Istri yang Tak Dianggap

1351 Words
"Apa benar-benar harus sekarang? Oma bahkan belum melakukan operasi!" Luca memprotes. Dia menatap tak percaya Omanya yang meminta dia menikahi Zara sekarang. Di depan Omanya yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit dengan hanya disaksikan orang tuanya serta perawat dan orang yang akan menikahkan mereka. Luca bahkan masih mengenakan jas abu-abu yang tadi dia gunakan saat melamar Viviane. Sementara Zara memakai gaun putih sederhana, yang dibeli mendadak oleh ibunya dan didandani secara sederhana. Ini sama sekali bukan pernikahan mewah dengan pesta tiga hari tiga malam, yang Luca rencanakan untuk pernikahannya. Di rumah sakit dan hanya disaksikan oleh keluarganya dengan pengantin wanita yang bahkan tidak dia inginkan. Luca merasa ini adalah bencana. "Oma harus memastikan kalian benar-benar menikah. Baru setelah itu, Oma akan menjalani operasi dengan tenang. Tidak akan lama juga." "Tapi, Oma—" "Ssstt, ayo, mulai saja sekarang!" Luca tak bisa lagi mengelak saat ini saat dia harus berhadapan dengan seorang pria berpakaian rapi yang akan menikahkannya dengan Zara. "Baiklah, saudara Luca, saudari Zara, mari kita mulai." Suasana di ruangan itu, seketika diselimuti suasana yang sakral saat pria yang akan menikahkan Luca dengan Zara membacakan doa sebelum memulai menikahkan mereka. Semuanya mendengarkan. Meski Luca tampak gelisah sendiri. Dia duduk disandingkan dengan Zara yang tampak gugup dan terus tertunduk. Sampai akhirnya, Luca disadarkan oleh suara pria itu. "Saudara Luca, apakah Anda bersedia mengambil saudari Zara sebagai pasangan hidupmu, untuk berbagi hidup dan saling setia dalam setiap keadaan?" Luca terdiam. Dia menatap semua orang melihatnya. Menunggu dia mengiyakan, tapi Zara, tampak masih tertunduk. Luca benar-benar benci ini. Dia benci. "Saya ... bersedia." Luca refleks menelan ludah dengan susah payah, seolah ada batu besar yang sulit ditelan di tenggorokannya. Bahkan dia sampai berkeringat saat mulutnya mengucapkan itu. Pikiran Luca juga terasa blank, sampai dia tidak mendengarkan lebih lanjut ucapan Zara. Dia hanya bisa mendengar suara pria yang menikahkan mereka menyebut kata 'resmi' dan Oma serta orang tuanya mengucapkan syukur. Hal itu sangat kontras dengan apa yang terjadi pada Luca yang saat ini membeku di tempat. Sampai ibunya menegurnya. "Luca, cincinnya!" Luca tergagap dan spontan mengeluarkan cincin dari saku celananya. Sialnya itu adalah cincin berlian yang harusnya dia berikan pada Viviane, tapi sekarang, tangannya malah terulur meletakkan cincin itu di tangan Zara. Istrinya. Rahang Luca mengetat. Dia merasa geli dengan kosa kata baru itu. Matanya berkilat tajam saat dia bertatapan dengan Zara. Wanita tidak tahu malu yang menatapnya dengan mata bulat yang khawatir. Khawatir? Apa yang Zara khawatirkan tentangnya? Inikan yang wanita itu inginkan? Luca benar-benar kesal dan dia sama sekali tidak berniat menyembunyikannya. Dia langsung melepaskan tangan Zara segera, setelah cincinnya terpasang. Lalu dia langsung berdiri tanpa basa-basi. "Sekarang Oma harus dioperasi. Aku tidak mau tahu dan kau! Ikut aku!" Luca menatap Omanya dengan tegas, lalu melirik tajam pada Zara. Dia langsung menarik tangan wanita itu dan membawanya keluar, tanpa meminta izin pada siapa pun. Suara ibunya yang khawatir terdengar dan mencoba menghentikannya, tapi Luca mempercepat langkahnya sampai Zara sedikit terseok-seok saat mengikutinya. Wanita itu hampir jatuh dan Luca tidak peduli. Luca langsung menyudutkan tubuh Zara di dinding rumah sakit yang gelap. Rumah sakit itu sudah sepi saat malam hari dan Luca merasa tidak perlu khawatir untuk mengintimidasi Zara. "Aku tahu ini ulahmu. Kau menghasut Oma agar memaksaku menikah denganmu. Kau mau uang kan? Atau kau mau status, Nyonya Moretti Yang Terhormat?" "T-tidak seperti itu, Luca. Kamu salah paham. Aku—" "Luca? Aku tidak ingat mengizinkanmu memanggil namaku." Luca memerangkap tubuh kecil Zara. Menatap pengantinnya yang gemetar takut seperti seekor kelinci. Dia bahkan melihat air mata yang akan tumpah. Wanita cengeng. Luca jengkel melihatnya. Apalagi ketika melihat Zara menghindari tatapannya. Tangannya refleks meraih dagunya dan mencengkeramnya kuat. Hingga Zara diarahkan padanya. "Kenapa diam? Kau bisu?" "K-kamu mengizinkannya. Saat kita masih kecil. Kamu bilang aku bisa memanggil namamu saat kita berdua." Alis Luca berkerut dalam saat mendengar jawaban tak terduga Zara. Dia bahkan tidak ingat. "Jangan mengada-ngada. Aku tidak pernah mengatakannya dan aku tidak tinggal di sini sejak kecil." "Aku tidak mengada-ngada. Kamu yang mengatakannya sendiri. Kamu—" "Cukup! Kau senang sekali berhalusinasi dan membicarakan omong kosong. Kau pikir, setelah menjadi Nyonya Moretti, kau akan bisa melakukan apa pun? Kau salah, Zara. Meski kita sudah menikah, aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai istri. Jadi bersikaplah seperti biasa. Ketahui tempatmu. Kau paham?" Tidak ada langsung ada jawaban. Luca melihat kesedihan dan luka di mata Zara saat dia menegaskan posis mereka saat ini. "Jawab!" "B-baik, Tuan Muda. Maafkan aku." Luca langsung melepaskan cengkeramannya di dagu Zara dan mundur. Dia melihat wanita itu meneteskan air mata. "Jangan menangis! Kau membuatku muak." Tanpa perasaan, Luca langsung berbalik dan hendak pergi meninggalkan Zara, tapi dia berhenti saat baru beberapa langkah. Dia melirik Zara yang terisak. "Jangan menunjukkan air matamu di depan orang tuaku. Kalau tidak, kau akan tahu akibatnya." Itu adalah ancaman yang dipenuhi kemarahan saat Luca pergi meninggalkan Zara yang kini luruh di lantai. Dia mengusap air matanya dan mencoba meredam rasa sakit hatinya karena diperlakukan kasar oleh pria yang sudah sah jadi suaminya. Ini sama sekali bukan pernikahan yang Zara inginkan. Dia tidak mau menghadapi sikap dingin dan kasar Luca, meski hatinya senang karena fakta pria itu menjadi miliknya. Namun sepertinya, pernikahan ini tidak akan berarti apa-apa bagi Luca. Di lain sisi, Luca kembali ke tempat di mana dia tadi meninggalkan orang tua dan Omanya. Dia melihat Omanya sedang berbaring di sebuah ranjang yang didorong oleh perawat. Diikuti oleh orang tuanya. Omanya akan dioperasi, sesuai janji mereka. Hingga mereka berhenti sebentar saat Luca menghampirinya. "Luca, mana Zara? Kamu bawa ke mana istrimu?" Luca baru saja akan bicara, tapi harus kembali membungkam mulutnya saat Omanya malah bertanya soal Zara. Wanita itu lagi. Zara, Zara, dan Zara terus yang ada di pikiran Omanya. Rasanya dia akan muntah saat mendengar nama itu berulang kali. "Luca, kamu jangan pernah bersikap kasar pada Zara. Dia sekarang istrimu. Ibu tidak ingin kamu melakukan seperti tadi lagi." "Ibumu benar. Kami tidak pernah mengajarkanmu bersikap kasar pada wanita. Apalagi Zara sudah jadi istrimu." Luca tersentak. Dia menatap ibunya yang ikut menyahut. Memperingatkannya untuk tidak menyakiti wanita itu. Bahkan ayahnya yang biasanya tak peduli, kini ikut menegur tindakannya. Menatapnya dengan sorot mata mengancam. Seakan jika dia melakukan sesuatu yang buruk pada Zara, dia akan dihukum. Sebenarnya apa yang dilakukan Zara sampai membuat kedua orang tuanya dan Omanya jadi begitu memedulikannya? Apa yang dilakukan wanita itu? Luca merasa marah, tapi dia tahu, itu bukan hal yang baik untuk melawan keluarganya sendiri. Tidak dengan kondisi Omanya yang sedang sakit. "Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya bicara dengannya. Apa salah seorang suami bicara dengan istrinya?" "Tidak, tapi Ayah tahu kebiasaanmu. Kalau hanya bicara, kenapa kamu meninggalkan Zara?" "Tuan besar, tolong jangan khawatir. Apa yang dikatakan Tuan muda adalah benar. Kami hanya bicara dan saya pergi ke kamar mandi sebentar. Jadi saya terlambat. Saya minta maaf," sahut sebuah suara, yang tidak lain adalah Zara. Dia mendekat dengan senyum manis seperti biasa. Tidak ada air mata lagi, tapi wajahnya basah dan hidungnya sedikit memerah karena kulitnya yang putih. Dia menatap mereka semua dengan senyum menenangkan, lalu beralih pada Omanya. "Oma, jangan khawatir. Aku tidak akan ke mana-mana. Aku akan menemani Oma di sini." "Kamu anak yang baik, Zara." Zara tersenyum melihat kelegaan di wajah nenek tua itu. Hingga hal tersebut pun tak berlangsung lama saat perawat berkata kalau mereka harus segera mengambil penanganan. Zara pun mundur dan membiarkan perawat membawa nenek tua itu ke ruang operasi. Zara fokus menatap pintu ruang operasi, sampai kemudian dia merasakan tepukan di pundaknya dan menyadari itu adalah ibu mertuanya. Zara kaget, tapi kemudian terdiam ketika mendengar perkataan mertuanya. "Zara, kami bersamamu. Katakan saja kalau Luca menyakitimu." "Ya, jangan sungkan. Kamu adalah menantu kami sekarang dan tidak usah memanggil Tuan lagi. Panggil Ayah dan Ibu." Zara terkejut dengan ucapan kedua mertuanya. Ayah, ibu, itu adalah panggilan yang selalu ingin dia ucapkan, tapi sayangnya tidak bisa karena dia sudah tidak memiliki orang tua. "Iya, baik, Ayah, Ibu." Senyum cerah membingkai di bibir Zara. Dia senang karena dirinya diterima oleh pasangan Moretti, tapi sayangnya, satu orang yang tidak menerimanya, kini sedang menatapnya dengan ekspresi mengeras. Zara tersentak saat mereka bertemu tatap. Dia menyadari kemarahan yang besar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD