Bab 17 : Umpan di Ruang Rapat

2966 Words
Pagi itu, saat sinar mentari baru saja mulai menyentuh atap-atap gedung yang tinggi di kota, langit tampak pucat dan sayu, seolah belum sepenuhnya terbangun dari tidurnya. Di lantai sebelas sebuah gedung perkantoran megah yang berdinding kaca terletak di tengah hiruk-pikuk kawasan bisnis, tampak logo dari sebuah yayasan sosial terpasang dengan ukuran besar di area lobi. Huruf-huruf berwarna putih bersih menghiasi latar belakang berwarna hijau, membawa sebuah slogan yang terdengar begitu mulia: 'Menjaga Akar Bangsa.' Di bawahnya, tampak orang-orang berpakaian rapi berlalu-lalang, sibuk membawa map, laptop, dan gelas kopi dari kertas. Dari luar gedung, segalanya terlihat seperti sebuah organisasi modern yang sibuk mengelola berbagai program bantuan ke masyarakat. Sementara itu, di dalam lift yang menuju puncak gedung, Amira dan Bima berdiri berdampingan, menunggu sampai lantai yang dituju tiba. Mereka masing-masing mengenakan ID card yang menampilkan logo lembaga donor internasional, identitas resmi mereka hari ini sebagai anggota “tim evaluasi independen program sosial perbatasan.” Seragam mereka tampak sederhana namun rapi, terdiri dari kemeja, celana bahan, dan tas jinjing yang penuh dengan dokumen penting. Di balik kemejanya, mereka membawa mikrofon kecil yang terhubung ke perangkat perekam di saku, siap menangkap segala percakapan yang akan terjadi. Lift naik menimbulkan suara berdengung pelan, menampilkan angka lantai yang berganti satu per satu secara perlahan. Bima merapikan kerah kemejanya, menutupi bekas luka operasi di dadanya yang kadang masih terasa nyeri, terutama saat ia merasa gugup. “Napasku masih normal,” gumamnya pelan, lebih untuk menenangkan dirinya sendiri daripada untuk didengar orang lain. Amira menoleh, setengah tersenyum sambil menanggapi dengan candaan yang lebih terasa seperti ungkapan kekhawatiran yang terselubung. “Kalau napasmu tidak normal, aku yang akan ‘evaluasi’ kau terlebih dulu sebelum kita mulai evaluasi secara formal terhadap yayasan ini.” Bima tertawa pendek, menanggapi candaan tersebut meski ia tahu kekhawatiran di dalamnya adalah nyata. “Deal,” jawabnya singkat. Suara 'ting' dari lift mengisyaratkan mereka telah tiba di lantai sebelas, membuka pintu ke ruang resepsionis yang terang dan modern. Meja putih minimalis, beberapa pot tanaman yang disusun rapi, dan layar besar yang terus memutar video aktivitas yayasan di desa-desa terpencil—memperlihatkan anak-anak tersenyum, relawan yang sedang membangun sumur air, serta pelayanan pengobatan gratis. Tidak tampak gambaran jahat nan mengerikan seperti lembah, rawa, atau benda-benda bersejarah yang biasa mengisyaratkan hal mistis. Narasi yang disajikan di layar tersebut penuh dengan nuansa 'penyelamat'. Resepsionis—seorang wanita muda dengan blazer biru yang serasi dengan penampilannya yang profesional—merespons kedatangan mereka dengan sapaan hangat. “Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?” Amira menunjukkan ID card yang digantungi di lehernya. “Kami berasal dari lembaga donor. Kami memiliki janji temu dengan Pak Wira, koordinator operasional kota, pada pukul sembilan.” Sang resepsionis memeriksa layar komputernya sejenak sebelum akhirnya mengangguk dengan ramah. “Ya, sudah dijadwalkan. Di ruang rapat C. Silakan menunggu sebentar, saya akan segera memanggilnya.” Sambil menunggu, Amira dan Bima duduk di sofa panjang yang empuk, berusaha merasa rileks. Sementara itu, di hadapan mereka, layar terus menampilkan video yang sama. Fokus Bima tertuju pada satu cuplikan yang berulang, memperlihatkan seorang relawan muda dengan senyum lebar, mengangkat kotak bantuan yang berlogo yayasan, tampak begitu bersemangat. “Pause,” Bima berbisik pelan, meskipun ia tahu dirinya tidak mampu menghentikan video itu dari berputar. Amira bisa membaca pikiran Bima dan tahu siapa yang sedang ia pikirkan. Dani. Sosok relawan yang mereka kenal dan yang dikabarkan mengakhiri nyawanya sendiri. Seseorang yang masuk berita, seorang relawan yang diyakini 'bunuh diri'. Pemakaman Dani dihadiri oleh banyak orang asing, dan hal itu menjadi pertanyaan besar dalam lingkaran Bima dan Amira. “Fokus,” Amira mengingatkan Bima dengan suara lembut, menghindari menyalahkan. “Kalau kita emosi yang terlalu, orang seperti Wira bisa membaca kelemahan kita.” Bima mengangguk setuju, menyadari kebenaran dalam ucapan Amira. “Aku tahu. Tapi justru karena itu aku ingin mendengar penjelasan langsung dari mulut mereka sendiri tentang bagaimana mereka menjelaskan tentang Dani kepada ‘donor’ seperti kita.” Tak lama berselang, pintu ruang rapat C terbuka dan seorang pria berkemeja putih dengan dasi yang terlihat longgar muncul. Usianya tampak di akhir 30-an, sedikit berperut buncit, rambut disisir rapi namun matanya menunjukkan kelelahan akibat kurang tidur. Pada ID card yang dikenakan, tertulis: 'Wira – Operational Manager'. “Saya Wira,” sapanya, menjabat tangan keduanya dengan sopan dan profesional. “Terima kasih sudah datang. Mohon maaf kalau penjadwalan agak mepet, kami sedang… banyak program yang berjalan.” “Tidak apa-apa,” jawab Amira dengan tenang. “Kami memahami organisasi yang aktif biasanya dipenuhi dengan banyak agenda.” Bima menambahkan dengan nada ramah yang panasaran, “Justru itu kami datang. Lembaga donor memerlukan kepastian tentang bagaimana dana digunakan. Tidak hanya lewat laporan formal, tetapi juga melalui dialog langsung.” Wira tertawa kecil, terkesan bisa menerima situasi ini dengan tenang. “Bagus. Jujur saja, beberapa staf kami merasa tegang kalau mendengar kata ‘audit’. Tapi saya pikir, kalau kita kerja dengan benar, tidak ada yang perlu ditutupi.” Kalimat terakhir yang diucapkannya terasa terlalu mulus. Bagi orang biasa, kata-kata tersebut mungkin terdengar meyakinkan. Namun, bagi Bima yang telinganya sudah terlatih, ucapan tersebut terdengar seolah telah dipersiapkan dalam latihan. Ketiganya kemudian masuk ke ruang rapat C. Ruangan itu tidak terlalu besar, berisi meja oval dengan enam kursi di sekelilingnya, papan tulis, dan layar proyektor. Di sudut ruangan, terdapat teko air dan beberapa gelas plastik, dan di dinding, tampak poster visi dan misi yayasan yang terpajang dengan rapi. Amira sengaja memilih kursi yang memberinya pandangan langsung ke arah pintu dan sebagian koridor melalui kaca yang buram, memikirkan semua kemungkinan jalan keluar. “Baik,” kata Wira, duduk di hadapan mereka sambil menyalakan laptop. “Saya sudah membaca email dari lembaga kalian. Katanya ingin memahami dampak program di lapangan, terutama setelah... insiden yang tidak menyenangkan beberapa hari ini.” Amira mengangguk dengan serius. “Berita tentang relawan yang meninggal dunia itu?” Wira terdiam sejenak walau sangat singkat, sebelum menghela napas yang terdengar tulus bagi seseorang yang ingin dipercaya. “Ya. Dani. Anak yang baik. Kami semua terpukul atas kepergiannya.” Bima mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, memainkan peran sebagai auditor yang ingin 'memahami konteks.' sambil berbicara, “Dalam laporan yang kami terima dari kantor pusat, disebutkan bahwa yayasan sangat memperhatikan kesejahteraan relawannya,” katanya. “Namun di lapangan, apakah ada tekanan yang dirasakan oleh relawan?” Wira tersenyum pahit, memberi kesan baik dengan jawaban yang telah dipersiapkan. “Kerja sosial selalu ada tekanannya. Bertemu dengan masyarakat yang marah, fasilitas yang kurang memadai, serta harapan yang tinggi. Relawan kami... beberapa dari mereka juga memiliki beban pribadi yang harus ditanggung. Namun kami selalu menyediakan layanan konseling untuk mereka.” Amira menoleh cepat ke arah Bima—menyiratkan kode halus bahwa jawaban ini sudah sesuai dengan dugaan mereka dari awal: bahwa mereka akan berusaha untuk membingkai kematian Dani sebagai kasus individu, bukan masalah sistemik yang lebih besar. “Kami ingin tahu,” katanya dengan suara yang lebih lembut, “bagaimana komunikasi internal yang terjadi setelah kejadian seperti ini? Apakah para relawan lain diberi penjelasan yang memadai? Atau… mereka dibiarkan membuat kesimpulan sendiri?” Wira mengambil napas panjang, menjawab dengan hati-hati. “Kami mengadakan pertemuan internal,” katanya. “Menjelaskan bahwa Dani… sedang menghadapi masalah pribadi. Kami tidak masuk ke detail lebih jauh, karena itu merupakan hak dari pihak keluarga.” “Kalian menyebut ‘masalah pribadi’ itu seperti apa?” tanya Bima, menjaga suaranya tetap tenang dan profesional. Menyingkap sedikit rahasia internal, Wira menjawab, “Kelelahan, mungkin,” jawab Wira tanpa menyebutkan tekanan atau beban kerja. “Atau… idealisme yang mungkin bertabrakan dengan realitas yang ada. Kami tidak ingin menyalahkan siapa pun. Namun di sisi lain, kami juga tidak ingin menciptakan kepanikan.” Amira menatap Wira dengan tatapan tajam, memasukkan unsur empati namun juga ada tantangan dalam pertanyaannya. “Dan Anda secara pribadi, Pak Wira?” tanyanya. “Apakah Anda merasa bertanggung jawab?” Pertanyaan itu terdengar sederhana, namun cara Amira melontarkannya memiliki bobot yang berat seolah mengaitkannya dengan muatan moral yang lebih besar. Wira terdiam, ekspresi matanya yang sebelumnya dikendalikan dengan baik kini menunjukkan kelelahan yang lebih mendalam. “Saya... selalu merasa bertanggung jawab atas staf saya,” katanya dengan nada suara yang lirih. “Namun dalam organisasi besar, banyak keputusan yang berasal dari level yang lebih tinggi. Saya hanya … menjalankan.” Bima menanggapi dengan cermat. “Dari atas?” ulangnya. Menggambar garis kekuasaan dalam jawabannya, Wira mengangkat bahu dengan merendah. “Yayasan ini memiliki dewan pengurus. Sponsor besar. Mitra di pemerintahan. Kadang keputusan tentang lokasi, target program, bahkan metode komunikasi… itu bukan berasal dari meja saya.” Amira menambahkan sedikit ketegangan. “Kami mengerti,” katanya dengan kematangan yang diplomatis. “Namun, Pak Wira, di sisi lain, donor juga memiliki tanggung jawab. Jika kami mencurigai bahwa ada hal-hal di lapangan yang... tidak sesuai dengan nilai-nilai yang kami danai—misalnya, rekrutmen yang berujung pada tindakan kekerasan—kami bisa menarik dana. Dan tentunya, itu akan mempengaruhi laporan resmi yayasan.” Mendengar ancaman secara halus tersebut, Wira menunjukkan adanya ketegangan yang cukup terlihat, meskipun tidak ekstrem tetapi cukup terlihat oleh orang yang berpengalaman. “Kekerasan?” ulangnya, seolah tidak percaya. “Saya rasa itu adalah kata yang... cukup berat.” Dengan ketelitian, Bima membuka map tipis yang dibawanya, mengeluarkan beberapa lembar foto. Ia memilih untuk tidak menunjukkan foto yang paling brutal—tanpa altar atau tulang—namun beberapa foto gudang yang menampilkan kotak bantuan yang bercampur barang lain, dan fotonya sendiri yang berasal dari kejauhan di plaza, saat aparat militer masuk untuk menghentikan acara yang sedang berlangsung. “Kuncinya di sini,” katanya dengan ramah namun menyiratkan adanya bukti. “Di luar negeri, donatur melihat berita ini dan bertanya-tanya: ‘Organisasi yang kami danai terlibat dalam peristiwa apa?’ Jika kami tidak memiliki jawaban yang kuat dan meyakinkan, mereka mungkin akan menarik diri. Kami datang untuk membantu Anda menyediakan jawaban tersebut.” Wira melihat sekejap ke arah foto-foto itu, ada kilatan panik di matanya namun dengan cepat hilang sebelum berubah menjadi ekspresi yang tenang. “Kejadian di plaza… itu hanya kesalahpahaman,” katanya dengan nada tenang. “Acara kami diganggu oleh aparat yang… kemungkinan belum mendapatkan informasi secara lengkap.” “Itu versi media,” kata Amira. “Bagaimana dengan versi Anda sendiri?” “Versi saya,” jawab Wira dengan tenang, “kami sedang mengadakan sosialisasi. Relawan kami… ya, mungkin ada yang terlalu bersemangat. Mereka membutuhkan penyesuaian.” Mendengar hal itu, Bima bergeser sedikit di kursinya, merasa ada sesuatu yang tidak sepenuhnya terpecahkan. “Pak Wira,” katanya, “saya tidak hanya membawa foto ini. Kami juga datang dengan membawa mandat. Lembaga kami bisa menjadi tameng Anda, jika ada oknum di ‘atas’ Anda yang mendorong program melampaui batas yang seharusnya. Namun itu hanya bisa terjadi jika ada seseorang di dalam jaringan besar ini yang bersedia untuk berbicara.” Wira terlihat menyimak, bertanya-tanya akan maksud yang disampaikan Bima. “Apa maksud Anda?” Mata Bima menangkap kesempatan, menjawab dengan ketegasan dan tidak meninggalkan keraguan pada maknanya. “Maksud saya,” kata Bima menenangkan, “kami tahu Anda bukan perancang utama untuk semua ini. Kami tahu Anda berada di tingkat ‘menengah’. Tekanan berasal dari tingkat paling atas, tapi konsekuensinya bisa menimpa Anda dan orang-orang ‘biasa’ seperti Dani. Jika suatu saat sesuatu terekspos ke permukaan, baik lewat investigasi atau... mungkin bocoran media yang tidak diinginkan, dewan yang berada di atas Anda akan dengan mudah mengatakan: ‘Itu adalah tindakan staf lapangan yang tidak terkendali’.” Amira melanjutkan dengan nada yang lebih lembut, hampir seperti konselor yang menawarkan bantuan. “Kami juga sudah melihat pola ini di tempat lain. Biasanya, orang-orang di posisi Anda akhirnya menanggung segalanya sendirian, sementara mereka yang memberikan instruksi bersembunyi di balik tembok besar yang bernama ‘prosedur’.” Lalu keheningan terjadi setelah percakapan tajam tersebut. Di koridor luar, suara printer dan obrolan kantor terdengar samar di antara dinding-dinding. Sementara di dalam ruang rapat, hanya terdengar dengungan halus dari AC yang mendinginkan ruangan. “Kenapa kalian menceritakan ini kepada saya?” akhirnya Wira bertanya, suaranya memecah keheningan yang sebelumnya menegang. Amira menghadapinya dengan ketegasan yang hangat dan penuh keyakinan. “Karena,” jawabnya ringan, “dari semua nama yang kami lihat, Anda adalah orang yang paling mungkin paham akan apa yang sebenarnya terjadi, namun belum terlalu jauh ke dalam untuk tidak bisa kembali.” Mendengar itu, Wira tertawa datar, mengungkapkan perasaannya walau pahit terasa. “Kembali ke mana? Kerja lain? Hidup normal? Setelah bertahun-tahun saya berdiri di antara dewan dan lapangan? Menjadi ‘wajah baik’ untuk mereka?” Bima menatap Wira. “Kembali ke posisi di mana Anda tidak harus melihat nisan orang seperti Dani dan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.” Kalimat yang meninggalkan kesan mendalam itu mengenai sasaran tepat di hati Wira, membuatnya seketika berpaling. “Jika kalian salah menilai saya,” katanya pelan, nyaris seperti peringatan, “kalian berdua bisa berada dalam bahaya. Orang yang mengatur semua ini... mereka tidak melakukan pekerjaan ini secara main-main.” Amira mendengarkan dengan seksama, kemudian berkata pelan, “Kami sudah melihat versi 'tidak main-main' mereka di hutan,” katanya dengan keprihatinan yang terpendam. “Dan kami masih berdiri di sini sampai sekarang.” Wira menatap Amira, mencari kepastian dan keberanian dalam tatapannya. “Kalian... hanya dari lembaga donor, bukan?” Dengan suara penuh keyakinan, Bima dan Amira saling pandang seolah mencapai kesepakatan bahwa mereka berada di titik yang sama. Ini adalah garis tipis antara terbuka terlalu banyak dan terlalu sedikit. “Kami bukan polisi,” jawab Bima dengan keterusterangannya. “Kami bukan wartawan. Jika Anda membagikan sesuatu kepada kami, kami tidak akan langsung membuat konferensi pers. Namun kami bekerja dengan pihak-pihak yang dapat memberikan perlindungan kepada Anda, jika Anda memilih untuk berhenti.” Mendengar penawaran perlindungan itu Wira menghela napas panjang, seperti mengeluarkan beban yang telah lama dipendam. “Ada satu hal...” katanya, terasa enggan tapi lega saat mengisyaratkan rahasia yang mengganggunya. “Yang selalu mengganggu saya.” Ia membuka laptopnya, mencari sebuah folder secara tergesa-gesa, lalu menunjukkan sebuah file kepada mereka—berisi daftar nama relawan, lokasi penugasan, dan status mereka: aktif, cuti, selesai. Pada kolom terakhir dari tabel tersebut, ada beberapa yang ditandai dengan huruf kecil: “S”. “S ini apa?” tanya Amira dengan nada ingin tahu yang lebih dari sekadar formalitas. “Secara resmi: ‘selesai’,” jawab Wira, meski ada lebih dari sekedar itu dalam jawabannya, “Tapi dalam rapat tertutup, ‘S’ itu artinya ‘seimbang’. Mereka mengatakan bahwa orang-orang ini telah ‘memenuhi kewajiban sampai titik tertinggi’. Beberapa di antaranya… hilang. Seperti Dani. Tapi saat saya bertanya lebih lanjut, mereka bilang: ‘Itu bagian dari keseimbangan. Jadi jangan tanya lagi.’” Telinga Bima menangkap detail penting dan dengan cepat mencatatnya. “Berapa banyak ‘S’ di daftar ini?” Wira menggeser halaman dengan tangan bergetar, terasa ada beban ketika menyelisik realitas tersebut. “Dua puluh tujuh dalam tiga tahun terakhir.” Mendengar jumlah itu, Amira merasakan merinding di tengkuknya. “Dan semuanya dianggap ‘bunuh diri’ atau ‘pindah tanpa kabar’ begitu saja?” “Tidak ada yang dilaporkan secara resmi sebagai kasus kriminal,” jawab Wira dengan getir. “Selalu ada alasan seperti konflik keluarga, peluang kerja di luar negeri, atau putus komunikasi. Tapi keluarga dari mereka yang hilang... beberapa kali datang ke kantor ini, menangis di lobi. Saya tidak bisa melakukan apa-apa untuk mereka.” “Siapa yang memberi instruksi untuk menandai mereka dengan ‘S’?” tanya Bima dengan hati-hati. Wira ragu sebelum akhirnya menyerahkan informasi tersebut. “Itu adalah kode dari atas,” katanya. “Dari kontak yang hanya tertulis sebagai... ‘N-0’.” Amira dan Bima saling pandang, kekagetan dan perhatian mereka terfokus pada situasi yang dihadapi. Itu adalah pertama kalinya seseorang di level menengah menyebut “N-0” sebagai penanda kontak langsung. “Pak Wira,” kata Amira dengan lembut namun menancapkan rasa tanggung jawab. “Jika Anda bersedia bekerja sama, kami dapat membawa informasi ini ke jalur yang benar. Tapi kami tidak ingin memaksa Anda. Kami menyadari semua risiko yang ada.” Wira menatap layar laptopnya, lalu menutupnya pelan-pelan. “Aku butuh waktu,” katanya berbisik. “Dua hari. Jika setelah dua hari saya masih hidup dan belum ditarik dari posisi ini, kita bisa berbicara lagi. Di tempat yang bukan kantor.” “Dua hari,” ulang Bima, meyakinkan dan mengukir komitmennya. “Kami akan menunggu. Namun, jangan beritahu siapa pun tentang pertemuan kita ini.” Wira menatap dengan senyuman yang hambar, mengisyaratkan bahwa ia menaruh kepercayaan meski sedikit. “Saya tidak sebodoh itu untuk menjatuhkan diri lebih jauh.” Lalu mereka berdiri, bersalaman, dan meninggalkan ruang rapat C. Amira sempat melirik ke kaca buram di koridor. Jauh di belakang, di ujung koridor, ada sosok yang berdiri sebentar sebelum menghilang dari pandangan—seperti seseorang yang baru saja menyaksikan pertemuan dari kejauhan. Di dalam lift yang membawa mereka turun, Bima bersandar ke dinding, menghembuskan napas yang berat. “Apakah kau rasa dia akan membocorkan semuanya?” tanyanya dengan nada penuh pertimbangan. Amira mengangguk pelan, tanda kepercayaan, dengan kata sederhana namun memiliki banyak makna yang tersirat. “Dia sudah ragu. Pertanyaannya, apakah dia akan ragu ke arah kita, atau ke arah sebaliknya yang justru akan membocorkan keberadaan kita?” Ponsel Bima bergetar, menambah ketegangan situasi. Pesan dari Dito berbunyi: “Audio bersih. Nama ‘N-0’ terekam secara jelas. Tapi hati-hati: sinyal di lantai 11 tadi sempat turun selama 30 detik. Seolah-olah ada jammer. Bisa jadi kita bukan satu-satunya yang sedang menguping.” Cerita ini kini meninggalkan satu kepingan misteri baru yang terungkap—kode 'S', daftar 27 nama, dan satu kontak bernama 'N-0'—tetapi juga terbungkus dengan ketegangan yang baru: jika Wira memilih jalan lain untuk membuka dirinya kepada mereka, ia bisa menjadi saksi kunci. Namun, jika ia memutuskan untuk berbalik ke arah atasannya, dua hari mendatang mungkin saja menjadi perangkap yang menyamar sebagai negosiator. Dan di antah berantah, tampaknya ada mata lain yang ikut menonton, mengintai setiap gerakan mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD