Tamparan Keras

1131 Words
Setelah kejadian di rumah neneknya, Resya memutuskan tinggal sementara bersama sang nenek. Nasya tidak masalah dengan keputusan Resya. Mereka telah berbicara satu sama lain setelah Vano pulang. Nasya mencoba mendekati putrinya dan mejelaskan semuanya. Baginya Resya hanya berlebihan dalam memikirkan hubungannya dengan vano. Nasya menjelaskan untuk kesekian kalinya jika mereka hanya partner kerja. Ia juga menandaskan jika tidak akan berniat untuk mencari pasangan lagi. Setelah itu Nasya memilih pulang ke rumah. Masih banyak hal yang harus ia kerjakan untuk proyek terbarunya. Setidaknya ia membiarkan putri tunggalnya itu berpikir jernih terlebih dahulu. Setelah itu ia meminta Resya untuk datang ke kantor untuk membantunya. Setidaknya Nasya ingin Resya belajar mengelola usaha keluarga milik mereka. Pagi hari Resya sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Melihat keadaan neneknya lebih baik membuat Resya sedikit lega meninggalkan wanita baya tersebut. Ia juga telah berpesan kepada dua pembantu agar menelponnya jika terjadi sesuatu. Resya merasa sudah saatnya ia terjun membantu Nasya. Ia juga tidak ingin membiarkan Vano mendekati Nasya. Ia tidak ingin lelaki itu mampu merebut hati sang mami. Resya tidak mau Vano masuk terlalu dalam urusan keluarganya. Termasuk dalam urusan bisnis atau lainnya. Gadis tomboy itu menelepon Levin untuk segera menjemputnya di rumah neneknya. Ia mengira semalam Levin pulang dan Resya hanya memberi waku Levin 20 menit untuk sampai ke tempatnya. Tidak ada kelonggaran, Levin harus datang tepat waktu sesuai keinginan Resya. Gadis itu memang sengaja membuat Levin kewalahan agar lama-kelamaan Levin tidak betah menjadi bodyguard-nya dan mengundurkan diri. Jika semua terjadi, Resya bisa melakukan apa saja tanpa ada yang mengawasinya lagi. Misinya untuk membuat hubungan Nasya dan Vano renggang bisa berjalan mulus tanpa gangguan Levin. Nasya berdiri dengan tersenyum licik membayangkan rencananya berhasil membuat Levin kewalahan menghadapinya serta membuat rencana selanjutnya jika plan A tidak berhasil. Baru saja ia membayangkan kata-kata apa yang pas untuk Levin, tetapi mobil hitam milik keluarganya muncul tepat waktu di depannya. Padahal Resya tahu jika jalan menuju rumah neneknya akan macet parah pada saat jam pagi. Berbagai kendaraan pribadi dan umum akan memenuhi jalanan saat jam berangkat sekolah dan jam kerja. Levin keluar dengan penampilan lamanya. Ia terlihat masa bodoh dengan pandangan Resya yang terkejut. Resya hanya bisa menggeleng karena penampilan Levin kembali seperti semula. Bahkan warna kemeja yang tampak kusam membuat wajah Levin terlihat lebih tua. “Pagi, Nona. Kita berangkat sekarang?” Levin mempersilakan Resya untuk masuk ke dalam mobil. Resya masih tidak beranjak. Melihat penampilan Levin dari atas sampai bawah membuatnya malu. Padahal Resya telah membelikan Levin beberapa pasang baju yang lebih stylish dan berwarna cerah. Setidaknya levin terlihat lebih muda dan sesuai dengan usianya yang tidak jauh dari Resya. “Apa Nyonya Oma sudah mendingan?” tanya Levin. “Ah, Oma, dia udah lumayan membaik.” “Kita bisa berangkat sekarang?” Resya kembali tidak menanggapi pertanyaan Levin. Ia masih belum tenang jika pergi dengan Levin lengkap dengan penampilan konyol lelaki tersebut. Apa tanggapan para karyawan di kantor jika melihat Levin yang bersamanya, tetapi sebenarnya hal itu tidak akan jadi masalah. Resya saja yang sepertinya hanya ingin mencari masalah. “Om! Kenapa pake baju itu lagi? Mana baju yang aku belikan kemarin?” “Aku buang.” “Ha? Buang? Om!!!!” Resya benar-benar kesal mendengar jawaban Levin. Resya harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membelikan pemuda itu baju, tetapi Levin malah membuangnya. “Nona tidak perlu repot-repot membelikanku baju. Aku masih punya baju yang membuatku lebih nyaman.” Levin berjalan ke dalam rumah untuk berpamitan pada Reni. Biar bagaimanapun Levin harus bersikap sopan. Ia juga ingin memastikan jika keadaan neneknya Resya baik-baik saja. Setelah kepulangan Vano semalam ada hal yang membuat Levin curiga. Ia memutuskan untuk mengawasi kediaman Reni dari luar dan membuat Levin tidur di dalam mobil. Ia tidak mau sampai kecolongan dan membuat keselamatan Resya terancam. Semua yang dilakukan Levin, Resya tidak mengetahuinya sama sekali. “Resya, jaga sikap. Kamu tidak usah khawatir dengan keadaan Oma. Semua akan baik-baik saja.” Reni menasihati Resya sebelum berangkat. Resya hanya bisa cemberut. Sepertinya ia gagal membuat Levin kesal dan menjadikan lelaki itu sasaran kemarahannya. Apa lagi sang nenek terlihat membela Levin. Gadis tomboy tersebut tidak bisa berkutik selain menurut. Setelah bertemu dengan Reni, Levin langsung mengajak Resya untuk segera berangkat ke kantor. Hari pertama bekerja membuat Resya tidak boleh terlambat sedetik pun. Levin dengan sigap melajukan mobilnya memilih jalan alternatif yang membuat perjalanan mereka ke kantor tidak harus memakan waktu yang lama. Resya pun heran melihat Levin yang sangat cekatan. Wajahnya terlihat serius dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun selama perjalanan. Hal yang sangat membosankan bagi Resya, seseorang yang penuh misteri, tetapi Resya merasa enggan bersama Levin. “Om, lagi sariawan apa ngambek?” “Jangan panggil aku Om!” “Makanya jangan pakai pakaian kayak gitu, norak tauk!” Levin berhasil menepikan mobilnya di jalan. Ia merasa kesabarannya habis menghadapi Resya yang selalu memanggilnya dengan sebutan yang sangat Levin benci. Panggilannya itu mengingatkan Levin pada seseorang yang pernah dekat dengan mamanya. “Nona, apa yang kamu inginkan, heuh?” Levin membalik badannya dan menatap gadis di depannya tajam. “Berhenti jadi bodyguardku!” Resya langsung mengatakan keinginannya. Ia tidak mau berbasa-basi kepada Levin. “Aku akan berhenti jika Nyonya Nasya yang menyuruh!” Levin tetap bersikukuh. “Tapi aku enggak mau punya bodyguard kayak kamu.” “Kamu pikir aku mau punya Nona sepertimu?” “Eh, maksudnya apa?” “Kamu ini terlalu manja. Lihatlah dirimu! Kamu hanya bisa merengek manja mengandalkan ibumu. Tidak tahu bagaimana orang lain memikirkan keselamatanmu. Kamu hanya bisa menunjukkan rasa tidak sukamu. Pantas saja hidupmu tidak tenang. Kamu selalu memaksakan kehendakmu. Siapa yang akan suka dengan gadis sepertimu?” Levin berbicara panjang. Ia mengeluarkan semua yang ia amati dari dalam diri Resya. Gadis manja yang memaksakan kehendaknya dan tidak mau mendengarkan orang lain. Termasuk ibunya sendiri. Levin beberapa hari mengamati hubungan Nasya dan Resya. Ia merasa Nasya adalah ibu yang baik dan begitu menyayangi anaknya, tetapi Resya malah selalu menunjukkan rasa kesal pada ibunya. Resya tidak habis pikir Levin berani berbicara seperti itu. Gadis itu merasa tertampar. Ia memang merasa dirinya begitu manja dan keras kepala. Selama ini Nasya begitu kewalahan menghadapinya. Namun, gadis itu merasa Levin tidak berhak ikut campur dengan apa yang terjadi pada dirinya. “Kamu harusnya senang melihat ibumu bahagia.” Levin melanjutkan perkataannya. Tiba-tiba suaranya terdengar bergetar dan matanya terlihat berkaca-kaca. “Kamu tahu bagaimana keadaan mamaku bukan? Hal itu akan membuatmu jauh lebih sakit jika melihatnya.” Levin mengusap matanya. Ia kembali menghidupkan mobil dan tidak butuh Resya menanggapi perkataannya. Levin kembali diam dan tidak berekspresi. Rasanya ia tidak perlu melakukan melodrama di depan Resya. Masalah mamanya adalah urusan pribadi Levin. Pemuda itu tidak butuh belas kasihan siapa pun. Ada keluarga Nasya ataupun tidak, Levin tetap akan berjuang untuk membuat mamanya sembuh dan mencari tahu siapa lelaki yang selalu disebut sang mama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD