Bab 6 : Kutukan Kultus Tengkorak

4237 Words
Lereng lembah tengkorak yang baru saja mereka tinggalkan terasa seperti pintu gerbang dari neraka ke mimpi buruk yang lebih dalam, rumput liar setinggi pinggang bergoyang pelan ditiup angin siang yang membawa bau amis darah kering dari gua yang telah runtuh di belakang mereka. Matahari tropis membakar kulit mereka yang penuh luka dan lumpur, tapi kabut tipis dari lembah masih merayap naik seperti jari-jari hantu yang mencengkeram kaki, menyembunyikan jebakan akar berduri dan lubang tanah basah yang tersisa dari banjir bandang kemarin. Kelompok 15 orang yang selamat—setelah Lina terluka parah di kakinya—duduk meringkuk di bawah pohon beringin raksasa dengan akar-akarnya yang menjuntai seperti tali gantungan, napas tersengal bercampur tangis. Luka Bima menganga di dadanya, Fahri demam hingga membuat halusinasi, Lina pingsan karena pendarahan, sementara yang lain memeriksa senjata yang basah dan amunisi yang menipis. Konflik faksi yang retak sementara terlupakan setelah Rangga menyelamatkan mereka lagi, tapi ketegangan baru muncul dari jeritan samar yang masih bergema dari lembah—kutukan kultus tengkorak yang mereka saksikan ritual pembunuhannya, topeng putih bermata kosong dan parang berdarah yang haus jiwa orang luar seperti mereka. Rizal berdiri tegas di tengah lingkaran, SS1-nya diseka dari darah pembunuh kultus, suaranya menggelegar memotong angin dan mencekam. “Kita selamat dari p*********n lembah—15 orang! Tapi kultus itu bukan akhir. Jeritan tentara dari desa tadi... mereka bilang 'kultus mengambil jiwa'. Faksi menutup konflik—Rangga bebas total sekarang. Sari, merawat lukanya Lina. Dito, mengecek sinyal radionya, sedangkan Tono dan Maya memeriksa peta untuk melihat rute gunung bagian timur—menghindari lembah lagi. Kita bergerak 30 menit lagi, sebelum malam dan kultus mengejar!” Fauzan, yang parangnya masih basah oleh darah, duduk di samping Bima yang meringis kesakitan, tatapannya bercampur syukur dan ragu ke Rangga. “Baik, Riz... kamu telah menyelamatkan Lina tadi, Rangga. Faksi kami... Sudah salah menuduh kamu. Tapi liontin tulangmu mirip dengan topeng kultus—jelasin apa itu sebelum kami percaya total!” Suaranya tegang, tapi tak lagi mengancam. Rangga tetap dingin seperti patung, duduk sambil mengasah pisau belatinya ritmis di bawah akar beringin, matanya menyapu kabut di lembah seperti tahu akan rahasia hutan. “Liontin peninggalan kakekku—penjaga hutan dan pernah melawan kultus tengkorak. Mereka mencari kurban orang luar buat 'membangunkan roh lembah', mengambil jiwa buat kekuatan ritual. Motif mereka: hutan sedang 'lapar' setelah pesawat kita atuh. Aku tahu karena kakek telah mati saat melawan mereka. Kalau aku pengkhianat, kalian udah menjadi kurban di altar.” Sari, membalut lukanya Bima dengan kain robek sambil air matanya jatuh, mengangguk pelan meski gemetar. “Fahri masih stabil sedikit berkat ramuanmu... tapi jeritan tadi kayak mimpi buruknya. Lina sudah bangun—dia bilang kakinya mati rasa. Motifku percaya sekarang, tapi kultus... mereka punya sepatu bot modern. Berarti bukan dari suku liar sepenuhnya.” Lina, sadar dari pingsannya di pangkuan Reza, meringis memegang kakinya yang berdarah. “Racun ada di parang mereka... Rasanya panas membakar uratku. Bima juga—terinfeksi dengan cepat. Kita butuh obat dari desa, tapi Pak Karto telah menolak kita. Reza, Andi—bisa tolong bantu bopong aku nanti?” Reza, si analis dengan kacamata retaknya, mengangguk tegang sambil memegang pistol. “Netralku telah selesai—mendukung Rizal total. Motif logika: kultus punya basis di dekat sini. Andi?” Andi si pemalu, menggigit bibir sambil membagi air sungai ke semuanya. “Aku... ikut. Takut sendirian. Tapi dengar itu—ada suara gemerisik dari kabut!” Maya, sudah siap dengan busurnya, mata elangnya melihat bayangan samar di rumput tinggi. “Itu bukan angin. Tono, Hasan—siapkan senjata kalian! Ada jejak kaki bot lagi, datang dari lembah.” Tono, memegang peta yang tela usang, berbisik panik. “Rute gunung kearah timur sekitar 5 km dari sini, tapi melewati rawa berkabut—jebakan kultus. Hasan, kamu kan tentara—apa ini?” Hasan, pistol tuanya dikokang dan diisi dengan peluru, suaranya pelan menggetarkan. “Itu pengintaian. Kultus mengirim mata-mata. Kalian dengar bisikan mantra? Mereka sedang memanggil roh lembah.” Dito mencoba radionya lagi, static menderu tapi sinyal tetap samar. “Sinyalnya goyang... Riz, 'mayday' keluar tipis! Amira, mempersiapkan obornya untuk malam nanti?” Amira, membagi amunisi, dan menatap Rizal tegas. “Semua siap. Faksi solid sekarang—15 orang. Tapi kabut naik dengan cepat, hawa dingin yang aneh kayak ada yang mengintip.” Tiba-tiba, kabut pecah—3 pembunuh kultus muncul dari rumput yang tinggi, topeng tengkorak putih kosong menyeringai, parang berdarah yang beracun menderu tebas. “Kurban hutan! Jiwa kalian milik tengkorak!” raung mereka serempak, suara mantra bergema seperti ribuan arwah yang bangkit. Rizal menembak SS1-nya, peluru berhasil merobek d**a satu dari mereka. “Serang! Lindungi yang terluka!” Fauzan melompat dan membacok parang orang kedua dari mereka, darah muncrat kemana-mana. Rangga lempar pisau tepat dibagian mata orang ketiga, dengan dingin. “Mereka membunuh 3—pengintai.” Bima, meski terluka, menembakkan pistolnya. “Makasih lagi, Rangga... kamu memang penjaga kita!” Maya memanah satu yang berhasil lari, tapi jeritan mantra bergema lebih kencang dari sebelumnya. Lina menjerit, “Kaki mati rasa! Racun... dan panik!” Jeritan kultus berubah menjadi bisikan angin: “Jiwa... lapar... kurban...” Pohon beringin bergoyang sendiri, akarnya bergerak pelan seperti ular hidup, menjerat kaki Andi dan nyaris menarik dia ke tanah. “Hutan hidup! Kutukan nyata!” jerit Andi panik. Rizal menarik Andi, menembak akar yang aneh. “Bergerak sekarang! Kita ke rawa gunung di timur—hindari kabut! Kultus memanggil roh lembah!” Mereka berlari tergesa-gesa, kabut mengejar mereka seperti asap hidup, bisikan mantra bergema di telinga mereka: nama mereka disebut satu persatu. Fahri bangun sebentar, mengigau. “Mereka datang... Mengambil jiwa... satu persatu...” Fauzan berlari disamping Rangga, “Kamu tahu cara melawan kutukan ini?!” Rangga menjawab dengan dingin, “Liontin pelindung. Ikuti aku—basisnya kultus di rawa. Hancurkan altar, kutukan akan mati.” Lalu kelompok berlari ke rawa berkabut dan gelap, pohon-pohon mati dan banyak bergantungan lumut seperti mayat yang tergantung, jeritan angin bercampur dengan raungan kultus secara samar. Malam turun dengan cepat, obor yang dipegang Maya menerangi jejak darah mereka sendiri—kutukan dimulai, p*********n lembah berlanjut ke hutan hidup yang haus akan jiwa. *** Rawa berkabut di lereng gunung bagian timur terasa seperti napas naga yang busuk, air hitam yang keruh setinggi betis bergoyang pelan dengan riak-riak aneh seolah ada tangan tak kasat mata mengaduknya dari bawah, pohon-pohon mati bergantungan lumut abu-abu panjang seperti usus yang menggantung dari langit-langit neraka, dan kabut tebal mengganggu mata seperti asap beracun yang merayap dari celah tanah berlumut. Setiap langkah kelompok 15 orang itu menimbulkan tumpukan lumpur lengket yang menjerat sepatu bot mereka, diikuti desisan angin yang membentuk bisikan nama-nama mereka—"Rizal... Fauzan... jiwa milik tengkorak..."—seolah hutan hidup telah bangun sepenuhnya setelah ritual p*********n di lembah. Obor resin yang dipegang Maya berkedip-kedip lemah diterpa hembusan angin dingin yang tak wajar, menerangi bayang-bayang pohon yang bergoyang sendiri seperti sosok bertopeng yang sedang menari ritual, sementara jeritan samar dari lembah bergema lebih dekat, diselingi dengan denting parang kultus dan raungan binatang liar yang terdengar seperti campuran manusia dan setan. Luka Bima dan Lina semakin memburuk, nanah mengeluarkan bau busuk bercampur racun dari parang, Fahri mengigau nama-nama korban ritual, dan ketegangan faksi yang sempat reda kini bangkit lagi seperti mayat hidup—semua mata curiga ke Rangga, liontin tulangnya yang samar bersinar di d**a seperti mata jahat yang sedang mengawasi. Rizal memimpin barisan depan dengan SS1 teracung, lumpur menyembur ke celananya setiap dia melangkah, suaranya serak memotong bisikan angin yang mencekam. “Tetap rapat! Rawa ini adalah jebakan kultus—akar pohon bergerak sendiri, jangan sampai kita terpisah! Amira, obor sebelah kiri! Dito, cek sinyal lagi! Sari, kamu bopong Fahri dan Reza juga bopong Lina, Bima jaga ditengah! Tono, Maya buka peta rawa—hindari genangan hitam! Faksi tutup dulu tuduhan—kultus mengejar kita sekarang!” Fauzan, parang yang dipegangnya terangkat tinggi sambil dorong lumpur dari sepatu, berlari disamping Rangga dengan napas ngos-ngosan, tatapannya bercampur antara syukur dan ketakutan ke sosok dingin itu. “Rizal benar—kamu tahu jalan di altar kultus, Rangga?! Suara bisikan nama kami ini adalah kutukanmu? Liontinmu bersinar kayak mata setan! Sari, Lina—kalau dia bergerak yang salah, potong! Motif faksi kami adalah melindungi yang terluka sebelum hutan mengambil jiwa!” Rangga tetap tenang meski lumpur menjerat kakinya, pisau belatinya berkilat membalas tebas akar pohon yang tiba-tiba melilit pergelangan tangan Bima, dingin seperti es di tengah neraka rawa. “Terdengar bisikan kutukan tengkorak—mereka memanggil roh lembah setelah ritual. Altar di pulau kecil setelah rawa didepan—hancurkan patung tengkorak, kutukan akan mati. Liontin pelindung kakek—bersinar melawan roh jahat. Motifku menyelamatkan kalian lagi. Kalau pengkhianat, kalian udah ditelan lumpur.” Sari, membopong Fahri yang mengigau "mereka datang... altar berdarah..." sambil membalut luka Lina yang nanahnya mengalir ke air rawa, menjerit panik saat akar melilit kakinya. “Lepas! Fahri bilang altar penuh darah—ini pasti rencanamu, Rangga! Lina, Bima—menahan racun! Reza, Andi—kalian bantu menarik akar ini, atau kita tenggelam hidup-hidup!” Lina, kakinya mati rasa karena racun tapi masih memegang pistol dengan gemetar, menjerit kesakitan saat lumpur mendidih panas di sekitar mereka. “Racun membakar urat—Bima pingsan! Fahri halusinasi parah, bilang 'tengkorak berbicara'! Reza, angkat aku—motifku rawat semua sebelum kutukan itu mengambil!” Bima, sadar dari pingsan karena d**a robek, parangnya menebas akar tapi lemah. “Akar hidup... kultus memanggil! Rangga... kamu menyelamatkan lagi... tapi liontin... jahat!” Tono, membuka peta yang basah kuyup