Part 2

1148 Words
Pukul setengah satu siang Mira keluar dari kosannya. Ia berpamitan kepada Nisa dan juga ARTnya Bu Santi yang bernama Bi Ida dan Mang Adang. Tak lupa ia berikan kunci kamar kos no 9 yang ia huni hampir 5 tahun lamanya. "Nisa, teteh berangkat ya. Itu sudah ditunggu tukang ojeg," Mira memeluk sahabatnya. "Hati-hati di jalan ya Teh, salam buat Umi dan Abah." Ada perasaan sedih di wajah Nisa. "Kita masih komunikasi kan. SMS, telepon, Ada Video Call atau chat aja. Jangan sedih gitu dong. Terharu....Teteh doain kamu cepet lulus kuliahnya ya." Mira lalu melepaskan pelukannya. "Assalamualaikum" "Waalaikumsalam" Keduanya pun berpisah. Bersama tukang ojeg Mira meninggalkan Nisa yang masih berdiri di pintu gerbang rumah Bu Santi. ***** Di terminal Bogor Mira naik Bis menuju Bandung tepatnya terminal Leuwi Panjang. Sejak tadi ia sudah menelpon Bu Sari ibunya minta dijemput di terminal tersebut. Diperkirakan ia akan tiba di Bandung pukul 5 sore. Sepanjang jalan ia tertidur sambil masang headset di telinganya. Kebetulan bis yang ditumpanginya tidak begitu penuh jadi ia duduk sendirian. Tiba di daerah Cikampek bis yang ditumpanginya berhenti. Mira terbangun dan langsung mengecek smartphone nya. Ada pesan di WA dari Umi Cantik "Neng, nanti yang jemput kang Lutfi ya. Si Abah sama mang Pipin barusan ada urusan mendadak ke Pangalengan.hati-hati di jln" Kaget. Kaget teramat sangat membaca pesan Uminya. Ya Allah kenapa harus dia sih. Duh...Umi main perintah aja. Mira tidak mengharapkan dijemput oleh dokter hewan itu namun apa boleh buat. Hari sudah terlalu sore jika ia naik kendaraan umum. Bahkan untuk taksi sekalipun ia tak berminat. Takut terjadi sesuatu. Padahal jarak dari terminal ke kampungnya cukup jauh. Ya udah sekali ini mah dijemput si dokter sapi itu engga apa-apa. Batinnya berusaha menerima. 10 menit kemudian Bis melaju lagi di jalan tol Cipularang. Kali ini Mira tidak bisa memejamkan matanya. Ia sangat gelisah karena sebentar lagi ia akan bertemu dokter Lutfi. Dokter hewan pribadi Abahnya yang biasa memeriksa semua sapi peliharaannya. 2 jam kemudian telah tiba di Padalarang. Suara HP nya berbunyi. Kang Lutfi... Ia mengangkat panggilan dari laki-laki yang akan menjemputnya. "Assalamualaikum" Mira menjawab panggilan itu. "Waalaikumsalam Neng Mira sudah nyampe mana? Akang sudah ada di Terminal." Mendengar suara laki-laki itu Mira berasa ingin muntah. Sebenarnya dia lumayan ganteng dan pintar boleh dibilang jadi rebutan gadis-gadis di kampungnya. Tapi sikapnya itu nyebelin banget. "Iya kang Mira baru nyampe tol Padalarang." Dengan nada ketus ia menjawab. "Nanti kalau sudah sampai terminal kabari akang ya. Neng hati-hati di jalan ya!" Orang yang menelpon berkata penuh perhatian. "Iya " Tiba-tiba ponsel disana dimatikan. Mira menarik nafas panjang. Bagi Mira sosok dokter Hewan bernama Lutfi itu adalah pengganggu nomor satu. Bayangkan saja sudah dua tahun sejak lamarannya ditolak, ia masih saja mengejar, mengharap dan terus mengiba. Tidak punya harga diri. Padahal berulang kali juga Mira menolaknya. Namun laki-laki itu tak pernah lelah untuk mencintainya. Umi dan Abah terus membujuk agar Mira menyerah saja dan mau menerima dokter Lutfi. "Cinta mah nanti juga nyusul". Kata Umi. Tidak...Mira tidak ingin memberikan cinta karena kasihan. Memang terkesan egois. "Ingat kamu ga boleh benci-benci amat nanti jadi cinta lho" Ucapan teman-teman kampusnya yang itu selalu diingatnya. Makanya ia bersikap manis walau dipaksakan dan ga ikhlas. **** Akhirnya Mira tiba di Terminal Leuwi Panjang Bandung. Tepat jam 5 sore seperti perkiraannya. Seperti janjinya tadi ia lalu mengambil posisi Smartphone nya dan langsung mengirim pesan WA kepada dokter Lutfi Saya sudah nyampe. 17.10 Alhamdulillah.Iya neng akang tunggu di jalur.17.11 Benar saja saat bis berhenti di jalur lintasan Bogor. dokter Lutfi sudah ada di sana dan langsung memburu bis yang ditumpangi Mira. "Neng apa kabar? Mana barang-barangnya biar akang yang bawain" Dokter Lutfi mendekati Mira untuk membantunya. Penuh perhatian. Wajah gantengnya tampak bercahaya. Efek bertemu sang pujaan hati yang selalu dirindukannya. "Udah dikirim lewat kurir". Jawabnya singkat tanpa memandangnya. "Oh..." Dokter Lutfi ber oh ria. Mereka berdua lalu berjalan menuju parkiran yang terletak di bagian depan bangunan gedung terminal. Keduanya sama sekali tidak bicara. Tiba di parkiran Dokter Lutfi membukakan pintu mobilnya untuk Mira. "Silahkan masuk Neng, oh iya ini mobil baru akang." Ia berkata setelah Mira masuk sambil menutup pintu mobil. Kemudian setengah berlari ia duduk di belakang kemudi. Mira yang mendengarnya sebal sambil menggelengkan kepalanya Mulai kumat deh penyakitnya. Penyakit sok pamernya. Emang saya pikirin...mau baru mau enggak itu mah bukan urusan saya Mira tak menanggapinya Setelah keluar dari kawasan terminal mobil Honda CRV berwarna hitam itu melaju perlahan karena jalanan sedikit macet. " Neng Mira makin cantik aja." Dokter hewan itu kembali memecah suasana hening di dalam mobilnya. Mira tak menjawab hanya tersenyum. Senyum Sebenarnya senyum yang dipaksakan. Iya kembali mengingat tips tips menghadapi laki-laki sejenis Lutfi yang diberikan oleh teman kampusnya. Jangan terlalu jutek karena nanti malah makin ngejar dan terobsesi. Mira juga ga mau jadi korban seperti di berita-berita kriminal. Ia juga jangan terlalu lebay meresponnya karena nanti dia kegeeran. "Neng Mira udah makan apa belum? Kalau belum kita nyari resto dulu yuk..." Sadar Mira sedikit berkata kata Lutfi terus aktif mengajak Mira bicara. "Punten Kang, tapi saya teh sudah kenyang. Tadi di bis makan roti. " Mira menolak dan beralasan. Padahal ia tengah berbohong. "Ya sudah kita langsung pulang saja." Ada nada kecewa dari ucapannya. Padahal makan bareng itu adalah hal istimewa untuknya. "Iya kang, biar tidak kemalaman, pasti Umi sudah menunggu." Mira kembali beralasan. "Oh iya kamu pakai sepatu yang akang kasih ya?" sejak awal bertemu tadi Dokter itu memperhatikan penampilan Mira dari ujung kaki sampai ujung rambut. Diam-diam  tentunya. Betapa riangnya saat melihat sepatu yang diberikan sebagai hadiah ulang tahun Mira yang ke 22 itu dipakai oleh pujaan hatinya. "Iya.." jawaban pendek dari Mira. Sepatu itu memang baru kali ini dipakai olehnya. Semua gara-gara kejadian tadi siang setelah semua pakaian dan sepatunya di pak dan diambil kurir, tanpa sengaja siang itu sandal yang akan dikenakannya malah putus. Duh...Apesnya. mau mampir ke toko sepatu sepertinya tidak mungkin makanya ia pakai sepatu warna abu itu. Padahal sepatu itu mau diberikan kepada temannya Nisa. Ukurannya kan 37 mana mungkin muat buat Nisa yang memakai size 39. Ya sudah mau dilelang saja barangkali ada yang minat. Niatnya batal karena mau tidak mau ,cuma sepatu itu yang tersisa dan jadilah Mira memakai sepatu pemberian dokter hewan yang naksir berat padanya. "Kelihatannya bagus dan pas," senyuman mengembang di bibirnya. Suasana kembali hening. Pukul 18.30 mobil yang ditumpangi baru sampai jln Setiabudhi. Perjalanan masih sekitar satu jam lagi. "Neng solat dulu yuk..." Ajak Lutfi "Lagi ga solat kang." jawab Mira "Anter akang aja ya, akang solat di mesjid UPI." sampai di sebuah kampus UPI laki-laki berkacamata itu memarkir mobilnya. Ia meninggalkan Mira sendiri di dalam mobilnya. 15 menit kemudian ia kembali lagi ke parkiran dan menemukan Mira yang masih duduk dan asyik memegang Smartphone bersosmed ria. Perjalanan berlanjut dan sekitar pukul 8 malam keduanya tiba di sebuah kampung yang sejuk,hijau dan asri. jauh dari keramaian kota. sayangnya karena hari sudah malam pemandangan itu tidak tampak. *** TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD