Tiba di rumah duka, Resya langsung masuk menerjang kerumunan. Ia masih tidak percaya jika kematian neneknya begitu cepat. Wanita baya yang selalu memanjakannya dan selalu membelanya saat berbuat ulah harus meninggalkan Resya selamanya.
Melihat Resya yang berduka dan sedih membuat Levin memutuskan untuk segera mengantar Resya ke rumah Reni. Ia tidak tega melihat Resya yang terisak dalam pelukannya. Sebelum pergi Levin berpesan kepada perawat yang menjaga mamanya jika Levin kembali bekerja. Dan ia harus menjaga mamanya dengan baik dan jangan membiarkan orang asing masuk ke dalam rumah. Levin merasa situasi mulai tidak aman. Terlalu banyak misteri yang belum Levin ketahui kejelasannya. Rencananya pemuda itu akan pidah tempat tinggal setelah menemukan tempat yang aman untuk Sila sembari bekerja mengawasi Resya. Setidaknya untuk sementara Levin hanya bisa mengandalkan perawat yang menjaga mamanya.
“Mi, Oma, Mi ....” Resya langsung memeluk Nasya saat bertemu dengan maminya. Gadis itu tidak bisa lagi membendung tangisnya. Beberapa pelayat berdatangan ke rumah duka dan mengucapkan bela sungkawa.
Kematian yang begitu mendadak membuat beberapa orang masih tidak percaya. Sementara para pembantu juga masih terlihat sangat syok. Mereka seperti ketakutan dan tidak mengira jika majikannya meninggal begitu cepat.
Pagi hari Reni masih terlihat sehat. Saat itu Nasya juga sempat berkunjung. Mereka makan siang bersama dan semua terlihat baik-baik saja. Setelah Nasya pergi karena mendapat panggilan dari kantor. Reni segera masuk ke dalam kamar dan perawatnya juga telah memastikan Reni telah minum obat sesuai waktu yang ditentukan. Namun, saat para pembantu merapikan meja makan terdengar gelas terjatuh dari dalam kamar dan seketika Reni meninggal dunia. Mereka panik dan langsung menelepon Nasya. Kebetulan juga saat itu Vano datang bersama Nasya dan ikut membantu mengurus pemakaman wanita yang hampir pernah menjadi mertuanya.
“Biarkan Oma tenang. Mungkin memang sudah waktunya Oma dipanggil oleh Tuhan.” Nasya menenangkan putrinya. Dalam hati, Nasya sangat merasa kehilangan. Wanita itu sudah dianggap Nasya seperti ibu kandungnya sendiri. Wanita itu yang mau menerima dirinya dengan segala kekurangannya untuk bersanding dengan Rendra. Wanita yang begitu baik dan tetap menganggapnya sebagai anak meskipun saat Rendra tidak ada.
Bahkan Reni lebih membela Nasya dari pada Stevi saat anak perempuannya menyalahkan kegagalan pernikahannya karena kehadiran Nasya di antara hubungan Stevi dengan Vano. Hal yang tidak akan pernah Nasya lupakan. Stevi begitu marah kepadanya. Padahal Nasya sama sekali tidak pernah ikut campur dalam hubungan Stevi dan Vano. Nasya lebih memilih fokus membesarkan Resya meskipun sampai sekarang Vano masih mengejar-ngejarnya. Namun, Nasya sama sekali tidak peduli. Kehadiran Resya sudah lebih dari cukup daripada harus memikirkan untuk memiliki pasangan kembali di saat usia tidak lagi muda.
“Mi, Tante Stevi udah tahu?” Resya mengusap air matanya. Ia beralih melihat tubuh Reni yang terbujur kaku tertutup kain. Wajahnya terlihat bersedih seperti ada hal yang menjadi beban hatinya sebelum meninggal.
“Barusan Om Vano menelponnya dan memintanya pulang. Setidaknya Kita akan makamkan Oma terlebih dahulu.”
“Om Vano? Kenapa harus dia? Kenapa bukan Mami?” Resya melirik keberadaan Vano yang menyambut kedatangan pelayat. Bersikap seolah menjadi perwakilan pihak keluarga. Resya sangat tidak suka melihatnya. Wajahnya terlihat penuh kepalsuan, bahkan Resya berniat ingin segera mengusir lelaki itu dari kediaman neneknya.
