Fucker - 18

2156 Words
“Matanya jadi berwarna abu-abu terang!?” “Apa-apaan itu!?” “Apakah dia sedang mengaktifkan kekuatannya!?” “Sepertinya hal yang berbahaya akan terjadi!” “Hey! Itu tidak mungkin! Dia baru saja bilang dia tidak akan menyakiti lawannya!” “Lalu, akan ada kejadian apa sekarang dari mata abu-abu terangnya itu!?” Menyaksikan Abbas yang tiba-tiba menampilkan bola-bola mata abu-abunya yang jadi bersinar sangat terang membuat para penonton yang duduk di bangkunya masing-masing jadi berasumsi pada setiap kemungkinan, mereka semua saling memekik dalam kebingungan, ada yang merasa gelisah dan takut, ada pula yang merasa kagum, dan terpukau melihat sinar dari mata lelaki tinggi itu. Tapi sebagiannya lagi merasa tidak begitu cemas karena Abbas mengungkapkan bahwa dia bisa dengan mudah mengalahkan Paul dan memenangkan pertandingannya tanpa menyakiti Paul sedikit pun, dan mereka percaya kalau orang itu bakal menepati ucapannya dan tidak akan melakukan aksi-aksi yang dapat membahayakan nyawa orang lain, sekali pun itu nyawa lawannya. Abbas memang memiliki sifat yang sangat baik hati dan lembut dari kebanyakan laki-laki maskulin pada umumnya, meski badannya gagah, kekar dan berotot, kulitnya gelap, dan wajahnya lumayan tampan, tapi dia tidak terlalu suka pada kekerasan, apalagi sampai menyakiti orang lain. Dia akan melakukan kekerasan jika itu memang diperlukan, seperti misalnya melindungi seseorang yang akan disakiti oleh banyak orang, maka dia pasti akan maju untuk melawan ketidakadilan di depannya. Namun, jika dia diperintahkan untuk menyakiti orang lain tanpa dasar apa pun, apalagi hanya sekedar memenangkan sebuah pertandingan, Abbas enggan melakukannya. Bukannya terlalu naif, tapi Abbas selalu merasa bersalah jika menyakiti seseorang yang tidak bersalah, dia tahu lawannya adalah Paul, yang merupakan orang yang sangat kejam dan brutal saat bertarung melawan orang lain. Terutama pada dasarnya orang itu adalah mentornya sendiri dan juga orang yang pernah menyelamatkannya dari rasa kesepian dan terasingkan, saat ia masih tinggal dan berada di Kota Cocoa. Jika Paul tidak datang ke kotanya, mungkin sekarang Abbas masih berada di rumah gubuknya di Kota Cocoa, melakukan aktivitas seperti biasa dengan sendirian, dan mungkin di pergelangan tangannya, sampai sekarang pun masih terdapat gelang waktu yang bisa meledak kapan saja. Tapi kenyatannya itu semua telah tiada dan hanya menjadi masa lalu berkat tindakan Paul yang menyelamatkannya dan mengajaknya pergi dari Kota Cocoa ke Kota Swart. Abbas tidak akan pernah melupakan kejadian itu karena itu adalah hal yang sangat berharga, meski sifatnya sangat kasar dan mengerikan, sebenarnya ia tahu Paul adalah orang yang baik hati dan tidak akan mengabaikan orang yang kesusahan. Alasan mengapa dia begitu kejam di pertarungan ini karena memang begitulah seharusnya dia bersikap dalam pertandingan, agar pahlawan-pahlawannya dapat merasakan sensasi menegangkan seperti berada di sebuah pertarungan yang nyata, yang juga ini adalah latihan agar para pahlawan tidak kaget saat bertarung melawan penjahat sesungguhnya yang lebih mengerikan dari Sang Mentor. “Mengapa matamu bersinar begitu? Kau mau melakukan apa sekarang, hah?” tanya Paul tidak paham pada Abbas yang matanya tiba-tiba menyala sangat terang begitu, tampak seperti Colin yang mengaktifkan kekuatannya yang membuat seluruh tubuhnya bersinar, sedangkan si lelaki tinggi hanya matanya saja yang tampak bercahaya. “Kau mau mengamuk?” “Tidak,” Abbas tersenyum tipis sembari menggelengkan kepalanya, menegaskan bahwa dia tidak akan melakukan hal yang berbahaya. “Aku tidak akan menyakiti siapa pun di sini, aku hanya bersiap-siap untuk mengalahkanmu tanpa membuatmu terluka.” “Tanpa membuatku terluka? Lagi-lagi kau bicara omong kosong,” Paul berdecak lidah, sangat kesal pada Abbas yang masih saja keras kepala pada pemikiran konyolnya. “Kau ini tidak bisa berpikir realistis, ya? Kau hanya akan membuang-buang energimu di sini jika mengalahkanku dengan cara t***l seperti itu! Dalam sejarah, segala peperangan selalu dimenangkan oleh mereka yang kuat dan dapat membunuh ratusan nyawa dari pihak musuh! Selalu dan selalu seperti itu! Karena begitulah aturannya! Dan itu juga berlaku dalam sebuah pertandingan seperti ini! Jika kau ingin memenangkan pertandingan, maka kau harus menyakiti lawanmu sampai dia tidak bisa bertarung lagi!” “Seperti yang sudah kukatakan,” Abbas mengulangi perkataannya dengan tatapannya yang datar. “Aku akan mengalahkanmu dan memenangkan pertandingan ini tanpa membuatmu terluka. Aku tidak keberatan jika kau berpikir itu adalah hal yang mustahil dan omong kosong, tapi aku akan tetap melakukannya. Karena aku bisa membuktikannya sendiri.” “Hah.. Hah… Hah…,” Cherry terengah-engah, dia masih terduduk di permukaan tanah, memegang dadanya yang kembang kempis dan terasa sesak. Entahlah, setelah mendengar perkataan Abbas, Cherry jadi merasa jengkel dan kecewa, dia tidak tahu harus bagaimana lagi untuk meyakinkan pasangannya bahwa pemikirannya tidak akan bisa terwujud karena itu terlalu naif. Cherry percaya dalam sebuah pertarungan, harus ada tindakan untuk menyakiti lawan dan membuatnya menderita, agar bisa mengalahkannya dan memenangkan pertandingan. Cherry tidak percaya kemenangan dalam sebuah pertarungan bisa terwujud tanpa adanya aksi perlawanan, itu sangat mustahil. Selain itu, tidak ada keseruan jika sebuah pertarungan tidak ada aksi pukul-pukulan atau hajar-hajaran dari para pelakunya, karena itu sama saja seperti bukan sebuah pertarungan dan terlalu tidak masuk akal. Itulah alasan mengapa Cherry tidak setuju pada pemikiran Abbas, yang merupakan pasangannya di dalam pertandingan ini melawan Paul, tapi terserahlah, ia sudah malas untuk melanjutkan pertarungan ini, apalagi setelah pasangannya masih keras kepala begitu. Mungkin, Cherry harus merelakan kemenangan ini untuk menerima kegagalan mutlaknya dan harus mengulangi pertandingan ini di kesempatan berikutnya. Memang sangat mengecewakan, tapi mau bagaimana lagi, Cherry tidak mampu untuk meyakinkan Abbas untuk bekerja sama dengannya, walau ia yakin jika semisalnya dirinya dan pasangannya dapat bekerja sama dengan baik, kemenangan mutlak pasti bakal terjadi dan semua orang pasti akan terkagum-kagum dengan aksi mereka berdua. Tapi sayangnya, itu hanyalah impian belaka yang mungkin tidak akan pernah terjadi, mengingat Abbas begitu kukuh pada pendiriannya yang bertolak belakang dengan Cherry. “Menurut kalian, apa yang akan Abbas lakukan?” tanya Victor pada teman-temannya yang ada di samping kanan dan kirinya, yang sama-sama menyaksikan pertarungan antara Abbas dan Cherry melawan Paul. “Entahlah, saya juga bingung,” jawab Naomi, yang wajahnya berkeringat karena resah. “Saya tidak mengerti mengapa Abbas tiba-tiba berpikiran begitu, soalnya itu sama saja dia menolak untuk bekerja sama dengan pasangannya sendiri, dan bukankah itu terlalu…” Sambil mengatakan itu, sebenarnya Naomi sedikit menyindir Nico yang ada di dekatnya, mengingat laki-laki berkaca mata itu pun keras kepala tidak mau bekerja sama dengan dirinya kelak di dalam pertandingan. “Menurutku itu bukan hal yang aneh dan malah terkesan bagus,” Nico langsung angkat bicara, karena intuisinya berkata kalau Naomi barusan sedang menyinggungnya, dan ia akan membalasnya dengan perkataan yang lebih pedas dan tajam dari perempuan berkerudung kuning itu. “Lagipula, untuk apa bekerja sama dengan pasangan yang ideologinya bertolak belakang dengan dirimu? Tidak akan selaras dan pastinya hanya akan jadi bumerang buat kita. Maka cara terbaik untuk memenangkan sebuah pertarungan dengan pasangan yang tidak sepemikiran denganmu adalah membiarkannya bertindak sesukanya, anggap saja kau bertarung dengan orang asing melawan musuh yang sama.” “Tapi kita tidak seharusnya seperti itu karena kita adalah seorang pahlawan,” Tidak mau kalah, Naomi menimpali omongan Nico dengan nada yang semakin nyaring. “Seorang pahlawan diwajibkan untuk bisa bekomunikasi dan bekerja sama dengan rekan-rekan sesama pahlawannya agar bisa mencapai tujuan yang sama. Coba bayangkan jika kita membiarkan rekan-rekan kita bertindak sesukanya saat melawan monster raksasa? Bukankah itu terlalu—“ “Kau sebaiknya mengerti situasinya, bukan kau saja di sini yang seharusnya—“ “Tidak, kita juga harus bekerja sama untuk mencapai tujuan yang pasti! Kalau kita—“ “Seperti yang sudah kubilang, kau hanya tidak mengerti pada situasinya! Cobalah memahami apa yang—“ “Justru Anda yang tidak mengerti pada situasi, Anda terlalu egois pada pemikiran Anda dan tidak mau mendengar—“ “Aku tidak egois! Aku hanya mencoba untuk memahami situas---“ “CUKUP!” Tiba-tiba Koko, si lelaki cantik berambut ungu lebat, menjerit dari bangkunya, meminta Nico dan Naomi untuk berhenti bertengkar, membuat dua orang itu secara mendadak langsung terbungkam dan terdiam hening dengan napas yang tersengal-sengal menahan emosinya masing-masing. “Kalian tidak perlu bertikai, itu tidak baik,” lirih Koko dengan menundukkan kepalanya, membuat helaian-helaian ungunya berjatuhan ke pangkuannya. “Semua orang yang ada di dekat kita, sedang memperhatikan kalian, mereka jadi terganggu. Kumohon… pahamilah situasinya, Nico, Naomi.” Apa yang diungkapkan oleh Koko adalah kebenaran, karena saat ini semua penonton yang duduk di dekat mereka jadi memusatkan perhatiannya pada Nico dan Naomi yang baru saja bertengkar panas di bangkunya, membuat beberapa dari penonton jadi saling berbisik dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Padahal di lapangan sedang seru-serunya, tapi semuanya terganggu oleh pertengkaran Nico dan Naomi, membuat keseruannya jadi terasa hambar. Victor juga terkaget pada pertengkaran Nico dan Naomi yang barusan meledak, rasanya dia tidak percaya melihat dua temannya yang akan berpasangan di dalam sebuah pertandingan, malah bertengkar begitu. Victor jadi cemas apa yang akan terjadi dalam pertandingan mereka berdua, kalau kondisinya jadi panas seperti ini. Sungguh, Victor benar-benar heran melihat Naomi dan Nico yang saling membuang muka, sebenarnya mereka ini kenapa? Rasanya ada yang salah dari mereka? Kalau tahu akan terjadi sebuah pertengkaran, seharusnya Victor tidak perlu mengeluarkan pertanyaan pada teman-temannya. Dia jadi agak menyesal. “Kalian baik-baik saja? Maaf jika pertanyaanku menyinggung kalian berdua,” kata Victor, berusaha meminta maaf karena dia mencoba untuk memposisikan dirinya sebagai pihak yang bersalah, Nico dan Naomi tidak akan bertikai jika ia tidak melontarkan sebuah pertanyaan pada teman-temannya. “Aku benar-benar menyesal. Tolong maafkan aku, ya.” “Tidak, kamu tidak salah sedikitpun, Victor,” Kokolah yang bersuara, memenggal Naomi dan Nico yang hendak menimpali omongan si lelaki berambut emas tersebut. “Pertanyaanmu tidak menyinggung siapa pun, mereka sendiri lah yang memulainya, saling menyinggung satu sama lain hingga akhirnya terjadilah sebuah pertengkaran. Jadi, kamu tidak perlu meminta maaf pada mereka, karena kamu tidak salah sedikitpun, Victor.” Koko memandangi wajah Victor lekat-lekat di sampingnya, membuat si lelaki bangsawan berambut emas itu tersenyum dan mengangguk. “Baik, terima kasih atas penjelasannya, Koko.” Setelah itu, perhatian Victor pun dialihkan ke wajah Nico dan Naomi yang ada di sebelahnya, tampak dingin dan tak berekspresi. “Kalian yang akur, ya.” Setelah itu, Victor dan Koko kembali memandangi lapangan, mengabaikan Nico dan Naomi yang masih sedang melakukan perang dingin, mereka berdua tampak tidak peduli satu sama lain, tidak ada pula yang hendak meminta maaf duluan, masing-masing dari mereka punya ego yang sangat tinggi dan menganggap mereka tidak salah sama sekali. Entahlah apa yang akan terjadi nantinya, untuk sejenak abaikan saja soal mereka berdua. Kembali ke tengah lapangan, ke pertandingan Cherry dan Abbas melawan Paul. Kini, sebuah angin kencang berputar-putar di sekeliling Abbas, dan mata orang itu jadi menyala semakin terang dari sebelumnya. Dia membuat semua orang terkejut, karena mereka tidak tahu kalau Abbas punya kemampuan untuk mengendalikan angin. Tapi kenapa baru sekarang Abbas menunjukkannya? Padahal jika dia melakukannya dari awal pertandingan, mungkin mereka dapat memenangkan pertandingan dengan sangat cepat. Cherry juga terbelalak, tidak percaya ia melihat hembusan angin kencang berputar-putar di sekujur tubuh Abbas, seperti seorang pahlawan sungguhan yang dapat mengendalikan arah angin. “S-Sejak kapan!?” Tidak bisa menahan keheranannya, akhirnya Cherry memberanikan diri untuk bertanya pada Abbas, mengenai kekuatan saktinya tersebut. “Sejak kapan Abbas bisa mengendalikan angin!? Cherry tidak pernah diberitahu oleh siapa pun kalau Abbas bisa mengendalikan angin! Apakah kekuatan itu berasal dari roh kunang-kunang di dalam tubuh Abbas!? Ataukah itu salah satu kemampuan dari mesin robot yang katanya disisipkan di dalam tubuh Abbas!?” “Tidak, itu semua salah,” kata Abbas dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku tidak bisa mengendalikan apa pun, yang sedang kalian lihat di sini, tidak seperti yang kalian kira,” Perkataan Abbas membuat Cherry, Paul, dan seluruh penonton semakin kebingungan. “Ini bukan berasal dari roh kunang-kunang, atau pun kekuatan robot. Aku dari kecil memang selalu seperti ini, jika aku sudah memfokuskan jiwaku untuk melawan kemustahilan, maka aku akan meminta bantuan pada alam. Dan angin yang berputar-putar di sekeliling tubuhku, itu adalah tanda bahwa alam bersedia untuk membantuku.” “HAH!?” Membelalakan matanya dan membuka mulutnya lebar-lebar, Paul terkejut mendengar omongan yang dilontarkan oleh Abbas. “Alam!? Kau meminta bantuan pada alam!? Mengapa kau tidak pernah menceritakannya padaku!?” “Maaf, bukannya aku tidak mau menceritakannya,” ucap Abbas dengan mengangkat lengan kanannya secara perlahan, dan anehnya, tubuh Paul jadi ikut terangkat, melayang-layang di atas tanah. “Hanya saja, aku tidak pernah meminta bantuan lagi pada alam semenjak aku berusia 12 tahun, dan aku sempat melupakan itu. Dan sekarang, aku baru mengingatnya lagi dan aku berharap aku bisa menggunakan bantuan alam untuk memenangkan pertandingan ini tanpa menyakitimu.” Tubuh Paul jadi melayang-layang semakin tinggi di udara, seluruh penonton takjub menyaksikannya, begitu pula dengan Cherry, gadis itu tidak pernah menduga kalau pasangannya punya kemampuan unik seperti itu. Benar-benar mengejutkan. Setelah Paul berada di puncak udara yang lumayan tinggi, Abbas meminta pada angin untuk membuat lawannya menyerah, dan tiba-tiba saja Sang Mentor terbahak-bahak karena dari ketinggian, seluruh tubuh mentornya terasa digelitiki oleh hembusan-hembusan angin bahkan sampai tawanya jadi semakin nyaring. Gelitikannya terlalu gila karena anginnya berhasil menemukan titik-titik sensitif di badan Paul. “HAHAHAHAHA! W0Y HENTIKAN! HAHAHAHAH! ABBAS! b******k! HENTIKAN INI! HAHAHAHAHA!” Air mata Paul jadi menetes-netes saking tidak kuatnya merasa geli saat
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD