Pagi itu, suasana di tengah hutan terasa seolah baru saja menyirami aroma mimpi buruk yang semalam membelenggu. Kabut yang menyelimuti perlahan raib di sela-sela pepohonan raksasa yang menjulang tinggi, meninggalkan butiran-butiran embun yang menempel lembut di permukaan dedaunan dan menyatu dengan bau khas tanah yang basah, bercampur samar dengan aroma anyir darah kering yang menguap dari pakaian mereka yang sudah lusuh. Jauh di belakang, di bawah sana, Lembah Tengkorak dan rawa kutukan hanya menyisakan siluet abu-abu yang suram, namun gema jeritan, bisikan, dan mantra masih berkumandang di dalam kepala mereka masing-masing, seperti gejolak yang enggan padam meski pagi sudah berganti. Di hadapan mereka terhampar jalur pendakian alami menuju punggungan di gunung: lereng yang curam dengan tanah licin, batu-batu tajam berserakan tanpa aturan, dan akar-akar raksasa yang menjulang seperti jemari kekar siap menjegal siapa saja yang melangkah tanpa kewaspadaan.
Kini, kelompok mereka sudah menyusut menjadi sebelas orang. Bima masih menggeliat mempertahankan kehidupan, namun nyawanya terasa sangat rapuh; d**a yang robek akibat serangan racun parang dibiarkan terbalut kain usang dan salep herbal seadanya yang mereka temukan dalam kantong obat milik anggota kultus. Lina dengan tegar menahan rasa sakit di kakinya yang bengkak dan kebas, bersikeras menolak dibantu dan lebih memilih berjalan meski deraannya terasa berat. Demam Fahri mulai surut, namun pikirannya masih sering terhanyut, sesekali berbisik pelan seakan berbicara pada sosok yang tak terlihat. Sari, Amira, Dito, Tono, Maya, Hasan, Fauzan, dan Rizal berusaha mengisi kekosongan formasi, menutup celah-celah yang tertinggal oleh yang telah pergi. Rangga melangkah sedikit di depan Rizal, bukan lagi hanya sebagai orang asing yang dicurigai, meski belum sepenuhnya diakui menjadi bagian dari mereka; sosoknya tetap dingin, langkahnya senantiasa tenang, dan liontin tulang di dadanya kini terlihat kusam—seolah turut lelah setelah menentang kutukan semalam.
Rizal berhenti sejenak, bersandar pada batu besar yang menonjol di lereng, mengangkat tangan memberi isyarat untuk berhenti. Napasnya berat, namun tatapannya tetap tajam menyapu sekeliling hutan. “Istirahat lima menit dulu,” ujarnya. “Kita sudah cukup jauh dari gua. Kalau masih ada sisa anggota kultus yang hidup, mereka butuh waktu untuk bangkit. Gunung ini sekarang jadi medan kita.”
Fauzan menjatuhkan diri terduduk, punggungnya bersandar pada batang pohon, mengusap keringat yang bercampur dengan kotoran di wajahnya. “Medan kita, katanya,” gumamnya dengan nada pahit. “Dari awal, hutan ini memang bukan milik kita.” Ia melirik ke arah Rangga. “Tapi setidaknya kita nggak lagi buta. Terima kasih... untuk tadi malam.”
Kata-kata itu meluncur dengan kekakuan, tetapi penuh makna. Sari yang sedang sibuk mengatur posisi Bima agar bisa bernapas dengan lebih lega menoleh sejenak. “Kalau bukan karena Rangga, mungkin kita sudah jadi pajangan di altar itu,” katanya dengan lirih. “Atau sudah menjadi tumpukan tulang di lembah sana.”
Rangga hanya mengangkat bahu, pandangannya tetap terarah pada jalur naik yang masih tertutup semak-semak lebat. “Kalian yang putuskan untuk menghancurkan patung itu. Kalian yang angkat senjata waktu semua hampir runtuh. Aku hanya menunjukkan rutenya.” Suaranya datar, tetapi kali ini tak terdengar sekeras sebelumnya—lebih seperti seseorang yang sengaja menjaga jarak, bukan menganggap diri di atas yang lain.
Hasan duduk tak jauh darinya, punggungnya berdekap pada akar yang besar. Ia mengamati satu per satu wajah temannya, kini penuh luka namun juga terpancar ketabahan yang baru. “Yang jelas,” katanya pelan, “kita sudah lewati titik di mana orang biasa akan menyerah. Kalian bukan anak-anak yang berlatih lagi. Kalian sudah jadi veteran hutan sekarang.”
Dito yang sejak tadi sibuk mencoba memperbaiki radio menghela napas panjang. “Tetap sama,” ujarnya dengan kesal. “Kadang kedengaran ada suara noise seperti sinyal yang jauh, tapi tidak cukup kuat untuk diterima dengan jelas. Gunung ini mungkin satu-satunya tempat kita punya peluang, kalau puncaknya cukup tinggi untuk mengirim sinyal. Kalau tidak... ya, kita cuma naik buat mati tapi lebih dekat ke langit.”
Amira mengalihkan pandangnya dari jurang yang ada di samping jalur mereka, lalu menatap Rizal. “Kita perlu memiliki tujuan yang jelas, Riz. Kalau memang kita naik, harus ada alasan yang lebih kuat daripada sekadar mencari sinyal. Kita juga harus tahu apa yang kita cari di atas sana. Tempat terbuka untuk helikopter? Titik aman dari sisa anggota kultus? Atau mungkin... sekadar menjauh dari semua ini?”
Rizal menarik napas panjang, memijit pelipis yang berdenyut nyeri. “Naik berarti dua hal,” jawabnya tegas. “Yang pertama, peluang sinyal. Yang kedua, posisi taktis. Dari atas sana, kita bisa melihat sekeliling—desa, lembah, jalur air, mungkin bahkan jalur keluar yang tidak tercatat di peta. Turun lagi ke arah rawa atau lembah sama saja bunuh diri. Di bawah, tertinggal sisa anggota kultus dan suku primitif, meski kutukan mereka sudah kita patahkan. Di atas sini, setidaknya musuhnya cuma alam.”
“Kadang,” sela Lina, wajahnya pucat namun matanya masih bersinar, “alam lebih kejam daripada manusia.”
Sebuah kehampaan segera mengisi suasana. Suara burung yang telah lama tersembunyi mulai terdengar kembali jauh di atas kanopi, seolah hutan mengingat bahwa ia bukanlah semata tempat untuk kematian. Namun, seketika, Fahri bangkit duduk dengan jeritan tersentak. Matanya terbuka lebar, napasnya tersengal, dan keringat dingin membanjiri wajahnya.
“Rizal...” katanya pelan, serak. “Jangan percaya jika hutan ini tampak tenang. Aku... aku dengar mereka berbicara. Bukan anggota kultus, bukan pula suku. Sesuatu yang lain. Semalam... waktu aku separuh sadar, ada suara bilang: ‘Kalian sudah mengusik keseimbangan. Naik, kalau mau dicoba.’” Ia menelan ludah, tangannya gemetar. “Dan suara itu... tidak terdengar seperti manusia.”
Sari langsung memegang bahunya, berusaha menenangkan. “Fahri, kamu masih demam. Jangan dipaksakan.”
“Tapi aku tidak berbohong,” balas Fahri, menatap satu per satu. “Semakin kita naik, semakin hutan terasa... mengawasi. Seperti ada mata di antara kabut. Bukan mata manusia. Bukan mata binatang juga.”
Maya berdiri, melihat ke atas lereng yang terhalang pepohonan. “Kamu kira kita hanya mengurus anggota kultus dan suku?” katanya pelan. “Mungkin mereka hanya satu dari banyak hal yang hidup di sini. Hutan ini tua. Mungkin lebih tua daripada desa Pak Karto, lebih tua dari cerita apa pun yang pernah kita dengar.”
Tono menggeleng pelan, menatap peta lembab di tangannya. “Di peta ini, punggung gunung cuma garis tanpa nama. Tapi ada tanda-tanda kecil di pinggirnya... seperti goresan tinta yang sengaja dihapus.” Ia menatap Rangga. “Pernahkah kakekmu menceritakan sesuatu tentang puncak gunung ini?”
Rangga berpikir sejenak sebelum menjawab. “Dia hanya bilang, ada tempat di atas sana yang tidak boleh didekati sembarangan oleh manusia. Katanya, itu 'titik pertemuan' antara hutan dan sesuatu yang lebih tua dari semua ritual. Dia tidak pernah menjelaskan, dan setiap kali aku bertanya, dia hanya diam sambil menatap ke arah gunung.”
“Jadi kita mau naik ke tempat yang bahkan kakekmu enggan bicarakan?” gumam Fauzan, separuh sinis, separuh takut.
“Kita tidak punya pilihan lain,” potong Rizal dengan tegas. “Kita sudah terlalu jauh untuk mundur. Dan terlalu banyak yang mati untuk kita duduk saja dan menyerah. Jika di atas sana ada kesempatan, sesedikit apa pun, kita harus mengejarnya.”
Hasan bangkit berdiri, mengencangkan tali sepatu dengan tekad. “Perang yang paling buruk,” katanya pelan, “bukan ketika musuh di depan mata. Tapi ketika kita tahu musuhnya memang ada, tapi kita tidak tahu bentuknya.”
Mereka pun melanjutkan perjalanan. Jalur pendakian semakin menyempit, menyisakan jurang di satu sisi dan dinding batu yang licin di sisi lain. Akar-akar besar membentang sepanjang tebing, menjadi satu-satunya pegangan ketika tanah terlalu curam untuk diinjak dengan aman. Sesekali, batu-batu kecil meluncur ke bawah, menghilang ke dalam kabut yang menggantung di bawah kaki mereka tanpa suara.
Saat mereka mencapai sebuah bahu gunung yang agak landai, hutan mendadak berubah karakter. Pepohonan menjadi lebih jarang, digantikan oleh pohon-pohon kurus yang tinggi dengan cabang-cabang yang mati dan daun yang menghitam seolah terbakar dari dalam. Tanah di sini lebih kering, tetapi ada retakan kecil di permukaan yang mengeluarkan asap tipis tak berbau, namun membuat tenggorokan terasa kering dan gatal. Di tengah area itu, berdiri sebuah batu menonjol setinggi d**a manusia, permukaannya penuh dengan ukiran kasar yang tampak terlalu tua untuk pekerjaan tangan suku primitif; garis-garis melingkar, bentuk-bentuk yang menyerupai mata dan spiral yang saling terkait, dan di bagian atasnya, ada goresan yang tampak sangat mirip... dengan sayap.
“Ini apa lagi?” tanya Dito perlahan. “Monumen? Penanda? Atau peringatan ‘jangan lewat sini’? Kalau ini game, ini jelas checkpoint sebelum bos terakhir.”
Maya mendekat, menyentuh permukaan batu dengan ujung jarinya. “Ini bukan gaya ukiran suku yang tadi,” katanya. “Ini lebih... abstrak. Lebih tua. Kalian lihat ini?” Ia menunjuk salah satu simbol spiral. “Ini sama dengan salah satu tanda yang ada di dinding gua, di bagian terdalam yang hampir kita lewati tadi.”
“Jadi,” gumam Lina lirih, “kita bukan hanya berurusan dengan kultus dan suku. Kita seakan berjalan di ruang yang sudah ditandai sesuatu sejak zaman dahulu kala.”
Fahri menatap batu itu lama, wajahnya pucat. “Simbol ini...” ia mengangkat tangan gemetar, menunjuk coretan menyerupai mata di bagian tengah. “Aku pernah lihat waktu... waktu di antara sadar dan tidak. Waktu suara itu bicara. Simbol ini ada di belakang mata yang menatapku.”
Rizal mendekat ke batu, mengerutkan kening. “Apakah ini... tanda bahwa kita berada di jalur yang benar?” tanyanya lebih kepada dirinya sendiri daripada yang lain. “Atau ini justru peringatan bahwa kita sedang melangkah ke wilayah yang seharusnya tidak kita ganggu?”
Hasan menatap simbol itu dengan sorot mata seorang tentara yang telah menyaksikan banyak hal, namun tak pernah seperti ini. “Kadang-kadang,” katanya pelan, “dua hal itu sama saja.”
Angin bertiup sedikit lebih kencang, membawa suara samar dari arah puncak—bukan jeritan, bukan raungan hewan, tetapi sesuatu yang terdengar seperti... dengung rendah, ritmis, hampir menyerupai napas berat yang teratur. Rambut di tengkuk mereka berdiri bersamaan.
“Riz...” bisik Amira dengan takut, “kamu dengar itu?”
Rizal mengangguk pelan, menatap ke arah puncak yang masih tersembunyi di balik dadanya gunung berikutnya. “Dengar,” jawabnya. “Dan kita akan tahu apa itu sebenarnya. Tapi mulai sekarang, anggap setiap ancaman yang ada di atas sana bukan hanya sekadar ancaman fisik. Jaga pikiran kalian. Hutan ini mungkin sudah menyelesaikan urusannya dengan kultus—sekarang giliran kita.”
“Serius,” desah Fauzan, mencoba menyembunyikan ketakutannya dengan humor tipis, “kalau kita bisa keluar hidup-hidup dari semua ini, aku nggak mau lihat gunung lagi seumur hidupku.”
Sari menarik napas panjang, menatap satu per satu wajah yang tersisa. “Kalau kita bisa keluar hidup-hidup,” katanya pelan, “kita akan membawa cerita yang orang lain nggak akan percaya. Namun lebih baik itu daripada menjadi bagian dari cerita yang nggak pernah diceritakan.”
Rizal mengangkat senjatanya lagi, langkahnya mantap meski tanah di bawah kaki mulai bergetar pelan—entah karena aktivitas gunung atau sesuatu yang lebih gelap. “Bergerak,” ujarnya tegas. “Babak ini belum selesai. Dan sepertinya, apa yang menunggu di atas sana lebih menantang daripada sekadar kultus dan kutukan.”
Mereka bangkit kembali, meninggalkan batu bertanda itu di belakang, tanpa menyadari bahwa di kejauhan, di antara pepohonan mati di sana, sepasang "mata" tak kasat mengamati—bukan milik manusia, bukan milik hewan, melainkan sesuatu yang telah menunggu jauh lebih lama daripada usia desa atau kultus manapun. Hutan ini baru saja membuka tirai ke ancaman yang lebih dahsyat—bukan lagi hanya soal bertahan hidup dari manusia dan hutan, tapi dari sesuatu yang mungkin sejak awal adalah pemilik sebenarnya dari tempat itu.
***
Jalur pendakian semakin menipis menjadi lorong sempit di antara dinding batu licin yang menjulang setinggi 20 meter di kedua sisi. Tanahnya tampak kering retak seperti kulit bumi yang mengelupas, mengeluarkan asap tipis tak berbau yang membuat tenggorokan terasa terbakar dan mata perih, layaknya disiram garam. Pepohonan yang mati bergantung lumut hitam panjang seperti tali gantungan, bergoyang pelan tanpa angin seolah dihembus napas tak kasat mata dari celah-celah batu, dan suara dengung rendah yang sebelumnya samar kini semakin jelas—ritmis seperti detak jantung raksasa yang lambat tapi menggetarkan tulang, diselingi bisikan angin membentuk kata-kata tak jelas seperti "kembali... ganggu... milik...". Cahaya matahari siang terhalang kabut tebal yang naik dari jurang, menciptakan bayang-bayang panjang yang bergerak sendiri seperti sosok-sosok kurus menari di pinggir jurang, sementara suhu turun drastis menjadi dingin menusuk meski berada di daerah tropis—seolah gunung ini bernapas dingin dari perutnya.
Di tengah-tengah panorama menakutkan ini, sekelompok 11 orang bergerak pelan, masing-masing dengan napas tersengal, senjata terhunus, namun amunisi mereka mulai menipis, menimbulkan kekhawatiran yang kian menajam. Luka Bima yang bernanah dan busuk membuatnya harus dibopong oleh Fauzan dan Sari bergantian, Lina berjalan pincang, mengandalkan sebatang tongkat dari ranting untuk menopang dirinya. Suara Fahri mengigau nama-nama yang telah hilang, seperti radio berderik penuh gangguan, sementara yang lain memeriksa tali pengaman darurat yang dibuat dari akar—setiap langkah menimbulkan risiko tinggi tergelincir ke jurang yang kedalamannya mencapai 100 meter dan kabut yang melayang di atasnya bergemuruh seperti air terjun tak kasat mata.
Rizal, dengan tegang dan penuh perhatian memimpin di depan, SS1 di tangannya terangkat mengarah pada bayang kabut jurang. Dengan suara lantang, ia memotong dengung menakutkan yang memperberat d**a mereka. “Pegang tali pengaman erat! Jurang di samping ini adalah jebakan—kalau sampai satu orang tergelincir, kita harus menariknya dengan segala daya! Amira, maju bawa obor resinnya jika kabut menjadi gelap! Dito, bagaimana dengan sinyal radio di puncak? Tono, Maya, awasi kalo ada bayang di jurang—hindari segala gerakan yang mencurigakan! Sari, Fauzan, pastikan Bima tetap stabil saat dibopong! Lina, coba tahan pincangnya—Fahri, kendalikan pikiranmu! Kita hanya perlu menempuh 500 meter lagi menuju punggung gunung—di sana mungkin kita akan mendapatkan sinyal atau posisi tinggi yang lebih taktis!”
Dengan tulang punggung yang menegang, Fauzan menebas akar gantung sambil membopong Bima di pundaknya, napasnya terasa berat tapi semangatnya tetap kokoh. Dia memelototi jurang berkabut yang mengerikan dengan bulu kuduk berdiri. “Bima kembali mengalami demam panas—nanah di tubuhnya telah meracuni aliran darah! Sari, kita harus membopong secara bergantian—kita harus melindunginya sebelum gunung ini mengambilnya! Dengar suara dengung itu? Seperti detak jantung yang hidup—Rangga, bukankah kakekmu pernah bercerita tentang bagian punggung gunung ini?”
Rangga, dengan langkah stabil mengikuti di belakang Rizal, liontin tulangnya terasa dingin dan kusam, pisau belatinya menebas lumut di jurang yang merayap mendekati kaki Lina, dingin tapi tetap waspada. “Kakekku mengatakan bahwa punggung gunung ini adalah 'titik pertemuan'—bukan untuk manusia atau kultus, tetapi untuk roh tua dari hutan yang akan terbangun apabila diganggu. Dengungan itu adalah jantung lembah—mereka tidak suka dengan kehadiran orang asing. Tujuanku adalah mencapai puncaknya sebelum malam tiba, agar dapat mengirimkan sinyal keluar. Jika kita tergelincir, pastikan tali itu kita genggam sekuat tenaga.”
Sari, yang membopong Bima secara bergantian sambil memeriksa dan membalut nanahnya, menjerit panik saat bayang dari jurang bergerak seperti tangan kabut yang menjangkau hendak menjerat pergelangan mereka. “Lepaskan! Bima mengerang 'mata kabut'! Fahri berteriak igauan tentang 'titik pertemuan... pulang'! Lina, tahan pincangmu—lindungi yang terluka sebelum jurang ini menelan kita!”
Lina, tongkat rantingnya patah nyaris membuatnya terjatuh ke jurang, menjerit kesakitan karena kakinya mati rasa akibat racun, sementara tangan satunya gemetar menggenggam pistol. “Kaki ini benar-benar mati rasa—nanah Bima telah bercampur dengan darahku! Reza sudah hilang... Andi juga... kita harus merawat sebelum gunung ini membunuh kita! Dito, bagaimana dengan sinyal radio—ada jawaban?!”
Bima terdengar mengerang lemah saat dibopong, dadanya yang robek mengeluarkan nanah hitam, suaranya pecah diterpa udara dingin. “Dengung ini… memanggil namaku… gunung ini lapar… Rangga… menolak… keinginanku untuk balas dendam…”
Tono, dengan peta di tangan yang basah karena kelembaban, menunjuk ke arah punggung 500 meter dan membimbing obor Maya untuk menerangi bayang dari jurang. “Punggungnya sudah terlihat—sinyal di sini akan lebih baik! Maya, Hasan—bersiap dengan busur panah untuk menghadapi bayangan! Kita harus mencapai ketinggian yang lebih tinggi!”
Maya, dengan tangan yang tegas menarik busurnya, menembak bayang kabut yang berusaha menjangkau, panahnya menembus kabut dan terdengar jeritan samar. “Benar! Bayang ini bergerak seperti tangan—Hasan, sebagai tentara, bagaimana menurutmu tentang semua ini?!”
Hasan, dengan sisa peluru di dalam pistolnya yang tinggal dua butir, berbicara dengan suara rendah yang menambah ketegangan. “Ini adalah roh gunung—dengungannya memanggil jiwa yang lemah. Berdasarkan pengalaman, tutup telinga kalian, fokuskan perhatian pada tali pengaman. Ulangi nama kalian sendiri… lagi dan lagi…”
Dito, mencoba menyetel radio yang dipenuhi suara dengung kuat, tiba-tiba menjerit. “Sinyalnya naik hingga 20%—'Mayday' sudah berhasil dikirimkan meski lemah! Amira, bawa obor ke depanku—blokir jurang ini!”
Amira, menggenggam obor resinnya lalu maju, menatap kabut dari jurang yang naik berkelok seperti gelombang besar. “Riz, kita tinggal 11 orang—terluka 4 orang dan di antara kita sudah kritis! Bayang tangan kabut ini berusaha menjangkau Lina!”
Tiba-tiba, jurang bergemuruh lalu kabut pecah, muncul tangan kabut raksasa yang melompat untuk menjangkau kaki mereka semua, menarik mereka ke arah jurang sambil dengungan berubah menjadi raungan menyeramkan "Ganggu... pulang... milik!". Bayang dari sosok kurus bertopeng kabut muncul di pinggir jurang, menampakkan mata hitam kosong, dengan tangan kabut yang mengebas.
Rizal berteriak, mengarahkan SS1 dan menembaki bayang kabut itu. “Tembak bayang! Tarik tali!” Fauzan menebas dengan parang, kabut menjerit. Rangga melempar pisau ke arah mata bayang itu, menolak jeratan yang mendekati Sari. Maya menembakkan busur tepat ke d**a bayang itu, Hasan menembak ke kaki hingga jatuh ke jurang dengan raungan menyayat.
Bayang pemimpin, dengan mata kosong besar, meraung "Titik pertemuan haus jiwa kalian!". Tangan kabut hampir menjatuhkan Bima ke jurang—Fauzan berjuang menarik tali mati-matian.
Rizal melempar granat asap, kabut mundur dengan jeritan kesakitan. “Ayo maju ke punggung! Tarik semua orang!” Mereka berlari maju, tali digenggam erat, seiring mencapai punggung yang terbuka—pemandangan lembah, desa, dan rawa terlihat samar seiring kabut mulai surut.
Dito mendengar radio yang berkedip "Sinyal sudah kuat—mayday berhasil terkirim!". Namun terdengar kembali dengungan pelan dari batu di puncak, bayang bermata hitam mengintip.
Rizal terengah-hengah sembari terjatuh roboh, “Sepuluh orang dari kita selamat—tapi Lina jatuh ke jurang! Sinyal berhasil terkirim… tetapi kita belum selesai dengan gunung ini.”
Rangga dengan dingin mengamati, “Titik pertemuan sudah dekat—roh tua menunggu di sana.” Punggung gunung kini diam.
***