From Zero
Acuh.
"Ayah kenapa" pekikku setelah melihat ayah pulang dengan jalan yang pincang dan betis nya di ikat dengan kain.
Aku berlari menghampiri ayah memapah nya masuk kedalam rumah.
Ayah ku dudukkan di kursi. "Ayah digigit ular nak, Tolong panggilkan pak Arman bilang ayah minta diantarkan ke puskemas. Pak Arman adalah tetangga kami yang menyediakan jasa ojek. Karna kami tidak memiliki kendaraan sekunder tersebut. Jadi keberadaan ojek Pak Arman sangat berarti, apalagi di saat genting seperti ini.
Aku langsung ambil langkah seribu tujuan ku cuma satu supaya ayah cepat ditangani oleh Dokter atau Bidan desa.
"Paak" pak arman" kataku dengan expresi tegang, takut sulit untuk di jelaskan lansung nyelonong tanpa ba-bi- bu.
" Ada Apa yan" sahut pak Arman lansung tergopoh gopoh kearah ku. "Ayah pak Ayah" kataku tercekat wajah ku tegang. " Ayah digigit Ular pak tolong antar ayak ke Puskemas" air mata ku mulai menggenang takut ayah kenapa - napa. "Ya ya apak pakai baju dulu" setengah berlari pak Arman menyambar baju nya di lengan kursi.
Sampai di Puskemas ayah lansung di tangani oleh dokter. Beruntung di Puskemas ada Dokter uang standby 24 jam meskipun kami datang hari sudah sore.
"Alhamdullilah, bapak mengikat kaki bapak dengan kain. Kalau tidak bisa ular nya sangat cepat naik ke jantung." celoteh dokter. Iya pak tadi saya lansung ikat pakai baju lansung minum air sungai. " Bagus sekali pak, bapak tau cara menangani dan tidak panik"
Dokter memberikan obat untuk di rumah setelah membuka ikat kaki ayah ku dan mengoleskan semacam salap.
Kami sampai di rumah orang sudah azan magrib. Ibu lansung menghambur lansung memeluk kami. Ibu menangis sebagai ungkapan kuatir nya.
Pak Arman tak mau mengambil uang uang di berikan ayah, " Sudah simpan saja uang nya, lain kali kalau pak Riko sudah sembuh kalau naik ojek lagi baru aku ambil" kata Pak Arman.
mungkin kami dapat musibah jadi dia tak rela memungut jasa nya. Ayah mengucap kan terimakasih berulang kali ketika pak Arman beranjak pulang.
Sudah seminggu sejak kejadian ayah digigit ular ayah belum bisa bekerja seperti biasa. Benih padi kami di sawah seharusnya sudah selesai di tanam tapi karna ayah sakit ada 4 petak sawah yang belum ditanami.
Benih yang belum di tanam menguning dan mati. Ayah pun tak punya cukup uang untuk menyewa orang lain untuk membantu kami.
" Bagaimana padi kita Bu, ada empat petak sawah yang belum ditanami"
" Jangan pikir macam macam dulu yah yang paling utama kamu sehat dulu. Balas ibu.
" Tapi ayah heran Bu, kenapa Abah dan Oom tidak bertanya tentang padi kita, padahal kemarin dia abis dari sawah sebelum ayah digigit ular"
Ayah sedikit berkecil hati tentang keluarga ibu yang tidak peduli dengan keadaan kami. Keluarga ibu baik Kakek, nenek maupun om2 ibu yang lainnya tak pernah bertanya tentang ayah, da kenapa sawah kami terbengkalai. Padahal sawah kakek, abahnya Ibu berdekatan dengan sawah kami. Om nya ibu juga mempunyai kebun sawit di bersebelahan dengan sawah kakek.
" Ya mau bagaimana lagi yah kita kan sudah tau watak mereka" ucap ibu tak enak hati yang dikatakan ayah memang seperti itu kenyataan nya tapi disisi lain mereka adalah keluarga. Entah pantas atau tidak kata keluarga disematkan untuk mereka.
Ibu ku memang tidak bisa turun ke sawah di karenakan adik ku Rena masih kecil. Rena masih berusia 5 bulan masih ASI jadi tak bisa jauh jauh dari ibu.
Aku mempunyai stigma negatif terkait peristiwa ini. Aku terlalu kecil untuk dendam pada mereka. Tapi akan tetap ku ingat sepanjang umur ku.
Kami miskin tidak punya harta, karena itu mereka acuh seolah kami tidak ada.
Jadi kita harus berharta biar mereka
Menganggap kita ada. *Aku harus kaya" aku membatin. Aku cari uang, aku harus mengumpulkan uang dan bisa membanggakan diri pada mereka yang merasa kami bukan saudara nya. Itu kata yang tertanam dalam otak kecil ku.
Iya, kami memang tergolong keluarga tidak mampu. Rumah yang kami tinggali berdindingkan bambu yang di anyam dan lantai hanya cor semen kasar. Lantai dapur nya masih tanah. Makan lebih sering dengan sambal dan nasi tanpa lauk. Ayah kadang memancing di sungai agar kami dapat sedikit asupan nutrisi
"yan kamu punya PR nak, cepat kerjakan nanti keburu tidur" celetuk Ibu membuyarkan lamunan ku.
"ya bu" kata ku sambil beranjak mengambil tas sekolah ku satu- satu nya dan mulai membalik buku mengerjakan tugas yang di berikan guru ku.
Sejak abis sholat isya aku merenung memikirkan ketidak pedulian keluarga besar kami.
Ibu ku walaupu tidak tamat SD tapi dia sangat perhatian masalah pendidikan ku. Kata ibu "hidup lebih mudah kalau kita sekolah" kira kira begitu pesan ibu yang sering kudengar.
Ayah ku sebenar nya tamat sekolah menengah atas tapi karna nasib tak berpihak padanya jadilah ayah ku kerja serabutan.
Di samping menanam padi ayah sering mengambil upah dari orang orang di kampung untuk memenuhi kebutuhan kami walaupun kami hidup jauh dari kata layak.
Ayah pernah bercerita sebelum aku lahir ayah kerja jadi salah satu staf di kota A. Hotel tempat kerja ayah bermasalah. Hotel bangkrut ayah keluar dan memutuskan kembali pulang ke kampung ibu dan mulai hidup dari nol.
PR ku selesai aku memasukkan buku pelajaran yang di butuh kan besok kedalam tas. Aku beranjak ke dapur mencuci kaki bersiap siap untuk tidur.
Kulihat ibu masih menyusui adik kecil ku. Ayah duduk sendiri di luar sambil menghisap rokok murah.
Kami tetap bersyukur masih bisa hidup, sehat, bisa bernapas, mendengar, melihat, berjalan, jadi tetap mengucap syukur pada zat yang maha pengasih dan penyayang pada hambanya.
Aku balik kedalam merebah kan tubuhku di lantai kasar yang beralaskan tikar biasanya aku tidur dengan ayah. Sementara Ibu dan adik kecil ku tidur di kasur.
Suara azan sayup - sayup terdengar membangun kan insan yang masih lelap dalam dekapan malam untuk bersujud dan bersyukur masih di beri kesempatan bernapas dan hidup oleh sang pencipta.
Aku menggeliat dan mengucek mata bersiap untuk menunaikan kewajiban sebagai muslim.
Pagi ini setelah sarapan dengan nasi dan sisa sambal semalam. Ibu memberi uang Rp 500 untuk jajan ku di sekolah.
Uang sebanyak itu sudah bisa makan nasi goreng porsi anak SD dan 1 gorengan dan 1 es lilin.
Aku mencium tangan ibu dan berangkat sekolah lalu lari menyusul teman teman ku yang sudah menunggu di depan rumah.
Kami harus berjalan kaki sejauh 400 m untuk mencapai sekolah.
Buku yang menginspirasi
Hari ini aku berangkat ke sekolah seperti biasa dengan teman - teman satu sekolah di kampung ku, maklum di desa kami hanya mempunyai satu sekolah dasar. Jadi, murid di sekolah dasar cukup banyak.
Meskipun murid sekolah kami ramai tapi guru kami hanya mempunyai enam kelas dan delapan orang guru.
Kepala sekolah, Guru agama dan guru kelas di setiap tingkatan contoh kelas satumereka akan belajar dengan guru yang sama setiap jam dan setiap jari nya selama masih duduk di bangku kelas satu kecuali pelajaran agama.
Kepala sekolah akan masuk untuk mengajar di kelas secara acak untuk menggantikan guru kelas yang berhalangan hadir karena keadaan darurat.
"teng... teng.." penjaga sekolah memukul bel atau yang kami sebut lonceng tanda istirahat berdentang.
"horeeeer" anak bersorak setiap kelas gaduh karna mereka di berikan waktu beberapa menit untuk istirahat, makan dan main. Aku dan teman ku Jaka memang tidak terlalu suka sama kegiatan fisik jadi kami jarang bergabung kalau ada anak main kasti, sepak bola dan berbagai jenis olah raga lainya.
Aku di beri uang saku cuma dua ratus rupiah hari ini tidak cukup untuk membeli nasi goreng, jadi aku lebih memilih datang ke pustaka dan untuk sekedar membaca buku atau meminjam untuk di bawa pulang kalau buku nya menarik minat ku.
Semua teman berlarian keluar kelas hanya aku Jaka yang di dalam kelas.
"makan yuk yan" Jaka mengajak ku untuk mengisi perut
" aku dikasih ibu cuma dua ratus Jak, lagian aku makan nasi sebelum berangkat jadi masih cukup kenyang"
" aku mau ke pustaka aja" tambah ku, hal yang sering aku lakukan terlebih jika uang saku ku kurang.
" kita beli gorengan aja mana duit lo seratus" cicit jaka
Aku memberikan uang ke Jaka 100 untuk membeli gorengan dan sisa seratus rupiah untuk beli es ketika pulang sekolah nanti.
" Aku duluan ke pustaka ya, nanti kamu susul aja" cicit ku
" siap ndan" ucap Jaka sambil mengangkat tangan nya hormat pada ku lalu berlari menuju kantin sekolah.
Aku berjalan keluar kelas menuju pustaka
masuk dan mengisi buku kunjungan.
Pengunjung pustaka rame jika guru meminta studi pustaka aja, kalau hari biasa sangat sedikit tak lebih dari lima orang.
setelah menulis nama dan membubuhkan tanda tangan aku beralih dengan deretan rak yang penuh buku.
Biasa nya aku meminjam buku yang seperti dongeng, komik, majalah anak dan buku - buku yang ringan lainnya.
tapi kali mata ku tertuju pada sebuah buku dengan cover kuning dengan judul aturan- aturan kekayaan. Aku tertarik dan mencari posisi yang nyaman dan lansung membaca nya.
"yan ini punyamu" Jaka masuk pustaka menghampiri ku yang tenggelam dalam buku yang ku baca. Buku bagus sekali isi nya adalah motivasi - motivasi untuk sukses. aku menoleh " makasih " kata ku sambil lanjut membaca " memang buku apaan sih serius amat" celoteh jaka sambil mengunyah makan di mulut nya.
" buku bagus Jak, lo baca aja sendiri" cicit ku sambil menyerah kan buku ke jaka dan mulai memakan gorengan yang di bawa Jaka.
Jaka mulai membalik - balik buku halaman buku asal " ntar kalau lo duluan jadi orang kaya pinjam aku duit ya" Jaka meledekku sambil cengengesan.
"pinjam, pinjam enak aja" jawab ku kesal sambil merebut buku dari tangan jaka dan lanjut membaca.
Aku merasa tercerahkan membaca buku terjemahan karya Richard Templar tersebut. Saking termotivasi karna isi buku nya aku keluar dari gerbang sekolah lansung mengeluarkan buku tersebut dari dalam tas dan lansung membaca sambil berjalan.
" yaan cepataan, kok lo lebih lambat dari keong sih" Jaka bersorak memanggilku
Aku mendongak ternyata mereka sudah lebih lima puluh meter dari ku, aku berlari mengejar dan mereka juga berlari menjauh dari ku. Aku biar kan saja dan lansung melanjut kan kembali membaca buku karangan Richard Templar tersebut.
"" bug"" aku terjatuh tersandung batu karna tak melihat jalan.
" ha ha ha" tawa mereka pecah melihat ku berbaring di tanah yang berbatu
" terlalu rajin sih, jangan rajin amat yan lo tetep juara satu kok" temen ku dini meledek.
Aku meringis dan lansung berdiri tangan dan dadaku sakit terhempas ke batu. Aku tak peduli ocehan mereka dan lanjutkan membaca. beberapa saat kemudian aku sudah sampai di depan rumah kumasukkan buku dalam tas masuk rumah.
Sebelum pergi mengembalakan kerbau tak lupa ku bawa buku, masukkan kedalam tas dan selip kan di punggung.
Malam hari nya aku mencatat poin poin penting di setiap pembahasan nya.
Tawaran
Sudah 2 minggu sejak kejadian ayah digigit ular. Ayah sudah mulai bisa beraktifitas seperti biasa. Hari ini ayah mengambil upah di sawah tetangga jauh kami untuk memanen padi di sawah mereka dengan beberapa pekerja lainnya.
Ibu seperti hal nya ibu- ibu rumah tangga lainnya. Masak, mencuci, beres - beres rumah. Di tambah lagi dengan adek ku yang masih bayi yang membutuh kan penjagaan yang ekstra.
Hari - hari kami lalui seperti biasa. Ayah mengambil upah kalau ada orang menawarkan kerja. Waktu luang ayah ke sawah. Aku menjalankan rutinitas biasa. Pagi aku sekolah, siang me ngembala kerbau dengan anak desa lainnya. Biasa nya di perjalan pulang sekolah kami sudah membuat kesepakatan nanti siang mau menggembala kan ternak kami dimana. Sore harinya pulang menggembalakan kerbau aku akan pergi ke mushala kecil desa belajar mengaji, bacaan sholat dan ilmu agama lainnya.
Hari ini pulang dari sekolah aku jalan sendirian. Teman ku jauh di depan meninggalkan aku. Mereka kesal karna aku berjalan sambil membaca dan jalan ku sangat pelan
" Rian mampir dulu ada yang mau ibu bilangin" kata tetangga ku.
Aku tergagap karna sudah mau sampai rumah ku. " ah eh ya Bu" cicit ku
karna dari tadi tak melihat sekitar saking asyik nya berjalan sambil membaca buku. Aku menutup buku dan berjalan menghampiri Bu Anis
" Ada apa ya bu" kata ku setelah dekat dengan tetangga ku
" Ini ibu ada jualan kalau Rian mau jualan dagangan ibu nanti Rian ibu kasih uang"
" Jualan apa bu" cicit ku
" Ini ada permen dan coklat "
Kalau Rian bisa dapat duit rp 5.000 ibu kasih Rian rp 5.00 kalau jualan nya laku Rp 10.000 ibu kasih Rian 1.000 seterus nya. Bagaimana Rian mau ngga?"
Aku sempat ragu karna belum pernah jualan tapi demi dapat uang aku setuju. Lumayan tambah tambah jajan batin ku.
Ketika ayah dan Ibu tidak punya uang aku pun tidak di kasih jajan kesekolah.
Jadi akau mampir tempat buyut ku biar dapat uang saku.Biasa nya kalau melihat cicit nya datang dengan seragam buyut sudah mengerti tujuan ku. dan megeluarkan beberapa ratusan rupiah untuk ku.
Pagi berangkat sekolah aku dengan teman teman ku singgah di rumah Bu Anis untuk mengambil jualan yang ditawarkan pada ku kemarin. Teman ku pada kepo " Lu bawa apaan yan" pekik teman ku bersamaan. Mereka heran lihat aku berlari - lari kecil kerumah Bu Anis dan mengambil tote bag yang telah disiapkan Bu Anis untuk aku Bawa.
"Ini Dagangan Bu Anis mau aku jualin disekolah" cicit ku
" Emang Jajanan nya apaan " celetuk dini salah satu teman ku yang cita cita nya kurus hobi makan dan berat badan nya jangan di tanya.
" Lo tu ya giliran makan aja cepat" celetuk Dino.
" Terserah aku dong, emang masalah buat lu" sambung dini tak mau kalah.
"Udah.. udah pagi kalian udah ribut" sorak jaka. Jaka teman yang paling dekat dengan ku diantara yang lainnya.
" Emang jualan lu apaan yan" cicit jaka
" Ini ada permen sama coklat kamu bantuin aku jualan ya, aku grogi baru pertama kali soal nya" cicit ku dengan wajah penuh harap. " Owkeh asal sesuai aja hitungan nya" corocos Jaka asal
" Kamu sama teman sendiri gitu" cicit ku gusar.
Jaka memang sudah terbiasa jualan Nasi, ketupat, cendol dan makanan lainnya dengan ibu nya jika ada keramaian.
" Iya iya aku bantuin gitu aja sewot" cerocos jaka. " Aku yang pegang duit nya dan kamu pegang uang nya.
" Siap Bos " kata ku sambil mengangkat tangan hormat.
"Emang harga nya berapa yan " celetuk padil
"Permen 100 dapat empat kalau coklat 100 dapat 2"
"Yaudah aku mau coklat 2 dan permen 4" sambung padil"
"Aku juga" cicit jaka sambil menyambar tote bag ku.
" Aku sama" celetuk Sara adek kelas ku yang pendiam. Sekarang Jaka yang pegang jualan dan aku yang pegang uang nya.
Semua teman ku membeli dagangan ku.Dini membeli yang paling banyak dia belanja Rp 500 kepada ku. Kami semua maklum karna orang tua Rini termasuk orang berduit di desa kami. Kerjaan ayah Rini sebagai juragan ternak tak heran jika uang saku nya empat kali lebih banuak dari jatah jajan kami.
Rini walaupun hidup nya berkecukupan tapi dia tidak sombong dan ramah pada siapapun.
" Alhamdulilah" sorak ku dalam hati, bagaimana tidak hari masih pagi tapi jualan laku dua ribu rupiah.
Tak terasa kami sudah memasuki gerbang sekolah. Kakak dan Adik kelas melihat ku yang membawa tentengan cukup besar. Setelah sampai di depan kelas ku.
" Woii... Rian jualan permen dan coklat yang uwenaak buangeet... ada yang mau coba" Padil setengah bersorak memberi pengumuman. Aku cukup grogi karna ini pertama kali nya aku jualan di tambah lagi Padil mulut nya kaya ban pecah berkoar aku diam saja jadi tambah malu.
Anak anak sontak melihat kearah ku tapi yang sedang menjinjing tote bag nya Jaka berhamburan memeriksa apakah yang di bilang Padil barusan benar. Kok yang pegang Jaka tapi yang jualan kata lu rian dil. " Iya yang jualan Rian tapi yang pegang Jaka kalau lo mau beli kasih uang nya ke Rian ambil coklat nya sama Jaka.
" Enak bangat lo" celetuk Dini yanh sibuk dengan permen dan coklat nya.
"Bagi lu apa sih yang nggak enak, Biawak aja di masak pasti kamu makan " ledek Dio, anak lelaki mulut nya paling tajam di sekolah ku. Clurit sama samurai aja kalah tajam di banding mulut Jaka. Tapi walaupun mulut nya setajam silet tapi dia baik hati. Jika ada anak perempuan yang di jahili anak - anak lain , Dio akan pasang badan.
"Coba aja sendiri kalau ngga percaya" celetuk rini sambil menampilkan wajah sewot nya dan berlalu masuk kelas.
" Serius ini emang enak apalagi coklat nya" celetuk Jaka.
Bel berbunyi memberi tanda bahwa kami harus siap dengan menerima pelajaran dari guru - guru tersayang kami. Teman kelas dan Anak - anak lainnya bersungut-sungut sungut karena tak dapat mencicipi coklat ku.
" Nanti sisain buat aku ya bang "
Celetuk adek kelas ku.
"Aku Juga"
"Aku juga"
" Sama"
" Aku juga mau"
Kami masuk ke kelas berdoa dan belajar ekosistem pelajaran IPA SD kelas 5 selama 2 jam mata pelajaran dan dilanjut kan pelajaran bahasa membaca puisi.
"Teng Teng"
Terdengar lagi guru memukul lonceng tanda istirahat yang terbuat dari besi yang di gantung dan di pukul dengan batu.
" Horeeeeee"teriak murid di kelas ku.
" Yaudah besok kita lanjut kan" ucap bu guru dan berjalan keluar menuju kantor.
Baru Saja bu guru keluar dari pintu kelas ku. Adek - adek kelas ku sudah datang memaksa masuk, apalagi kalau bukan karna permen dan coklat yang keburu tidak mereka dapat kan tadi.
Jaka lansung paham dan mengambil tote bag ku.
Kasih uang nya ke rian dulu baru aku kasih permen atau coklat nya.
Mereka antri mengambil permen atau coklat yang mereka ingin kan.
Ada yang membeli permen aja, atau hanya coklat bahkan menginginkan kedua nya permen iya, coklat juga.
Dagangan ku habis banyak setelah ku hitung uang nya bersama Jaka kami dapat dua puluh tiga ribu rupiah. Alhamdullilah pekikku sama Jaka.
Hari ini senang banget bisa banyak dagangan ku terjual. Aku pulang singgah tempat Bu Anis untuk menyerah kan Toples " dapat berapa hari ini yan " tanya bu Anis.
"Alhamdullah Bu dapat dua puluh tiga ribu" cicit ku dengan wajah puas.
" Hebat kamu yan hari pertama dapat segitu banyak" celetuk bu Anis
" Tadi di bantuin Jaka juga Bu" imbuh ku tak ingin melupakan jasa Jaka.
Aku membuka tas untuk mengambil uang hasil jualan hari ini.
dan " ya Allah kok ga ada" cicit ku dengan wajah pucat. Tangan lansung berkeringat karna uang hasil jualan tadi yang ku tarik di kantong kresek raib entah kemana.
" Ada apa yan" kata Bu Anis
" Uang nya bu, u... Uuuang nya hilang" kata suara ku tercekat aku membayangkan mengganti uang yang begitu banyak.
"Kenapa yan" jaka menghampiriku
" Uang nya hilang Jak"
Coba kita periksa dulu " dalam tas semua nya sudah kamu periksa yan" Bu Anis menimpali
"Udah bu tapu nggak ada" cicit ku
Jaka memeriksa tas ku sekali lagi lanjut mengecek tas nya. Mengeluarkan semua isi tas kami. Bu anis memandang kami dengan wajah yang sulit diartikan.
Kemudian dia mengeluarkan toples dari tote bag mengecek sisa permen dan coklat hari ini, " yan ini apa" kata bu Anis sambil memegang toples permen.
" Alhamdullilaaaaah" ucap ku dan Jaka serentak
"Itu uang nya Bu" Jaka lansung reflek menjawab
"Iya bu iya, itu uang nya" aku menimpali dengan wajah yang kembali sumringah
Bu Anis mengambil kantong kresek dan menghitung uang nya. " Iya benar dua puluh tiga ribu rupiah"
Bu Anis memberiku uang tiga ribu rupiah. Ini kelebihan Bu jawabku
"Ya udah ga papa ambil aja"
" Makasih banyak bu, " cicit ku dengan wajah senang karena dapat duit dari usaha ku.
"Ada yang seneng banget nih dapet duit"
Celetuk Jaka.
"Bu aku pulang dulu ya makasih bu" aku pamit sama bu Anis.
" Ya sama " jawab bu anis kemudian beliau masuk kedalam rumah nya.
" Ini untuk mu Jak" sambil menyerah kan uang seribu rupiah pada Jaka
" seriusan nih" cicit Jaka" kaget dan senang ternyata dia dapat bagian juga.
"Iya lah serius kamu kan udah bantuin aku jualan.
" Besok kita jualan lagi ya" cicit jaka aku sambut dengan anggukan kepala.
" Jak " cicit ku
" Ya" jawab jaka
" Tadi ada lo orang yang menyindir ku senang banget dapat uang tapi sekarang..."
" Lah itu aja lo masukin hati, masukin kantong aj, lagian siapa sih yang tak suka duit. Aku pamit karna sudah sampai di rumah ku Jaka melanjutkan perjalanan karna rumah sedikit jauh dari rumah ku.
Sang Juara
sudah lebih tiga bulan aku menjual permen dan coklat jualan nya bu Anis uang yang aku kumpulkan sudah mencapai tujuh puluh lima ribu rupiah. Ayah dan Ibu belum ku beritahu kalau aku punya sedikit tabungan hasil dari jualan ku. Hari