dan digenggam erat, menunjuk pulau kecil samar didekat obor Maya. “Altar 200 meter lagi—awas genangan hitam itu jebakan! Maya, Hasan—siapkan panah ke akar dan kultus! Motif faksi kami ikut Rangga—dia paling tahu!” Maya, busurnya menembakkan akar yang melilit Andi, panahnya menancap tepat disambungan pohon. “Setuju! Lihat—ada bayangan topeng di kabut! Kultus 5 orang mengejar! Hasan, apa ini?” Hasan, menembakkan pistolnya ke riak lumpur aneh yang naik seperti tangan, suara pelan yang menggetarkan. “Roh lembah dibangunkan ritual—rawa menjadi hidup. Altar pusatnya. Motif kultus: jiwa kita menguatkan hutan untuk melawan orang luar.” Dito, radio static menderu membisikan nama mereka, menjerit panik. “Sinyal bercampur kutukan—'kurban... jiwa...' Riz! Amira, obor—faksiku menutup bagian belakang!” Amira, mengangkat obornya tinggi-tinggi untuk menerangi riak lumpur yang mendidih, lihat ada bayang kultus bertopeng. “Riz, 15 orang—terluka ada 3! Faksi solid sementara, tapi bisikan ini bikin gila!” Reza, mengangkat Lina sambil membopong Fahri bergantian, berteriak. “Aku mendukung Rangga! Andi, ditarik oleh akar!” Andi, menjerit ketakutan saat akar menjerat lehernya. “Aku... mati! Ada bisikan memanggil namaku!” Tiba-tiba, kabut pecah—5 pembunuh kultus melompat dari riak lumpur, topeng tengkorak putih menyeringai, parang berdarah dan beracun menderu tebas. “Jiwa kalian adalah kurban! Tengkorak haus!” raung mereka serempak, mantra kembali bergema seperti ribuan jeritan arwah. Rizal menembakkan SS1 nya, merobek d**a satu dari mereka. “Serang balik!” Fauzan membacok parang ke orang kedua dari mereka, darah muncrat bercampur lumpur. Rangga melempar pisau mengenai mata orang ketiga, dan dengan dingin menebas akar untuk membantu Sari. Maya memanah orang keempat, Hasan menembak orang kelima dan jatuh ke lumpur mendidih lalu menjerit kesakitan. Tapi lumpur naik dengan cepat, menjerat kaki mereka seperti tangan raksasa. “Kita ke altar! Maju!” teriak Rangga, liontinnya bersinar terang membelah kabut. Akhirnya mereka mencapai pulau kecil—altar terbuat dari batu hitam dengan patung tengkorak raksasa dibagian tengahnya, darah segar dari 10 korban mengalir ke celah, api ritual menyala abadi meskipun hujan. Fauzan menebas patung itu, batu retak. “Ini?! Hancurkan!” Jeritan mantra pecah, lumpur pelan berangsur-angsur surut, kabut memudar, bisikan menghilang. Rizal ambruk di altar, napas ngos-ngosan. “Kutukan... mati? 14 selamat—Andi tenggelam tadi! Lina, Bima tetap bertahan!” Rangga tetap bersikap dingin, “Sementara. Kultus sangat dekat—mereka akan balik lagi besok.” Rawa menjadi tenang lagi, tapi angin membawa bau darah baru—kutukan mundur, tapi p*********n tetap berlanjut. *** Pulau kecil di tengah rawa berkabut itu terasa seperti oase palsu di neraka yang basah, altar terbuat dari batu hitam itu retak karena baru saja mereka hancurkan dan masih berdenyut panas seperti jantung yang sekarat, celah-celahnya mengeluarkan asap tipis bercampur bau darah segar dari 10 korban ritual yang tulangnya berserakan seperti mainan rusak, api abadi di puncak patung tengkorak raksasa padam pelan-pelan meninggalkan bara merah yang menyala-nyala seperti mata setan yang tak rela mati. Lumpur rawa menjadi surut untuk sementara setelah tebasan Fauzan, kabut mundur ke pinggir seperti binatang yang terluka, suara bisikan nama mereka lenyap diganti keheningan mencekam yang hanya diselingi suara tetesan darah dari luka Bima dan Lina, serta igau Fahri yang