“Sya-sya. Jangan berbuat ulah. Kita sedang berduka, biarkan Om Vano memberi penghormatan terakhirnya kepada Oma sebagai bentuk penyesalannya.”
“Mi ...”
“Resya!” Nasya melotot. Ia tidak ingin Resya membuat ricuh keadaan. Ia memanggil Levin untuk tetap menjaga Resya agar tidak berbuat onar. Sementara Nasya mengurus pemberangkatan jenazah ke pemakaman sebentar lagi.
Gadis itu hanya bisa menahan kesal. Jika bukan karena melihat neneknya terbujur kaku, ia pasti sudah mengusir Vano dari hadapannya. Kebenciannya begitu besar dan Resya sendiri tidak tahu sebegitu bencinya dirinya saat melihat Vano.
Levin duduk di samping Resya dan mengawasi gerak-gerik gadis tersebut. Beberapa pelayat pun menyempatkan membaca doa sebelum jenazah dimakamkan. Sementara Resya masih duduk di samping mayat Reni dan tak hentinya mengucap doa agar neneknya tenang di alam yang berbeda. Ia tidak akan lagi bisa bertemu dengan sang nenek. Tidak ada lagi yang akan membelanya saat berbuat onar, tidak ada lagi yang memanjakannya, wanita baya itu telah menutup mata selamanya dan tidak akan kembali lagi.
“Oma, kalau ketemu Papi jangan lupa sampaikan salam rindu Resya. Kita memang tidak pernah bertemu, tapi bagi Resya Papi selalu ada di dalam hati.” Gadis itu berujar lirih. Ucapannya membuat Levin sedikit penasaran.
Selama ini Levin memang tidak pernah melihat keberadaan papinya Nasya. Gadis itu juga tidak pernah bercerita hal apa pun tentang papinya. Selama ini Levin hanya melihat kebencian Resya kepada Vano. Hal itu ia simpulkan jika Resya tidak setuju hubungan Nasya dengan Vano. Dari hal itu Levin menarik kesimpulan jika papinya Resya telah meninggal dunia. Dan Levin mulai berpikir tentang papinya Resya yang telah tiada dengan kebencian mamanya. Setidaknya Levin akan menahan rasa penasarannya saat suasana masih berduka.
***
Meninggalnya Reni masih sangat membekas untuk Nasya dan putrinya. Beberapa hari mereka memilih tinggal di kediaman Reni sebelum Stevi datang. Nasya tahu jika ketika adik suaminya itu datang hanya akan menimbulkan pertikaian. Stevi masih begitu membencinya, oleh karena itu Nasya memilih pergi dan membiarkan Resya tinggal untuk menyambut kedatangan Stevi.
Setidaknya mantan bosnya terdahulu itu masih memiliki perasaan sayang kepada keponakannya itu. Meskipun terkadang Stevi masih bersikap sinis. Wanita itu masih bisa melunak saat bersama Resya. Levin yang selalu menjaga Resya masih mengamati keadaan sekitar setelah Reni meninggal. Ia tidak menemui kejanggalan apa pun. Hanya saja saat membuang sampah Levin menemukan bungkus obat yang mencurigakan. Instingnya mengatakan jika bungkus obat itu tidak seperti bungkus obat yang pernah Levin lihat saat neneknya Resya meminum obat. Levin sangat ingat betul warna bungkus dan bentuknya.
Ia curiga ada orang tertentu yang memang mengharapkan kematian Reni dan bisa juga kematian lainya. Bisa Nasya atau bahkan Resya sekali pun. Levin mengambil pembungkus itu dan menyimpannya. Ia masih tetap memantau keadaan dan juga tetap memastikan keadaan mamanya di rumah.
Melihat Resya tengah duduk di teras termenung membuat Levin berpikir untuk mengorek suatu hal. Misteri kematian Reni membuat Levin berpikir ada hal janggal yang terjadi. Ia berjalan mendekat dan kehadiran Zidan membuat Levin terhenti. Pemuda itu datang membawa dua boks makanan dan ia langsung duduk di samping Resya.
Resya terlihat tersenyum lebar saat Zidan datang. Levin memilih pergi dan mengurungkan niatnya. Setidaknya dia tidak ingin membuat Resya kesal karena kehadirannya.
“Mas Levin enggak makan?” pembantu di kediaman Reni menyapa Levin saat masuk ke dapur. Pemuda itu mengambil air minum di dalam kulkas untuk mendinginkan pikirannya.
Otaknya terlalu bekerja keras untuk mengaitkan semua hal aneh yang terjadi.
“Oh, iya, Mbak. Aku boleh tanya?” Levin berpikir tidak ada salahnnya mencari informasi dari pembantu.
“Tanya aja, Mas. Enggak usah sungkan. Apa lagi kalau mau tanya soal Mbak Resya. Aku siap menjawab.” Wanita berkulit gelap itu sengaja menggoda Levin.
Pemuda itu hanya bisa menggeleng. Ini pertama kalinya ada yang menggodanya perihal Resya. Padahal melihat gadis itu saja membuat Levin pusing. Panggilan Resya kepadanya membuat Levin harus bisa menahan napas karena sering memanggilnya dengan sebutan Om. Panggilan yang sangat jauh dari umurnya.
“Mbak Resya sama Mas Zidan itu memang dekat sejak kecil, Mas. Mereka itu berteman karena mamanya Mas Zidan memang temannya Nyonya.”
“Mbak, aku bukan tanya soal Nona Resya.” Levin menggeleng. Ia harus menghentikan omong kosong pembantu tersebut sebelum wanita berpikiran jauh soal hubungannya dengan Resya.
“He he he iya, Mas.”
“Mbak memangnya oma Reni tinggal sendirian di rumah sebesar ini? Tidak ada anak lainya yang tinggal bersamanya?”
“Mbak Stevi maksudnya? Mbak Stevi memilih tinggal di Singapura, Mas.”
“Kenapa?” Levin mulai penasaran.
Wanita berkulit gelap itu mulai menceritakan kejadian masa lalu yang menyebabkan Stevi memilih tinggal di Singapura. Wanita itu juga menceritakan tentang masa lalu Resya bersama Nasya yang bisa dibilang tragis. Resya kecil harus hidup hanya bersama maminya tanpa kehadiran lelaki sebagai pelindung.
Levin masih serius mendengarkan cerita pembantu tersebut. Ia mulai tertarik dengan sosok ayah Resya yang menurut pembantu itu sangat mirip sekali dengan Resya.
“Jadi Om Rendra telah meninggal sejak Nona Resya masih berada di dalam kandungan?”
“Iya, Mas. Waktu itu ada hal yang membuat Tuan meninggal.” Mata pembantu itu terlihat berkaca-kaca. Ia terlihat begitu sedih saat mengingat kejadian itu. Saat itu wanita berkulit gelap itu baru saja beberapa bulan bekerja dengan Reni. Ia begitu bahagia melihat Nasya dan Rendra yang saat itu menjadi pengantin baru. Sikap Rendra yang begitu perhatian akan membuat setiap wanita iri melihatnya.
“Hal apa itu, Mbak. Apa ada orang ke tiga?” Levin spontan bertanya. Tiba-tiba saja ia mulai tertarik dengan sosok Rendra.
“Emmmm, gimana, ya Mas. Sebenarnya ini itu rahasia.”
“Rahasia?”
“iya, Almarhum Nyonya tidak ingin ada yang tahu soal itu.”
Levin semakin penasaran. Ia terus saja membujuk wanita itu agar mau bercerita lagi. Levin sangat yakin semua ada hubungannya dan saling terkait dengan kejadian masa lalu saat dirinya dan Resya belum ada.
“Mbak ... mana minuman buat Zidan?” Tiba-tiba Resya datang dan melihat Levin aneh. Tidak biasanya lelaki itu mengobrol dengan sembarang orang. Bersama Resya saja Levin terkadang dingin, tetapi Resya melihat Levin seperti dekat dengan pembantu sang oma. “Om Levin ngapain di sini? Lagi pedekate ama si Embak?”