Seminggu berlalu setelah kecelakaan yang menimpa Kenzie. Kini, keadaan pria itu sudah membaik. Gips yang dipasang di kakinya sudah dilepas, begitupun dengan perban di kepalanya. Kenzie bahkan sudah bisa pergi bekerja.
Selama seminggu ini, aku dan dan Kenzie tetap tidur satu kamar. Rania tidak membiarkan Kenzie jauh dariku. Dia lebih memilih tidur bertiga, jika Kenzie bersikeras ingin tidur bersamanya.
Tiga malam, kami berbagi ranjang. Rania dan aku tidur di samping kanan dan kiri Kenzie, sedangkan pria itu di tengah-tengah. Namun selama tiga malam itu, tidak pernah sekalipun Kenzie tidur menghadapku. Dia selalu tidur memeluk Rania.
Dua malam lalu, Kenzie mendapati Rania menangis di kamar mandi, tengah malam. Aku pun kaget saat mendengar suara tangisan. Namun, baik aku ataupun Kenzie tidak melakukan apapun. Kami tahu, Rania diam-diam menangis karena tidak ingin kami mengetahuinya.
Setelah malam itu, Kenzie tidak lagi meminta Rania untuk tidur dengannya. Dia membiarkan Rania tidur di kamar bawah, sedang dirinya dan aku tidur di kamar atas.
Namun, tidak ada hal istimewa yang terjadi pada kami selama dua malam ini. Kenzie bersikukuh untuk tidak menyentuhku. Dan aku pun bersikeras mempertahankan kesucianku. Kami tidur di tempat berbeda, Kenzie di kasur dan aku tidur di sofa.
Ceklek!
Aku melirik ke arah pintu kamar mandi. Nampak, Kenzie keluar dengan rambutnya yang basah. Terhirup bau harum bodywash dari tubuh pria itu. Wajah Kenzie pun nampak segar dan menawan dengan rambut basahnya.
"Minggir! Aku ingin menyisir," ujar Kenzie seraya berdiri di hadapanku.
Sontak, aku yang sedang mengagumi ketampanannya kaget mendengar suara beratnya yang terkesan dingin.
"Maaf!" ujarku seraya bergeser ke samping kiri. Memberikan pria itu ruang untuk berkaca.
Tanpa berkata apapun, pria itu berdiri di depan kaca rias, kemudian menyisir rambutnya dengan gerakan menawan yang membuatku enggan mengalihkan perhatian darinya.
Selama satu Minggu ini, satu hal yang aku sadari tentang Kenzie. Aku tidak bisa menolak pesona pria itu. Walau Kenzie selalu bersikap dingin dan acuh kepadaku, tapi hatiku tetap mengaguminya.
"Kenzie ... hari ini aku akan menemui dokter kandungan. Apa kamu mau ikut?" tawarku. Memberanikan diri untuk mengajak Kenzie.
Demi memenuhi janjiku untuk memberikan anak, dalam seminggu ini, sudah dua kali aku pergi ke dokter kandungan.
Pertemuan pertama, aku melakukan konsultasi. Sedangkan pertemuan kedua, aku melakukan pemeriksaan rahim. Dan hari ini, aku hendak menemui dokter untuk menentukan waktu yang tepat melakukan transfer embrio.
"Aku tidak yakin. Tapi, aku akan mengusahakan datang. Jam berapa konsultasimu?" Pria itu bertanya tanpa menoleh sedikitpun ke arahku. Dia masih fokus menyisir rambut ikalnya.
"Jam sepuluh," jawabku. "Aku harap kamu bisa datang untuk meyakinkan dokter. Dia terlihat meragukanku karena aku datang sendirian."
Aku teringat dengan sikap dokter yang terasa kurang ramah. Dia seakan mencurigaiku saat aku mengatakan akan meminjamkan rahim untuk mengandung bayi Rania. Padahal, Kenzie sudah menelepon dokter itu untuk menyakinkan.
"Aku tidak bisa menjanjikan apapun," sahutnya.
Hatiku menggeram. Kenzie memang tidak pernah bisa berkata 'ya' padaku. Dia selalu menggantung kata-katanya saat aku meminta sesuatu. Tapi, satu hal yang aku syukuri, pria itu mendukung keinginanku untuk menjalani program bayi tabung.
"Malam ini ... bisakah kamu tidur di kamar lain?" Kenzie membalikkan tubuhnya kepadaku. Dia menatapku tanpa ekspresi. Wajahnya terlihat datar. "Rania bilang, aku harus tidur denganmu selama satu Minggu. Dan tadi malam adalah malam ke tujuh. Jadi, aku ingin bersama istriku malam ini."
Aku menggigit bibir bawahku. Kata-kata Kenzie terasa menyentil hatiku. Walau aku sadar kalau aku hanya istri kontraknya, tapi mendengar Kenzie ingin tidur dengan wanita lain membuat hatiku tidak nyaman.
Mungkin, Rania juga merasakan perasaan yang sama saat melihat suaminya bersamaku. Haaah! Kehidupan poligami memang tidak mudah. Sulit untuk bisa benar-benar ikhlas.
"Baiklah. Aku tidak masalah tidur di manapun," jawabku.
"Terima kasih," ujar Kenzie seraya tersenyum kepadaku. Wajahnya terlihat bahagia.
Aku terpaku melihat senyumannya. Selama seminggu mengenal Kenzie, baru kali ini dia menampakan senyumnya untukku. Biasanya, aku melihat senyum itu hanya ketika Kenzie bersama Rania.
"Aku akan membicarakan ini dengan Rania. Dia pasti senang," ujar kenzie tanpa melepas senyumnya. Dia pun berbalik, kemudian melangkah pergi meninggalkanku.
'Bodoh!' cibirku dalam hati. Merutuki diriku sendiri.
Mendengar nama Rania keluar dari mulut Kenzie, aku tersadar. Ternyata, senyum yang Kenzie perlihatkan bukan ditujukan padaku. Namun, senyum itu untuk Rania.
***
Langkahku sampai di ruang makan. Nampak kenzie yang tengah membantu Rania merapikan makanan di atas meja. Pria itu memang tidak bisa melihat Rania kerepotan. Dia selalu bergegas membantunya.
"Selamat pagi! Ayo makan," sapa Rania saat menyadari kehadiranku. Dia tersenyum seraya mempersilahkan aku untuk duduk.
Melihat senyum Rania, sisi gelapku kembali mencibir. Tidak suka melihat senyum palsu yang selalu Rania tunjukkan.
'Dasar Munafik!'
Sarapan kami berjalan seperti sebelumnya. Rania mengalaskan makanan untuk Kenzie, lalu Kenzie menyuapi Rania atau sebaliknya.
Tidak ada yang berubah selama seminggu ini. Semuanya masih tetap sama. Kenzie bermanja pada istrinya, sedang aku menjadi penonton kemesraan mereka.
'Menyebalkan!' Aku tidak suka melihat Kenzie yang terlalu mencintai istrinya.
"Sayang ... Malam ini kamu tidur bersamaku. Semalam, hari ke tujuhku dengan Rea. Jadi malam ini, giliranku menghabiskan malam denganmu," ujar Kenzie dengan wajah sumringah, seraya menunggu suapan istrinya.
Nampak, Rania menghentikan gerakan tangannya yang tengah memotong daging. Raut wajahnya berubah sendu seakan perkataan Kenzie membuatnya sedih.
"Jadi, sudah tujuh hari ya. Tidak terasa," ujarnya seraya melirik kenzie dengan senyum di bibirnya. Menyembunyikan kesedihan yang tadi sempat tersirat di wajahnya.
Kenzie mengecup tangan istrinya. "Tidak ada alasan untukmu menolak. Aku sudah memenuhi keinginanmu untuk bermalam dengan Rea seminggu penuh. Jadi, malam ini aku ingin bersamamu."
Rania menundukkan pandangannya menatap makanan di atas piringnya. "Iya, seharusnya begitu tapi ...," kata-kata Rania terjeda. Dia mengangkat wajah melirik suaminya. "Semalam aku datang bulan. Bagaimana kalau kamu menambah malammu dengan Rea seminggu lagi?"
"Jangan beralasan Rania!" bentak Kenzie.
Aku terperanjat. Kenzie marah pada istrinya. Pria itu melepas tangan Rania, lalu berdiri seraya menatap Rania dengan nyalang.
"Aku lelah dengan sikapmu yang terus memintaku tidur dengan wanita lain."
Kenzie melangkah mundur. Dia berkata tanpa mengindahkan perasaanku. Hatiku teremas mendengar Kenzie menyebutku dengan kata 'wanita'. Dia masih menganggapku orang asing.
"Aku sudah memenuhi keinginanmu untuk menikah dan menghabiskan malam dengan wanita itu. Lalu, apalagi sekarang? Menambah satu Minggu lagi? Aku lelah Rania. Aku kecewa padamu."
Tanpa mengindahkan Rania yang menangis, Kenzie pergi meninggalkan ku dan Rania di ruang makan.
Tubuh Rania merosot hingga terduduk di lantai. Dia menangis seraya meremas dadanya. "Maafkan aku, Ken."
"Bodoh!" umpatku pelan. Kesal sekaligus iba kepadanya.