semakin liar—"altar hidup... mereka balik... Tengkorak lapar lagi...". Kelompok 14 orang selamat—Andi telah hilang ditelan lumpur—mereka duduk ambruk di sekitar altar yang retak, napas mereka tersengal bercampur dengan tangis histeris Lina dan erangan Bima yang sadari dari pingsan karena infeksi di dadanya yang robek memburuk, senjata basah dan amunisi menipis, sementara hutan disekitar rawa bergemuruh pelan seperti napas makhluk raksasa yang terbangun dari tidur karena ritual. Ketegangan sementara hilang setelah Rangga menyelamatkan lagi, tapi horor kutukan kultus tengkorak naik level—mereka tahu basis kultus sangat dekat, dan terdengar suara jeritan samar dari kabut menjanjikan pembalasan. Rizal bangkit pelan, SS1-nya diseka dari darah pembunuh kultus, suaranya serak tapi tegas memotong keheningan yang mencekam, matanya menyapu 14 wajah pucat di bawah cahaya fajar yang redup. “Kita telah menghancurkan altar—kutukan surut sementara! 14 berhasil selamat, Andi telah hilang, jadinya maafkan kami. Lina, Bima dirawat dulu—racun dari parang akan cepat membunuh! Sari, Fahri stabil? Dito, gimana sinyal? Tono, Maya cek peta berbasis kultus—hindari rawa lagi! Kultus akan balik besok, kita bergerak malam ini ke gunung timur!” Fauzan, menaruh parangnya yang penuh dengan darah kering altar, membantu balut d**a Bima sambil menatap Rangga bercampur kagum dan sisa kecurigaan, napasnya masih ngos-ngosan. “Rizal benar—altar sudah retak, lumpur jadi surut gara-gara tebasanku! Rangga, kamu menyelamatkan Sari tadi... kami percaya total sekarang. Tapi liontinmu bersinar membelah kabut—ada rahasia apa lagi? Apakah jeritan dari pinggir rawa itu pertanda kultus akan balas dendam? Bima, bangun—kita harus balas untuk Andi!” Rangga tetap bersikap dingin, duduk sambil memeriksa pisau belatinya yang berdarah, liontin tulangnya padam pelan-pelan seperti mata yang tertidur, matanya tajam saat mendengar suara jeritan samar dari kabut. “Basis kultus berjarak 1 km ke utara rawa—ada gua tersembunyi dengan altar cadangan. Mereka mengambil kurban 10 orang tadi malam buat membangunkan roh lembah. Liontin sebagai pelindung sementara—kakek pernah bilang hancurkan patung utama di basis baru kutukan akan mati total. Akhiri ini sebelum mereka mengambil jiwa kalian. Kalian dengar suara jeritan? Mereka mendapatkan korban baru.” Sari, memeluk Fahri yang mengigau "altar bicara... Tengkorak memanggil Andi...", dan membalut luka Lina dengan kain robek terakhir, air matanya jatuh ke lumpur. “Fahri halusinasi parah—bilang Andi menjerit dari lumpur! Lina, merasakan racun membakar kakinya. Reza, Andi... Sudah hilang untuk selamanya. Aku akan melindungi Fahri sebelum kultus mengambil jiwa lagi—Rangga, beneran ada patung utama di basis?” Lina, yang kakinya bengkak bernanah hitam karena racun, menjerit kesakitan tapi tetap memegang pistol dengan erat, suaranya pecah. “Racun menyebar dengan cepat—kakiku mati rasa, Bima demam tinggi! Sari, obat-obatan sudah habis total. Reza, tolong bopong aku—dan rawat semuanya sebelum kutukan ambil satu persatu!” Bima sadar setelah pingsan, d**a robeknya bernanah dan membusuk, mengerang lemah. “Andi... maaf... Rangga... patung utama... hancurkan... Tolong balas darah kami...” Tono, membuka peta basah yang digenggamnya, menunjuk kabut utara dengan jari gemetar. “Basis gua 1 km dari sini—ada rawa dan jebakan akar hidup lagi. Maya, Hasan—siapkan senjata malam ini! Kita ikut Rangga—dia yang tahu!” Maya, memnyiapkan busur