bc

Pura-pura Bahagia

book_age4+
32
FOLLOW
1K
READ
badboy
goodgirl
badgirl
comedy
campus
city
highschool
like
intro-logo
Blurb

Cobaan, bukanlah hal yang tepat untuk dijadikan alasan untuk terpuruk. Kadang, keterpurukan kita bisa dijadikan pacuan untuk menjadi seorang yang lebih baik lagi.

Ada hal yang perlu dan tidak perlu diketahui oleh siapapun. Aku mencintai dia dengan segenap hatiku, namun Tuhan lebih tahu mana yang terbaik untukku.

Aku berusaha merasakan indahnya kasih sayang dari seseorang yang sangat aku rindukan selama ini. Seseorang yang mampu membuatku bertahan dalam segala situasi dan kondisi, seseorang yang membuatku mengerti bahwa hidup tidak selamanya tentang kesenangan----adakalanya celah kecil kesedihan menghiasinya, dan seseorang yang mampu mendampingiku apapun keadaannya.

Kau, tidak pernah sekalipun terbesit dalam hatiku kalau akan menjadi yang aku impikan selama napasku masih berhembus.

Beruntung? Sangat beruntung. Aku beruntung bisa hadir dalam hidupmu yang begitu Indah, yang sebelumnya tak pernah kurasakan.

Maafkan aku, jika sikapku terlalu kekanak-kanakan. Semua itu aku lakukan agar aku bisa membuat sejarah baru yang Indah dalam hidupku hingga nanti aku bisa mengenangnya bersamamu di saat yang tepat.

chap-preview
Free preview
Memulai Kembali
Sekolah begitu ramai hari ini, ada acara gebyar tahunan. Setiap sekolah di daerahku---mengirim utusannya untuk mengikuti berbagai perlombaan. Bosan rasanya kalau hanya duduk menonton, bersorak-sorai, yang menurutku lebih baik membaca novel kesukaanku; Lima s*****n karya Enid Blyton. "Mau kemana, Na?" tanya temanku saat aku berusah menghindar dari lapangan sekolah yang sangat ramai itu. "Hmm.. Aku mau ke toilet dulu, bentar kok." Jawabku. "Kalau begitu, kita ikut deh." Sumpah demi apapun, setiap gerak-gerikku kenapa selalu ada mereka yang membuntutiku. Bisa-bisa rencanaku gagal untuk menghabiskan membaca novel hari ini. "Aku mau b**l, gak usah ikut deh." Aku berusaha mengelak dari mereka, agar aku bisa tenang. "Ihhh.... Pantesan bau dari tadi, ternyata Yumna mau b**l. Yaudah cepet sana!" Akhirnya, aku bisa bebas. Maafkan aku teman-teman, aku harus jahat hari ini. *** "Duh.. Yumna kemana sih! Katanya mau b**l, kok lama banget. Atau jangan-jangan... Yumna pulang." "Ayo kita cari Yumna, gak mungkin dia pulang sendirian. Anak penakut itu mana bisa pulang sendirian." Aku duduk di bawah pohon besar yang ada di sekolahku. Angin sepoi menambah kenikmatanku hari ini. Sebenarnya aku tau kalau Saras dan Lara, pasti mencariku. "Yumna," terdengar suara seorang pria dari kejauhan. Aku berusah mencari suara itu dan ternyata itu Arga, temanku sewaktu SMP. "Arga," aku berdiri dan mendekatinya, "Wah, kamu tambah tinggi aja." Ucapku di hadapan Arga. "Kamu tambah cantik, Na." Seketika aku tersipu malu mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya. "Ah bisa aja, ayo duduk sini." Ajakku pada Arga. "Kamu lagi ngapain, Na? Kok gak ikut nonton lomba-lomba disana?" "Hmm, aku bosen, Ga. Enakan baca buku disini, dingin." Ucapku seraya kembali melanjutkan membaca buku. "Hobi kamu gak berubah ya, Na. Selalu aja baca novel, udah berapa buku yang kamu baca sejak kita gak ketemu? Puluhan, mungkin?" tanya Arga sambil sesekali tertawa melihatku. "Iya dong, mungkin lebih dari puluhan. Eh, btw hobiku bertambah loh, Ga. Sekarang, selain baca novel, aku suka minum kopi. Aku inget dulu aku pernah marahin kamu karena selalu beli kopi dingin di kantin sekolah kita, dan sekarang aku lebih candu dari kamu dulu." Aku menutup novel yang tengah k*****a, untuk bercerita tentang masa lalu dan sekarang ku pada Arga. "Haha, kamu serius, Na? Aku udah ngurangin tuh minup kopi, karena inget kata-kata kamu, kopi bisa bikin halu dan sekarang kamu lebih banyak halunya." Aku dan Arga berusaha mengingat kembali saat-saat kami masih berseragam putih biru. Arga yang dulu pendek dan nakal, kini telah berubah, badannya tinggi semampai dan tidak seperti dulu. "Oh iya, Ga. Kamu ikut lomba apa disini?" tanyaku pada Arga yang sedang memainkan lengan bajunya. "Kebetulan aku ikut ekskul futsal di sekolahku, jadi aku diminta untuk menjadi utusan lomba disini." Arga menatapku dan tersenyum. "Kamu tambah ganteng loh, Ga." Seketika kalimat itu keluar dari mulutku tanpa aku sadari. "Sebenarnya, emang dari dulu, Na. Kamu aja yang baru sadar. Hehe." "Kamu tuh gak berubah ya, Ga. Masih jago aja kalau buat orang ketawa." Aku memukul pelan pundak Arga. Saat aku berusah menatap wajah Arga, tiba-tiba beberapa orang pria datang untuk mengajak Arga pergi. "Arga, disuruh Pak Bandi kumpul disana." Ucap salah seorang pria kepada Arga. "Oh, oke. Sebentar lagi aku nyusul kesana." "Na, aku kesana dulu ya, nanti kita cerita lagi, oke." Arga meninggalkanku saat aku sedang ingin bernostalgia bersamanya. "Iya deh, Ga. Semangat yaa.." ucapku terpaksa. Dari awal masuk SMP, Arga sudah berteman denganku. Karena ia orangnya sangat supel, semua orang bisa menjadi temanny dengan cepat. Kehumorisannya pun tak berkurang sejak dulu. Aku teringat saat acara perpisahan, ia menangis karena katanya ia tak bisa lagi menghiburku dengan lagu ciptaannya. Lagu itu berjudul "Temanku Sayang". Lagu itu ia ciptakan spontan saat guru sedang rapat dan kami ada jam kosong. Aku akan selalu ada disaat kamu marah... Kecewa... Dan butuh sandaran... Huooo Sedikit lirik lagu yang di ciptakan Arga, kertas yang bertulis lagu itu telah ku tempel di dinding kamar agar aku bisa hapal dan ingat selalu. Arga adalah satu-satunya teman laki-lakiku yang sangat bisa mengerti bagaimana rumitnya perempuan. Ia bisa memaklumi jika aku sedang badmood atau lainnya. *** "Yumna!!!" Saat aku sedang asyik mengingat kisah SMP dulu, aku dikejutkan dengan suara pekikan yang tidak lain dan tidak bukan adalah Saras dan Lara. "Udah puas bikin kami nunggu lama!?" ucap Lara. "Aku baru aja keluar kok dari toiletnya." Jawabku. "Alah, bohong kamu, Na. Kamu ngapain sih disini?" "Aku ngadem doang. Tadinya aku mau ke lapangan, eh tapi kayaknya panas jadi aku duduk sini aja." Aku berusaha merangkai kata agar mereka tidak marah padaku. "Bilang dong dari tadi atau chat aku." Mereka duduk di sebelahku, wajah mereka masih terlihat begitu kesal padaku. "Yumna, ke kantin aja yuk." Aku mendongakkan kepalaku dan ternyata itu Arga. "Arga, udah kumpulnya, Ga?" tanyaku sambil tersenyum. "Udah kok, ayo ke kantin aja biar enak ceritanya." Ajak Arga. Aku melirik ke arah Saras dan Lara. "Tapi, Ga---aku sama temenku ini." "Yaudah gapapa ajak aja." Jawab Arga sambil tersenyum pada Saras dan Lara. "Sar, La, mau ikut gak? Ke kantin" tanyaku. Saras dan Lara menatap tajam wajah Arga. "Ini Arga pemain futsal dari SMA Tunas Bakti?" tanya Saras. "Iya, aku Arga itu." Jawab Arga yang semakin membuat wajah Saras salah tingkah. "Wah, Yumna, kok kamu gak bilang kalau kamu kenal sama Arga!" ucap Saras. "Loh, kalian kan gak tanya aku." Jawabku. "Ayo, Na." Aku pergi ke kantin bersama Arga, diikuti kedua temanku---Saras dan Lara. "Btw, kamu masih dapat ranking gak, Na? Biasanya kan kamu selalu ranking satu di sekolah dulu." Tanya Arga sambil melihatku sesekali. "Aduh kalo itu mah udah nggak lagi, Ga. Gatau kenapa sejak SMA, aku males banget belajar. Aku semangat kalau pelajaran Bahasa Indonesia doang." "Kamu tuh ya, emang beneran anak sastra. Sukanya baca buku, terus pelajaran Bahasa Indonesia." Arga merangkulku. "Perasaan dulu, aku gabisa rangkul kamu gini, Na. Kamu lebih tinggi dari aku." Arga begitu berubah memang, dulu aku yang lebih tinggi darinya tapi sekarang dia yang lebih tinggi dariku. Saat tiba di kantin, aku memesan kopi dingin. "Ini kopi dinginnya." Ucap Mang Ucok, penjaga kantin. "Makasih Mang." "Kopi, Na?" tanya Arga bingung. "Iya, Ga. Biasa, penambah halu, hehe." Aku dan Arga tertawa bersama hingga aku lupa kalau tadi ada Saras dan Lara. Ternyata mereka duduk di bangku belakang Arga. "Sar, La, sini dong." Mereka berdua duduk di hadapanku dan Arga. Terlihat keduanya tersipu malu. "Kalian sahabatnya Yumna?" tanya Arga pada keduanya. "Iya, aku Saras." Saras menjulurkan tangannya pada Arga, bergantian dengan Lara. "Jagain Yumna ya, hehe. Dia orangnya penakut, gak tau sekarang, Na?" Arga masih saja ingat kalau aku ini sangat penakut. "Kalo itu mah, masih, Yumna masih penakut apalagi kalau ada cowo ganteng lewat." Jawab Saras dengan ceplas-ceplos. "Haha, maksudnya?" "Yumna takut kalau ada cowo yang ngajak dia kenalan." "Oh gitu, bener, Na?" Arga menatapku yang tengah asyik meminum kopi dingin. "Hehe" aku hanya tertawa. "Yumna, Yumna." Arga kembali merangkulku. "Ga, temen-temen kamu pada liatin kita. Gimana nih." Ucapku dengan wajah tidak enakan. "Udah tenang aja, Na. Kamu tuh b'friend aku banget. Aku kangen tau sama kamu." "Tapi, Ga-" "Udah biasa aja, Na. Mereka udah tau kok, kalau kamu temen aku." Beberapa saat kemudian, Arga izin untuk pulang. Sudah jam 2 siang, dia dan teman-temannya akan pulang ke rumah masing-masing. "Na, aku pulang ya. Oh iya, minta nomor w******p kamu dong." Arga menjulurkan handphonenya padaku. "Nih udah, Ga. Chat aku ya kalau udah di rumah." Aku tersenyum pada Arga. "Oke." Arga pergi dari hadapanku dan saat itu rasanya kembali hampa. Bertemu Arga memanglah hal yang tidak di sengaja, tapi sebenarnya itulah yang selama ini aku inginkan. Aku melambaikan tanganku pada Arga. Arga terlihat berusaha membuatku tersenyum di setiap langkahnya dan itulah mengapa aku senang sekali bisa bertemu kembali dengan sahabat SMP ku itu. *** "Hebat kamu, Na. Cowok yang banyak di idamkan orang-orang itu ternyata teman dekat kamu." Ucap Lara. "Arga maksudnya?" tanyaku. "Iya lah siapa lagi." "Dia tuh temen aku dari SMP, gak sengaja waktu aku duduk disana---ternyata dia datang untuk bernostalgia bersamaku. Hehe." Ucapku sembari tersenyum riang. "Kamu tau semua tentangnya berarti, Na?" "Lumayan sih. Emang kalian mau tau apa tentang dia?" tanyaku heran. "Dia udah punya pacar belum?" begitulah Saras, ia selalu bertanya tentang pria yang tampan, berharap agar bisa ia ajak berkenalan. "Hmm kalau masalah itu, aku nggak tau, Sar. Aku sama dia kan udah 2 tahun lebih nggak ketemu." Ucapku seraya kembali melanjutkan membaca novel. "Semoga aja dia masih jomblo, siapa tau-" "Hush, dia itu sahabat aku tau, jangan pacarin dia ya." Ucapku. "Kamu kan sahabatnya, terus nanti aku pacarnya, hehe." Aku mentertawakan ucapan Saras, hingga ia merasa kalau aku sedang mengejeknya. Tring... Sebuah notif chat masuk dalam handphoneku. Na, aku lewat depan rumahmu, kelihatannya sepi ya. Kamu belum pulang. Tanpa berpikir panjang, aku langsung membalas pesan dari Arga. Bentar lagi aku pulang, Ga. Masih kumpul sama temenku disekolah. Aku senang, kini Arga telah kembali padaku. Yaudah, nanti pulangnya jangan lama-lama, hati-hati ya. Dalam hatiku ingin sekali berkata, iya, Ga, iya, abis ini aku pulang kok. Makasih ya, Ga. Tapi aku belum mempunyai keberanian semacam itu. Aku hanya mampu memendam hingga akhirnya, terkadang aku yang terluka. *** Salam kura-kura♥

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Perfect Revenge (Indonesia)

read
5.1K
bc

Marry The Devil Doctor (Indonesia)

read
1.2M
bc

My Sweet Enemy

read
49.1K
bc

Secret Marriage

read
949.4K
bc

Super Psycho Love (Bahasa Indonesia)

read
88.6K
bc

KISSES IN THE RAIN

read
58.1K
bc

Aksara untuk Elea (21+)

read
843.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook