"Oma sudah dipindahkan ke ruang ICU, Ayah akan menjaganya. Kalian pulang saja. Luca, Ayah titip Ibumu dan Zara. Jaga mereka."
"Aku saja yang menjaga Oma, Ayah yang pulang," tolak Luca saat mendengar pengaturan yang dikatakan ayahnya, dia tidak mau meninggalkan Omanya meski operasi yang memakan waktu sampai hampir tengah malam sudah berjalan lancar.
"Tidak, Ayah adalah anaknya. Kalau ada apa-apa, Ayah bisa segera mengambil tindakan."
"Tapi—"
Ibunya yang mendengar itu, segera mendekat dan menepuk pundak Luca. "Sudahlah, Luca. Ayahmu benar. Ini juga demi keselamatan Omamu. Lagi pula, kamu baru menikah dan ini malam pertama kamu dengan Zara. Kalian istirahat saja."
Tubuh Luca seketika langsung kaku saat ibunya malah mengingatkan dia dengan status barunya. Pernikahan. Seorang suami. Semua itu benar-benar membuatnya kesal, tapi dia berusaha menahan diri.
"Dengarkan kata Ibumu. Ayah juga sudah menghubungi bawahan Ayah dan memintanya mendaftarkan pernikahan kalian ke negara. Katanya itu akan butuh waktu beberapa hari dan setelah itu, pernikahan kalian resmi secara hukum," ucap ayah Luca yang kini memeluk istrinya dan menatap Luca dengan sorot mata tegas. "Setelah semuanya selesai dan Oma kembali ke rumah, barulah kita adakan pesta pernikahan kalian. Bagaimana pun, semua orang harus tahu kalau kalian sudah menikah."
Luca mengepalkan kedua tangannya. Dia menahan rasa marah memikirkan dirinya sudah benar-benar menjadi suami Zara. Namun saat ayahnya berencana untuk membuat pesta pernikahan mereka, dia tidak bisa tidak terganggu. Tidak setelah dia melamar Viviane dan publik tahu mereka berkencan. Jika semua orang mendengar dia menikahi wanita lain dan bukan Viviane, kekasihnya pasti akan menjadi bahan gosip.
"Aku tidak mau! Tidak perlu ada pesta pernikahan. Cukup daftarkan saja. Aku tidak mau mengumumkannya pada semua orang."
"Tidak bisa begitu, Luca. Ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan atau gosip. Lagi pula, kalau kamu menyembunyikannya, nantinya semua itu akan ketahuan juga. Itu bisa merusak citramu di hadapan publik."
Luca mengetatkan rahangnya. Dia kesal, tapi apa yang dikatakan ayahnya juga benar. Kalau dia menyembunyikan pernikahannya dan tetap menjalin hubungan dengan Viviane, ketika publik mengetahuinya, maka itu akan jadi skandal besar yang sudah pasti akan merusak reputasinya. Luca juga tidak mungkin menyembunyikan keberadaan Zara sebagai istrinya begitu lama karena dia mungkin harus membawanya ke setiap acara.
Memikirkan hal itu, membuat kepalanya langsung sakit. Dia membuang muka. "Terserah! Aku tidak mau membicarakannya sekarang!"
Tanpa banyak bicara, Luca yang kesal langsung berjalan lebih dulu meninggalkan ibu dan istrinya yang seketika langsung mengikuti dari belakang.
"Luca, kamu ini! Kamu tidak boleh memperlakukan Ayahmu seperti itu! Apa Ibu pernah mengajarimu bersikap kurang aja?"
Luca diam saat mendengar omelan dari ibunya. Dia tidak berhenti berjalan. Tidak membalas sama sekali, tapi raut wajahnya benar-benar suram dan gelap, seperti malam tanpa bintang.
Zara menyadari suaminya masih begitu kesal dengan pernikahan mendadak mereka. Luca bahkan malah mempercepat langkahnya dan meninggalkan mereka, tak peduli ibunya masih bicara.
"Luca! Anak itu! Bisa-bisanya dia mengabaikan Ibunya sendiri!"
"Bu, maaf, aku tidak bermaksud ikut campur, tapi mungkin Luca ... butuh waktu. Tolong jangan terlalu menekannya," ucap Zara pada ibu mertuanya dengan ragu-ragu. Dia melihat wanita paruh baya yang cantik itu menoleh ke arahnya. Ada kemarahan yang masih tersisa di matanya gara-gara pengabaian yang dilakukan Luca.
"Tidak, Zara, dia sudah dewasa. Dia harusnya bisa lebih mengontrol soal emosionalnya. Aku terlalu memanjakannya," gumamnya. Dia menyalahkan dirinya sendiri atas sikap kasar putranya. Langkahnya terhenti melihat Luca yang naik lift lebih dulu, tanpa mau repot-repot menunggu dia dan Zara masuk. Kekesalannya pun kembali meningkat. "Lihatlah anak itu! Dia marah seperti anak kecil."
Zara meringis melihat ibu mertuanya kembali mengomel. Dia tidak bisa melakukan hal lain selain mengelus bahu mertuanya. Menatap lift yang dimasuki Luca sudah bergerak ke lantai bawah. Dia tahu, situasi yang dialami Luca sangat tidak biasa. Wajar pria itu marah karena terpaksa menikah dengan wanita yang tidak diinginkannya.
Itu membuat Zara benar-benar sangat sedih. Apakah dia benar-benar tidak layak untuk Luca? Karena dia anak pembantu atau karena di hati Luca, hanya ada Viviane?
***
Rumah dalam keadaan gelap saat Zara tiba bersama ibu mertuanya dan juga Luca. Dia dan mertuanya masuk lebih dulu, karena Luca sibuk memasukkan mobil di garasi. Zara langsung menyalakan lampu dan merasa lega saat dirinya akhirnya tiba di rumah ini.
Itu bukan rumahnya. Itu jelas adalah rumah mertuanya, tapi Zara sudah cukup lama tinggal di sana. Sejak ibunya dulu masih bekerja di rumah itu sebagai pembantu rumah tangga. Namun dengan statusnya yang kini telah menjadi istri Luca, Zara merasakan sesuatu yang berbeda. Seperti dia baru saja melangkah di jalan yang baru.
"Minggir! Kau menghalangi jalanku."
Zara tersentak. Dia refleks memutar tubuhnya dan menatap pemilik suara dingin yang menegurnya saat sedang melamun. Sudah jelas itu adalah Luca. Pria yang menunjukkan ekspresi tidak sukanya dan menatapnya seakan dia adalah hama.
"Luca, kenapa kamu bicara seperti itu pada istrimu? Kamu ini tidak bisa lebih lembut?"
"Aku malas berdebat. Tolong jangan mengomentari apa yang kulakukan, Bu."
Luca tidak mau banyak bicara dan memilih melewati ibunya begitu saja. Dia tidak melirik Zara sedikit pun. Sikapnya yang benar-benar tidak peduli dan kasar itu, membuat sang ibu tampak geram.
"Anak itu! Zara, tolong maafkan Luca. Dia mungkin belum terbiasa. Ibu akan lebih sering menasihatinya."
Zara hanya tersenyum. Dia tidak mau membuat mertuanya khawatir. Lagi pula, perlakuan Luca adalah hal yang biasa. Dia tidak terlalu sakit hati dengan sikap atau pun perkataan Luca. "Tidak apa-apa, Bu. Jangan memaksanya. Aku tidak mau dia kesal."
"Zara, kamu terlalu baik untuk Luca. Ibu sebenarnya tidak ingin kamu menikah dengan Luca. Kamu pantas mendapatkan suami yang bisa menyayangi dan membahagiakanmu."
Zara bergeming di tempat saat dia merasakan sentuhan di kedua bahunya. Dia menatap ibu mertuanya yang tampak tulus. Nyonya Sophia Moretti. Wanita cantik, anggun dan baik hati. Dia sudah seperti jelmaan bidadari dan ketulusan serta kebaikannya tidak bisa diragukan sedikit pun olehnya.
"Terima kasih, Bu. Ibu sudah memerhatikanku, tapi aku senang jika bisa memenuhi keinginan Oma. Aku akan berusaha menjadi istri yang pantas untuk Luca dan tidak akan mempermalukan keluarga ini."
"Zara ...."
Mata Sophia meredup. Dia tampak berkaca-kaca saat mendengar keteguhan hati menantunya. Hingga dia langsung menarik Zara ke pelukannya. "Kamu tidak perlu berusaha menyenangkan kami semua dan kamu tidak pernah mempermainkan kami. Jadi jangan pernah merasa begitu."
"Iya, Bu, aku mengerti."
Sophia melepaskan pelukannya segera dan tersenyum lembut. Dia menghapus air mata yang sedikit menetes. "Aduh, malah jadi nangis. Sudahlah, Ibu banyak menyita waktumu. Kamu istirahat saja. Seharian ini kamu sudah menjaga Oma."
"Iya, Bu, kalau begitu aku permisi."
Zara mengangguk. Dia juga merasa lelah dan ingin istirahat. Zara berbalik, dia berniat pergi ke kamarnya. Namun baru beberapa langkah, dia berhenti saat mendengar suara ibu mertuanya.
"Zara, kamu mau ke mana?"
Zara menoleh. Dia menatap ibu mertuanya dengan kebingungan. "Ke kamar, Bu. Aku boleh istirahat kan? Apa Ibu butuh sesuatu?"
"Kamu dan Luca 'kan sudah jadi suami istri. Jadi malam ini, kamu tidur di kamar Luca," ucap Sophia sambil menunjuk ke arah tangga yang menuju ke lantai atas di mana kamar Luca berada. "Siapa tahu, kamu dan Luca bisa menjadi lebih dekat."
Wajah Zara seketika langsung memerah. Kaget dan malu ketika menyadari apa maksud ibu mertuanya. Dia hampir melupakannya. Ini jelas adalah malam pertama dia dan Luca setelah tadi menikah.
"I-ibu serius? Tapi kalau Luca menolak—"
"Dia tidak akan melakukannya. Jadi jangan khawatir. Luca harus terbiasa. Dia tidak boleh mengabaikanmu."
Zara merasa seolah disemangati oleh ibu mertuanya dan dia tidak bisa tidak tersenyum malu. Merasakan dadanya menghangat. Hingga jantungnya berdebar kencang memikirkan ini adalah malam pertamanya dengan Luca. Zara sangat gugup, tapi akhirnya dia menganggukkan kepalanya.