darurat dan mengisi panah terakhir, mata elangnya melihat ada bayangan di kabut. “Setuju! Ada suara jeritan korban baru—kurban kultus 10 orang membunuh lagi. Hasan, siapkan strategi malam ini?” Hasan, menyiapkan pistolnya dan diisi peluru 5 butir, suara pelannya menggetarkan. “Kita serang malam—kultus ritual itu buta kalo ada obor. Pengalamanku: hancurkan patung, ambil kepala pemimpinnya. Kalian dengar raungan? Mereka datang.” Dito, diradio static terdengar suara jeritan samar, jeritan panik. “Sinyal bercampur jeritan—'tolong... Tengkorak...' Riz! Amira, siapkan obor cadangan—aku akan menutup bagian belakang malam ini!” Amira, membagikan air rawa yang telah direbus seadanya, menatap Rizal tegas meski gemetar. “14 orang—3 luka parah! Suara jeritan bikin gila. Ada bisikan nama Andi lagi...” Reza, membopong Lina pelan, berteriak. “Dukung Rangga total! Andi... Menjerit dari lumpur tadi... kutukan ini nyata!” Tiba-tiba, kabut utara membelah—10 pembunuh kultus lompat dari dalam rawa, topeng tengkorak putih berlumur darah segar menyeringai, parang beracun menderu menebas sambil meraung mengucapkan mantra "Jiwa kalian sudah diganti Andi! Tengkorak akan bangun!". Tiba-tiba di belakang, ada korban baru—3 warga desa seperti Pak Karto—terikat menjerit kesakitan, ditarik sebagai umpan. Rizal menembakkan SS1 burst, robek 2 orang di d**a. “Serang! Lindungi korban!” Fauzan melompat membacok 3 orang, darah muncrat bercampur dengan jeritan. Rangga melempar pisau mata dari pemimpin kultus tapi meleset, dan dengan dingin menebas akar yang menjerat Sari lagi. Maya memanah d**a 2 orang, Hasan menembak kepala 2 orang lalu jatuh di lumpur yang mendidih. Pemimpin kultus itu, topengnya retak mengungkap wajah manusia tapi dengan mata yang putih kosong, meraung "Patung utama hidup! Jiwa kalian akan menjadi kurban abadi disini!". Parangnya menebas Bima hingga nyaris putus lengannya—dia jatuh menjerit. Rizal menarik Bima, menembak pemimpin itu, dan meleset. “Lari ke basis gua! Bebaskan umpan mereka!” Mereka menyerbu maju, cepat bebaskan 3 warga desa yang menjerit "Kultus sudah ambil anak Pak Karto... hancurkan gua!" Lina menjerit, “Bima pendarahan lagi! Cepat!” Lumpur mendidih lagi, menjerat kaki Reza—lalu Rangga menebas dengan sikap dingin. Di mulut gua basis kultus, patung tengkorak utama raksasa menyala merah, darah mengalir ke sungai kecil. Pemimpin kultus melompat, “Kalian korban terakhir!” Fauzan langsung menebas patung itu, batu menjadi retak hebat, api segera padam, jeritan mantra pecah. Kultus jatuh meringkuk menjerit kesakitan, kutukan akhirnya surut total—lumpur mendadak diam, kabut menghilang, bisikan lenyap. Rizal ambruk, menghitung. “13 selamat—Reza hilang! 3 warga desa berhasil kita selamatkan. Kultus hancur sementara... Kita bergerak ke gunung besok pagi.” Rangga dengan sikap dingin, “Patung utama udah retak—kutukan melemah. Basis mereka ada di dalam gua—kita masuk atau mereka akan balik besok.” Jeritan 3 warga desa pecah, “Anak Pak Karto... rohnya sudah aman sekarang...” Malam turun dan kondisi aman untuk sementara, tapi gua yang gelap tetap bergemuruh pelan—kutukan mundur, tapi pembalasan kultus yang tersisa akan membalas dendam dan haus darah. *** Mulut gua basis kultus Tengkorak menganga seperti rahang raksasa yang siap mengunyah jiwa, dindingnya basah oleh air resapan bercampur darah kering yang mengalir pelan, lumut beracun hijau kehitaman merayap di setiap celah batu seperti jaring laba-laba raksasa yang hidup, dan aroma amis pembusukan bercampur asap ritual menyengat hidung hingga membuat mual. Patung tengkorak utama berada di dalam gua—tinggi 3 meter terbuat dari batu obsidian dan telah retak karena baru saja ditebas Fauzan—masih berdenyut samar seperti jantung yang sekarat, mata kosongnya memancarkan cahaya merah pudar yang berkedip-kedip seperti mata setan yang menolak mati, dikelilingi tumpukan 20 korban ritual terbaru: tulang retak, kulit mengelupas, dan darah menggenang membentuk pola lingkaran mantra. Gua bergemuruh pelan seperti napas makhluk bawah tanah, angin dingin menderu dari kedalaman membawa bisikan nama mereka lagi—"Sari... Lina... gantikan Andi... Tengkorak haus..."—meski kutukan sudah surut sementara setelah altar retak. Kelompok 13 orang selamat—Reza telah hilang ditelan lumpur—berdiri tegang di ambang gua, dengan senjata gemetar di tangan mereka yang basah dan berlumpur, luka Bima dan Lina bernanah dan membusuk racun menyebar dengan cepat, Fahri mengigau nama korban seperti radio rusak, sementara 3 warga desa yang mereka selamatkan meringkuk ketakutan menceritakan rahasia kultus. Ketegangan memuncak: mereka akan masuk gua untuk menghancurkan sisa ritual atau kabur ke gunung timur sebelum malam membawa pembalasan kultus yang tersisa yang bersembunyi di kedalaman. Rizal berdiri di depan mulut gua, SS1-nya teracung ke kegelapan yang bernapas, suaranya menggelegar memotong bisikan angin yang mencekam, keringat bercampur darah dari luka goresnya mengalir deras. “Kita di mulut neraka kultus sekarang—patung udah retak, kutukan melemah! 13 selamat, Reza maafkan kami. 3 warga desa, ceritain basis ini—altar cadangan dimana lagi?! Sari, tolong rawat Bima-Lina dengan cepat, racun cepat menyebar! Dito, cek sinyal gua? Tono, Maya siapkan obor dan maju pelan—cek kedalaman! Kita bersatu—masuk dan hancurkan sisa ritual malam ini, atau kultus akan membalas dendam besok pagi!” Pak Karto—kepala desa yang ternyata salah satu warga yang selamat—meringkuk ketakutan, wajahnya pucat dipenuhi dengan bekas luka ritual lama, suaranya pecah berbisik horor. “Gua Tengkorak... basis utama kultus! Anakku Suroto hilang di sini 10 tahun yang lalu—mereka kurban buat bangunkan roh lembah. Altar cadangan di ruang bawah, ada patung kecil penuh dengan darah 50 jiwa bikin kutukan abadi. Pemimpin kultus—si Buta Mata Putih—bersembunyi disana, mata kosongnya melihat jiwa! Masuk... Akan mati semua!” Fauzan, dengan parangnya yang berdarah karena menebas altar maju sambil menebas dinding lumut, menatap Rangga dengan penuh ketegangan bercampur hormat, napasnya tersengal. “Pak Karto benar—gua ini sarang setan! Rangga, liontinmu menolak bisikan tadi—apa pemimpin masuk?! Aku akan hancurkan altar cadangan sebelum racun itu membunuh Bima-Lina! Sari, tolong tahan—kita bersatu sekarang!” Rangga tetap bersikap dingin seperti patung obsidian, liontin tulangnya berkedip redup membelah kabut gua, pisau belatinya diasah ritmis saat terdengar gemuruh. “Altar cadangan 100 meter ke dalam—ruangan penuh darah dengan patung mata memerah. Pemimpin kultus Buta Mata Putih sangat kuat—kita hancurkan mata patung dulu. Liontin pelindung sementara, kakek mati di sini melawan dia. Aku akan akhiri kutukan sebelum jiwa kalian diambil. Kalian dengar gemuruh lagi? Mereka memakan korban baru lagi.” Sari, membalut d**a Bima yang bernanah hitam sambil memegang Fahri yang mengigau "gua bicara... mata putih...", jeritnya panik saat lumut gua merayap di kakinya seperti ular hidup. “Lepaskan lumut ini! Fahri bilang 'Buta Mata Putih sudah memanggil Reza'! Lina, bagaimana racun di kaki? Reza telah hilang... Saat ini aku akan lindungin Fahri sebelum gua mengambil jiwanya!” Lina, dengan kaki bengkaknya yang mati rasa karena racun, menjerit kesakitan sambil pegang pistol, suaranya histeris. “Racun nyebar ke d**a—Bima pingsan lagi, nanahnya bau busuk! Sari, kain udah habis! Reza menjerit dari lumpur tadi—tolong rawat sebelum gua membunuh satu persatu!” Bima sadar dengan mengerang lemah, d**a robeknya bernanah, parangnya trrjatuh. “Gua... haus darah... Rangga... mata patung... hancurkan... balas dendam untuk Andi-Reza...” Tono, membuka peta basahnya dan menunjuk ruang bawah, dengan obor Maya maju pelan menerangi lumut yang bergerak. “Ruangan penuh darah berjarak 100 meter—lumut hidup itu jebakan! Maya, Hasan—kalian siapkan panah! Aku masih ikut Rangga—dia yang paling tahu!” Maya, busurnya menembak lumut yang menjerat Tono, panah menancap. “Setuju! Gemuruh sudah dekat—kultus sisa 7 orang! Hasan, strategi?” Hasan, menyiapkan pistol dengan 3 peluru tersisa, suara pelannya menggetarkan. “Kita serang dalam diam—hancurkan mata patung, ambil kepala Buta. Pengalamanku: ritual buta di kegelapan. Dan membisikan nama kalian lagi...” Dito, radio berbunyi static "mata putih... jiwa...". “Sinyal kutukan! Amira, obor kedua— tutup bagian belakang!” Amira, membawa obor tinggi-tinggi melihat ada bayangan topeng dalam gua. “Riz, 13 orang! Lumut bergerak ke Lina!” Tiba-tiba, gua bergemuruh hebat—lumut meledak seperti ular raksasa dan menjerat kaki semua, lalu menarik mereka ke kedalaman sambil meraung "Kurban untuk mengganti Reza!". Dari ruang bawah, 7 kultus tersisa melompat keluar, topeng retak mata putih kosong, dengan parang beracun menderu "Buta panggil jiwa kalian!". Pemimpin Buta Mata Putih berada di belakang, matanya yang kosong bersinar merah, tangannya mengangkat disertai dengan mengucapkan mantra disertai dengan gemuruh gua yang runtuh pelan. Rizal menembak burst merobek 2 orang di d**a kultus. “Serang! Kita ke ruang yang penuh darah!” Fauzan membacok 3 orang, darah muncrat bercampur dengan lumut. Rangga menebas lumut yang menjerat Sari lagi, pisaunya juga nyaris mengenai mata Buta. Maya memanah d**a 1 orang, Hasan menembak kaki 1 orang lalu terjatuh. Buta meraung "Patung hidup! Jiwa kalian akan abadi!", parangnya menebas Bima di dadanya lagi—dia jatuh menjerit dan pingsan. Buta juga menebaskan senjatanya ke 2 bawahan yang selalu bersama Fauzan, tepat di leher. Lina menjerit "Bima dan 2 orang lainnya mati!" tapi Rangga menarik dia, liontin bersinar menolak mantra. Pak Karto jerit, “Mata patung! Hancurkan!” Mereka menyeerbu ruangan penuh darah—altar kecil dengan patung mata merah menyala, darah mengalir seperti sungai. Fauzan melompat menebas mata patung, obsidian retak dan pecah, cahaya padam, mantra pecah dan terdengar jeritan kultus yang jatuh meringkuk. Gua tiba-tiba diam, lumut menjadi layu, bisikan hilang. Rizal menghitung napas. “10 selamat—Pak Karto telah mati karena ditarik oleh lumut! Bima dan 2 orang anggota tidak selamat. Kultus telah hancur... Kita bergerak ke gunung saat fajar.” Rangga dengan sikap dingin, “akhirnya kutukan mati total. Basis sudah kosong—kita ambil obat mereka.” Gua menjadi sunyi, tapi angin membawa jeritan samar dari kedalaman—kutukan telah pergi, tapi rahasia gua haus akan jawaban.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD