Tidak Ada Alasan Untuk Tidak Memaafkan Brian

1219 Words
Bagian terpenting yang harus Brian lakukan saat ini adalah memberi kabar kepada Nina. Tadi, ketika di mini market, Brian yakin sekali jika Nina yang Brina panggil adalah perempuan yang ia temui di perpustakaan dan ia janjikan untuk bertemu dan mengobrol, tetapi Brian malah tidak datang. Saat ini, dirinya sudah berada di rumah kostnya dengan ponsel yang masih ia genggam yang menampilkan ruang obrolannya dengan Nina. Brian sudah bisa menebak jika perempuan itu setidaknya akan marah padanya, walau ia tidak menyangka jika baru malam ini Nina mengiriminya pesan. Padahal, bisa saja Nina mengiriminya pesan sejak tadi saat ia masih menunggu dirinya di selasar perpustakaan sehingga Brian pun tidak akan lupa jika ia ada janji dengan Nina. Ya, Brian benar-benar lupa jika dirinya memiliki janji dengan Nina. Laki-laki itu terlalu sibuk hari ini dengan segala praktik dan presentasi. Ditambah adiknya itu yang mengomel ingin diantar ke mini market, membuatnya tidak jadi mampir ke perpustakaan untuk mencari buku. Padahal, bisa saja ia ingat dengan janjinya pada Nina jika ia jadi ke perpustakaan. Namun, nyatanya ia baru ingat ketika Brina memanggil seseorang bernama Nina di mini market tadi. Brian memang tidak sempat bertanya pada Brina mengenai Nina. Dirinya masih ingin merahasiakan siapa Nina yang ia temui walau kemarin Brina sempat sangat penasaran jika Nina yang ia temui adalah teman baik dari adik kembarnya itu. Brian hanya mau ia berteman terlebih dahulu dengan Nina, sebelum akhirnya Brina tahu jika kakaknya itu juga berteman dengan teman dekatnya. Tidak ada tujuan khusus. Brian hanya ingin mencoba berteman dengan seorang perempuan yang menurutnya lucu. Bagaimana tidak, ada seorang mahasiswi yang mengajaknya berkenalan di perpustakaan dengan malu-malu, berbeda dengan mahasiswi-mahasiswi lain yang malah hobi sekali memanggil-manggil namanya saja dan tak jarang sering sekali membuatnya risih. *** "Nina!" Nina masih perlu mengatur napasnya. Tubuhnya mendadak gemetar dan keringat dingin mulai ia rasakan sebab menatap seorang laki-laki yang baru saja duduk di hadapannya. Laki-lali itu tersenyum dengan senyum yang selalu ia rindukan untuk dilihat setiap hari. "Ah ... K-Kak Brian," ucapnya kemudian dengan tergagap, berusaha memasang senyumnya yang senatural mungkin. "Maaf ya, kemarin aku lupa kalau ada janji sama kamu," kata Brian yang langsung meminta maaf perihal pertemuan kemarin yang ia tidak datang. Nina hanya mengangguk saja karena dirinya masih sangat terpesona dengan ketampanan laki-laki itu jika dilihat dari dekat. "Sampai jam lima sore ya kamu nungguin? Aku minta maaf banget ya, Na." Nina kembali mengangguk. "I-iya, Kak. Nggak papa. Aku udah biasa kok nungguin Kak Brian. Nggak papa. Bukan masalah hehe." Nina tidak sadar dengan ucapannya yang membuat Brian cukup bingung. Laki-laki itu mengangkat sedikit sebelah alisnya. "Maksud kamu? Udah biasa nungguin aku?" "Eh ... maksud aku, aku udah biasa nungguin seseorang, Kak." "Siapa? Aku?" "Hah?" Nina terlihat kelimpungan dan justru membuat Brian terkekeh karena merasa ekspresi perempuan yang ada di hadapannya itu cukup lucu. Mereka akhirnya bisa bertemu juga setelah drama menunggu sampai jam lima sore kemarin. Di tempat yang sama, di selasar perpustakaan, walau banyak orang yang memandanginya karen Brian terlihat duduk berhadapan dengan Nina, tetapi sejauh ini tidak ada yang sampai membuat mereka tidak nyaman. Satu-satunya hal yang mengganggu Nina adalah sejumlah kupu-kupu yang menggelitik jantungnya, membuatnya ingin tersenyum namun gugup di depan Brian. "Kamu sakit, Na?" "Hah?" "Kelihatan pucet gitu. Kamu berkeringat juga. Nggak papa?" tanya Brian untuk memastikan kondisi Nina. Ketika Brina sedang sakit atau masuk angin, wajahnya juga terlihat pucat dan terlihat berkeringat sama persis dengan Nina saat ini. Jadi, sangat wajar sekali jika Brian menanyakan hal tersebut karena ia khawatir juga jika memang saat ini kondisi Nina sedang kurang sehat. "Kamu mau aku antar ke klinik?" Nina langsung menggeleng. "Nggak perlu, Kak. Nggak perlu." Ucapannya lagi-lagi tergagap. Ia benar-benar kembali dibuat tidak berdaya oleh laki-laki itu, padahal Brian hanya menanyakan kondisi Nina dan menawarkan untuk mengantar dirinya ke klinik. "Kamu yakin, Na?" tanya Brian sekali lagi untuk memastikan. "Nggak papa?" "Kak ... sejujurnya aku gugup buat ngobrol sama Kak Brian." Brian hampir tersedak salivanya setelah mendengar penuturan dari Nina. Lucu sekali menurutnya. Bahkan ketika saat ini wajahnya yang tadi pucat berubah menjadi merah seperti udang rebus, membuat Brian semakin gemas saja pada perempuan yang ada di hadapannya. Brian pun terkekeh. Ia sama malunya jika dirinya bisa membuat Nina gugup sampai pucat seperti tadi. "Kamu ngapain gugup? Lucu." Dibilang lucu oleh Brian? Sungguh, Nina ingin pingsan saja sekarang. Tetapi, ia tidak mau membuat Brian hilang simpati padanya. Susah payah Nina terus mengontrol degub jantungnya agar kembali normal dan napasnya ia atur sedemikian rupa agar tidak lagi gugup, tetapi saat Brian menatapnya dengan senyuman justru membuat Nina semakin ambyar saja. "Na, kenapa?" Sudah tahu Nina sedang tergila-gila dengan dirinya, masih saja ditanya kenapa. Kalau boleh, Nina ingin menabok lengannya yang cukup berisi itu karena kesal, tetapi sekali lagi ia takut tidak kuat dan malah pingsan. "Na ... are you okay?" Nina menggeleng kuat-kuat. "Enggak okay, Kak. Aku pengen pingsan!" Ia berkata keras-keras dengan rengekannya. Ia benar-benar tidak peduli dengan orang-orang di sekitar yang menatap dirinya dan juga Brian. Jarang heran juga jika mereka sedang membicarakan Nina dan Brian terang-terangan karena siapa sih yang tidak mengenal Brian??? Wajah Brian mendadak lebih khawatir dan serius. Ia langsung berdiri dan menggenggam kedua tangan Nina. "Na, kamu kenapa? Ayo aku antar ke klinik!" Ia sudah berpindah ke sebelah Nina saja, bersiap-siap membantu perempuan itu berdiri. "Kak Brian, lepas!" Nina pun menepis kedua tangan Brian yang menggenggam tangannya. Ia benar-benar ingin pingsan sekarang. "Tapi tangan kamu dingin, keringetan." Nina tidak peduli. Dirinya sungguh sudah tidak kuat lagi mengobrol bersama dengan Brian. Ia pun langsung pergi dengan berlari menjauh dari Brian. Entah apa yang Nina pikirkan, jantungnya terlalu berdegub dengan kencang dan tubuhnya sangat gemetaran. Padahal, momen mengobrol dengan Brian adalah momen yang paling ia tunggu-tunggu sejak lama. Namun, sepertinya memang dirinya hanya ditakdirkan untuk mengagumi dari jauh saja tanpa perlu berkomunikasi secara langsung karena efek yang timbul pada dirinya seperti sebuah phobia. Nina sudah sampai di toilet. Ia menatap dirinya yang sedikit berantakan di depan cermin. Selanjutnya ia tersadar jika sikapnya begiru berlebihan. Tetapi, jujur saja ia tidak bisa mengontrol jantung dan perasaannya yang berantakan. Cepat-cepat, perempuan itu mencuci tangan dan wajahnya. Ia pun kembali menatap dirinya di depan cermin dan memukul ringan pipinya beberapa kali. "Bodoh lo, Nina. Harusnya lo nggak bersikap aneh kayak gini di depan Kak Brian. Kalo Kak Brian ill feel gimana? Kalo Kak Brian jadi takut sama lo gimana? Kok lo nyusahin diri sendiri banget sih!" Nina tidak henti-hentinya mengomel pada diri sendiri. Beruntung toilet sedang sepi, jadi ia tidak perlu sungkan dan malu pada siapapun. "Sekarang apa? Lo mau bilang apa ke Kak Brian tentang sikap lo yang aneh ini?!" Nina masih merutuki dirinya sendiri. Ia pun mengacak-acak rambutnya karena merasa sangat gagal dengan obrolan pertamanya dengan Brian setelah perkenalan kemarin. "Nina ... kamu di dalam?" Nina terkesiap. Matanya melotot menatap bayangan dirinya yang ada di cermin. Ia pun menahan napas dengan otomatis ketika mendengar pintu toilet yang diketuk dan sangat terdengar jelas suara Brian di baliknya. "Nina?" Sekali lagi ucapan itu terdengar. Nina menghirup dan mengembuskan napasnya sejenak untuk mengatur jantungnya. Selanjutnya ia mengambil sisir dari dalam tasnya dan mulai merapikan semuanya. "Nina? Kamu masih di dalam kan?" Teriakan itu terdengar dengan jelas, membuat Nina semakin gugup saja apalagi dirinya sedang buru-buru menyisir rambutnya. "Sebentar, Kak!" Akhirnya ia memutuskan untuk merespon Brian dengan teriakannya juga. "Aku tunggu di luar ya." "Iya, Kak!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD