Rayuan Malapetaka
Jelita merasakan kecupan di dahinya. Selimutnya yang tertutup rapat sampai ke lehernya ditarik paksa menyingkap gaun tidur transparan berbahan linen yang selalu jadi teman setianya.
“Kamu curang, selalu saja terlelap dahulu sebelum aku tiba,” bisik Paul menenggelamkan kepalanya di leher Jelita untuk menikmati aroma tubuh kekasihnya.
Jelita yang tadinya ngantuk berat tidak bisa berkutik. Paul memang punya kunci duplikat untuk masuk ke kamar kosnya.
Mereka punya jadwal bertemu yang rutin minimal sekali seminggu disesuaikan dengan waktu Paul. Sebagai pengusaha muda, pria itu memang banyak lakukan perjalanan ke luar kota. Setidaknya, itulah informasi yang diterima oleh Jelita dan selama ini ia tidak mengeluh. Ia percaya sepenuhnya pada kata-kata Paul.
Ia jatuh cinta pada pria itu karena kelembutan dan kata-katanya yang selalu memberikan motivasi. Aura positif selalu terpancar dalam setiap ucapan Paul padanya. Belakangan, Paul lebih sering datang setidaknya, tiga kali dalam seminggu. Dan, selalu tindakan yang sama yang dilakukan kekasihnya itu yaitu mencari tahu apa aroma tubuhnya.
Terkadang Jelita malu karena Paul mendapatinya dalam keadaan belum mandi. Tapi, Paul tidak peduli, seolah itulah daya tarik Jelita baginya. Setelah dua minggu jadi pacar Paul, Jelita belajar untuk menjaga tubuhnya tetap wangi agar siap kapan pun Paul mencarinya.
“Sayang, cukup, aku tidak bisa bernapas kalau kamu tindih seperti ini,” erang Jelita ditengah pergulatannya menekan hasratnya.
Sebagai wanita dewasa, ia mulai paham kalau Paul selalu berikan sinyal ingin lebih intim dengannya tapi ia berusaha memasang tembok demi kebaikan mereka berdua. Menikah secara resmi adalah mimpi semua wanita termasuk Jelita.
“Aku kangen, Sayang. Wajahmu, senyummu, suaramu dan juga wangi tubuhmu,” sahut Paul di tengah kecupannya yang bertubi-tubi di sekitar area leher ke atas.
Jelita dengan sekuat tenaga mendorong wajah Paul untuk menjauh darinya. Ia tangkup kedua sisi rahang Paul agar setengah bagian tubuh pria itu juga ikut bangkit agar ia bisa bernapas dengan lega.
“Aku, tahu. Tapi, aku benar-benar tidak bisa bernapas.”
Paul sudah setengah membungkuk di samping tempat tidur. Jelita menarik tubuhnya untuk duduk menyandar pada bantal sambil melakukan gerakan menguncir rambutnya yang tergerai untuk lebih rapi sebelum berbicara dengan Paul.
Temaram lampu tidur memberikan siluet yang menggoda dalam pandangan Paul buat pria itu bertekad untuk taklukkan kekasihnya malam itu juga.
Sejak dalam perjalanan ia sudah bayangkan indahnya tubuh Jelita. Ia tidak mabuk dan rencanakan hal yang jahat atau pun licik karena ia tahu kelemahan Jelita. Rayuan manis akan buat wanita itu bertekuk lutut. Peran ini yang sedang Paul jalankan.
Mereka sudah berkenalan hampir setahun baru menyandang gelar sebagai pasangan kekasih dalam tiga bulan terakhir. Dua minggu yang lalu, Paul berhasil bujuk Jelita untuk dapatkan duplikat kunci kamarnya agar ia bisa datang dan pergi tanpa halangan.
Paul adalah seorang petualang. Jelita termasuk wanita terlama yang tidak bisa dengan mudah ia cicipi tubuhnya sehingga buat Paul jadi penasaran.
Selama ini, ia hanya boleh menyentuh dan mengecup area bahu ke atas. Jadi, Paul ingin buat kemajuan di malam ini.
“Kamu sangat harum dan jauh lebih cantik malam ini. Apa kamu sengaja berdandan untuk menyambutku?” bisik Paul di telinga Jelita sambil menggeser tubuh Jelita dengan pelukan di pinggang agar ia bisa duduk di pinggiran tempat tidur.
Jelita tahu kalau wajahnya jadi panas karena pujian Paul.
“Kamu selalu saja merayuku. Apa kamu tidak bosan?” balas Jelita.
“Bosan denganmu, Sayang? Mana mungkin,” ucap Paul lembut sambil mengusap pelan pipi Jelita dengan punggung tangan kirinya. Di saat yang sama, tangan kanannya ia pakai untuk mengusap tengkuk leher Jelita setengah memijat dengan lembut.
Paul menatap wajah kekasihnya tanpa berkedip dan berikan tatapan lembut dan senyuman terbaik untuk tunjukkan rasa sayangnya.
Sentuhan ini berhasil buat Jelita jadi santai. Sambil menutup matanya dengan tersenyum manis menikmati rayuan dan sentuhan Paul, wanita itu mengubah posisi duduknya tidak lagi tegak seperti semula.
Alhasil, nampak dua titik simetris yang menyembul naik akibat reaksi mengeras di balik gaun tidur Jelita yang tipis. Desiran aliran darah Jelita tentunya sedang berdesir hebat membuat semua pembuluh darahnya terbuka dan syaraf-syaraf kenikmatan siap dilayani.
Semua anggota tubuh dengan syaraf yang sama akan mengeras, membesar dan melembab akibat reaksi hormon. Tidak hanya pada Jelita tetapi terlebih lagi pada Paul sendiri.
Reaksi sembulan memikat itu tentu saja terdeteksi dengan baik oleh mata hitam pekat milik Paul dan ia tahu kalau saatnya sudah tiba. Jelita sudah siap untuk disentuh dan Paul tahu caranya agar wanita itu tidak menolaknya kali ini seperti beberapa pertemuan sebelumnya.
“Paul, rasanya sangat nyaman, aku sangat lelah hari ini. Aku sayang sekali padamu,” kata Jelita menikmati pijatan Paul.
Kekasihnya memajukan wajahnya sambil berkata, “Aku juga sayang padamu. Bisakah kamu berjanji sesuatu untukku malam ini?”
Satu kecupan singkat mendarat di labium Jelita.
“Ah… janji apa?” tanya Jelita agak kaget dengan sentuhan barusan.
“Jangan buka matamu. Maukah kamu patuh padaku malam ini?” sahut Paul kembali melumat lembut belahan tipis di hadapannya dan kali ini lebih lama, tapi ia lepaskan setelah beberapa saat.
“Sayang, apa pun aku mau. Asal….”
Paul merapatkan lagi labiumnya menghentikan ucapan Jelita, “Terima kasih, Sayang. Aku tahu kalau kamu akan buktikan kalau memang kamu sayang padaku dengan bersikap patuh malam ini. Aku tidak akan menyakitimu. Tetaplah tutup matamu dan rasakan cintaku. Kamu sangat cantik kalau seperti ini. Kamu adalah istriku dan sudah jadi istriku dan semua pria akan iri padaku karena kecantikanmu.”
Tidak ada jawaban atau pun protes yang bisa Jelita berikan karena mulutnya sudah terbungkam karena dibungkam dengan pagutan dari Paul.
Di saat yang sama, tangan kiri Paul kali ini sudah mulai bergeser ke arah bawah dengan tarikan ujung jari tetap melekat ke kulit Jelita yang terjangkau olehnya untuk tidak menghilangkan sensasi yang sedang dinikmati Jelita. Sementara itu, tangan kanannya menahan lembut kepala Jelita agar tidak bergeser.
Beberapa saat setelahnya, Paul bisa rasakan penolakan tubuh Jelita yang menegang begitu tangan kirinya melewati batas yang dilarang oleh Jelita. Tetapi dengan lihai, tangan Paul menelusup cepat dan menangkup organ indah yang pas dengan ukuran telapaknya dan memilin lembut di sumber kehidupan bagi para bayi itu untuk waktu yang tak terbatas.
Karena dapatkan serangan kenikmatan dari berbagai arah dan sumber, Jelita kehilangan logika. Semua prinsipnya goyah dan terlupakan saat itu juga. Ditambah lagi, kedua telapak Paul sudah bermain dengan lincah secara simetris, tanpa melepas lumatannya sama sekali, buat Jelita melambung dan merasakan kebahagiaan yang tidak ada taranya. Desahan yang Jelita keluarkan bukan omelan, membuat Paul semakin terbakar.