SM 16 -- Back To Jakarta

1203 Words
“Jangan kapok ya nak Hafiz nginap di sini!” Ucap Mira kepad Hafiz. “Nggak dong, Bu. Aku malah betah di sini” jawab Hafiz benar adanya, dia memang merasa nyaman dan tenang berada di rumah Safiyya. “Apa lagi suasana malam dan subuh disini, bikin tenang. Dan aku pasti rindu saat berangkat ke Masjid bareng Ayah” lanjut Hafiz. Saat ini mereka tengah berpamitan untuk kembali ke Jakarta, setelah sarapan tadi mereka berdua pun berbenah diri dan bersiap untuk berangkat. Karena besok mereka ada jadwal kuliah pagi hari. Jadi mereka memutuskan untuk pulang sekarang saja masih pukul sepuluh pagi kemungkinan siang mereka akan sampai di Jakarta dan sisanya mereka bisa habiskan untuk beristirahat. “Kita pamit ya Bu, Yah!” Pamit Safiyya seraya menyalimi punggung tangan Abbas dan Mira bergantian dan tidak lupa memeluk tubuh Ayah juga Ibunya. “Hati-hati ya, Nak. Kabarin Ibu kalau sudah sampai” pesan Mira kepada Safiyya. Safiyya tersenyum dengan kepala yang dia anggukan, “pasti itu, Bu!” “Terimakasih Ibu sama Ayah sudah menerima Hafiz disini, menjamu Hafiz dengan hangat juga. Hafiz pamit Yah, Bu!” Kali ini Hafiz yang berpamitan dan tidak lupa pria itu pun menyalimi punggung tangan Abbas juga Mira bergantian. “Hati-hati ya nak Hafiz!” Pesan Mira kepada Hafiz. “Hati-hati kalian, Ayah titip Fiya ya” timpal Abbas. Hafiz mengukir senyumannya. “Pasti itu, Yah!” Jawabnya. Taxi online yang Fiya pesan pun sudah tiba, mereka berjalan mendekati mobil lalu masuk dan duduk dengan nyaman di dalam sana. Fiya melambaikan tanganya kepada kedua orang tuanya karena kaca mobil yang sengaja mereka buka. “Salam untuk Zarina ya, baik-baik kalian disana, belajar yang rajin!” Pesan Mira. “Iya, Bu. Kita berangkat, Assalamualaikum” salam Fiya juga Hafiz. “Waalaikumsalam!” Jawab Abbas dan Mira bersamaan dengan tangan yang mereka lambaikan dan mobil pun melaju meninggalkan halaman rumah kedua orang tua Safiyya. Taxi online ini akan mengantarkan mereka hanya sampai terminal saja, seperti kemarin. Karena mereka merasa nyaman menaiki bus, padahal saat akan berangkat kemarin menuju Bandung. Hafiz sudah di tawari oleh Dimas sang Ayah untuk membawa mobil saja, agar mereka tidak perlu naik turun kendaraan umum, dan juga berdesak-desakan dengan penumpang yang lainnya. Juga agar mereka merasa nyaman selama perjalanan tidak perlu menunggu kedatangan bus. Tetapi baik Hafiz dan Safiyya mereka lebih memilih untuk menaiki kendaraan umum saja, mereka berdua berpikir jika menaiki bus akan menambah pengalaman keduanya juga kenangan bagi mereka di masa depan nanti. Dan tentunya perjuangan keduanya untuk mendapat restu dari kedua orang tua Safiyya. Di luar dugaan mereka, bus yang mereka tumpangi ternyata mengalami kendala saat dalam perjalanan. Mobil bus mengalami kebocoran sehingga membuat para penumpang harus turun lebih dulu dari bus, menunggu bannya di ganti. Beruntungnya para penumpang karena bus ini tengah berada di rest area, jadi mereka bisa sekalian beristirahat dan juga mengisi perut yang sudah keroncongan. Karena ini sudah masuk waktu makan siang. Dan sekalian untuk shalat Dzuhur. Momen ini pun di manfaatkan dengan baik oleh Hafiz dan Safiyya, keduanya melaksanakan kewajiban mereka sebagai muslim dan setelah itu mengisi perut agar cacing di dalam perut keduanya tidak berdemo meminta jatah asupan gizi. Disaat keduanya tengah makan siang, ponsel Safiyya berdering menandakan adanya panggilan masuk, dengan segera Fiya mengambil ponselnya di dalam tas dan melihat siapa yang meneleponnya, tenyata nama Zarinalah yang tertera di layar ponsel. “Halo, Na, kenapa?” “Sudah di jalan pulang, Fi?” “Sudah, ini sudah di tol tapi busnya ada kendala, bannya kempes ini. Jadi kita terdampar di rest area!” Keluh Fiya di balik panggilan teleponnya kepada Zarina. “Haha, bannya kempes. Kasihan banget si lo, Fi, yang sabar ya!” Ledek Zarina. “Rese lo! Kalau mau ngeledek doang gua matiin teleponnya!” Tuntut Safiyya pada Zarina. “Ih, ambekan lo mah Fi. Gue cuman mau ngabarin, hari ini gue gak tidur di apartemen ada yang harus gue beresin jadi mesti nginap di rumah temen” “O, hm, ya!” “Dih rese lo, Fi! Ya udah, hati-hati di jalan lo, awas jangan sampai mau di kasih makanan atau minuman sama orang yang gak di kenal!” Pesan Zarina. “Iya bawel!” Panggilan pun di akhiri oleh Safiyya. “Zarina?” Tanya Hafiz. Safiyya menghembuskan nafasnya dengan kepala yang dia anggukan. “Kenapa?” “Dia nginep di rumah temannya” “Oh!” Sahut Hafiz dengan kepala yang pria itu anggukan. “Em, dari pada kamu sendirian di apartemen, gimana kalau kamu nginap saja di rumah, Bund apasti senang kalau kamu mau nginap di rumah?” Ajak Hafiz, mungkin pria ini merasa khawatir juga dengan kekasihnya yang hanya seorang diri di apartemen nanti. Namun di luar dugaan, Fiya menggelengkan kepalanya. “Aku di apartemen saja, biar enak dan leluasa juga istirahatnya kalau di apartemen!” Tolak Fiya halus. “Yakin?” Lanjut Hafis meyakinkan. Safiyya pun menganggukan kepalanya. “Iya Hafiz, sudah ah ayok di makan nanti bus keburu selesai ganti bannya” “Gak akan, ngangkat busnya saja pasti berat itu!” Canda Hafiz. “Kamu ada-ada saja!” Mereka pun menyantap makanan yang sudah di pesan tadi. “Kamu kapan mau bilang sama Zarina tentang hubungan kita?” Tanya Hafiz di sela-sela makan siangnya. Safiyya nampak berfikir lalu menghembuskan nafasnya pelan. “Aku mau secepatnya, cuman untuk sekarang-sekarang aku belum bisa kasih tahu dia, soalnya jadwal dia yang padat jadi kita jarang ada waktu buat ngobrol berdua” ujar Safiyya. Ya, Zarina memang sedang sibuk-sibuknya dengan tugas-tugas dari kampu dan juag gadis itu tengah merancang maha karyanya untuk di ikutkan dalam ajang pameran nanti. Mereka berdua jarang sekali untuk berbicara berdua, bertemu pun hanya di pagi hari dan malam hari itu pun jika slah satu di antara mereka belum tertidur. Hafiz hanya bisa mengikuti Safiyya, harapan dia hanya satu semoag hubungannya dengan Safiyya bisa berjalan lancar, dan berlangsung lama hingga keduanya naik pelaminan dan memilki seorang anak, membangun biduk rumah tangga yang bahagia, harmonis. Bus pun sudah selsai bertepatan dengan Fiya dan Hafiz yang tengah bersantai dengan minuman mereka, setelah makanan keduanya habis tidak tersisa. Para penumpang termasuk Hafiz dan Safiyya memasuki bus kembali dan terduduk di tempat duduk mereka tadi. Semoag tidak ada halangan apa-apa lagi hingga mereka sampai di Jakarta nanti. Karena jujur saja, tubuh Safiyya sudah ingin berada di atas kasur, merebahkannya dengan nyaman disana dan menyambut mimpinya. Agar besok pagi dia bisa lebih fresh lagi untuk berangkat ke kampus. Pukul 16.00 bus pun tiba di terminal Jakarta, para penumpang turun termasuk Safiyya dan Hafiz, Hafiz mengantarkan safiyya hingga depan pintu apartemen, memastikan kekasihnya itu agar sampai di apartemennya dengan selamat, karena Hafiz mendapatkan amanat dari Abbas untuk menjaga Safiyya. Setelahnya barulah Hafiz pulang ke rumahnya, pria itu pun nampak begitu kelelahan, terlihat jelas dari raut wajahnya yang tercetak jelas raut lelahnya. Safiyya mencuci mukanya setelah itu dia memastikan kembali bahwa pintu sudah terkunci dan keadaan apartemen aman, barulah setelah itu Safiyya menuju kamarnya merebahkan tubuhnya di atas kasur, sebelumnya Fiya pun mengabari sang Ibu bahwa dirinya telah sampai di apartemen, barulah Fiya memejamkan matanya dengan secepat ilat Fiya menembus alam mimpinya. Mungkin karena efek perjalanan yang jauh dan memakan waktu yang cukup lama karena adanya kendala di perjalanan, membuat gadis itu dengan mudahnya terlelap.        
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD