SM 5

1319 Words
Tiga hari sudah mereka menghadapi Ospek, dan ini adalah hari terakhir mereka melaksanakan Ospek. Setelah itu maka mereka sudah resmi menjadi seorang mahasiswa/mahasiswi. "Anjir, capek banget gue, Fiya!" Keluh Zarina, kini mereka berdua tengah terduduk di taman kampus, terduduk di atas rerumputan hijau yang begitu rapih karena di urus dengan baik oleh pihak kampus. "Ini hari terakhir kok!" Jawab Safiyya santai dengan tangan yang sibuk memijit kakinya yang tengah berselonjor. Zarina memiringkan kepalanya menatap wajah Safiyya. "Gue aneh deh sama lo, gak ngerasa capek apa lo. Nih ya, tiga hari terakhir ini kita harus bangun pagi-pagi banget, eh bukan pagi lagi deh tapi subuh, kita bangun subuh terus cuman sarapan roti doang. Dan ni ya, di kampus kita di kerjain tuh sama kakak tingkat, mending deh ada yang ganteng gitu biar bikin gue semangat. Lah, ada coba? Gak ada kan. Terus kita balik dari kampus sore belom lagi kita harus nyari bahan buat besok di bawa, dan kita bisa sampe apartemen malem, istirahat sebentar doang bangun lagi sebelum subuh!" Keluh Zarina. "Lo lupa, hari ini kan kita makrab, dan ada BTS yang jadi bintang tamunya" jawabnya Safiyya dengan wajah yang berbinar. Sontak Zarina pun menolehkan wajahnya menatap Safiyya, "anjirn serius BTS?" Heboh Zarina. "Iya BTS, tapi dalam mimpi lo!!" Sahut Safiyya di akhiri dengan tawa renyahnya. "Monyet!!" Kesal Zarina. "Ih, ih Zarina ngomong kasar, ih. Gue bilangin Ayah ni ya!" Canda Safiyya, membuat Zarina memasang wajah ketusnya. "Aduan lo!" Safiyya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, "ke aula sekarang ayok, nanti telat kena hukuman lagi!" Ajak Safiyya, gadis itu pun beranjak dari duduknya dengan tangan yang membersihkan celana bagian belakang yang tertempel sedikit kotoran potongan rumput. Zarina mendongakan kepalanya dengan tangan yang terulur ke atas. "Bangunin!" Manja Zarina dengan wajah yang di buat semenyedihkan mungkin. "Geuleh anjir!" Sahut Safiyya dengan tangan yang di ulurkan pula menyambut tangan Zarina, lalu menarik gadis itu hingga berdiri. ___ (jijik anjir) Mereka berdua pun melangkahkan kaki menuju aula kampus ini, karena sebentar lagi acara akan kembali di lanjutkan, sekaligus penutupan dari acara ospek kemarin. "Fiy, gak ada cogannya (cowok ganteng) apa disini" "Hm, lo ih cogan mulu, hayu ah duduk mau ada sambutan tuh!" Ajak Safiyya seraya menarik lengan sahabatnya, Zarina. Mereka pun duduk dengan perhatian mereka yang tertuju pada panggung yang berada di depan sana, di awali dengan sambutan yang di berikan oleh perwakilan kampus, lalu di lanjut sambutan dari ketua panitia pelaksana ospek dari pihak mahasiswa. Acara pun dilanjut dengan hiburan yang di suguhkan oleh bintang tamu yang di undang oleh pihak kampus, agar lelahnya para mahasiswa/mahasiswi baru bisa terbayarkan dengan hiburan yang sudah di suguhkan oleh pihak kampus. Acara malam ini pun di jadikan ajang untuk mahasiswa baru lebih dekat dan mengenal lagi teman-teman satu angkatan mereka, siapa tau mereka bisa mengenal teman satu jurusannya nanti. Safiyya dan Zarina begitu menikmati Malam Keakraban ini dengan begitu bahagia, dan penuh suka cita. Tanpa mereka sadari seorang pria tampan tengah memperhatikan keduanya, lebih tepatnya memperhatikan Safiyya. Sedari awal pria itu melihat Safiyya, dia selalu memperhatikan gadis itu tanpa mengalihkannya sama sekali. Dan satu orang pria lainnya memperhatikan Zarina, yang terlihat begitu manis bagi pria itu. Makrab kali ini pun sudah selesai di adakan, sebagian dari mereka ada yang langsung pulang ke rumah atau kosan mereka, dan ada pula yang berdiam di kampus sejenak. Lain lagi untuk para panitia atau kakak tingkat, mereka akan merapihkan yang bisa mereka selesaikan malam ini, dan sisanya mereka akan melanjutkan esok hari. Untuk Safiyya dan Zarina, kedua gadis itu memutuskan untuk langsung pulang ke apartemen, karena tubuh mereka benar-benar butuh istirahat, untung saja besok tidak ada kegiatan apa pun di kampus, jadi mereka bisa beristirahat seharian dan akan memulai sebagai mahasiswi baru di hari Senin nanti. Mereka berdua terduduk di halte menunggu kedatangan bus selanjutnya tiba, keduanya sudah sangat merasa kelelahan, tidak hanya mereka berdua saja yang berada di halte tengah menungfu bus, namun ada beberapa mahasiswa baru juga yang tengah menunggu kedatangan bus. Bus pun tiba, mereka bergegas melangkahkan kakinya dengan langkah lebar untuk bisa segera masuk dan terduduk di dalam bus, pikiran mereka saat ini adalah kasur empuk di kamar mereka masing-masing. Bus melaju meninggalkan halte menuju halte berikutnya. Zarina sudah terlelap di kursi yang dia duduki dengan kepala yang dia sandarkan pada jendela bus, nampaknya gadis itu begitu kelelahan, dan di tambah Zarina memang mudah sekali tertidur. Bus pun berhenti di halte dekat apartemen yanh di tempati oleh Safiyya juga Zarina. Sebelum bus tiba di halte Safiyya sudah membangunkan sahabatnya terlebih dahulu, dengan enggan dan malasnya gadis itu membuka kedua kelopak matanya. Safiyya menggandeng lengan Zarina, karena gadis itu berjalan dengan sempoyongan seperti orang yang tengah mabuk saja. Susah payah Safiyya menyeimbangkan langkahnya karena berat badan Zarina yang cukup membuat nafas Safiyya terengah-engah. Safiyya bisa bernafas lega ketika dirinya sampai di apartemen, dan membawa Zarina langsung ke kamarnya menidurkan gadis itu di kasurnya. "Babon banget si Zarina! Encok di usia muda ini mah, aws!" Gerutu Safiyya dengan bahu yang dia naik turunkan, dan kepala yang dia gelengkan ke kanan dan ke kiri. Setelahnya gadis itu pun berjalan keluar dari kamar Zarina dan berjalan menuju kamarnya, gadis itu menyimpan tas gendongnya di atas meja belajar lalu berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok giginya terlebih dahulu sebelum gadis itu beristirahat. Selesai dengan ritual kecilnya di kamar mandi, gadis itu mengganti pakaiannya ke piyama dan segera menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur, tanpa menunggu lebih lama lagi kedua mata Safiyya pun sudah terpejam dan langsunh terlelap menjeput alam mimpinya. Sinar matahari pagi memancarkan sinarnya masuk menyeruak di sela-sela jendela kamar, namun sinar matahari itu sama sekali tidak mengusik tidurnya kedua gadis di kamar mereka masing-masing, keduanya malah semakin terlelap dan nyaman dalam tidurnya. Hingga suara dering ponsel pada benda pipih milik Zarina membuat gadis itu terbangun dari tidurnya dan mencari-cari keberadaan ponselnya. Tanpa melihat siapa yang menelepon, gadis itu menggeser icon berwarna hijau di ponselnya dan panggilan pun terhubung. "Hm, siapa ini?" Tanya Zarina dengan suara yang lemas khas bangun tidur. "Ya Allah, kalian maish tidur, ini sudah siang loh!" Omel seseorang dari balik sambungan telepon. Sontak Zarina membuka kedua matanya dan merubah posisi tertidurnya menjadi terduduk. Zarina mengucek kedua matanya sebelum gadis itu melihat nama di layar ponselnya. "Hah, Ibu!" Kagetnya. Gadis itu kembali mendekatkan ponsel pada telinganya. "I-ibu, tumben pagi-pagi nelepon, ada apa Bu?" Tanya Zarina dengan polosnya. "Pagi-pagi, ini sudah jam sebelas loh, Na. Bandung sama Jakarta memang ada berbeda waktu sampai di sana masih pagi di sini sudah siang!" Omel Mira, membuat Zarina membulatkan matanya dan melihat jam yang menempel di dinding kamar. Zarina menepuk jidatnya sendiri, ketika melihat jam yang sudah menunjukan pukul sebelas siang, pantas saja Ibu ngomel-ngomel, tahunya ini sudah siang. Tapi tunggu, kenapa Ibu menelpon dirinya, kenapa tidak menelepon Safiyya, ah pasti ponsel anak itu kehabisan daya. "Ibu, kita pulang malam lagi, habis ada acara makrab dan itu jadi acara penutupan ospek kita kemarin, jadi hari ini kita bangunnya siang" ucap Zarina yang melakukan pembelaan. "Ya sudah, sekarang kamu bangun, mandi, bangunin Safiyya juga. Kalian pasti melewatkan shalat subuh!" Lanjut Mira mengomel. "Iya, Bu!" Jawab Zarina. "Satu jam lagi Ibu telepon kalian harus sudah mandi, setelah itu kalian mau istirahat malas-malasan di apartemen pun tidak apa, jangan lupa makan!" Pesan Mira panjang lebar, begitulah seorang Ibu, mereka akan tetap memberikan perhatiannya kepada sang anak meskipun sudah di buat kesal. "Iya Ibu!" Jawab Zarina kembali, karena ketika Mira sudah ngomel seperti ini baik Safiyya mau pun Zarina tidak ada yang bisa menjawabnya selain patuh dengan kata-kata andalan mereka berdua, yaitu kata 'iya'. "Ibu tutup teleponnya ya, Assalamualaikum!" Salam Mira. "Waalaikumsalam" jawab Zarina dan panggilan pun terputus. Zarina menghembuskan nafasnya kasar "Si Fiya kebiasaan emang, handphone tuh bukannya langsung di charge, ini malah di biarin mati gitu aja!" Gerutu Zerina. Gadis itu pun berajak dari atas kasurnya, melangkahkan kakiya keluar kamar dan menuju kamar Safiyya untuk membangunkan sahabatnya itu, karena Mira pasti akan menelepon kembali satu jam kemudian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD