Larangan

1106 Words
Setelah mengantar mamanya Levin dari rumah sakit. Resya masih merasa belum tenang. Perkataan Levin seolah menjadi teka-teki bagi Resya. Gadis itu masih tidak percaya apa yang dikatakan Levin tentang kecelakaan yang menimpanya. Memang waktu itu Restya melihat seseorang yang sengaja memancingnya di jalan saat Resya dalam perjalanan pulang. Namun, Resya pikir hal itu adalah murni orang iseng di jalan yang mengajaknya balapan. “Enggak mungkin, Om Levin pasti bohong.” Resya masih tidak percaya. Ia berusaha membuat pikirannya tenang dan tidak berpikir aneh-aneh. Resya memilih duduk di teras, sedangkan Levin menemani mamanya di dalam kamar setelah pulang dari rumah sakit. Wanita terlihat lebih tenang dan bahagia saat anak lelakinya menghabiskan waktu lebih banyak untuknya. Ada rasa tenang saat melihat Levin di dekatnya. Levin merapikan selimutnya dan memberi kode pada penjaga mamanya untuk sementara menunggu keluar. Levin ingin menemani mamanya hingga terelelap tidur. Wanita itu sangat berarti bagi Levin. Tidak peduli betapa buruknya tabiatnya di masa lalu, wanita itulah yang telah melahirkannya ke duni. Sudah menjadi kewajiban Levin untuk tetap mengurusnya dan menghormati mamanya dalam keadaan mana pun. “Ma, istirahatlah. Levin akan menunggu Mama di sini.” Pemuda itu tersenyum. Mamanya tersenyum kecil. Wanita itu tidak banyak berkata, melihat Levin di dekatnya saja sudah merasa tenang. Efek obat yang diberikan oleh dokter membuat mamanya Levin bisa sedikit lebih tenang. “Mama tidak perlu dengan keadaanku. Aku bisa jaga diri. Mama tidak usah berpikir aneh-aneh. Jaga kesehatan Mama.” Levin kembali menasihati mamanya. Ia tahu kondisi mamanya memang sedang tidak stabil karena kemunculan orang asing, tetapi Levin berusaha menenangkannya agar tidak membuat mamanya lebih paranoid lagi. Dokter telah berpesan pada Levin agar selalu menanamkan kebahagiaan dan merasa nyaman kepada mamanya agar tidak terlalu takut terlebih. Apa lagi mamanya Levin mempunyai memori buruk yang membuatnya selalu merasa bersalah jika mengingatnya. Kebenciannya di masa lalu pun turut membuat mamanya Levin akan meledak-ledak jika bersinggungan dengan semuanya. Oleh karena itu mamanya Levin tidak bisa sembarangan bertemu orang luar. Efeknya akan terasa parah seperti yang pernah Resya alami saat pertama bertemu dengan mamanya Levin. “Vin, kamu sudah bertemu dengan papamu?” Tiba-tiba mamanya Levin bertanya. “Belum, Ma. Levin tidak sempat. Bukannya Papa sudah hidup dengan keluarga barunya ke Singapura?” “Mama melihatnya kemarin. Dia ada di rumah sakit. Mama takut dia akan mengambilmu.” Mamanya Levin memegang tangan anaknya. Wajahnya terlihat ketakutan saat mengingat wajah mantan suaminya. “Ma ... Papa ada di Singapura. Mama jangan berlebihan. Aku juga tidak akan mau jika Papa mengajakku pergi.” Levin terdengar begitu membenci ayahnya. Selama ini lelaki itu tidak pernah peduli dengan keadaan Levin. Meskipun secara finansial papanya Levin masih membiayai sekolahnya waktu itu. Akan tetapi tidak membuat Levin peduli dengan sosok ayahnya. Ia tetap begitu membencinya saat sang papa memutuskan meninggalkan Levin dan mamanya. “Mama kenapa ingat Papa? Bukankah lelaki itu sudah menyakiti Mama?” Mamanya Levin terdiam. Wanita it seperti menyembunyikan rahasia besar yang tidak Levin ketahui. Persoalan masa lalu yang membuat papanya Levin begitu marah kepadanya dan membuat mamanya Levin terjebak dengan perasaan bersalah. Rasa kebencian yang besar pun masih saja memenuhi hatinya. Pertemuannya dengan Resya waktu itu membuat mamanya Levin mengingat sedikit demi sedikit rasa sakit hati dan kebenciannya. “Kamu jangan pernah bawa lagi gadis itu kemari. Mama tidak menyukainya!” “Siapa, Ma?” Levin masih bingung ke mana arah pembicaraannya yang berganti-ganti. Ia mencoba memahami mamanya terlebih dahulu agar membuat wanita itu sedikit lebih tenang. Mamanya Levin terdiam. Ia tidak ingin menyebut nama wanita yang telah membuatnya begitu benci. Nasya adalah wanita yang paling tidak disukai Sila. Mamanya Levin masih mempunyai dendam yang belum tuntas karena kisah percintaan mereka. Ia masih begitu membenci Nasya sampai sekarang. Padahal ia juga termasuk salah satu orang yang ikut andil dalam kejadian kecelakaan yang terjadi beberapa puluh tahu yang lalu. Bahkan Sila masih teringat dan merasa bersalah hingga kebenciannya kepada Nasya tidak bisa hilang begitu saja. Karena menurut Sila, Nasya lah yang menyebabkan ia melakukan semua itu. “Pokoknya Mama tidak ingin kamu berhubungan lagi dengan yang namanya Resya!” Levin semakin bingung. Padahal gadis yang menginap di rumahnya adalah Resya dengan versi yang berbeda. Levin bisa pastikan mamanya akan sangat marah jika tahu hal itu. “Kenapa, Ma? Ada yang salah dengan Resya?” “Pokoknya tidak boleh!” Mamanya Levin meninggikan suaranya. Mengingat wajah Resya membuatnya mengingat Nasya yang amat dibencinya. Levin tidak percaya melihat ekspresi mamanya yang benar-benar membenci Resya. Ia berpikir apa ada hubungannya dengan sang papa hingga membuat mamanya sangat tidak menyukai Resya. Padahal jelas-jelas Levin tahu jika papanya menikah dengan orang luar. Dan bisa dipastikan tidak ada hubungannya dengan Resya dan keluarganya. “Kamu ingat pesan mama! Jangan pernah kamu bawa gadis itu lagi. Apa lagi sampai kamu mengenal keluarganya!” Levin langsung tertampar. Selama ini dirinya malah bekerja sebagai pengawal Resya. Bagaimana jika mamanya suatu saat tahu jika uang untuk membiayai pengobatannya adalah berasal dari keluarga Resya. Levin semakin bingung dengan sikap mamanya. Ia juga tidak tahu masa lalu apa yang membuat mamanya begitu benci kepada Resya dan keluarganya. Tidak ada petunjuk apa pun yang ia dapat untuk mengetahuinya. “Ma, istirahatlah, jangan terlalu memikirkan hal yang tidak penting.” Levin kembali menenangkan mamanya. Ia tidak mau mamanya semakin emosi jika Levin terus bertanya dan mengimbangi pembicaraan mamanya. “Vin ... pokoknya jangan sampai kamu dekat dengan mereka.” “Ma ... ayolah Levin mohon, istirahatlah, Levin tidak mengenal siapa mereka.”Akhirnya Levin berbohong untuk membuat mamanya tenang. Setidaknya masalah nanti Levin akan mengatasinya. Untuk sementara Levin belum mempunyai pekerjaan lainnya selain hanya mengandalkan tabungan miliknya. Ia masih butuh pekerjaan untuk menopang pengobatan mamanya ke depan. Apa lagi mencari pekerjaan sangat susah. Levin tidak mungkin berhenti dari pekerjaanya. Ia hanya bisa berbohong agar membuat mamanya sedikit lebih tenang. Setelah Levin merendahkan suaranya dan mau mengalah, akhirnya mamanya Levin berubah lebih tenang dan perlahan wanita itu mulai terlelap tidur karena efek obat yang mulai bereaksi. Perkataan sang mama justru membuat Levin semakin berpikir keras. Ia menyimpulkan jika mamanya mengenal keluarga Resya dengan baik. Seperti ada masalah masa lalu yang belum selesai. Levin sendiri tidak tahu masalah apa itu. Karena setahu Levin kondisi jiwa mamanya tidak stabil karena perlakuan papanya yang sering kasar. Namun, ternyata Levin salah. Ada hal lain yang membuat mamanya seperti itu dan Levin akan mencari tahu. Bunyi deritan pintu membuat Levin langsung menoleh. Ia melihat ada sekelabat bayangan yang pergi. Sepertinya ada yang mendengarkan pembicaraannya dengan Sila. Setelah melihat mamanya tertidur, Levin segera beranjak dan mencari keberadaan Resya. Ia yakin jika yang berada di balik pintu adalah Resya. Setidaknya ia harus menuntaskan rasa penasarannya dan bertanya dengan Resya maksud gadis itu sebenarnya masuk ke dalam keluarganya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD