Berdiri di hadapan keempat wanita, pria bernama lengkap Abrisam Ramadhan itu mengamati mereka satu per satu. Tiga wanita bersikap ramah, tersenyum manis serta memberikan anggukan sopan. Namun, Sabila tidak berani untuk mengangkat wajahnya. Jelas saja, pria tampan itu merasa penasaran dibuatnya.
Abrisam sengaja berpindah, berdiri tepat di hadapan Sabila. “Siapa nama kamu?” tanyanya.
Sabila tidak berniat untuk menjawab, pura-pura tidak merasa pertanyaan itu untuknya. Namun, wanita di sampingnya menyikut lengannya cukup kasar, memberikan isyarat agar menjawab pertanyaan.
Baru setelah itu, Sabila mau menjawab walau kepalanya tetap tertunduk, “Sabila.”
“Saya pilih dia.” Abrisam mengangguk satu kali ke arah Mami.
“Apa?!” Sabila mengangkat wajahnya dengan cepat, tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Di saat itu pula, pandangan Abrisam dan Sabila bertemu. Benar dugaannya, wanita itu adalah muridnya sendiri. Mengingat biaya kuliah yang tidak murah, Abrisam tidak terlalu kaget mengetahui Sabila bekerja sebagai PSK.
Pertanyaannya, mengapa penampilan Sabila sangat berbeda? Wanita itu terlihat sangat berantakan jika di kampus, tetapi berubah menjadi bidadari saat ini. Tidak, bukan bidadari, tetangganya bidadari mungkin lebih masuk akal.
“Pak, a—aku .... ” Sabila gelagapan.
“Pak, masih banyak yang lebih cantik.” Mami berusaha untuk mengalihkan pilihan, tahu bahwa Sabila memang tidak ingin terpilih.
Lagi pula, apa pria tampan itu buta? Bagaimana bisa dia memilih Sabila untuk menemaninya malam ini? Mami dan kedua wanita lainnya tak habis pikir, tak menyangka bahwa tamunya memiliki selera yang sangat biasa.
“Saya mau dia.” Abrisam menunjuk Sabila menggunakan ibu jarinya, lalu berbalik untuk meninggalkan tempat itu.
“Nggak! Gak bisa! Aku gak bisa!” Sabila menolak dengan tegas, terus menggelengkan kepalanya.
“Kenapa?” Abrisam terkesan menantang, terlebih kedua tangannya langsung bersilang di dadanya.
Mami terlihat berjalan sedikit menjauh, menghubungi seseorang. Sabila merasa lega, berharap Mami menghubungi Nadya untuk kembali ke sana dan menyelamatkannya dari Abrisam yang entah apa alasan memilihnya.
“Aku .... ” Sabila menggaruk kepalanya dengan asal, bingung harus menjawab apa.
“Karena kamu kenal saya?” sindir Abrisam tepat sasaran.
“Bu—bukan gitu.” Sabila langsung menggeleng dengan wajah horornya.
“Ayok.” Abrisam menarik tangan Sabila tanpa ingin mendengar alasan.
“Eh! Pak, bentar, bentar, bentar!” Sabila menahan tubuhnya sekuat tenaga.
“Pak, dia memang anak baru di agency saya. Mohon maaf jika sikapnya kurang berkenan.” Mami buru-buru menghampiri.
Namun, Abrisam tetap menarik tangan Sabila untuk ikut dengannya. Mami terlihat semakin bingung, tak tahu harus berbuat apa. Di satu sisi, ia tahu bahwa Sabila memang tidak ingin terpilih, akan tetapi tamu terhormatnya malah memilih gadis yang sebenarnya tidak menarik sama sekali.
Apa pun itu, Mami juga tidak bisa melarang Abrisam untuk memilih Sabila. Walau bagaimanapun, pria itu sudah 'membelinya' dan Sabila juga seharusnya sudah tahu resikonya. Di sini, profesional agency-nya sedang dipertaruhkan.
“Pak, aku gak bisa.” Sabila merengek, memohon agar Abrisam melepaskannya. Melirik ke arah Mami, ia meminta bantuan saat berkata, “Bu, tolong, Bu.”
“Kamu ikut aja.” Mami tak punya pilihan.
Lontaran Mami membuat Abrisam merasa menang. Sementara Sabila, membulatkan matanya dengan sempurna. Ketegangan dan kegugupan tak terelakan dari wajahnya, sayangnya Abrisam tak peduli, menyeret tangannya untuk ikut. Merasa percuma menolak, Sabila hanya bisa pasrah dibawa Abrisam.
Jujur saja, penilaian Abrisam sudah sangat negatif terhadap Sabila. Penampilan keseharian Sabila jauh dari kata menarik, ternyata itu hanya kedok belaka? Lihatlah wanita yang sangat cerdik menutupi keburukannya, topengnya terbongkar juga. Pikir Abrisam.
Abrisam adalah dosen termuda di kampus Sabila. Wajahnya tampan dan dewasa. Tidak sedikit mahasiswa yang menginginkannya, termasuk Sabila. Ternyata pria itu senang 'jajan'? Kalau boleh menawar, mengapa Sabila harus bertemu Abrisam dalam keadaan begini? Penampilannya memang tidak memalukan, tapi pura-pura bekerja sebagai PSK yang menjadi masalahnya.
Tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang pria, bukan berarti Sabila tak tahu apa yang sedang menimpanya kini. Setidaknya, yang ada di pikirannya adalah Abrisam yang akan menyentuhnya. Lupakan mengapa pria itu memilihnya, masalahnya adalah Sabila yang tak sudi disentuh!
“Sejak kapan kamu jual diri?” Abrisam seperti bicara sendiri, tak ingin menoleh ke arah wanita di sampingnya.
“Bahasanya yang agak enak didenger manusia bisa gak, sih?” Bukannya menjawab, Sabila malah mendelik kesal.
“Ternyata cewek kayak kamu juga mau dihargai. Eh, 'kan udah saya beli, ngapain minta harga lagi?”
Buset, ini cowok seriusan mulutnya pedes bener dah, nyindirnya gak ngotak. Apalagi mukanya songong banget. Pake ada kalimat ‘ngapain minta harga lagi?’. Sabila tentunya ingin menjawab, tetapi menggunakan tangannya. Menampol pipi Abrisam misalnya? Tapi, Abrisam tidak salah juga berpikiran seperti itu.
“Sejak SMA? Atau bahkan SMP?” Abrisam terus mengejar pertanyaannya yang belum terjawab, penasaran akan jawabannya. “Terus, kenapa harus pura-pura jadi cewek kucel? Kalau kamu dandan kayak gini, 'kan agak mendingan.”
“Lagian, kalo dandan gini ke kampus, entar disangka mau syuting. Haduh, Raisa gak mau difitnah, Pak.” Sabila bicara santai, saking bingungnya harus bereaksi seperti apa. “Kalo aku jujur, Bapak mau percaya, gak?” Sabila menatap sayu, berharap ada sedikit saja rasa hati Abrisam untuk mendengar penjelasannya.
“Tergantung.” Abrisam mengangkat bahunya sekilas, tampak masa bodoh.
“Cewek yang tadi dibawa sama cowok yang datang sama Bapak, itu kakak tiri aku, dia yang sebenarnya kerja begituan. Terus aku ikut, lagi butuh uang.” Akhirnya, Sabila mengucapkan sedikit kebenarannya.
Sesuai dugaannya, Abrisam memang terlihat tak peduli seolah tak percaya. Sabila juga bingung harus menjelaskannya dengan cara apa. Akhirnya, ia hanya diam sambil memikirkan apa yang harus ia lakukan.
“Kamu gak ada permintaan? Gak takut saya rekam kegiatan kita nanti, terus ... mungkin kamu bakal viral di kampus.” Abrisam kembali menyinggung, menakut-nakuti, mengancam, dan lainnya. Nadanya terdengar tenang, seolah apa yang dikatakannya tidak mengandung makna apa-apa.
Sama seperti Abrisam, Sabila tetap tenang, terlepas semenyebalkan apa pria yang sedang bersamanya saat ini. Begitu mudahnya menyakiti hati seseorang, begitu nikmatnya membuat lawan bicaranya tak berkutik saking bingungnya. Hanya dari tutur kata saja, Abrisam sudah sangat kejam. Tidak kasar, tetapi sindiriannya begitu nyata dan dalam.
“Cancel aja gimana?” Sabila bergaya seolah sering melakukan pembatalan kepada pria yang membayarnya. “Lagian, kenapa Bapak milih aku? Bapak sendiri yang bilang aku kucel, ngapain milih cewek kucel kayak aku?” lanjutnya dengan nada kesal.
“Justru karena kamu beda dari yang lain. Saya jadi penasaran, kamu bisa apa aja,” sahut Abrisam yang lagi-lagi mengucapkan kalimat sindirian.
Baiklah, sepertinya Sabila juga harus membahas dugaannya. Ia pun bertanya dengan tenangnya, “Bapak sering sewa cewek?”
“Kata-katanya bisa diganti?” Abrisam melemparkan tatapan protes.
“Bapak aja nanya langsung ke intinya tadi, kenapa aku gak boleh?” Sabila balik menyerang.
“Sopan sedikit 'kan bisa. Ingat, saya dosen di kampus kamu.” Abrisam kembali ke sikap tak berdosa, bahkan seenaknya mengingatkan profesinya sebagai dosen.
“Dosen magang aja belagu.” Sabila menggelengkan kepala ke arah jendela di sampingnya.
“Kamu ngumpat?” Abrisam semakin terkesan sombong sebagai 'raja' yang harus ditakuti Sabila.
“Cancel aja, ya? Bapak bisa cari cewek lain, 'kan?” Sabila kembali mengingatkan tawarannya.
“Saya sudah bayar dimuka.” Abrisam menggeleng dengan sombong.
“Sama?” Sabila menatap waspada.
“Sama majikan kamu,” jawab Abrisam enteng.
Sebenarnya 'pembeli' itu adalah pria yang kini sedang bersama Nadya. Pria itu adalah paman Abrisam, dan Abrisam hanya mengantar pada mulanya. Namun, sang paman memberikan 'hadiah' dimana Abrisam dapat memilih satu dari empat wanita yang tersisa tadi.
Abrisam awalnya menolak, ia bukan pria yang senang menghabiskan malamnya bersama seorang wanita. Namun, entah mengapa ia ingin memastikan apakah wanita itu benar muridnya atau bukan. Ia pun tak tahu alasan jelasnya memilih Sabila. Juga, tak yakin akan melakukan haknya sebagai pembeli atau tidak.
Saat ini, Abrisam hanya mengikuti ucapan sang paman, yaitu menyusulnya ke hotel. Ya, selain memberikan hadiah berupa memilih satu wanita, pamannya itu juga memberikan tempat yang sudah disewanya untuk Abrisam bersenang-senang.