Chapter 4

935 Words
Abby mendesah gelisah dengan sesekali membenamkan kepalanya pada bantal hello kitty kesayangannya. Bantal tersebut merupakan pemberian Fian saat gadis itu bertambah usia, setahun yang lalu. Ngomong-ngomong soal Fian, laki-laki itu belum mengabarinya hingga saat ini. Mata Abby sudah sembap karena terlalu lama menangis mengingat sikap kekasihnya itu. Fian tega sekali. From: Fian Keluar dan pergi ke taman belakang sekarang. Abby mengerutkan kening membaca pesan tersebut. Matanya melirik kearah jam dinding. 23.50. Malam sekali. Tumben Fian ingin bertemu malam-malam begini. Biasanya si posesif bakal ngomel-ngomel kalau dia kemaleman tidurnya. Dengan rasa penasaran tinggi, Abby berjalan menuju ke taman belakang mansion-nya. Mendadak, matanya membelalak kala melihat pemandangan indah di depannya. Taman sudah dihias dengan sangat indah. Lampu warna-warni menghiasi pepohonan, dua buah kursi dan sebuah meja yang ditata rapi dan dilengkapi dengan berbagai jenis hidangan di atasnya. Indah sekali. Look into my eyes, you will see What you mean to me Search your heart, search your soul And when you find me there, you’ll search no more Don’t tell me it’s not worth tryin for You can’t tell me it’s not worth dyin’ for You know it’s true Everything I do, I do it for you. Look into your heart, you will find There’s nothin’ there to hide Take me as I am, take my life I would give it all, I would sacrifice Don’t tell me it’s not worth fightin’ for I can’t help it, there’s nothin’ I want more You know it’s true Everything I do, I do it for you Fian berjalan menghampiri Abby yang membeku. Ia menemui pujaan hatinya yang terlihat sangat cantik malam ini dengan kaus hitam lengan panjang, celana hitam selutut, dan rambutnya yang digerai. “Happy third anniversary, Baby. I love you.” Fian mempersembahkan sebuket bunga mawar merah kepada Abby dengan sorot penuh kasih sayang. Dengan rasa haru gadis itu tersenyum lalu menerimanya. Tangan Fian mengusap setetes air mata yang dengan nakalnya jatuh ke pipi Abby. Direngkuhnya pinggang gadisnya itu dengan erat “I’m sorry for my attitude this afternoon, Baby. Sorry for making you worry and cry.” “I love you Fian, i love you so much. Thank you.” Abby memeluk kekasihnya dengan erat. Ia masih tidak menyangka kalau Fian akan menyiapkan kejutan seindah ini. Mulutnya terkunci, ia tidak bisa berkata-kata lagi. Gadis itu bahkan lupa jika hari ini merupakan anniversary mereka yang ketiga karena terlalu bingung dengan perubahan laki-laki itu. Terima kasih, Tuhan! ‘Sederhana memang, tapi aku bahagia. Terima kasih karena sudah melakukan hal ini untukku’ Pagi yang indah, seindah senyuman di wajah Abby. Wajah cantik yang tertutup kacamata itu terus menyunggingkan senyum bahagia apalagi ketika mengingat kemarin saat ia mendapat kejutan spesial dari sang kekasih. Senyum bahagianya menghilang saat melihat meja makan kosong. Pancaran bahagia dari matanya perlahan meredup saat mengingat kedua orang tuanya yang sedang pergi. Abby memang sudah terbiasa ditinggal, tapi rasanya tetap menyakitkan. Rasa iri pada teman-temannya yang selalu diperhatikan oleh orang tua tentu saja ada, tapi Abby tidak bisa berbuat apa pun. Lagi pula mereka juga bekerja untuknya. “Morning, Baby,” sapa Fian pada Abby yang baru saja keluar dari gerbang mansion-nya. Senyuman laki-laki itu perlahan memudar melihat wajah sedih kekasihnya. Ada apa? Bukannya kemarin gadisnya bahagia? “Are you okay?” tanya Fian saat Abby sudah duduk di sampingnya. ”I miss my parents.” Fian meraih tubuh Abby dan memeluknya erat. Ia bisa memahami apa yang dirasakan gadisnya itu. Akhir-akhir ini orang tua Abby memang sering sekali melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri, wajar saja jika Abby kekkurangan perhatian dari mereka. “Berdoa saja semoga ayah sama bunda pulang dengan selamat.” Fian melajukan mobilnya meninggalkan mansion Abby menuju sekolah. Sebelah tangannya mengusap rambut kekasihnya agar gadis itu lebih tenang. Sesampainya di sekolah, Abby berjalan sendiri menuju kelasnya. Jika kalian tanya ke mana Fian, maka jawabannya: Fian pergi setelah tadi dicegat oleh wakil ketua OSIS. Katanya mau rapat. Abby melangkah dengan riang menuju kelasnya. Bibirnya menyenandungkan lagu seakan lupa bahwa tadi ia sempat bermuram durja. Mungkin efek dari pelukan Fian, sehingga bisa mmbuat mood-nya membaik dengan sangat cepat. “Aduh.” Gadis itu mengaduh kesakitan saat pantatnya mencium lantai. Kepalanya mendongak, melihat siapa yang dengan sengaja menabraknya hingga terjatuh begini. Decakan sebal keluar dari mulut Abby saat tahu siapa yang menabraknya. 'Ck, cabe ini lagi', batin Abby kesal.  Abby segera bangkit dan mengusap pantatnya yang berdenyut nyeri. Ditatapnya kakak kelas menyebalkan yang ada di depannya itu. Apa-apaan ini? Dandanannya menor sekali seperti badut. Kalau dia cantik sih nggak masalah, lah ini? Elena memelotot tidak terima melihat Abby yang acuh tak acuh saja, bahkan dengan berani menatapnya. Dia menganggap Abby telah menantangnya dan dia tidak menerima hal tersebut. Kontan saja tangan Elena meraih salah satu kepangan rambut Abby dan menariknya keras sekali hingga si empunya rambut berteriak kesakitan. Sepertinya putri kepala sekolah Galaksi tiga itu mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menyakiti gadis ini. “Sakit,” rintih Abby sembari memegangi kepalanya yang terasa pusing sekali. Tubuhnya tidak terlalu sehat pagi ini. Kulit kepala gadis itu serasa mau copot saking kuatnya tarikan Elena pada rambutnya. Bulir air mata mulai menetes dan membasahi pipinya. Kepalanya benar-benar sakit. Abby tidak bisa menahannya lagi, matanya mulai berkunang-kunang bersamaan dengan air mata yang turun menjelajahi pipinya. “Ini pelajaran buat cewek ga—” Abby tidak mendengarkan kelanjutan ucapan Elena lagi karena kesadarannya direnggut dan digantikan oleh kegelapan. Elena panik saat tiba-tiba tubuh Abby lemas dan jatuh. Gadis itu pingsan karenanya! Pasti akan terjadi masalah besar. Ia segera meminta antek-anteknya untuk membantunya membawa Abby pergi. Gadis ini harus segera dibawa pergi sebelum Fian tahu apa yang terjadi pada kekasihnya. Sebelum ketiga gadis itu menyentuh Abby, sepasang tangan terlebih dahulu terulur dan dengan sigap menggendong gadis itu. Elena dan dua orang lainnya menegang saat tahu siapa yang datang dan menggendong gadis tersebut. Tendangan keras Fian layangkan di perut Elena hingga gadis itu membentur dinding lalu berjalan pergi dengan gadisnya di gendongannya. Sial! Dia kecolongan!  Rahang laki-laki itu mengeras. Matanya memandang penuh permusuhan siapapun yang ada di depannya—menghalangi jalannya. Jadi mereka tidak kapok juga, ya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD