Malam panjang dilalui oleh Jelita dan Paul. Wanita itu jatuh dalam perangkap Paul. Setiap reaksi tubuh Jelita yang menyambut dengan sepenuh hati aksi manis Paul, menghantar mereka pada puncak kenikmatan yang tidak bisa dilupakan oleh Jelita untuk selamanya. Paul telah leluasa melancarkan rencananya dan mencapai tujuan utamanya. Jelita semakin terikat dengan dirinya, tanpa bisa terlepas lagi. Wanita itu telah serahkan seluruh jiwa dan raganya pada pria yang sangat dicintainya itu.
Setelah malam indah yang membuat Jelita semakin jatuh cinta pada Paul, kekasihnya itu mulai menghabiskan setiap malam di kos Jelita. Pria itu tidak melepaskan kesempatan bergerilya menjelajahi setiap sudut dari lekukan tubuh kekasihnya yang belum ia sentuh. Ia tidak biarkan Jelita lolos untuk alasan apa pun.
Jelita mulai waspada dengan akibat dari perbuatan mereka dengan menyiapkan alat pengaman bagi Paul. Pria itu menolak dan minta Jelita yang gunakan pengaman dan bukan dirinya. Setelah percakapan yang panjang, Paul akhirnya setuju karena Jelita mogok dan sempat melarang Paul ke kosnya.
Tapi, pria itu selalu berhasil mengelabui Jelita. Setiap kali kekasihnya sudah terbuai dan dalam pengaruh endorfin, peningkatan zat kimiawi otak yang membuat bahagia, Paul akan menarik keluar pengaman tanpa diketahui oleh Jelita.
Paul terus membuahi rahim Jelita selama tiga minggu tanpa jeda sehari pun, sebelum akhirnya ia berangkat ke luar kota. Sedang Jelita terbuai dalam pesona Paul tanpa tahu bahwa sel telur Paul telah berkembang dalam rahimnya. Paul pun terlalu abai untuk pikirkan kalau kekasihnya bisa saja terbuahi.
Satu bulan kemudian, setelah pertama kali Jelita menjalankan tugas sebagai istri tidak sah Paul.
Jelita terjaga di pagi hari dengan keadaan tubuh yang berkeringat. Ia bangun dengan perasaan yang tidak tenang. Rupanya ia mimpi buruk.
Di dalam tidurnya, ia sedang bersama Paul berjalan-jalan di pinggir pantai yang sedang ramai pengunjung. Lalu, Paul pamit sebentar untuk membeli minuman dari kelapa muda. Jelita tunggu tetapi Paul tidak kembali. Ia akhirya mulai mencari kekasihnya itu tetapi ia tidak bisa temukan Paul. Jelita berteriak berulang kali tapi Paul tetap tidak muncul.
Saat terjaga ia sedikit lega mengetahui kalau semuanya cuma mimpi. Tapi, rasa khawatir itu tetap ada.
Jelita tetap jalankan aktivitas rutinnya. Ia saat itu sedang bekerja di sebuah perusahaan jasa pengiriman barang dalam negeri tapi juga melayani pesanan antar negara bahkan lintas benua.
“Lita, apakah kamu baik-baik saja?” tanya Jordan.
Karyawan diberikan waktu istirahat enam puluh menit dan mereka sering habiskan waktu bersama makan siang di kantin. Jordan, Jelita, Meutia, Linda dan beberapa rekan kerja lainnya.
“Perutku agak kembung dari kemarin makanya aku memilih makanan yang berkuah,” balas Jelita yang disapa dengan nama pendek di kantor.
“Sudah minum obat belum?” sambung Meutia.
“Sudah. Resepnya sehari sekali saja makanya aku pilih di malam hari karena takut mengantuk kalau ada di jam kerja.”
“Simpan saja obat ini. Kamu bisa minum kalau memang kambuh lagi nanti. Habiskan saja dulu obat yang sedang diminum sekarang.”
“Cieee, cieeee, kamu ternyata sangat perhatian ya… Jor!” goda Linda.
“Jangan begitu Linda, nanti kalau ada yang bilang ke Paul malah salah paham. Tapi, terima kasih banyak, Jordan untuk obatnya. Aku simpan di tas saja dulu.”
“Sama-sama. Makanya jangan sembarangan ngomong, Lin. Pacarnya marah nanti. Aku tulus bantu Lita. Serius kalau obat itu manjur karena adikku juga cepat sembuh dengan obat itu, saat dia sakit lambung.”
Namun, Jordan punya pikiran yang berbeda. Ia tidak utarakan karena takut para wanita balik menyerangnya. Tapi, dari pengalaman Jordan mengenal wanita, Lita bukan sakit lambung biasa. Ada perubahan pada bentuk tubuhnya dan denyut jantungnya kalau diamati dengan saksama pada lehernya. Apalagi, belakangan Jordan amati, Jelita sering berkeringat dan cepat lelah. Ia tidak bisa buktikan dugaannya, tapi ia tulus berniat membantu teman kerjanya itu.
Malamnya, sepulang kerja, Jelita menghubungi nomor kontak Paul tapi tidak terjangkau.
Keesokan paginya, Jelita lakukan hal yang sama, tapi tetap saja tidak bisa.
Jelita mulai membuka daftar riwayat kontak antara dirinya dan kekasihnya. Tak lupa juga ia cari balasan pesan yang paling akhir dari Paul untuk dirinya. Baru tiga hari sebenarnya Paul tidak berkabar, tetapi Jelita gelisah. Biasanya hanya satu hari saja ia tidak tahu kabar dari Paul. Mereka akan saling menelepon atau pun berbalas pesan sesibuk apa pun.
Tiba di akhir pekan, Jelita libur kerja. Ia akhirnya nekad untuk mendatangi tempat tinggal Paul. Kekasihnya pernah sampaikan letaknya dan ia masih ingat.
Jelita melangkah perlahan mendekati rumah hijau yang mesti ia tuju.
Semakin dekat tampak penghuni rumah sedang adakan acara. Tenda biru membentang di pekarangan rumah dengan janur kuning melengkung di pintu masuk.
Tamu terlihat semakin padat karena ada yang sudah duduk di dalam dan lainnya sedang mengantri di pintu masuk.
Jelita penasaran akan perhelatan apa yang sedang berlangsung.
Semakin dekat dengan ujung antrian, jantung Jelita berdetak lebih cepat.
"Berhenti! Berjalanlah ke samping dan jangan sampai menarik perhatian!"
Jelita bisa rasakan lengannya dicengkeram sangat kuat dan jika terus seperti itu maka ia akan kesakitan.
Suara bariton tanda bahwa seorang pria yang sedang menggiringnya paksa menjauh dari jalur pintu masuk.
Beberapa jam sebelumnya, Paul meminta asistennya untuk mengawasi pintu masuk. Ia ingin antisipasi jika ada dari para perempuan yang ia pernah tiduri mencarinya. Termasuk Jelita yang ia tahu sangat mencintainya sedang Paul hanya terpikat dengan tubuh Jelita yang memang sangat sempurna.
Dari sekian wanita yang pernah Paul rasakan, Jelita punya pesona tersendiri karena keluguannya yang tidak sadar bahwa jika saja ia mau, Jelita bisa jadi wanita terkuat yang bisa menyihir pria mana pun yang ia bisa jerat. Satu-satunya wanita yang Paul gauli tanpa gunakan alat pengaman dalam petualangannya, adalah Jelita. Baginya tidak nikmat kalau ada penghalang antara dirinya dengan Jelita karena wanita itu terlalu mempesona.
Sayangnya, Jelita hanya wanita biasa yang ingin hidup damai di muka bumi yang dimanfaatkan oleh Paul untuk kenikmatan dirinya belaka.
Dengan perasaan campur aduk termasuk marah, Jelita patuh pada ancaman yg ia terima.
“Untuk apa Anda datang ke sini?" tanya pria asing itu setelah mereka sudah menepi sekitar lima ratus meter jauhnya dari keramaian.
“Saya ingin bertemu dengan pemilik rumah ini. Ada hal penting yang harus saya sampaikan."
“Anda tidak ada dalam daftar undangan jadi Anda tidak bisa masuk!" tegas pria pengawal.
“Dari mana Anda tahu kalau saya tidak termasuk dalam daftar tamu?”
“Sebenarnya saya tidak perlu ladeni semua pertanyaan Anda. Anda itu bukan siapa-siapa. Tampang mungkin masih masuk hitungan, tapi tampilan sangat jauh dari layak untuk ada dalam kalangan keluarga bos saya. Dimulai dengan hal sederhana, yaitu warna baju yang Anda kenakan tidak sesuai tema.”
“Siapa bos yang kamu maksudkan? Apakah dia pemilik rumah yang sedang adakan acara?”
“Bos saya hari ini sedang sangat berbahagia. Pak Paul hari ini menikah!” seru lawan bicara Jelita dengan bangga diikuti dengan tawa panjang.
Jelita langsung limbung. Telinganya tidak salah tangkap. Ada nama Paul yang ia dengar. Kepalanya mulai pening. Jantungnya berdebar kencang. Kakinya gemetar dan mulai terasa berat untuk menopang tubuhnya sendiri.