara di ruang operasi atau di medan perang yang baru saja dilalui peperangan sengit.
Saat mereka mendekat sekitar lima meter dari pohon itu, tanah yang sempat bergetar mendadak berhenti dan sunyi tiba-tiba turun dengan pekat, begitu dalam hingga suara napas mereka sendiri terdengar terlalu keras dalam kesunyian itu. Fahri berhenti, menatap batang hitam pohon dengan penuh konsentrasi dan perhatian. Di permukaan batang, terlihat samar-samar pola-pola kecil—mirip dengan tanda di batu lingkaran yang mereka lewati sebelumnya, tetapi lebih halus dan lebih dalam terukir.
“Apa yang kamu inginkan dari kami?” kata Fahri pelan, seolah berbicara pada seseorang yang berdiri di depan pohon itu yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa. “Kita sudah melawan kultusmu yang kejam. Kita sudah berhenti mengotori lembah dengan darah mereka yang keras kepala. Kita hanya mau pulang dan meninggalkan semua ini.”
Tak ada jawaban dalam bentuk kata-kata terucap. Namun, daun merah gelap di pucuk pohon bergetar pelan, seolah tertiup angin yang hanya mereka rasakan secara pribadi. Lalu, tiba-tiba, di kepala Fahri, sesuatu bergerak—bukan suara, bukan gambar jelas, tetapi sensasi: kehampaan yang perlahan terisi oleh rasa berat, tua, dan lelah dari kehidupan yang penuh beban. Seakan menyentuh pikiran yang telah melihat terlalu banyak dalam kehidupannya.
Rangga merasakan liontinnya menghangat di d**a, dan ia meremasnya erat, rahangnya mengeras penuh tekad. “Rizal,” katanya pelan. “Apa pun yang dia lakukan, jangan biarkan salah satu dari kita melampaui batas yang ada. Kalau ada yang tiba-tiba ingin melompat ke jurang... tahan dan cegah.”
Hasan menegakkan tubuhnya, siap dengan tangan di bahu Fahri. “Sudah biasa menahan orang yang mau pergi tanpa pamit atau izin,” gumamnya, entah bercanda atau sungguh-sungguh dengan ucapannya yang santai.
Dalam hening yang menegang dan mencengkeram, sesuatu berubah di udara sekitar mereka. Dengung rendah yang tadi terasa mengganggu berubah menjadi semacam ritme yang teratur, hampir menyerupai... suara helikopter yang datang dari kejauhan. Dito berdiri tergagap, menatap langit dengan penuh harap dan ketegangan. “Riz! Kontak visual!” teriaknya dari lingkaran batu yang mereka tinggalkan. “Aku melihat titik gelap... dua... bukan, tiga! Mereka datang!”
Ketegangan di punggung gunung semakin tegang ke dua arah bertolak belakang: ke atas, ke langit yang mulai bergetar oleh datangnya bantuan yang ditunggu, dan ke bawah, ke dalam tanah yang masih menyimpan sesuatu yang belum selesai dan terungkap. Pohon obsidian tetap diam, tetapi daun merahnya kini tidak lagi bergetar—seolah telah membuat keputusan yang hanya ia yang tahu rahasianya.
Rizal menatap ke langit penuh harap, lalu kembali ke pohon dengan rasa penasaran dan tekad. “Kalau kamu adalah penjaga di sini...” katanya lirih, “biarkan kami lewat dengan aman. Biarkan semua yang mati di bawah sana cukup untuk menutup hutang yang menyimpan dendam masa lalu.”
Angin bertiup sekali lagi, lebih hangat dari sebelumnya, seolah menyampaikan pesan yang menenangkan. Fahri mengembuskan napas panjang, pundaknya yang tegang sedikit merosot—beban yang tadi terasa menekan kepalanya perlahan memudar dalam sunyi yang penuh harapan.
“Dia...” Fahri menelan ludah, usahanya menenangkan diri. “Dia tidak... marah lagi pada kita. Tapi dia tidak akan lupa. Tempat ini akan selalu mengingat kita selamanya.” Ia berbalik, menatap yang lain dengan harap-harap cemas. “Dan itu artinya... kalau suatu hari ada orang yang datang ke sini dengan niat yang salah, mereka mungkin akan melihat bayang-bayang kita.”
“Bagus,” gumam Fauzan dari kejauhan. “Biar mereka takut duluan dari jauh.”
Suara baling-baling helikopter kini terdengar jelas. Helikopter—lebih dari satu—mendekati punggung gunung, memotong kabut yang tadi menjerat mereka dalam cengkeramannya. Dito mengangkat flare dan, dengan tangan gemetar, menembakkannya ke langit yang sarat dengan ketegangan. Semburan cahaya merah menorehkan garis terang berani di udara kelabu.
Namun bahkan ketika harapan berbentuk besi terbang yang dinanti mendekat, tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar merasa lega sepenuhnya. Karena di balik semua jeritan, darah, dan doa yang mereka tinggalkan di bawah sana, mereka tahu: ada sesuatu di hutan dan di gunung ini yang kini mengenal nama-nama mereka dengan pasti. Dan bayang terakhir yang menatap mereka dari punggung gunung... mungkin belum benar-benar pergi jauh.
Hal ini menutup langkah mereka di punggung gunung yang asing, tepat ketika batas antara hidup dan mati, antara mitos dan kenyataan, antara kutukan dan keselamatan, menipis menjadi garis setipis retakan di batu yang mereka injak. Apakah helikopter itu benar-benar tiket pulang yang mereka tunggu, atau hanya babak baru dari cobaan yang belum selesai—itu sesuatu yang belum berani mereka jawab, bahkan dalam hati paling dalam yang terpikir.