Fucker - 19

1201 Words
Pertandingan ketiga secara resmi telah usai, yang diakhiri oleh kekalahan Paul Cozelario dan kemenangan sempurna dari Abbas Jorell dan Cherry Iristalia. Seluruh penonton bertepuk tangan saat pertarungan antara lelaki tinggi dan gadis mungil melawan lelaki brutal itu telah benar-benar berakhir, semua orang memberikan selamat kepada dua pahlawan yang sudah berhasil mengalahkan mentornya. Kebanggaan yang besar tentu saja muncul di benak Cherry dan Abbas saat seluruh penonton bersorak-sorai menyemangati dan memeriahkan kemenangan mereka, sungguh itu adalah hal yang paling indah saat semua orang di sekelilingmu memberikan dukungan penuh yang begitu menyejukkan. Beberapa menit kemudian, barulah situasi arena mulai beralih ke pertandingan berikutnya, yakni pertarungan yang akan diisi oleh Victor Osvaldo dan Yankoko Ramiro melawan Paul Cozelario, kemunculan dua pahlawan baru itu yang berjalan pelan ke tengah lapangan kembali meramaikan arena, tiap-tiap dari penonton berteriak-teriak, sangat bersemangat dalam menyambut kedatangan Victor Sang Bangsawan Berambut Emas dan Koko Sang Lelaki Cantik Berambut Ungu Panjang, mereka semua benar-benar gembira karena pertandingan bisa dilanjutkan kembali, sebab semuanya tidak sabar ingin melihat pertarungan-pertarungan yang seru dan menegangkan lainnya. Sejauh ini mereka memang terhibur melihat pertandingan Colin-Lizzie yang sadis dan spektakuler, Isabella-Jeddy yang konyol dan menegangkan, serta Abbas-Cherry yang tenang dan mematikan, tapi mereka masih belum puas dan ingin menyaksikan lagi pertandingan-pertandingan selanjutnya dari pahlawan-pahlawan Madelta yang belum mendapatkan giliran, mereka ingin tahu seberapa besar kemampuan dari pahlawan-pahlawan yang belum berunjuk gigi tersebut. Apakah mereka punya kekuatan yang melebihi pahlawan-pahlawan dari pertandingan sebelumnya? Atau mungkinkah mereka tidak terlalu kuat sehingga tidak layak bersanding dengan pahlawan-pahlawan yang sudah tampil lebih dulu? Apa pun itu, seluruh penonton ingin melihatnya sendiri dengan wajah mereka masing-masing, tidak menyenangkan jika kau mengetahui informasi dari orang lain bahwa pahlawan Madelta itu bla-bla-bla tanpa memeriksanya dengan teliti, dan di sinilah saat yang tepat untuk pahlawan-pahlawan dari negara lain dalam mengamati dan menilai seberapa kuat kemampuan kelompok pahlawan yang berasal dari Madelta itu. Segalanya akan dipertaruhkan di sini, harga diri dan juga nyawa. “Banyak sekali yang menonton kita, ya! Haha!” ucap Victor setelah dirinya berada di tengah-tengah arena bersama Koko, lelaki bangsawan berambut emas itu tampak menampilkan ekspresi muka yang sumringah, sembari melambai-lambaikan dua tangannya setinggi mungkin dalam menyapa seluruh penonton yang menyoraki mereka di setiap penjuru. “Aku jadi sedikit gugup di sini, bagaimana denganmu, Koko?” tanya Victor dengan agak menggeserkan bola matanya pada sosok laki-laki cantik berambut ungu panjang yang berdiri tidak jauh di sebelahnya. Mendengar itu, Koko yang tadinya sedang memandangi para penonton, jadi menolehkan kepalanya pada Victor dan tersenyum kikuk, keringat membasahi pelipisnya. “Aku juga… tidak terlalu percaya diri berada di hadapan banyak orang, tapi… aku ingin berusaha sekuat mungkin agar aku tidak mempermalukan siapa pun di sini, terutama diriku sendiri.” Setuju pada perkataan Koko, Victor menganggukkan kepalanya, memberikan respon baik dan positif pada orang yang menjadi pasangannya di pertandingan keempat ini. “Ya, kau benar. Meskipun kita tidak terlalu percaya diri, kita harus tampil sesempurna mungkin agar tidak dianggap buruk oleh para penonton, hehe!” Nada Victor saat merespon ucapan Koko sangat ramah dan ceria, seolah-olah seperti seorang kakak laki-laki yang mengayomi dan merangkul adik perempuannya dengan penuh kasih sayang. Tidak lama kemudian, ketika mereka berdua sedang asyik menyapa para penonton, terdengarlah suara lengkingan terompet di suatu tempat, yang menandakan bahwa pertarungan telah resmi dimulai. Victor menurunkan dua tangannya dan memasang wajah serius, sementara Koko hanya menatap lurus ke depan dengan hati yang tegang, menunggu kemunculan Paul yang masih belum terlihat. Biasanya Paul selalu datang telat, memakan waktu beberapa menit setelah terompet berbunyi, dan orang itu pasti muncul tepat di hadapan para peserta, sebab itulah mereka berdua menarik dan menghembuskan napasnya berulang kali, mencoba menyiapkan diri pada segala sesuatu yang mungkin saja terjadi dalam pertarungan ini. Sorakan-sorakan dan teriakan-teriakan dari para penonton masih sangat meriah, apalagi setelah terompet telah dibunyikan, membuat semua orang jadi kegirangan karena akhirnya pertandingan keempat sudah benar-benar dimulai. Keriuhan dan kegaduhan para penonton, menimbulkan kegelisahan yang cukup berat di hati Victor dan Koko, mereka berdua jadi grogi dan cemas pada apa yang akan terjadi sat Paul benar-benar muncul di hadapan mereka. Tentu saja wajar mereka merasakan hal seperti itu, sebab di pertandingan-pertandingan sebelumnya saja, Paul tidak kenal ampun dalam menghajar dan menghantam lawan-lawannya, yang merupakan pahlawan-pahlawannya sendiri. Tidak peduli bagaimana situasinya, Paul akan terus menyerang dan menyerang demi menghalangi murid-muridnya yang hendak memenangkan pertandingan dan lolos ke babak selanjutnya, dia sama sekali tidak memberikan keringanan sedikit pun pada pahlawan-pahlawannya. Itulah mengapa Koko dan Victor harus memutar otak dan mencari cara secepat mungkin agar bisa mengalahkan Sang Mentor dengan mudah, mereka percaya pasti ada beberapa cara ampuh yang dapat menaklukkan Paul, tapi kuncinya mereka berdua harus bisa bekerja sama sebaik mungkin, karena kalau tidak, tentu saja kegagalan akan menyertai mereka dan jika kesialan juga berpihak pada mereka, nyawa pun bisa melayang di dalam pertarungan, mengingat sifat Paul sangat buas dan mengerikan saat di lapangan. Baru saja memikirkan hal itu, keriuhan para penonton jadi semakin besar saat wujud Paul telah terlihat di ujung berlawanan dari Victor dan Koko, yang kini laki-laki berambut hitam, berwajah sangar, dan mengenakan jubah hitam khas pelayan pendamping itu, tengah berjalan santai menuju ke tengah lapangan. Penampilan Paul sudah kembali segar seperti biasa, luka-lukanya sudah hilang secara sempurna, rasanya seperti melihat orang yang sama sekali tidak terlibat dalam pertarungan apa pun, benar-benar sehat dan normal. Sesampainya Paul di depan Victor dan Koko, dia langsung menyeringai jahat dengan menampilkan taring-taring tajamnya yang menyerupai seperti kelelawar. Seperti biasa, sepertinya Sang Mentor akan melontarkan provokasi atau cacian-cacian kejam bernada merendahkan pada dua orang yang akan menjadi lawan bertarungnya di pertandingan. “Jadi, sekarang giliran kalian?” tanya Paul dengan menaikan sebelah alis sembari menahan tawanya, merasa lucu karena orang-orang yang saat ini di hadapannya adalah mereka yang dianggap sangat lemah oleh dirinya. “Aku tidak terlalu yakin tentang ini, mengingat kalian berdua adalah bangsawan-bangsawan tingkat tinggi di kota masing-masing, apalagi kau,” Paul menunjuk wajah Victor di depannya dengan jari telunjuknya secara blak-blakan. “Yang merupakan anak kandung dari mantan Presiden Madelta, apakah tidak apa-apa jika aku menghajar wajah bangsawan-bangsawan seperti kalian? Aku tidak akan tertimpa masalah berat, kan?" Entah kenapa, Victor jadi menghela napas saat Paul bilang demikian, khususnya saat Sang Mentor membawa-bawa peran ayahnya dalam sebuah pertandingan, itu membuat si lelaki berambut emas jadi tidak nyaman, ia tidak suka Sang Mentor kembali mengungkit-ungkit soal ayahnya. Sementara Koko hanya terdiam dengan menundukkan kepalanya, agak takut untuk melihat wajah Paul secara langsung. Saat Victor hendak menjawab omongan Paul, Roswel langsung melemparkan tiga mikrofon baru pada para peserta yang akan bertarung di tengah lapangan. Menangkapnya dengan baik, Paul, Victor, dan Koko mulai memasang dan menempelkan benda itu pada pipi mereka masing-masing sebelum akhirnya, Si Lelaki Berambut Emas mulai melontarkan sebuah respon dan suaranya juga didengar oleh seluruh penonton. “Paul, aku senang dan bangga kau masih kuat dan mampu melayani kami di sini, aku sangat gembira kau bisa berdiri di sini bersama kami,” kata Victor dengan menunjukkan senyuman cerahnya pada Sang Mentor. “Tapi kau tidak perlu khawatir, kau tidak akan terkena masalah kalau menghajar dan merusakkan wajah kami, yang dulunya, merupakan bangsawan-bangsawan dari kota-kota tertentu di Madelta, malah sebaliknya, kau akan terkena masalah jika terlalu ‘lembut’ saat berhadapan dan bertarung melawan kami, Paul.” Mendengar itu, seringaian di wajah Paul jadi
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD