"Kok ada sih manusia yang bodohhnya luar biasa kaya lo?!"
Brina tidak habis pikir dengan sang kakak. Ia sampai geleng-geleng kepala ketika mendengar penjelasan dari Brian mengenai dirinya yang bertemu dengan Nina di perpustakaan sore tadi. Tahu jika Brian sedang bersama dengan Nina, Brina tidak akan mengajak Brian untuk makan di kantin dan juga mengantarkannya pulang ke kost. Tetapi, semua sudah terlanjur dan sudah pasti ada sedikit rasa bersalah yang timbul karenanya.
"Terus, sekarang udah hubungin Nina?"
Brian menggeleng. "Belum. Kayaknya enggak bakal ngehubungin dia lagi deh. Karena tadi gue jadi ngerasa bersalah gitu nggak sih? Pas dia nyamperin lo pas kita di kantin, bahkan dia sama sekali nggak nyapa gue dan gue pun juga nggak nyapa dia. Padahal beberapa menit sebelumnya itu gue sempat ngobrol sama dia di perpustakaan."
Penuturan Brian hanya dihadiahi gelengan kepala oleh Brina. Perempuan itu juga sudah tidak tahu lagi mengapa kakaknya itu malah bersikap seperti itu. Padahal, Brian bisa saja menolaknya ketika ia bertemu Brian di depan perpustakaan. Tetapi, pasti ada alasan yang dibuat oleh Brian yaitu tentang hubungan pacaran pura-pura mereka. Mereka harus tetap terlihat harmonis ketika berada di muka umum, termasuk tadi sore di depan perpustakaan.
"Jahat lo. Pasti Nina kecewa sama lo. Lagian, lo itu yang ngajak buat temenan sama Nina, tapi lo sendiri yang bikin dia kecewa bahkan dua kali. Dan yang paling bikin gue kesel, lo rela ninggalin Nina cuma buat nganterin gue beli camilan di mini market kayak kemarin atau makan di kantin kayak tadi."
Jika dipikir-pikir memang benar sekali. Brian yang sudah mengajak Nina untuk berteman, ia yang meminta nomor ponsel Nina, ia yang menghubungi Nina dan meminta untuk bertemu dan mengobrol, tetapi dirinya lah yang juga membuat perempuan itu lama menunggu bahkan tidak hadir dan meninggalkannya.
"Kalau lo belum siap buat deket sama cewe lain, jangan ngasih harapan apalagi sama Nina. Lo tahu banyak cewe yang suka sama lo, dan Nina juga sama. Bahkan dia suka sama lo sejak tahun pertama. Tapi dia nggak pernah kecentilan sama cewe lain. Tapi setelah dua tahun, setelah dia bisa kenalan sama lo, malah lo yang bikin dia kecewa. Gue emang nggak tahu Nina bakal kecewa apa enggak. Tapi gue kecewa sama lo. Demi ego lo, lo bikin gue merasa bersalah sama Nina. Lo tahu nggak sih, Nina itu udah gue anggep kayak adek sendiri. Lo paham nggak?"
Brina terlalu kesal. Ia pun berbicara panjang lebar untuk mengomeli Brian. Selanjutnya, ia memilih masuk ke dalam kamar dan menutup pintu rapat-rapat, jangan sampai Brian masuk dan mereka harus mencari cara untuk keluar seperti kejadian kemarin.
Sementara Brian masih duduk terdiam di sofa. Ia tidak peduli dengan Brina yang mungkin saja juga kesal dengan dirinya. Ia lebih memikirkn bagaimana Nina sekarang. Ini memang salahnya. Sudah seharusnya ia tidak pergi begitu saja dan di kantin tadi seharusnya ia juga menyapa Nina. Namun, memang benar apa yang dikatakan Brina bahwa ia belum siap dekat dengan perempuan mana pun termasuk Nina. Walau ia merasakan ada hal yang lucu setiap kali ia menatap mata Nina, tetap saja ia belum bisa dekat dengan perempuan lain sepenuhnya tetapi ia tidak pernah berekspektasi jika sikapnya pada Nina akan membuat Brina dan juga Nina kecewa.
Sebenarnya Brian sedikit bingung. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi untuk melanjutkan semuanya. Ia terlalu sungkan untuk menghubungi Nina tetapi ia rasa memang perlu bagi dirinya untuk menghubungi Nina. Tapi tidak sekarang. Mungkin nanti ketika ia sudah sampai di rumah kostnya.
"Loh, kok Mas Brian di sini sendirian? Mbak Brina mana? Lagi marahan ya kok pintu kamarnya ditutup?" ucap seseorang penghuni kost yang hafal betul jika Brian sedang ada di sini tetapi Brina tidak ada dan pintu kamarnya tertutup, sudah pasti mereka berdua sedang ada masalah.
Brian tidak banyak menanggapi. Ia langsung bangkit dari duduknya. "Gue pamit pulang dulu ya," ucapnya sebelum akhirnya pergi dari rumah kost adiknya itu.
--
Sejujurnya, Brian sudah mulai tertarik dengan Nina sejak mereka bertemu di perpustakaan. Hanya saja, Brian masih enggan untuk menyadarinya walau ia seratus persen sadar akan hal ini. Brian masih tidak mau mendekati perempuan lain, dirinya masih nyaman dengan status yang orang-orang tahu bahwa ia adalah kekasih dari Brina. Padahal, Brina adalah adik kandungnya sendiri yang hanya beda beberapa menit lahirnya dari dirinya.Tetapi, rasanya sangat nyaman sekali menjalani hari-harinya dengan walau masih dengan kebohongan kepada publik. Menurut Brian, semua it tidak masalah asalkan dirinya tidak membuat orang lain merasa terganggu dan juga dirugikan. Makanya, selama lebih dari tiga tahun ini, orang-orang memandang Brian dan Brina adalah sepasang kekasih yang sangat cocok sekali, jarang bertengkar dan bahkan dinilai mirip dan digadang-gadang mereka adalah jodoh.
Brian jadi berpikir, apakah ini sudah saatnya bagi dirinya untuk kembali terbuka kepada perempuan terkhususnya Nina. Ketika mereka mengobrol singkat tadi, memang ada sesuatu yang aneh pada Nina. Perempuan itu jelas nampak tidak nyaman ketika mengobrol dengannya. Brina tidak tahu kenapa tetapi nampak sebuah keringat juga bercucuran di pelipis Nina. Ketika laki-laki itu bertanya pada Nina apakah dia sedang sakit, katanya pun tidak. Lantas, apakah Nina memang tidak suka mengobrol dengannya atau memang jika Brian boleh terlalu percaya diri, mungkin N9na terlalu gugup ketika mengobrol dengan dirinya seperti apa yang dikatakan Nina?
Brian dibuat senyum-senyum sendiri sambil memandangi langit-langit kamarnya. Nina itu lucu sekali. Sepertinya memang dirinya harus semakin dekat dengan Nina dan ia tidak boleh menunda-nundanya apalagi pergi meninggalkan Nina seperti tadi ketika Nina masih berada di toilet. Sekarang, yang ia butuhkan hanyalah menghubungi Nina dan meminta maaf untuk kesekian kalinya karena membuat Nina kecewa apalagi ia yang sama sekali tidak menyapa Nina ketika ada di kantin bersama dengan Brina. Laki-laki itu semakin bersalah saja ketika mengingat hal itu padahal kedua bola mata mereka tadi sempat saling menatap untuk sepersekian detik.
Brian pun bangkit dari rebahannya. Ia mengambil ponselnya yang ada di atas nakas untuk segera menghubungi Nina. Namun, niatnya terhenti ketika ia berpikir lagi, apakah terlalu cepat bagi dirinya untuk ingin akrab dengan Nina? Walau sah-sah saja jika dirinya akan dekat dengan Nina, tetapi ia kembali berpikir bahwa orang-orang terlanjut tahu jika ia dan Brina adalah sepasang kekasih yang sangat serasi. Brian berpikir, jika ia terlalu cepat akrab dengan Nina, Brian takut jika Nina akan kena nampaknya. Tahu sendiri jika Nina juga sahabat dari Brina, Brian takut pandangan orang-orang pada Nina akan menjadi buruk.