Resya meminta izin Nasya untuk menginap di rumah omanya. Ia khawatir dengan keadaan omanya yang terlihat kurang baik. Gadis tomboy itu merasa wajib menjga wanita yang memasuki usia senja itu. Ia tidak tega jika harus meninggalkan Reni dengan para pembantu. Di saat keadaan tidak baik Resya yakin pasti wanita tua itu membutuhkan orang terdekat berada di dekatnya.
Nasya menyetujui permintaan Resya. Ia juga khawatir jika terjadi sesuatu dengan ibu mertuanya itu. Biar bagaimanapun Nasya sudah menganggap Reni sebagai ibunya sendiri sejak pertama bertemu. Wanita itu begitu baik kepada Nasya dan mau menerimanya dalam keadaan apa pun. Ia juga berjanji setelah semua urusannya selesai. Nasya akan datang menjenguk sang mertua hal itu membuat Resya sedikit senang karena Nasya masih peduli dengan keadaan Reni.
Setelah makan malam, Resya menemani Reni tidur dan memastikan neneknya minum obat. Ia sendiri yang membantu Reni dan menyiapkan semua kebutuhan yang diperlukan Reni. Wanita tua itu hanya bisa tersenyum melihat Resya.
“Sya, oma baik-baik saja. Kamu bisa pulang saja.”Ia terharu karena cucu perempuannya begitu perhatian dengannya.
“ish Oma dilang jangan bandel! Oma masih lemah, sebaiknya istrahat. Nanti Mami juga mau ke sini.”
“Benarkah? Oma sudah lama tidak bertemu dengan mamimu. Dia sangat sibuk, oma harap dia selalu sehat.”
“Sibuk berdua dengan Om nyebelin itu!” Resya menunjukkan rasa tidak sukanya.
Reni hanya bisa tersenyum, meskipun ia juga tidak menyukai kehadiran Vano di dekat Nasya. Rasa sakitnya belum sembuh sejak Vano memutuskan hubungannya dengan Stevi. Namun, Reni juga tidak bisa berbuat banyak jika memang lelaki itu yang menjadi pilihan Nasya untuk menggantikan puteranya.
“Oma bilagin ama Mami, jangan dekat-dekat ama Om Vano. Aku enggak suka!”
“Sya, masalah orang dewasa itu sangat komplek. Kelak kamu akan paham apa yang dirasakan mamimu.” Reni dengan lembut menasihati cucu semata wayangnya.
“Makanya, Oma sekarang tidur dan enggak usah mikirin masalah orang dewasa.” Resya tersenyum dan membaringkan sang nenek. Ia tidak ingin pembicaraan mereka malah membuat keadaan sang nenek memburuk.
Reni merasa senang melihat sikap Resya yang terlihat keras, tetapi gadis itu begitu perhatian kepadanya. Perlahan matanya begitu berat karena efek obat yang diminum. Hingga akhirnya Reni terlelap dalam tidur dengan wajah tersenyum.
Resya merasa lega melihat neneknya bisa tidur dengan tersenyum. Setidaknya Resya sedikit tenang meninggalkannya. Gadis itu keluar kamar dan memilih keluar rumah untuk mencari udara segar. Ia merasa penat karena memikirkan Nasya yang belum juga datang. Gadis itu merasa kecewa karena maminya tidak menepati janjinya. Ia berpikir jika Nasya pasti sedang bersama Vano hingga melupakan janjinya untuk menjenguk neneknya. Jika memang benar, Resya sangat kecewa pada Nasya.
Udara malam yang semakin dingin membuat Resya menggosok tangannya. Berdiri di teras rumah membuat Resya terkejut karena melihat Levin yang masih berbaring di kursi yang panjang. Pemuda itu terbaring dan terlihat memejamkan mata. Resya tidak percaya jika bodyguard-nya itu masih menunggunya. Padahal Resya sudah menyuruhnya pulang dan tidak usah ikut menginap.
Gadis itu berjalan pelan, mendekat dan melihat ekspresi Levin saat tidur. Ia melipat tangannya dan terus memandang lelaki yang selalu ia anggap kuper, lugu dan tua. Padahal kenyataannya Levin adalah seorang pemuda misterius yang tidak gampang Resya bodohi. Pemuda itu menjalankan pekerjaannya dengan baik. Padahal Resya telah menyuruhnya pulang dan tidak usah menunggu. Ia juga mengatakan jika dirinya menginap di rumah sang nenek dan Levin tidak usah khawatir dengan keselamatannya. Namun sepertinya Levin tidak mematuhinya, buktinya pemuda itu masih berada di teras menunggu Resya hingga ketiduran.
“Kamu ternyata tampan juga kalau tidur.” Resya menutup mulutnya dengan tangan. Ia tidak ingin ucapannya mengganggu Levin yang tidur nyenyak. “Bukannya kamu harus menjaga ibumu, kenapa kamu malah di sini?” Resya memilih duduk dan masih melihat Levin yang tertidur.
Misteri kehidupan Levin masih menjadi teka-teki baginya. Bayangan ibunya Levin kembali muncul di dalam benak Resya lengkap dengan ekspresi menyeramkan saat mencekik lehernya. Hal itu membuat Resya bergidik ngeri jika mengingatnya kembali. Hal itu seolah begitu menyeramkan diserang oleh orang yang Resya tidak kenal sama sekali. Apalagi wanita itu terlihat begitu dendam kepadanya.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Resya masih berbicara pada diri sendiri. Melihat Levin yang menggeliat membuat Resya kebingungan.
Pemuda itu perlahan membuka mata dan terkejut melihat Resya yang sudah duduk di depannya. Levin langsung merapikan pakaiannya dan melihat jam pada ponsel miliknya.
“Nona Bos sedang apa?” Levin melihat tajam ke arah Resya. Ia merasa kikuk dengan kedatangan Resya.
“Kamu kenapa belum pulang? Aku sudah nyuruh kamu pulang.”
Levin menggeleng sebagai isyarat jika dirinya tidak bisa meninggalkan Resya begitu saja karena tanggung jawab yang sudah Nasya berikan.
“Sudah makan?” Resya bertanya lagi.
“Sudah.”
“Makan angin? Atau makan hati? Kamu ini ngarang banget. Dari tadi aku belum lihat kamu makan. Kenapa bilang sudah makan.” Resya mengomel. Gadis itu merasa jika pemuda di depannya berbohong.
“Nona Bos memperhatikanku?”
“Eh, jangan Ge er. Aku hanya tidak ingin dianggap egois. Kalau kamu tidak mau makan terserah!” Resya beranjak dari tempat duduknya.
Kedua mobil yang sangat tidak asing memasuki halaman. Resya tahu betul siapa datang, ia merasa kesal karena Nasya datang tidak sendiri. Padahal Resya sedang kesal dengan orang yang sudah bisa ditebak siapa yang ada di dalam mobil yang mengikuti mobil maminya.
Levin melihat aneh gadis di depannya, tetapi ia berusaha masa bodoh. Lelaki berdiri menyambut kedatangan wanita yang telah memperkerjakannya. Ia merasa Nasya sangat berjasa membantunya saat membutuhkan biaya untuk pengobatan ibunya yang memakan uang tidak sedikit.
Nasya datang dengan diikuti Vano di belakangnya. Resya memasang wajah cemberut dan tidak suka. Ia khawatir jika neneknya akan semakin bersedih mengingat Stevi anaknya jika melihat Vano. Lelaki dewasa itu meninggalkan kesan yang buruk pada Stevi dan Reni pasti tidak akan melupakannya begitu saja.
“Kamu masih di sini Levin?” Nasya tersenyum menyapa Levin. Sedangkan Resya ia merasa masa bodoh dengan kehadiran maminya. Meskipun gadis itu ingin memeluknya, tetapi ia abaikan karena melihat lelaki yang di sampingnya.
“Masih Tante. Saya hanya ingin memastikan keadaan Nona Resya baik-baik saja.”
“Sekarang kamu bisa pulang. Kami sudah ada di sini. Jadi bisa dipastikan keadaan Resya jauh lebih baik.” Vano ikut menimpali. Lelaki itu berlagak seolah dirinya adalah pelindung bagi keluarga Nasya.
Resya tidak begitu suka melihat dengan sikap Vano. Ia memilih menarik Levin pergi dari hadapan sang mami dan Vano. “Mi, Aku masuk dulu. Lagian Oma juga sudah tidur. Percuma juga Mami datang. Kasihan Oma. Bisa-bisa malah bertambah sakit.” Resya tidak peduli jika ucapannya begitu ketus. Ia hanya tidak suka maminya masih bersama Vano. Entah mereka hanya mempunyai hubungan sekadar pekerjaan atau lebih. Resya tidak menyukainya.
Gadis itu memilih masuk ke dalam dan membiarkan Nasya dan vano berdiri di luar. Hal itu membuat Nasya hanya bisa menggeleng. Tingkah anaknya semakin hari semakin tidak sopan kepada Vano. Bahkan secara terang-terangan Resya mulai berani menunjukkan sikap kasar kepada partner kerjanya itu. Merasa tidak enak, akhirnya Nasya mengajak Vano ke dalam untuk sekadar minum kopi. Setidaknya sebagai permintaan maaf sikap Resya yang kasar.
Nasya berpikir akan berbicara dari hati ke hati dengan putrinya. Setidaknya ia ingin meluruskan kesalahpahaman yang terjadi di antara Nasya dan putrinya itu. Ia akan bersikap lebih keras dan tegas kepada putrinya itu agar tetap menjaga etika sopan santun kepada orang yang lebih tua. Meskipun hanya membesarkan Resya sendiri, ia tidak ingin dianggap gagal dalam mendidik Resya karena perilaku manja dan tidak sopannya.