Semilir angin berembus pelan, membelai mesra dedaunan pohon dengan anggunnya. Menciptakan kesan sejuk bagi siapa pun yang ada di sekitarnya, menikmati belaian mesra sang angin pada pohon kesayangannya.
Tenang. Satu kata yang menggambarkan perasaan gadis berpenampilan cupu saat ini. Gadis itu memejamkan matanya, menikmati semilir angin yang berembus. Kepalanya ia tidurkan di atas paha kekasihnya. Saat ini, mereka berada di bawah salah satu pohon yang ada di taman belakang sekolah.
“Rambut kamu masih sakit?”
Abby yang sebelumnya terpejam kini membuka matanya perlahan. Senyum kecilnya timbul tatkala melihat wajah penuh kekhawatiran yang ditampilkan kekasihnya. Memang, selama ini Fian selalu berusaha melindunginya dari hal yang bisa membuatnya kesakitan. Menjaganya dengan ketat agar gadisnya ini tidak terluka.
Untuk sesaat, Abby menikmati raut cemas kekasihnya. Wajah tampan Fian semakin terlihat tampan jika dilihat dari posisi Abby sekarang ini. Apalagi sinar matahari menjadi background yang membuat laki-laki itu makin bersinar.
“Udah nggak, kok. Kamu berlebihan.”
“Nggak ada yang namanya berlebihan jika menyangkut kamu. Mati-matian aku lindungin kamu biar kamu nggak terluka sedikitpun, dia dengan seenak jidatnya narik rambut kamu.” Fian menjeda ucapannya, “aku nggak akan biarin siapa pun nyakitin kesayangan aku ini.”
Gadis itu tersenyum manis mendengar ucapan kekasihnya. Semua yang diucapkan Fian memang benar adanya, Abby tidak akan menyangkalnya. Laki-laki super posesif ini akan selalu memastikan tidak ada luka sekecil apa pun pada tubuh gadisnya. Kedua tangannya siap kotor untuk gadis ini. Siapa pun itu. Jika kamu menyakiti Abby maka harus siap mendapat balasan setimpal bahkan lebih. Kejam? Memang. Beginilah cara Fian melindungi apa yang sudah menjadi miliknya.
Fian memang bukan laki-laki humoris. Ia juga tidak romantis, tapi dia rela bersikap bukan dirinya agar gadisnya bahagia. Cinta yang Abby berikan pada Fian membuat laki-laki itu hilang akal. Cinta itu memabukkan.
“Ayo ke kelas, udah bel masuk. Nanti dimarahin.”
“Siapa yang berani memarahi putra pemilik sekolah?”
“Ck! Sombongnya nggak tau situasi banget sih!” Abby berdecak mendengar ucapan kekasihnya yang sombong itu. Mulutnya mencebik hingga membuat Fian terkekeh gemas. Di antara semua yang disukai Fian pada gadis ini, ia paling suka saat kekasihnya mengeluarkan nada manja dan mencebikkan bibir. Sangat menggemaskan.
“Kami iri? Kamu mau sekolah ini atas nama kamu?”
“Sembarangan kalo ngomong.”
Abby memukul paha kekasihnya hingga sang empunya kaki memekik kesakitan. Ucapan Fian yang melantur harus segera dihentikan, bukan hal mustahil bagi laki-laki itu untuk melakukan apa yang telah dia ucapkan barusan.
Fian tersenyum kecil. Jika Abby memang menginginkan sekolah ini, tanpa berpikir pun ia akan langsung memberikannya. Toh, cuma sekolah doang ini, nggak masalah jika Abby memang menginginkannya. Apa pun yang membuat Abby bahagia adalah prioritasnya.
Suara bel tanda pelajaran telah berakhir membuat wajah-wajah yang tadinya kusut seketika menjadi cerah. Setelah guru mengakhiri pelajaran, para siswa sibuk membereskan alat tulis masing-masing dan bersiap pulang.
Saat siswa-siswi di kelas sibuk berhamburan keluar kelas, Abby malah menatap teman sebangkunya. Fiona tampak sibuk mengerjakan soal-soal Matematika yang menjadi tugas mereka hari ini untuk dikumpulkan minggu depan. Rajin sekali.
“Ngapain kamu liatin aku kayak gitu?” tanya Fiona merasa risi karena ditatap oleh teman barunya itu secara terus-menerus tanpa mengalihkan pandangan sama sekali. Ucapan pelan Fiona membuat gadis di sebelahnya terkekeh kecil.
“Lo rajin amat. Heran gue jadinya.”
“Biar nggak ada beban.”
Abby hanya manggut-manggut sambil memperhatikan Fiona yang sangat berbeda dari dirinya. Jika Fiona mengerjakan tugas tepat pada hari di mana ia diberi tugas, maka Abby akan mengerjakan sehari sebelum tugas itu dikumpulkan, itu pun dengan bantuan Fian. Kekasihnya yang kelewat pintar itu akan mengoceh saat Abby tidak segera mengerjakan tugasnya.
“Ayo pulang.”
Seseorang tiba-tiba datang dan menarik tangan Abby. Gadis itu terkejut melihat Fian dengan wajah datarnya datang dan menariknya—lebih tepat disebut menyeret—keluar kelas. Bahkan, Abby belum mengucapkan selamat tinggal pada Fiona.
Selama perjalanan pulang, Fian hanya terdiam. Ia juga menjawab singkat pertanyaan yang dilontarkan Abby. Abby bingung akan sikap Fian yang tiba-tiba berubah cuek begini. Apa Fian ada masalah?
“Udah sampai.” Lagi-lagi Fian berujar datar.
“Kamu ada masalah?” Mata Fian yang awalnya menatap lurus ke depan kini menatap Abby. Ia mengulum senyum tipis.
“Nggak.”
“Kalau kamu ada masalah cerita sama aku, jangan buat aku bingung dengan sikap kamu yang tiba-tiba jadi aneh begini. Kita udah pacaran lama Fi, dan kamu masih ragu buat cerita masalah kamu ke aku, kamu anggap aku apa?” Mata Abby berkaca-kaca.
Abby turun dari mobil Fian dengan tergesa-gesa. Kristal bening di pelupuk matanya sudah siap meluncur ke pipinya. Ia berjalan terus tanpa ingin melihat ke belakang, ia kecewa. Apa se-susah itu bagi Fian untuk jujur padanya?