Masalah Ranjang

1163 Words
"Siapa yang menyuruhmu ke sini?" Tubuh Zara bergeming kaku saat dia berdiri di depan pintu kamar Luca dan melihat suaminya sedang duduk di kursi dengan laptop yang terbuka, tapi tatapan tertuju padanya. "A-aku, aku diminta Ibu ke sini. Katanya, mulai sekarang aku harus tidur denganmu," jawab Zara dengan gugup. Dia mencoba tetap tenang meski kini Luca menatapnya seolah dia adalah benalu. Ibu mertuanya sepertinya salah. Luca tampak marah dan ingin menolaknya. Sudah jelas suaminya itu tidak akan mau tidur satu ranjang dengannya yang merupakan hanya anak pembantu, bahkan tidak selevel dengan pria itu. Zara jadi bingung sekarang, tapi jika dia kembali, ibu mertuanya pasti akan memintanya ke sini atau mungkin langsung bicara dengan Luca. Pertengkaran bisa saja terjadi antara keduanya. "Aku tidak bisa berbagi tempat tidurku dengan orang lain," ucap Luca sambil berdiri dan mendekatinya. "Begitu ... kalau begitu, aku ... aku akan—" "Tidur di lantai." Luca memotong ucapan Zara dan segera melangkah ke arah lemari. Dia membuka tempat itu dan mengambil sesuatu di sana. Sebuah selimut yang kemudian diberikan pada Zara. Tangannya menunjuk ke arah lantai di sebelah ranjang, di mana di sana Zara akan tidur. "Sebaiknya kau jangan berisik dan menggangguku. Kau mengerti?" Zara melirik sekilas lantai dingin itu. Dia kembali menatap Luca dan mengangguk kaku. Dia tidak diusir, tapi tidak diizinkan untuk tinggal satu ranjang dengan suaminya. Malam pertama yang dibayangkan ibu mertuanya, tidak seperti apa yang akan terjadi. "Iya, aku mengerti. Terima kasih." Zara tidak mau ada pertengkaran atau pun kemarahan yang tidak perlu. Jadi dia mengalah dengan mudah dan berjalan ke arah tempat yang akan menjadi tempat tidurnya. Zara menghamparkan selimut di atas lantai dingin itu dan duduk. Tidur di lantai bukan hal yang biasa baginya. Dulu Zara pernah tidur di lantai saat sebelum ibunya bekerja di sini. "Kau benar-benar langsung menyadari posisimu." Zara menoleh ke asal suara saat telinganya mendengar perkataan bernada mengejek. Dia melihat Luca yang berdiri dan tersenyum tipis melihatnya. Pria itu melipat tangannya angkuh. "Baguslah. Ingat, meski kau istriku sekarang, kau bukan siapa-siapa bagiku. Jangan harap aku memperlakukanmu seperti suami sungguhan." Itu penegasan. Zara tahu, Luca menikahinya karena permintaan omanya, tepatnya atas keterpaksaan. Dia juga tidak berharap akan diperlakukan dengan baik, tapi dia akan mencoba menjadi istri yang baik, tak peduli bagaimana Luca memperlakukannya. Zara tersenyum manis. Senyum yang jarang diperlihatkan pada Luca. "Iya, Tuan Muda, aku mengerti. Ini semua demi Oma, tapi aku akan mencoba jadi istri yang baik untukmu." Istri yang baik. Kalimat itu menggelitik perasaan Luca dan membuatnya merasa jijik sekaligus tidak nyaman saat dia melihat senyum di bibir Zara. Gadis itu benar-benar tidak paham situasinya atau bagaimana? Apa Zara sengaja tersenyum untuk mengejeknya? Untuk mengatakan, kalau meski dia enggan mengakuinya sebagai istri, Zara tetap istrinya. Tangan Luca mengepal saat memikirkan itu. Raut wajahnya semakin suram. Dia berpikir, Zara pasti akan menertawakan dirinya di belakangnya. "Sialan! Berani kau menertawakanku!" "Menertawakanmu? Aku tidak—" "Cukup! Berhenti bicara! Sudah kubilang, jangan menggangguku." Luca yang emosi, langsung membalikkan badan dan berjalan kembali ke tempat duduknya. Dia tidak mau repot-repot untuk bicara lebih lanjut pada Zara. Di sisi lain, Zara sendiri kini merasa sedih. Dia tidak mengerti kenapa Luca marah padanya. Padahal dia sama sekali tidak melakukan apa pun dan merasa tidak menertawakan Luca. Namun melihat suaminya yang pergi, Zara tidak punya pilihan lain selain berbaring dan hendak tidur. Dia tidak mau mengganggu Luca dan membuatnya marah lagi. *** Keesokan harinya. Saat pagi menyingsing, Zara yang tidur di lantai, harus terbangun setelah merasakan kedinginan hampir semalaman. Dia membuka mata ketika mendengar suara alarm tepat di atas nakas yang ada di atasnya. Suara ketukan pintu pun terdengar dan itu membuat Zara yang terbiasa membantu menyiapkan sarapan, langsung terbangun. "Zara? Luca? Kalian sudah bangun?" Itu ibu mertuanya. Zara yang merasa tidak enak karena bangun terlambat, berusaha membereskan selimut bekas tempat tidurnya, tanpa menyadari jika Luca juga sudah bangun dan memerhatikan ketika Zara meletakkan selimut itu kembali ke lemari. "Jangan taruh di sana, bodoh!" seru Luca yang kini langsung duduk. Raut wajahnya yang kesal dengan rambut yang terlihat berantakan, dia menatap tajam Zara yang tampak kaget mendengar suaranya. Hingga akhirnya wanita itu dengan cepat berbalik. "Lalu aku taruh di mana?" "Laci, paling bawah! Aku akan menyuruh orang untuk membawa lemari jelekmu. Kau bisa menaruhnya di sana nanti." Zara hanya mengangguk saat mendengar perkataan Luca. Dia tidak memprotesnya. Mungkin memang itulah yang terbaik untuk mereka agar Luca tetap nyaman. Zara meletakkan selimut itu ke laci yang paling bawah. Tidak menyimpannya di tempat semula. "Luca? Zara? Kalian masih tidur, ya?" Suara Sophia kembali terdengar memanggil keduanya. Luca yang sadar ibunya tidak pernah, hanya bisa mengerang tak percaya. Hingga akhirnya dia sendiri yang berjalan untuk membuka pintu, tapi sebelum membukanya, Luca menatap Zara dan memperingatkan gadis itu. "Jangan katakan aku menyuruhmu tidur di lantai pada Ibu. Jika kau berani bicara, kau akan tahu akibatnya." "Iya, Tuan Muda." Setelah mengiyakan perkataan Luca, pria itu langsung membuka pintunya dan membiarkan Sophia muncul melihat mereka berdua. Wajah wanita paruh baya itu seketika langsung memerhatikan Luca dan Zara dengan cermat. Mencari-cari sesuatu di antara mereka. Sampai Luca sendiri terlihat bosan. "Bisakah Ibu berhenti melakukan itu? Kenapa Ibu tiba-tiba ke sini dan mengetuk pintu kamarku berulang kali?" Hal itu bukanlah kebiasaan ibunya. Luca jarang dibangunkan langsung oleh ibunya, karena dia selalu bangun tepat waktu. Kalau pun dia terlambat bangun, biasanya pembantu lah yang datang membangunkannya, bukan ibunya. "Ibu hanya memastikan kamu tidak melukai Zara," jawab Sophia yang seketika segera berjalan mendekati Zara dan memegangi kedua lengannya. Dia menatap tubuh kecil dan rapuh itu dengan khawatir. "Kamu baik-baik saja kan, Zara? Apa Luca terlalu kasar semalam? Tapi tidak ada luka. Tubuhmu dingin. Pinggangmu sakit tidak? Kamu bisa berjalan dengan baik kan?" Berbagai macam pertanyaan yang terlontar di mulut Sophia, seketika berhasil membuat Zara dan Luca melebar kaget. Mereka menyadari ke mana arah pertanyaan itu. Wajahnya Zara pun langsung merah padam. Dia tertunduk malu. Berbeda dengan Luca yang langsung kesal. "Kasar? Apa yang sebenarnya Ibu pikirkan? Aku tidak menyentuhnya! Tidak akan pernah!" "Apa maksudmu tidak akan pernah? Kamu jangan main-main dengan ucapanmu, Luca." "Memang begitulah kenyataannya. Aku tidak tertarik pada tubuhnya." "Bisa-bisanya kamu bicara begitu. Jangan sampai kamu menjilat ludahmu sendiri saat kamu melihat Zara sangat cantik." "Terserah Ibu." Luca mendengkus. Dia acuh tak acuh. Tidak terlalu peduli dengan apa yang dikatakan ibunya. "Lebih dari itu, dari pada mengurus masalah ranjangku, lebih baik Ibu katakan bagaimana keadaan Oma sekarang." Suasana tiba-tiba berubah menjadi serius saat Luca bertanya soal omanya. Sophia segera melepaskan tangannya dari Zara dan menatap putranya. "Ah, iya, Ibu datang untuk mengabari itu juga padamu. Kondisi Oma katanya sudah lebih baik. Kamu bisa fokus bekerja. Ibu akan menemani Oma di rumah sakit setelah Ayahmu datang. Zara, kamu mau ikut Ibu juga?" "Iya, Bu. Aku akan menemanimu." Zara jelas lega dan senang mendengarnya. Dia tidak mau kehilangan kesempatan untuk menemani omanya dan merawatnya. Luca sendiri pun merasakan hal yang sama. Kelegaan yang luar biasa ketika akhirnya sadar jika omanya sudah tidak apa-apa. Ketakutannya telah sirna, tapi sepertinya, dia harus menghadapi masalah baru sekarang. Viviane.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD