Tok-tok-tok. "Luca? Kamu di dalam? Boleh aku masuk?" Zara mengetuk pintu ruang kerja suaminya dengan hati-hati. Dia menunggu intruksi dengan tangan lain yang membawa secangkir kopi untuk Luca yang masih sibuk bekerja di malam hari. Namun pintu tidak kunjung terbuka, tapi Zara tetap di sana dan menunggu. Dia ingin dekat dengan Luca. Dia ingin menjadi istri yang baik untuk pria itu, tak peduli Luca menyukainya atau tidak. Setelah beberapa menit tidak ada jawaban atau reaksi, Zara kembali mencoba mengetuk pintunya. Berharap akan ada jawaban. Sampai akhirnya, dia kembali memanggil nama pria itu, tapi tepat saat itu, pintu ruangan tiba-tiba terbuka. "Apa! Berisik sekali kau ini. Aku sedang sibuk, kau tidak bisa melihatnya!" Zara terlonjak kaget. Cangkir kopi di tangannya hampir saja jat

