Levin melihat Resya baru saja duduk. Pemuda itu yakin jika Resya yang barusan mendengar pembicaraannya dengan sang mama. Butuh trik khusus untuk membuat Resya mau mengaku. Pasalnya Levin tidak bisa bertahan lama jika berhadapan dengan Resya. Gadis itu selalu membuat runtuh pertahanan hati Levin. Segala rengekan manjanya membuat Levin tidak bisa lama-lama jika berada di depan Resya.
Satu kali tarikan Levin membuang napasnya. Ia melirik Resya yang tersenyum melihat ponselnya. Levin mengintip apa yang sedang Resya lakukan. Ternyata gadis itu tengah berkirim pesan dengan temannya. Sesuai tebakan Levin, ternyata Resya berkirim pesan dengan Zidan. Lelaki yang pernah Levin temui waktu itu.
“Om Levin ngapain ngintip?” Resya baru sadar jika Levin berada di sampingnya dan mengintip obrolannya bersama Zidan.
Levin langsung bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Ia memalingkan muka seolah tidak membaca percakapan antara Resya dan Zidan.
“Om! Enggak usah pura-pura!” Resya menyenggol lengan Levin. Ia tahu jika bodyguard-nya itu hanya berpura-pura.
Levin berdiri dan kembali memasang sikap serius. Ia teringat dengan tujuan awalnya menemui Resya di depan.
“Om Levin kenapa?” Resya merasa aneh.
“Apa yang kamu dengar tadi?”
Resya semakin tidak mengerti. Pasalnya, Resya tidak mendengar apa pun dan dirinya berada di teras sejak Levin dan mamanya masuk ke dalam kamar. Resya asik berkirim pesan dengan Zidan soal sasana yang begitu sepi tanpa kehadiran gadis tomboy tersebut. Resya menjadi semakin ge er saat Zidan mengatakan kerinduannya saat latihan bersama Resya.
“Aku dari tadi di sini. Emangnya ada apa? Apa Tante ngamuk lagi?”
Levin diam memikirkan perkataan Resya. Tidak ada orang lain selain Resya yang berada di rumahnya. Penjaga mamanya juga tidak ada kepentingan dengan urusan mereka. Levin mulai berpikir apa Resya tengah berbohong kepadanya?
“Apa tujuanmu datang kemari?” Levin langsung bertanya tanpa basa-basi lagi.
“Aku ... aku ....” Resya mulai salah tingkah. Ia bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan Levin. Tiba-tiba saja Levin berubah begitu serius. Sedangkan tujuannya mengikuti Levin memang penasaran dengan apa yang terjadi dengan mamanya Levin
“Kalau kamu ke sini hanya ingin mencari informasi tentang Mama, lupakan! Kamu lebih baik pulang!” Levin menarik tangan Resya hingga gadis itu terkejut dengan sikap kasar Levin. Meskipun seringkali dingin, Levin tidak pernah sekasar itu.
“Om Levin kenapa, sih? Aku ke sini hanya ingin mengetahui keadaan Tante, enggak lebih.”
“Rasa keingintahuanmu percuma. Mama dan aku tidak akan terkecoh!” Levin masih tidak peduli dengan penjelasan Resya. Gadis itu merengek pun tidak mengubah pendirian Levin.
Pemuda itu masih menarik tangan Resya masuk ke dalam kamar. Levin menutup pintu kamar agar suara keributan mereka tidak terdengar.
“Rapikan pakaianmu! Aku akan mengantarmu pulang!”
“Tapi, Om.”
“Rapikan! Aku tetap akan menuntaskan kewajiban untuk menjagamu. Besok aku akan kembali.” Levin masih bersikap datar.Ia membutuhkan pekerjaan untuk membiayai pengobatan mamanya sebelum mendapatkan pekerjaan baru.
Resya memilih mengalah dan mengambil tasnya. Gadis itu tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Tiba-tiba saja perilakunya kasar dan memaksa pulang. Padahal Resya sudah mulai nyaman tinggal di rumah Levin. Mamanya Levin sudah mulai akrab dengannya. Resya tidak perlu takut lagi jika suatu ketika mamanya Levin marah dan histeris melihatnya. Tampilan Resya yang baru membuat wanita itu sama sekali tidak mengenalnya. Tinggal selangkah lagi Resya akan mengetahui alasan mamanya Levin begitu membencinya, tetapi Levin malah menyuruhnya pulang.
“Om, aku tidak ada maksud apa pun. Aku hanya ingin tahu kenapa Tante begitu histeris melihatku. Itu saja. Dan setelah mengenal Tante, aku merasa ....” Resya kembali duduk di tepi Ranjang.
Sementara Levin masih berdiri menyilangkan tangan. Ia melihat Resya tajam dan belum bisa berpikir jernih. Dalam bayangannya hanya ada ancaman bahaya yang mengikuti mamanya. Apa lagi kebencian mamanya begitu besar terhadap Resya dan keluarganya. Ia berpikir jika Resya mempunyai maksud lain dari kedatangannya. Levin sama sekali tidak tahu hal yang membuat mamanya begitu membenci keluarga Nasya. Namun, Levin kembali berpikir. Harusnya ia akan mendapatkan informasi lebih jelas jika dirinya masih tetap bekerja dengan keluarga Nasya dan berusaha bersikap baik-baik saja. Setidaknya tidak akan membuat mereka curiga selagi tidak tahu asal-asul keluarga Levin.
“Kenapa Nona Bos bertanya? Harusnya Nona bos sudah tahu kenapa Mama begitu membencimu.”
“Om, kalau aku tahu, kenapa juga aku berada di sini?”
“Setidaknya kamu bisa mendapat jawaban saat kamu mendengar pembicaraanku bersama Mama di kamar.” Levin masih tidak mau berbasa-basi dan berbaik hati.
“Maksud Om? Aku nguping? Aku ngintip?” Resya tidak percaya apa yang dikatakan Levin. “Sejak kapan aku berubah jadi tukang nguping?”
“Sejak kamu penasaran dengan Mama.”
“Om, aku masih punya etika, ya. Lagian dari tadi aku duduk di depan balas pesannya Zidan. Enggak penting banget nguping pembicaraan orang.” Resya menjelaskannya. Ia merasa tidak mendengar percakapan apa pun yang dimaksud Levin. Ia juga merasa Levin sangat berubah seperti ada kebencian tersendiri yang membuatnya bersikap kasar kepada Resya.
Levin mulai berpikir. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Resya. Hal itu seperti mustahil karena jelas-jelas Levin melihat bayangan orang di balik pintu tengah mendengar pembicaraannya dengan sang mama. Satu hal yang Levin masih yakini jika Resya berkata bohong. Tidak ada orang lain selain Resya dan Levin tidak pernah salah melihatnya.
Bunyi ponsel Resya memecah keheningan. Tiba-tiba saja Nasya menelepon Resya. Gadis itu mengalihkan perhatiannya dan langsung mengangkat telepon. Sementara Levin masih berdiri mengamati gerak-gerik Resya.
Gadis itu terlihat sangat terkejut mendengar perkataan sang mami dari ujung telepon. Resya tidak menyangka hal buruk telah terjadi. Bahkan gadis itu terlihat sangat sedih dan tanpa sengaja menjatuhkan ponselnya karena syok.
Persendiannya terasa lemah dan Resya duduk tidak berdaya mendengar kabar buruk dari Nasya.
“Oma ....”
Levin langsung mengambil ponsel Resya yang masih tersambung dengan Nasya. Pemuda itu menjelaskan jika Resya terlihat syok dan menanyakan apa yang terjadi. Levin juga sama terkejut dengan Resya. Ia langsung menutup teleponnya dan duduk di samping Resya. Ia tahu apa yang dirasakan Resya. Gadis itu pasti sangat bersedih. Levin menaruh ponsel Resya dan berusaha menghilangkan pikiran buruk yang masih muncul begitu saja. Setidaknya ia masih memiliki sisi kemanusiaan saat melihat Resya bersedih.
“Nona Bos bersiaplah. Aku akan mengantarmu pulang.”
“Om, Oma, Om ....” Resya malah terisak. Gadis itu benar-benar merasa kehilangan. Ia merasa menjadi cucu yang bodoh karena pergi meninggalkannya dalam keadaan kurang sehat dan tidak menjaga neneknya dengan baik.
Levin merasa aneh saat Resya menangis dalam pelukannya. Levin merasa bingung saat gadis itu mendekat. Tidak mungkin Levin melepas pelukannya begitu saja dalam kondisi bersedih. Tangannya masih terasa kaku antara mengusap kepalanya atau membiarkan Resya begitu saja. Setidaknya ia harus menghibur Resya sebagai bentuk dukungan. Mungkin Levin memang harus membuang rasa curiganya terlebih dahulu. Kematian Reni membuat Levin semakin merasa apa yang terjadi seolah janggal. Instingnya mengatakan hal yang sangat tidak wajar telah terjadi. Ia berusaha mengaitkan apa yang terjadi, tetapi Levin buru-buru menghilangkan pikiran tidak jelasnya tanpa bukti. Soal bayangan yang melihatnya bersama mama begitu terbayang. Levin seolah bayang-bayang itu merupakan kunci dengan apa yang semuanya terjadi. Jika bukan Resya, siapa bayangan itu? Apakah hanya ilusi Levin saat mendengar perkataan mamanya atau memang nyata ada yang tengah mengawasinya dan Resya.