Bab 18 : Jejak yang Terputus

1959 Words
Malam ini adalah pertemuan kedua dengan Wira berlangsung di bawah langit berhiaskan bintang redup yang menambah kesan misteri dan keheningan. Pukul menunjukkan 21:30, waktu yang biasanya dipenuhi dengan aktivitas malam, namun lokasi pilihan kali ini adalah sebuah warung kopi kecil di pinggiran kota, jauh dari gemerlap gedung-gedung pencakar langit dan kamera CCTV yang mengawasi di setiap sudut. Tempat itu tampak seperti saksi bisu dari berbagai peristiwa yang mungkin tidak diketahui banyak orang. Warung tersebut tidak hanya tua, namun memiliki daya tarik tersendiri dengan atap seng yang berkarat, meja kayu yang sudah reyot dan usang, serta keramahan yang tak biasa seperti menyambut tamu dalam keheningan. Malam itu, hanya ada enam pelanggan yang menghiasi tempat tersebut: dua sopir truk yang tampak lelah setelah seharian bekerja keras, satu pasangan muda yang ada dalam perjalanan cinta mereka, dan tiga orang misterius yang duduk di pojok yang seakan sengaja menyembunyikan diri dari pandangan. Rizal, memilih tempat duduk yang berhadapan dengan pintu masuk, matanya menatap kosong pada kopi hitamnya yang kini sudah dingin tak lagi tersisa kehangatan disana. Di seberangannya, Rangga tampak santai menyandarkan punggung ke dinding sambil mengawasi jendela dengan insting seorang pelindung. Sedangkan di meja sebelah, Hasan, yang tampak seperti pembaca koran yang handal, sebenarnya sedang fokus mendengar setiap suara dan gerakan di sekitar dengan telinga yang siap siaga untuk berita yang tak diinginkan. Keterlambatan 15 menit membuat semangat Wira dipertanyakan. Dalam lingkungan yang penuh kecurigaan seperti ini, hal tersebut menjadi indikasi yang kurang menyenangkan. Rizal mengecek ponsel sekali lagi, mengharapkan jawaban atau penjelasan dari Wira, namun hanya ada pesan dari Dito pagi tadi: “Sinyal HP Wira normal, tapi ada pola aneh. Sering masuk ke aplikasi enkripsi.” Rangga mengetuk meja perlahan dengan jari, sebuah sinyal yang menyiratkan keprihatinan. “Dia bisa saja sudah ketahuan,” katanya dengan tenang namun menggugah kegelisahan. Kebuntuan informasi bagaikan jurang yang siap menjebak mereka. “Kalau ketahuan, maka dia tidak akan datang.” Hasan melipat korannya dengan gerakan tenang namun tetap waspada, “Atau dia ketahuan, tapi dikirim untuk menjebak kita.” Rizal menggeleng pelan, mencoba memberikan perspektif dari sudut pandang berbeda, “Tidak. Kalau mau menjebak, mereka sudah lakukan di kantor. Ini terlalu… terbuka.” Jam bergeser ke 21:45 ketika pintu warung akhirnya terbuka, memperlihatkan sosok Wira dengan mantel hujan basah yang menetes. Wajahnya pucat, menambah kesan tegang yang menyelimuti ruangan. Dengan pandangan yang tidak nyaman, ia melirik ke arah mereka. Kakinya terhenti di depan kasir untuk memesan teh hangat untuk mencari sedikit ketenangan sebelum akhirnya ia berjalan pelan menuju meja mereka, mengambil tempat di kursi kosong yang tersedia. “Maaf telat,” katanya dengan suara pelan dan penuh permintaan maaf. “Jalanan macet.” Dalam situasi ini, senyum tidak menjadi bagian dari percakapan Rizal. “Kami paham. Bagaimana situasinya?” Wira meletakkan tas kecilnya di lantai, membuka ritsleting dengan gerakan pelan yang menggambarkan ketegangan emosional saat ingin mengungkap sesuatu yang besar. “Saya sudah putuskan,” katanya dengan ketenangan yang tersamarkan oleh kekhawatiran. “Tapi sebelum bicara, kalian harus janji satu hal: keluarga saya aman. Istri dan dua anak di kampung. Kalau ini sampe bocor, mereka akan dalam bahaya.” Hasan menatapnya lurus, menunjukkan keseriusan dalam janjinya. “Kami tidak bisa janji apa yang tidak bisa kami kendalikan. Tapi kami bisa pastikan identitas Anda dilindungi selama proses ini. Dan kami bisa percepat proses hukumnya.” Dengan anggukan pelan, Wira seakan memberikan izin kepada dirinya sendiri untuk melanjutkan, “Baik. Ini yang kalian mau dengar.” Sebuah flashdisk kecil muncul dari saku dalam mantelnya, menjadi saksi bisu dari informasi yang mungkin mengubah segalanya. “Di sini ada salinan daftar ‘S’ lengkap, dari tiga tahun yang lalu. Nama, lokasi terakhir, dan… beberapa catatan pribadi yang saya simpan. Ada foto-foto dari beberapa kejadian yang tidak pernah masuk laporan resmi.” Rizal menerimanya dengan penuh kehati-hatian, memasukkan ke ponselnya untuk melakukan backup secara cepat. “Dan ‘N-0’?” Wira menelan ludah, menceritakan pengalamannya tanpa pernah bertemu langsung. Hanya sebuah kode di aplikasi enkripsi, namun ia pernah mendengar suara, dalam rapat tertutup. Suara pria dewasa, mungkin berusia 50-an, berbicara dengan logat khas Jakarta yang halus. “Dia yang kasih perintah akhir soal ‘seimbang’. Dan dia bilang sesuatu yang… selalu saya ingat.” “Apa?” tanya Rangga dengan rasa ingin tahu yang sulit terbendung. “‘Kita bukan kultus. Kita adalah penjaga keseimbangan modern. Hutan punya roh, kota punya sistem. Keduanya harus selaras.’” Kalimat itu menggema di udara seperti mantra yang pernah didengar Sari dari van pengintaian melalui mikrofon tersembunyi di meja, bergidik ketika mendengar kembali. “Dan sistem itu seperti apa?” tanya Rizal saat nuansa misteri semakin mengintervensi percakapan mereka. Wira kembali menunduk, mengungkapkan: “Saya tidak tahu secara keseluruhan. Tapi dari yang saya lihat: mereka merekrut relawan dari warga yang miskin, lalu menjanjikan pekerjaan di ‘perbatasan’. Beberapa dipakai buat pekerja sosial yang sesungguhnya. Beberapa… untuk ‘program seimbang’. Yang ‘S’ adalah yang dipilih untuk program itu. Mereka dibawa ke lokasi tertentu, lalu… hilang. Dana dari itu masuk ke rekening yayasan sebagai ‘donasi komunitas’. Dan dewan yang ada di atas menutup mata.” Hasan mencondongkan tubuhnya ke depan, berusaha mengumpulkan informasi lebih dalam. “Lokasi tertentu itu ada di mana?” “Desa di pinggiran kota,” jawab Wira dengan napas tertahan. “Ada beberapa gudang yang saya tahu. Satu di dekat pasar induk, dua di kawasan industri yang telah mati. Tapi saya tidak pernah ikut ke sana. Saya cuma menerima laporan akhir.” Rizal mencatat dengan cepat, mengisi setiap detil yang dapat membentuk gambaran besar. “Siapa lagi di level ini yang Anda tahu?” Wira menggeleng, menjelaskan keterbatasannya dalam mengetahui kebenaran yang tidak banyak orang berani untuk mengungkapkan. “Tidak banyak. Ada dua orang lagi di kota ini. Tapi mereka… lebih loyal. Lebih takut. Saya yang paling lama di sini, dan… yang paling sering melihat keluarga relawan yang datang menangis.” Tatapan Rangga ke arah Wira adalah tatapan yang bisa membuat orang biasa merasa gelisah, mencari alasan kenapa sekarang? Setelah bertahun-tahun, kenapa Wira memutuskan untuk bicara? Wira memberikan senyuman pahit, seolah menggambarkan keputusan pribadi dan motivasi di balik kata-katanya. “Karena Dani. Dia anak saya. Dan minggu lalu, dewan mengirim pesan: ‘Bersihkan jejak relawan S terakhir’. Saya tahu itu artinya: hilangkan bukti. Saya tidak mau nama anak saya masuk daftar itu suatu hari nanti.” Keheningan menyelubungi ruangan saat pintu warung terbuka lagi, menampakkan empat pria dengan memakai jaket kulit hitam, mengisi ruangan dengan energi yang tampak tidak akrab. Gerakan mereka terkoordinasi, tangan mereka yang selalu berada di saku mengisyaratkan potensi ancaman. Rizal segera berdiri dengan gerakan pelan, tangan menyentuh pistol yang tersembunyi di pinggang, siap menghadapi apa pun. Rangga sudah setengah berdiri, siap untuk bertindak, sementara Hasan memegang kursi sebagai cadangan untuk perlindungan. Ketegangan mendadak meningkat dengan tajam saat Wira menatap mereka, wajahnya memucat, dan berbisik, “Mereka…” Salah satu pria berhenti di depan meja, melayangkan senyum tipis yang tidak membawa kenyamanan. “Pak Wira, ada rapat mendadak dari kantor. Anda perlu ikut kami sekarang.” Wira mulai gemetar, “Ini… saya ada pertemuan pribadi. Besok saja.” Pria itu menatap orang-orang yang duduk di meja dengan ekspresi dingin, “Pertemuan pribadi dengan orang asing? Di luar jam kerja? Kantor sudah tahu, Pak. Mobil sudah disiapkan di luar.” Rangga lalu melangkah maju, dan ia sedikit membuat posisi lebih tegas, “Dia bilang besok.” Pria itu menatap Rangga dengan dingin, “Ini urusan internal. Kalau mau ikut campur, kami akan panggil polisi.” Hasan tertawa pelan, memperlihatkan kepercayaan diri yang tidak gampang untuk digoyang, “Polisi? Baiklah. Panggil saja. Kami tunggu.” Ketegangan semakin mengental di udara, membuat pelanggan lain mulai memperhatikan dan sedikit membuat panik. Sopir truk mulai berdiri, sementara pasangan muda dengan penuh kehati-hatian mundur secara perlahan. Rizal memutuskan untuk memecah ketegangan yang menguasai ruangan, “Kami teman lama Pak Wira. Mau ngobrol sebentar lagi. Kalau urusan kantor, besok pagi pasti selesai.” Pria itu tidak bergeming seolah tidak mempercayai simpati yang dipancarkan. “Pak Wira, ayo. Ini perintah langsung.” Wira berdiri pelan, mengambil tasnya, “Maaf,” bisiknya ke Rizal dengan penuh harap akan keselamatannya. “Saya hubungi besok. Saya janji.” Rizal mengangguk meski matanya tidak lepas dari empat pria tersebut, mengawasi setiap detail gerakan saat mereka berlima keluar dari warung, masuk ke kedua mobil hitam tanpa plat yang jelas. Motor Rangga menyala, lalu ia mengikuti pergerakan dari jarak jauh, berusaha untuk mengetahui tujuan dari mobil tersebut. Di van pengintaian, mata Sari terpaku pada layar GPS. “Mereka menuju kawasan industri yang telah mati. Koordinat yang Wira sebut tadi.” Di radio Rizal memberikan perintah dengan sikap tegas: “Dito, pantau CCTV sekitar. Maya, Fauzan—siap untuk backup. Kita ikuti dari jauh. Ini bisa jadi kesempatan atau jebakan.” Di markas, Kolonel duduk di depan layar monitor dan berpikir keras. “Jika Wira benar-benar membawa kita ke gudang, kita bisa mendapat bukti fisik. Jika ini jebakan, kita tahu mereka sudah curiga.” Hasan menggeleng pelan dengan keprihatinan yang mendalam, “Atau kita tahu Wira sudah berkhianat.” Mobil yang ditumpangi Wira menembus kawasan industri yang gelap, di tengah gudang-gudang kosong yang berdiri dengan kokoh seperti raksasa besi berkarat yang tak terganggu oleh waktu. Pagar besi terbuka, empat pria turun mengawal Wira masuk ke dalam gudang utama yang suasananya suram, diiringi cahaya samar dari lampu yang tidak biasa. Rangga parkir motor jauh dari lokasi, lalu ia turun dengan tenang dan bergerak mendekat secara diam-diam untuk mendapatkan perspektif yang lebih jelas. Dari celah jendela yang sempit, ia melihat Wira didorong ke kursi besi, dikelilingi empat pria yang menakutkan. Salah satu dari mereka mengambil ponsel, dan suara keras dari speaker mulai mengisi ruangan tersebut: “Wira, kau sudah bicara.” Wira semakin memucat, berusaha menyangkal dengan suara putus asa, “Bicara apa? Saya tidak—” “Jangan bohong,” suara di speaker kembali menggema menekan mentalnya. “Kami tahu saat ada audit. Kami tahu kau menunjukkan daftar. Sekarang, beri tahu siapa ‘auditor’ itu.” Di luar, Rangga berbisik melalui radio: “Rizal, mereka tahu saat kita mendatangi Wira di kantornya tempo hari. Interogasi sedang berlangsung. Apakah kita akan masuk?” Rizal tampak ragu, untuk mencoba mengambil alih situasi yang begitu kompleks. “Tunggu. Lihat dulu apa yang akan mereka lakukan. Ini akan menjadi bukti.” Di dalam gudang, suara dari speaker berbicara dengan lebih banyak tekanan: "N-0 mau kita bersihkan sekarang. Kau pilih: mau mati pelan-pelan, atau bantu untuk membersihkan jejakmu sendiri.” Wira mulai terisak, air mata mengalir dalam perjuangan mengatasi tekanan yang melumpuhkan, “Saya punya keluarga… tolong…” Tiba-tiba, suara lain dari speaker sepenuhnya memutuskan jalannya peristiwa: "Cukup. Bawa dia ke titik S terakhir. Biar dia lihat sendiri akhirnya." Empat pria itu lalu mengangkat Wira dengan kasar, memaksanya masuk ke dalam van. Mobil bergerak dengan cepat meninggalkan area dengan tujuan yang tidak jelas. Rangga langsung melompat dan naik ke motornya, mengikuti arah mobil tersebut. "Mereka bergerak ke selatan. Menuju desa pinggiran!" Rizal mengarahkan instruksi melalui radio kepada Kolonel, "Pak, Wira ditangkap. Mereka membawa ke lokasi ‘S’. Ini kesempatan kita untuk melakukan razia besar-besaran!" Kolonel memberikan keputusan dengan penuh kehati-hatian: "Tunggu SATGAS. Jangan gegabah. Ini bisa saja jebakan terbesar." Motor Rangga melaju dengan kecepatan tinggi di tengah jalan gelap, bayang van hitam menghilang di setiap tikungan. Hujan kembali turun dengan cepat, suara sirene terdengar samar dari kejauhan, namun bukan pertanda bantuan, melainkan pengawalan yang tak terlihat. Cerita ini berakhir dengan Wira menjadi umpan: ditangkap, diinterogasi, dan kini dibawa ke lokasi 'S'. Tim Bravo menghadapi keputusan besar, menyelamatkan dia sekarang dengan segala risiko yang ada, atau mengikuti sampai akhir untuk mendapatkan bukti yang mutlak? Sementara itu, suara 'N-0' semakin dekat, lebih dingin dan mengancam. Di tengah malam yang sunyi, keputusan tim menjadi segalanya—apakah langkah mereka akan membawa keadilan atau lebih dalam ke jurang yang berbahaya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD