Keesokan paginya. Zara mengerang dalam tidurnya. Dia meregangkan kedua lengannya dan bergerak nyaman di atas ranjang empuk itu. Dia harusnya bangun, tapi ranjang itu membuatnya benar-benar enggan membuka mata. Zara lupa kapan terakhir kali dia bisa tidur nyenyak. Rasanya sangat lembut seperti permen kapas. Dia ingin berbaring di sana seharian. "Sampai kapan kau akan tidur dan tersenyum seperti orang bodoh? Ini sudah siang." Zara terlonjak. Matanya spontan terbuka saat mendengar suara kasar dan dingin yang dia kenal. Zara mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah di mana Luca ternyata sedang bersiap untuk berangkat kerja. Pria itu sedang memasang dasi di lehernya. "Luca?" "Apa setelah menjadi istriku, kau pikir, kau bisa malas-malasan?" "Apa? Tidak, aku tidak begitu," sangkal Z

