Itu noda darah. Gak mungkin Renata haid, toh kalau memang dia haid pasti dia bilang. Andra berpikir keras apa yang terjadi hingga ada noda darah di spreinya. Selama ini sekalipun Renata sedang datang bulan tidak pernah sampai 'bocor' seperti ini. Tetapi kepalanya semakin pusing saat ia mencoba otaknya untuk berpikir. Perhatiannya teralihkan oleh Renata yang baru saja keluar dari kamar mandi. RENATA KERAMAS? Pekiknya dalam hati. Meskipun sudah setengah kering dan tersisir dengan rapih, namun masih terlihat jelas rambut Renata. Ia juga bisa mencium wangi shampoo milik istrinya tersebut. Hanya ada satu 'kegiatan' yang ada di pikiran Andra. "Renata" tegur Andra dingin pada istrinya. Yang di panggil langsung menoleh begitu melihat suaminya bertelanjang d**a yang tengah duduk di tempat tidur.
"Kamu kenapa keramas?" tanya Andra spontan. Jantungnya berdegup tidak jelas menunggu jawaban dari istrinya itu. "Kamu lupa semalam kita ..." Renata ragu-ragu menjawab pertanyaan Andra. "Semalam kita ngapain?" tanya Andra tidak sabaran. "Aku juga tadinya lupa apa yang terjadi semalam, sampai akhirnya aku bangun dan melihat ada noda darah di sprei. Aku belum datang bulan, dan lagi rasa nyeri di bawah perutku juga sakit sekali" ucap Renata yang masih berdiri di depan Andra. "Saat di kamar mandi aku baru benar-benar baru sadar kalau kita semalam ... ya begitu" sahut Renata dengan pipi yang merah dan mencoba untuk menutupi nydengan handuk yang ia bawa. "Bukan aku yang mulai, kamu yang menciumku lebih dulu. Kamu mabuk berat setelah pulang dari acara temanmu" tambah Renata secepatnya.
"Jadi kalau sekarang aku keramas itu wajar. Kamu nanti harus keramas" ucap Renata. Jadi semalam beneran ?! teriak Andra dalam hatinya. "Hmmm yasudah, spreinya cuci sana" ucap Andra sambil mencari-cari pakaian apapun untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. "Ini" Renata memberikan Andra celana pendek rumah kesayangannya. "Makasih" ucap Andra singkat. Renata berpura-pura berbalik badan agar tidak melihat Andra memakai celananya. Padahal semalam keduanya sudah melihat tubuh masing-masing, tanpa sehelai benang pun. Dengan cepat Renata melepas sprei berwarna putih tersebut dan menggulungnya. "Kamu yang cuci ya. Jangan Mbak Siti pokoknya" ucap Andra sambil lenggang masuk ke dalam kamar mandi. Renata tersenyum kecil mendengar titah suaminya tersebut. Andra bisa malu juga rupanya.
Dengan rasa penasaran tingkat tinggi, Andra menelfon Rakha. Bukan tanpa alasan ia menelfon sahabat baiknya tersebut. Ia ingin memastikan saat malam ulang tahun Rakha, ia yang sadar diri sudah mabuk, tidak melakukan hal yang 'aneh-aneh. Kecuali hal 'aneh-aneh' yang sudah ia dan Renata lakukan. Jika di pikir-pikir, wajar jika ia dan Renata melakukannya. Toh mereka sudah sah menjadi suami dan istri.
"Halo" sapa Andra saat Rakha sudah mengangkat telfonnya. "Halo pengantin baru" sahut Rakha dengan nada iseng. "Aku mau tanya sesuatu" ucap Andra serius sambil berusaha mengeringkan rambutnya dengan satu tangan. "Mau minta kontaknya Levia? Pastikan dulu istrimu tidak ada di sekitarmu" sahut Rakha masih dengan candaannya. "Kalau kamu ada di depanku sekarang pasti aku sudah menghajarmu" jawab Andra. "Chill dude" Rakha masih sama santainya. "Waktu aku mabuk, apa aku berbuat yang aneh-aneh?" tembak Andra langsung. "Tidak, aku langsung minta tolong pada Devin dan Bram untuk mengantarmu pulang, kenapa? Kamu takut berbuat yang aneh-aneh? Siapa suruh main teguk minuman sana sini" balas Rakha. Andra mendesah lega mendengarnya. "Mungkin kamu melakukan hal aneh-aneh itu dengan istrimu" Rakha kembali usil.
Andra seperti tersengat listrik mendengar celotehan Rakha. Seakan Rakha mengetahui apa yang terjadi antar ia dan Renata semalam. Oh tentu saja dia tidak berminat bahkan berniat untuk menceritakan apa yang terjadi semalam dengan Renata. "Ya sudah kalau gitu, terima kasih" Andra langsung memutuskan sambungan telfonnya tanpa menunggu Rakha menjawabnya. Ia benar-benar tenang karena ia tidak melakukan macam-macam dengan wanita mana pun di night club tersebut. "Andra sarapannya sudah siap" Renata masuk sambil membawa laundry box yang sudah kosong itu. Penampilan acak-acakan istrinya tersebut membuatnya susah payah menelan air liurnya. Gak heran kalau semalam aku yang mulai duluan . . .
***
Dua minggu lagi ulang tahun Nafa, keponakan pertama Andra. Karena usianya yang masih kanak-kanak Nafa meminta ibunya untuk merayakan pesta ulang tahunnya yang ke enam di sebuah restoran cepat saji. Hal itu langsung di setujui oleh kedua orang tuanya. Sebagai paman yang baik, terlebih ini ulang tahun keponakan pertamanya tentu ia akan mencari hadiah untuk gadis kecil tersebut. Berhubung Renata sedang ada rapat penting di kantornya dan istrinya juga sudah menemukan hadiah yang tepat untuk keponakannya, Andra akhirnya pergi sendiri untuk mencari hadiah. Sebuah pusat perbelanjaan menjadi pilihan Andra. Dengan hati yang riang ia mencari hadiah untuk keponakannya tersayang. Karena sudah duduk di bangku kelas satu sekolah dasar, Andra tentu mencari hadiah yang dapat memompa semangat belajar keponakannya tersebut.
"Seingatku Nafa suka banget dengan Frozen" ucap Andra sambil memandang sebuah tas ransel sekolah bergambar karakter kartun Frozen. Ia menarik tas ransel tersebut dan melihatnya lebih detail. Setelah melihat kondisi tas yang bagus dan cocok untuk sekolah, Andra akhirnya memutuskan untuk membeli tas tersebut. Lalu ia mencari-cari hadiah lain. Saat tengah melihat-lihat boneka-boneka lucu yang di jajarkan seseorang memanggilnya dari belakang. "Andra ya?" langsung Andra menoleh dan melihat siapa yang memanggil. Seorang wanita dengan tubuh semampai berdiri di hadapannya. Ia merasa seperti mengenali wanita tersebut. "Hmm siapa?" Andra mencoba mengingat-ingat wanita muda tersebut. "Chessa. Mantanmu saat kuliah dulu" ucap Chessa dengan nada santai dan percaya diri.
Andra langsung teringat dengan salah satu mantan pacarnya saat kuliah dulu. Ya, Chessa adalah salah satunya. "Kamu apa kabar?" tanya Chessa. "Aku baik, kamu sendiri?" tanya Andra dengan nada rileks. Ia tidak merasa gugup sama sekali, sekali pun yang ada di hadapannya adalah mantan pacarnya. "Baik, kamu sudah punya anak?" tanya Chessa. Tanpa Andra ketahui, sebenarnya Chessa menaruh rasa ingin tahu yang besar terhadap dirinya. "Belum, ini untuk keponakanku. Kamu sendiri?" Andra balik bertanya. "Yeah, aku mencari tas untuk anak ku" jawab Chessa.
Masih teringat jelas di ingatan Andra. Dulu, saat ia masih kuliah ia dan Chessa berpacaran. Andra di jurusan administrasi bisnis sedangkan Chessa di jurusan sistem informasi. Setelah putus dari Chessa, Andra memang sulit move on. Kandasnya kisah asmara mereka karena adanya orang ketiga dari pihak Chessa. Andra merasa de javu saat ia mendapati Reva berselingkuh. Tiga bulan setelah putus, seorang temannya memberi tahunya bahwa Chessa hamil di luar nikah. Sejak saat itu ia tidak pernah melihat Chessa aktif di kampus, beberapa temannya mengatakan bahwa Chessa sering tidak masuk. Namun akhirnya ia menemukan fakta bahwa Chessa memang benar hamil dan masih melanjutkan kuliah. Tetapi setelah itu ia sudah tidak ada kontak lagi dengan Chessa. Iasudah tidak ingin tahu kabar apapun lagi tentang mantan kekasihnya itu, meskipun ia tahu siapa yang sudah merebut Chessa darinya.
Ponsel Andra bergetar di saku celananya. Ia memutar bola matanya dengan malas. "Kenapa?"tanya Andra. Ia berusaha menyembunyikan rasa malasnya menjawab telepon dari Renata. "Yasudah, kamu tunggu kantor ya. Nanti aku jemput sekalian makan malam" jawab Andra. Entah mengapa dia ingin makan malam berdua dengan Renata. Iya, hanya-berdua-dengan-Renata. "Pacar kamu ya?" tanya Chessa dengan nada kepo. Andra tersenyum dan melemparkan senyum bahagia tersebut sambil menjawab. "Istriku"