"Halooo ... Kamu disebelah mana Fir, aku dah didepan toko baju olahraga nih, kok kamunya gak ada. Mojok lu yaaaa"
Lastri menghubungi temannya si Fira karena tak nampak batang hidungnya, padahal harusnya dia dah disini karena Lastri memang yang telat datengnya.
"Sompret lu ... Gue tungguin lu sampe karatan dan lumutan di depan toko elunya gak nongol nongol juga ya akhirnya gue putusin cari angin seger lah cuci mata biar gak bosan, sekarang gue di foodcourt nih lante atas lu nyusul sinih ... " Jawab Fira dari seberang sana.
"Oh ya udah gue kesitu yaaa tar gue jelasin deh kenapa bisa dateng telat"
Lastri bergegas menyusul temannya yang ada di foodcourt yang terletak dilantai paling atas, disana juga ada tempat bermain anak.
"Ayoook sayang kita ke atas dah ditunggu tante Fira" Ajak Lastri pada anaknya.
"Naik lift ya bu ... Asyiiiiik. Disana nanti ada tempat bermain kan bu? Aku mo main ya disana nanti"
"Iya ... Ayok cepetan makannya jalannya. Nanti kamu main ibu sama tante Fira yaaa"
"Ok ... Horeee mo mainan"
Zaina teriak kegirangan, sepanjang jalan dia berjalan lari lari kecil dan meloncat loncat hatinya sangat senang karena dia dah membayangkan mainan apa saja yang mau ia coba.
Kliiik ... pintu lift terbuka, Zaina segera menghambur keluar dan berlari menuju tempat mainan, ia tak menghiraukan ibunya lagi yang berteriak agar jangan lari-lari takut jatuh lantainya licin habis dibersihkan.
"Zaina ... Jangan lari sayaaaaang, hati- hati jalannya licin habis di pel"
Lastri berteriak sambil mengejar anaknya yang berlari lebih dulu di depannya. Akhirnya Zaina menghentikan larinya setelah ia mencapai konter pembelian koin.
"Yeeey aku menang ... Ibu kalah jadi ibu yang harus beli koin"
"Ya iyalah ibu menang atau kalah juga ibu yang beli koin"
Gerutu Lastri sambil geleng geleng kepala pada Zaina. Ia mengeluarkan uang lima puluh ribu dari dompet dan membayar koinnya dan memberikannya pada Zaina, ia sangat senang menerima koin itu dan langsung berlari masuk ke dalam.
"Hadeeeew anak itu ... Belum juga bilang mo nunggu dimana ibunya dah ilang aja aaah ribet nih kalau pergi bawa bocil jadi lamaaa"
Lastri ngomong sendiri sambil jalan dan masuk ke ruangan bermain mencari Zaina dan akhirnya dia menemukannya sedang bermain naik cangkir.
"Zaina ... Ibu ketemu tante Fira didepan sana ya sambil makan baso, nanti kamu nyusul kalo dah selese. Tempat duduknya nanti ibu depan pintu masuk ini ya lurusnya pas kamu keluar juga langsung bisa liat ibu"
"Ok bu ... Siap, dah sana ibu pergi dah ditungguin tuh tar marah tante Fira hehehe"
"Yadah ibu pergi ya ... Kamu hati-hati"
Lastri mengusap kepala anaknya dan pergi meninggalkannya untuk menemui Fira.
Fira melihat Lastri yang celingukan mencarinya, dia berinisiatip melambaikan tangannya agar terlihat olehnya karena suasana memang sedang ramai, kursi terisi emak emak yang menunggui anaknya main didalem ruang permainan. AkhirnyaLastri bisa menemukan Fira dan berjalan mendekat ke meja tempat duduk Fira.
"Hey ... Disini gue " Teriak Fira melambaikan tangan kearah Lastri berdiri.
Lastri pun membalas lambain tangan Fira dan berjalan mendekat padanya.
"Eh sori ya ... Gue telat banget habisnya Zaina gak mau ditinggal sama neneknya, dia tantrum jadinya kubawa kesini dan sekarang lagi main tuh didalem sono" Panjang lebar Lastri berceloteh menjelaskan kenapa ia telat.
"Hmmm kirain lu dikelonin Arif gak boleh kesini habisnya di telponin juga gak diangkat"
"Hish .. Itu sih kemaren pas ujan udah gue kasih wkwkwkwk,gimana lo dah liat baju seragamnya belom"
"Udah sih tadi dah gue cek juga tinggal ntar mo pulang diambil, jadikita santai sekarang sambil nungguin anak lo main"
"Owh ya udah aku pesen baso dulu deh dah jam maksi nih laper pengen yang seger pedes berkuah"
"Mba ... Minta menunya dong" Lastri berteriak sambil melambaikan tangannya memanggil mbak mbak yang sedang berdiri memegang buku menu tak jauh darinya. Gadis itu mendekat dan menyerahkan buku menu pada Lastri.
"Silahkan mbak mo pesen apa ... "
"Aku mau baso beranak kuah klenger sama jus alppokat deh mba. Fir kamu mo nambah gak"
"Gak ah dah kenyang, ini aja belum habis nih masih sisa yang kecil basonya" Jawab Fira
"Ya udah mba itu aja pesenannya, cepet ya mba dah laper nih"
"Oke mba, mohon ditunggu sebentar yah" Pelayan resto itu pun meninggalkan mereka dan menyiapkan pesenan untuk Lastri.
"Eh lu dah ketemu si Wira belom sejak suami lo sakit kemaren" Tanya Fira menyelidik
"Ya belum sempetlah aku sibuk gimana mo keluar nemuin dia"
"Ya udah lo ketemu disini ajah sekarang lo wa dia suruh kesini pasti mau kan gak jauh juga dari kantornya '
" Hmmm boleh juga tuh ... Aku wa dulu ya "
Lastri terlihat serius mengetik mengirim pesan untuk kekasihnya.
[ mas aku lagi di mall deket kantormu nih,kamu mau gak kesini temui aku] send
Centang dua itu artinya dah terkirim tapi belum dibaca. Dengan gelisah Lastri menunggu jawaban balasan chatnya.
Lima menit berlalu masih belum dibaca juga, akhirnya dia pasrah, terserah mo dateng atau enggak.
Tiba-tiba hp nya berbunyi tanda notifikasi chat masuk,segera ia buka pesan dari siapakah gerangan dan ternyata dari Wira.
[Ok sayang ... Tunggu aku dateng ya, kamudi sebelah mana] Balas Wira
Lastri tersenyum, kemudian jari jemarinya sibuk mengetik balasan untuk Wira.
[Aku tunggu di depot baso klenger foodcourt lantai atas yah] balas Lastri, taklupa juga ia tambahkan emoticon kiss dan love di akhir kalimat.
"Gimana ... Bisa? " Tanya Fira
"Siiip dia mo kesini" Kata Lastri sambil mengacungkan jempolnya.
Selang dua puluh menit akhirnya lelaki itu terlihat menunjukan batang hidungnya, diamelambaikan tangan dan berjalan ke meja Lastri. Wajah Lastri merah merona ketemu kekasihnya, dia mempersilakan Wira duduk disebelahnya.
"Hai ... Fira giman kabar? " Wira berbasa basi menanyakan kabar Fira
"Alhamdulillah baik, kamu gimana? 'Jawab Fira
Dan berbalik bertanya keadaan Wira.
" Alhamdulillah seperti yang kau lihat saat ini" Jawab Wira sekenanya.
Wira tersenyum pada Lastri dan duduk disampingnya, tangannya memegang tangan Lastri. Dari raut wajah keduanya terlihat sekali kalau mereka sedang kasmaran seperti muda mudi. Tanpa sepengetahuan mereka ada sepasang bola mata yang memperhatikan gerak gerik keduanya, matanya memerah tangannya mengepal kuat namun ia tak berbuat apapun hanya memandangnya dari kejauhan.